<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Software Peraturan Pajak Taxlink</title>
	<atom:link href="http://www.mytaxlink.net/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.mytaxlink.net</link>
	<description>PT. Target Digital Solusindo</description>
	<lastBuildDate>Tue, 08 May 2012 10:00:46 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Peraturan Menteri Keuangan Nomor 62/PMK.03/2012</title>
		<link>http://www.mytaxlink.net/62pmk-032012/</link>
		<comments>http://www.mytaxlink.net/62pmk-032012/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 May 2012 10:00:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kepabeanan]]></category>
		<category><![CDATA[PEMBAYARAN]]></category>
		<category><![CDATA[PENGADMINISTRASIAN]]></category>
		<category><![CDATA[Peraturan Menteri Keuangan Nomor 62/PMK.03/2012]]></category>
		<category><![CDATA[SERTA PELUNASAN PAJAK PERTAMBAHAN NILAI DAN/ATAU PAJAK PENJUALAN ATAS BARANG MEWAH ATAS PENGELUARAN DAN/ATAU PENYERAHAN BARANG KENA PAJAK DAN/ATAU JASA KENA PAJAK DARI KAWASAN BEBAS KE TEMPAT LAIN DAL]]></category>
		<category><![CDATA[TATA CARA PENGAWASAN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.mytaxlink.net/?p=684</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>PERATURAN<br />
MENTERI KEUANGAN<br />
NOMOR 62/PMK.03/2012<br />
Tanggal 26 April 2012</strong></p>
<p align="center"><strong>TATA CARA PENGAWASAN, PENGADMINISTRASIAN, PEMBAYARAN, SERTA PELUNASAN PAJAK PERTAMBAHAN NILAI DAN/ATAU PAJAK PENJUALAN ATAS BARANG MEWAH ATAS PENGELUARAN DAN/ATAU PENYERAHAN BARANG KENA PAJAK DAN/ATAU JASA KENA PAJAK DARI KAWASAN BEBAS KE TEMPAT LAIN DALAM DAERAH PABEAN DAN PEMASUKAN DAN/ATAU PENYERAHAN BARANG KENA PAJAK DAN/ATAU JASA KENA PAJAK DARI TEMPAT LAIN DALAM DAERAH PABEAN KE KAWASAN BEBAS</strong></p>
<p align="center"><strong>MENTERI KEUANGAN,</strong></p>
<p align="justify">Menimbang :</p>
<p align="justify">bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 18 ayat (4), Pasal 19 ayat (7), Pasal 20 ayat (2), dan Pasal 33 ayat (12) Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 2012 tentang Perlakuan Kepabeanan, Perpajakan, dan Cukai serta Tata Laksana Pemasukan dan Pengeluaran Barang ke dan dari serta Berada di Kawasan yang Telah Ditetapkan Sebagai Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas, perlu menetapkan Peraturan Menteri Keuangan tentang Tata Cara Pengawasan, Pengadministrasian, Pembayaran, Serta Pelunasan Pajak Pertambahan Nilai dan/atau Pajak Penjualan atas Barang Mewah atas Pengeluaran dan/atau Penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak dari Kawasan Bebas ke Tempat Lain Dalam Daerah Pabean dan Pemasukan dan/atau Penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak dari Tempat Lain Dalam Daerah Pabean ke Kawasan Bebas;</p>
<p align="justify">Mengingat :</p>
<ol>
<li>
<p align="justify">Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3262) sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2009 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 62, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4999);</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 51, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3264) sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2009 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 150, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5069);</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1995 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3612) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2006 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 93, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4661);</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2000 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2000 tentang Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas menjadi Undang-Undang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 251, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4053) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2007 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 130, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4775);</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 2012 tentang Perlakuan Kepabeanan, Perpajakan, dan Cukai serta Tata Laksana Pemasukan dan Pengeluaran Barang ke dan dari serta Berada di Kawasan yang Telah Ditetapkan Sebagai Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 17, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5277);</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Keputusan Presiden Nomor 56/P Tahun 2010 ;</p>
</li>
</ol>
<p align="center"><strong>MEMUTUSKAN:</strong></p>
<p align="justify">Menetapkan :</p>
<p align="justify">PERATURAN MENTERI KEUANGAN TENTANG TATA CARA PENGAWASAN, PENGADMINISTRASIAN, PEMBAYARAN, SERTA PELUNASAN PAJAK PERTAMBAHAN NILAI DAN/ATAU PAJAK PENJUALAN ATAS BARANG MEWAH ATAS PENGELUARAN DAN/ATAU PENYERAHAN BARANG KENA PAJAK DAN/ATAU JASA KENA PAJAK DARI KAWASAN BEBAS KE TEMPAT LAIN DALAM DAERAH PABEAN DAN PEMASUKAN DAN/ATAU PENYERAHAN BARANG KENA PAJAK DAN/ATAU JASA KENA PAJAK DARI TEMPAT LAIN DALAM DAERAH PABEAN KE KAWASAN BEBAS.</p>
<p align="center"><strong>Pasal 1</strong></p>
<p align="justify">Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan:</p>
<ol>
<li>
<p align="justify">Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai adalah Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2009.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Undang-Undang Kepabeanan adalah Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2006.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Kawasan yang ditetapkan sebagai kawasan perdagangan bebas dan pelabuhan bebas yang selanjutnya disebut sebagai Kawasan Bebas, adalah suatu kawasan yang berada dalam wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terpisah dari Daerah Pabean sehingga bebas dari pengenaan bea masuk, Pajak Pertambahan Nilai, Pajak Penjualan atas Barang Mewah, dan cukai.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Daerah Pabean adalah wilayah Republik Indonesia yang meliputi wilayah darat, perairan dan ruang udara di atasnya, serta tempat tertentu di zona ekonomi eksklusif dan landas kontinen yang di dalamnya berlaku Undang-Undang Kepabeanan.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Orang adalah orang perseorangan atau badan hukum.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Surat Setoran Pajak adalah bukti pembayaran atau penyetoran pajak yang telah dilakukan dengan menggunakan formulir atau telah dilakukan dengan cara lain ke kas negara melalui tempat pembayaran yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan.\</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Faktur Pajak adalah bukti pungutan pajak yang dibuat oleh Pengusaha Kena Pajak yang melakukan penyerahan Barang Kena Pajak atau penyerahan Jasa Kena Pajak.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Pajak Masukan adalah Pajak Pertambahan Nilai yang seharusnya sudah dibayar oleh Pengusaha Kena Pajak karena perolehan Barang Kena Pajak dan/atau perolehan Jasa Kena Pajak dan/atau pemanfaatan Barang Kena Pajak Tidak Berwujud dari luar Daerah Pabean dan/atau pemanfaatan Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean dan/atau impor Barang Kena Pajak.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Pemberitahuan Pabean adalah pernyataan yang dibuat oleh Orang dalam rangka melaksanakan kewajiban pabean dalam bentuk dan syarat yang ditetapkan dalam Undang-Undang Kepabeanan.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Endorsement adalah pernyataan mengetahui dari pejabat/ pegawai Direktorat Jenderal Pajak atas pemasukan Barang Kena Pajak dari tempat lain dalam Daerah Pabean ke Kawasan Bebas, berdasarkan penelitian formal atas dokumen yang terkait dengan pemasukan Barang Kena Pajak tersebut.</p>
</li>
</ol>
<p align="center"><strong>Pasal 2</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="4%">
<p align="justify">(1)</p>
</td>
<td valign="top" width="96%">
<p align="justify">Barang Kena Pajak yang dikeluarkan dari Kawasan Bebas ke tempat lain dalam Daerah Pabean terutang Pajak Pertambahan Nilai.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">
<p align="justify">(2)</p>
</td>
<td valign="top" width="96%">
<p align="justify">Dalam hal Barang Kena Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan Barang Kena Pajak yang tergolong mewah, atas pengeluaran Barang Kena Pajak dimaksud terutang Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">
<p align="justify">(3)</p>
</td>
<td valign="top" width="96%">
<p align="justify">Tempat lain dalam Daerah Pabean sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah Daerah Pabean selain Kawasan Bebas, Tempat Penimbunan Berikat, dan Kawasan Ekonomi Khusus.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">
<p align="justify">(4)</p>
</td>
<td valign="top" width="96%">
<p align="justify">Saat terutang pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) adalah pada saat Barang Kena Pajak dikeluarkan dari Kawasan Bebas.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">
<p align="justify">(5)</p>
</td>
<td valign="top" width="96%">
<p align="justify">Dasar Pengenaan Pajak atas Pajak Pertambahan Nilai yang terutang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah yang terutang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) adalah:</p>
<ol type="a">
<li>
<p align="justify">Harga Jual; atau</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Harga Pasar Wajar dalam hal pengeluaran barang tersebut bukan dalam rangka transaksi jual beli.</p>
</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">
<p align="justify">(6)</p>
</td>
<td valign="top" width="96%">
<p align="justify">Pajak Pertambahan Nilai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) yang terutang harus dipungut dan disetor ke kas negara oleh Orang yang mengeluarkan Barang Kena Pajak melalui kantor pos atau bank persepsi yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan, dengan menggunakan Surat Setoran Pajak.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">
<p align="justify">(7)</p>
</td>
<td valign="top" width="96%">
<p align="justify">Surat Setoran Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (6) diisi dengan cara:</p>
<ol type="a">
<li>
<p align="justify">pada kolom nama dan kolom Nomor Pokok Wajib Pajak diisi dengan nama dan Nomor Pokok Wajib Pajak Orang yang menerima Barang Kena Pajak;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">pada kolom Wajib Pajak/penyetor dicantumkan juga nama dan Nomor Pokok Wajib Pajak Orang yang mengeluarkan Barang Kena Pajak.</p>
</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">
<p align="justify">(8)</p>
</td>
<td valign="top" width="96%">
<p align="justify">Penyetoran Pajak Pertambahan Nilai yang terutang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan paling lama pada saat Barang Kena Pajak tersebut dikeluarkan dari Kawasan Bebas.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">
<p align="justify">(9)</p>
</td>
<td valign="top" width="96%">
<p align="justify">Surat Setoran Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (6) yang dilampiri dengan invoice dan Pemberitahuan Pabean merupakan dokumen yang dipersamakan dengan Faktur Pajak.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">
<p align="justify">(10)</p>
</td>
<td valign="top" width="96%">
<p align="justify">Pajak Pertambahan Nilai yang telah dibayar dengan menggunakan Surat Setoran Pajak yang dilampiri dengan invoice dan Pemberitahuan Pabean sebagaimana dimaksud pada ayat (9), merupakan Pajak Masukan yang dapat dikreditkan oleh Pengusaha Kena Pajak yang menerima Barang Kena Pajak sesuai peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan.</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 3</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="3%">
<p align="justify">(1)</p>
</td>
<td valign="top" width="97%">
<p align="justify">Dikecualikan dari ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) dan ayat (2) untuk transaksi tertentu, yaitu:</p>
<ol type="a">
<li>
<p align="justify">Pengeluaran dari Kawasan Bebas oleh pengusaha atas Barang Kena Pajak yang berhubungan dengan kegiatan usahanya ke tempat lain dalam Daerah Pabean yang dalam jangka waktu tertentu akan dimasukkan kembali ke Kawasan Bebas berupa mesin dan/atau peralatan untuk:</p>
<ol>
<li>
<p align="justify">kepentingan produksi atau pengerjaan proyek infrastruktur;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">keperluan perbaikan, pengerjaan, pengujian, atau kalibrasi; dan/atau</p>
</li>
<li>
<p align="justify">keperluan peragaan atau demonstrasi;</p>
</li>
</ol>
</li>
<li>
<p align="justify">Pengeluaran kembali dari Kawasan Bebas oleh pengusaha atas Barang Kena Pajak asal tempat lain dalam Daerah Pabean yang berhubungan dengan kegiatan usahanya berupa mesin dan/atau peralatan untuk:</p>
<ol>
<li>
<p align="justify">kepentingan produksi atau pengerjaan proyek infrastruktur;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">keperluan perbaikan, pengerjaan pengujian, atau kalibrasi; dan/atau</p>
</li>
<li>
<p align="justify">keperluan peragaan atau demonstrasi;</p>
</li>
</ol>
</li>
<li>
<p align="justify">Pengeluaran Barang Kena Pajak untuk kegiatan usaha eksplorasi hulu minyak dan gas bumi serta panas bumi yang atas impornya Pajak Pertambahan Nilai yang terutang tidak dipungut, dibebaskan dari pengenaan Pajak Pertambahan Nilai atau Pajak Pertambahan Nilai ditanggung Pemerintah sebagaimana ditetapkan dengan Peraturan Menteri Keuangan, sepanjang pengeluaran Barang Kena Pajak tersebut tidak untuk tujuan pengalihan hak;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Pengeluaran Barang Kena Pajak, yang sesuai dengan ketentuan perundang-undangan perpajakan atas impor dan/atau penyerahannya tidak dipungut atau dibebaskan dari pengenaan Pajak Pertambahan Nilai;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Pengeluaran Barang Kena Pajak yang telah dilunasi Pajak Pertambahan Nilainya dengan menggunakan stiker lunas Pajak Pertambahan Nilai; dan</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Pengeluaran Barang Kena Pajak berupa pengemas yang dipakai berulang-ulang (returnable package).</p>
</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">
<p align="justify">(2)</p>
</td>
<td valign="top" width="97%">
<p align="justify">Batas waktu pemasukan kembali Barang Kena Pajak ke Kawasan Bebas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a adalah paling lama 12 (dua belas) bulan sejak tanggal Pemberitahuan Pabean.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">
<p align="justify">(3)</p>
</td>
<td valign="top" width="97%">
<p align="justify">Batas waktu pengeluaran kembali Barang Kena Pajak dari Kawasan Bebas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b adalah paling lama 12 (dua belas) bulan sejak tanggal Pemberitahuan Pabean.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">
<p align="justify">(4)</p>
</td>
<td valign="top" width="97%">
<p align="justify">Apabila sampai dengan batas waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (2), Barang Kena Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a tidak dimasukkan kembali ke Kawasan Bebas, Pajak Pertambahan Nilai terutang wajib dilunasi oleh pengusaha di tempat lain dalam Daerah Pabean yang mengeluarkan Barang Kena Pajak dengan menggunakan Surat Setoran Pajak sebagaimana diatur dalam ketentuan perundang-undangan perpajakan.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">
<p align="justify">(5)</p>
</td>
<td valign="top" width="97%">
<p align="justify">Apabila sampai dengan batas waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (3) Barang Kena Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b tidak dikeluarkan kembali dari Kawasan Bebas, Pajak Pertambahan Nilai yang terutang wajib dilunasi pada saat pengeluaran Barang Kena Pajak tersebut dari Kawasan Bebas oleh Orang yang mengeluarkan Barang Kena Pajak tersebut dari Kawasan Bebas.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">
<p align="justify">(6)</p>
</td>
<td valign="top" width="97%">
<p align="justify">Pengusaha sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dikenai sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen) per bulan paling lama 24 (dua puluh empat) bulan, dihitung sejak saat Barang Kena Pajak dikeluarkan dari Kawasan Bebas sampai dengan tanggal pembayaran atau tanggal diterbitkannya surat ketetapan pajak.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">
<p align="justify">(7)</p>
</td>
<td valign="top" width="97%">
<p align="justify">Pajak Pertambahan Nilai yang telah disetor sebagaimana dimaksud pada ayat (4) tidak dapat dikreditkan sebagai Pajak Masukan.</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 4</strong></p>
<p align="justify">Pengenaan Pajak Pertambahan Nilai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) atau Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2) atas pengeluaran Barang Kena Pajak dari Kawasan Bebas dikecualikan untuk pengeluaran Barang Kena Pajak dengan tujuan angkut terus atau angkut lanjut dari tempat lain dalam Daerah Pabean ke Kawasan Bebas untuk tujuan tempat lain dalam Daerah Pabean.</p>
<p align="center"><strong>Pasal 5</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="3%">
<p align="justify">(1)</p>
</td>
<td valign="top" width="97%">
<p align="justify">Barang Kena Pajak dapat dikeluarkan dari Kawasan Bebas ke tempat lain dalam Daerah Pabean sepanjang telah dipenuhi kewajiban pabean sebagaimana diatur dalam ketentuan perundang-undangan kepabeanan.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">
<p align="justify">(2)</p>
</td>
<td valign="top" width="97%">
<p align="justify">Termasuk dalam pemenuhan kewajiban pabean sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah penyampaian Pemberitahuan Pabean yang dilampiri dengan:</p>
<ol type="a">
<li>
<p align="justify">invoice atau faktur penjualan atau dokumen penyerahan barang dalam hal barang tersebut bukan dalam rangka transaksi jual beli; dan</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Surat Setoran Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (6).</p>
</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">
<p align="justify">(3)</p>
</td>
<td valign="top" width="97%">
<p align="justify">Untuk pengeluaran Barang Kena Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) huruf a, huruf b, huruf c, dan huruf d, kewajiban melampirkan Surat Setoran Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b diganti dengan melampirkan:</p>
<ol type="a">
<li>
<p align="justify">Pemberitahuan Pemasukan/Pengeluaran Barang Transaksi Tertentu (PPBTT) yang telah disetujui oleh Kepala Kantor Pelayanan Pajak tempat pengusaha di tempat lain dalam Daerah Pabean terdaftar dan surat persetujuan keterangan asal barang dari Badan Pengusahaan Kawasan untuk pengeluaran Barang Kena Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) huruf a dan huruf b selain Barang Kena Pajak asal luar Daerah Pabean;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Surat Keterangan Bebas Pajak Pertambahan Nilai untuk pengeluaran Barang Kena Pajak yang menurut ketentuan perundang-undangan perpajakan untuk mendapatkan fasilitas dimaksud harus dilengkapi/disertai dengan Surat Keterangan Bebas Pajak Pertambahan Nilai;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">masterlist atau dokumen dengan nama lain yang mempunyai fungsi sama dengan masterlist untuk perusahaan kontraktor minyak dan gas bumi serta panas bumi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) huruf c.</p>
</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">
<p align="justify">(4)</p>
</td>
<td valign="top" width="97%">
<p align="justify">Kewajiban untuk melampirkan Surat Setoran Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b tidak berlaku untuk:</p>
<ol type="a">
<li>
<p align="justify">pengeluaran Barang Kena Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) huruf d yang menurut ketentuan perundang-undangan perpajakan ditentukan bahwa untuk mendapatkan fasilitas dimaksud tidak memerlukan Surat Keterangan Bebas Pajak Pertambahan Nilai;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">pengeluaran Barang Kena Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) huruf e dan huruf f.</p>
</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">
<p align="justify">(5)</p>
</td>
<td valign="top" width="97%">
<p align="justify">PPBTT sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf a dibuat oleh pengusaha di tempat lain dalam Daerah Pabean dalam rangkap 5 (lima) dengan peruntukan sebagai berikut:</p>
<ol type="a">
<li>
<p align="justify">lembar ke-1 untuk pengusaha di tempat lain dalam Daerah Pabean;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">lembar ke-2 untuk pengusaha di Kawasan Bebas;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">lembar ke-3 untuk Kantor Pelayanan Pajak di Kawasan Bebas melalui Unit Pelaksana Kawasan Bebas;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">lembar ke-4 untuk Kantor Pabean di Kawasan Bebas;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">lembar ke-5 untuk Kantor Pelayanan Pajak tempat pengusaha di Tempat Lain Dalam Daerah Paben terdaftar.</p>
</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">
<p align="justify">(6)</p>
</td>
<td valign="top" width="97%">
<p align="justify">PPBTT sebagaimana dimaksud pada ayat (5) menggunakan format sebagaimana tercantum dalam Lampiran I Peraturan Menteri ini dan tata cara pemberian persetujuan atas PPBTT di Kantor Pelayanan Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (3) adalah sebagaimana tercantum dalam Lampiran II Peraturan Menteri ini, yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">
<p align="justify">(7)</p>
</td>
<td valign="top" width="97%">
<p align="justify">Surat persetujuan keterangan asal barang dari Badan Pengusahaan Kawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf a harus memenuhi ketentuan sebagai berikut:</p>
<ol type="a">
<li>berisi pernyataan yang menerangkan bahwa Barang Kena Pajak yang dikeluarkan dari Kawasan Bebas tersebut tidak berasal dari luar Daerah Pabean atau selama berada di Kawasan Bebas tidak ada komponen atau bagian dari Barang Kena Pajak tersebut berasal dari luar Daerah Pabean;</li>
<li>dibuat sebelum Barang Kena Pajak dikeluarkan dari Kawasan Bebas;</li>
<li>dibuat dalam rangkap 6 (enam) dengan peruntukan sebagai berikut:
<ol>
<li>lembar ke-1 untuk pengusaha di tempat lain dalam Daerah Pabean;</li>
<li>lembar ke-2 untuk pengusaha di Kawasan Bebas;</li>
<li>lembar ke-3 untuk Kantor Pelayanan Pajak di Kawasan Bebas melalui Unit Pelaksana Kawasan Bebas;</li>
<li>lembar ke-4 untuk Kantor Pabean di Kawasan Bebas;</li>
<li>lembar ke-5 untuk Kantor Pelayanan Pajak tempat pengusaha tempat lain dalam Daerah Pabean terdaftar;</li>
<li>lembar ke-6 untuk Badan Pengusahaan Kawasan.</li>
</ol>
</li>
</ol>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 6</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="4%">
<p align="justify">(1)</p>
</td>
<td valign="top" width="96%">
<p align="justify">Penyerahan Barang Kena Pajak Tidak Berwujud dan/atau Jasa Kena Pajak dari Kawasan Bebas ke tempat lain dalam Daerah Pabean, dikenai Pajak Pertambahan Nilai.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">
<p align="justify">(2)</p>
</td>
<td valign="top" width="96%">
<p align="justify">Penyerahan Barang Kena Pajak Tidak Berwujud dan/atau Jasa Kena Pajak dari Kawasan Bebas ke Tempat Penimbunan Berikat atau Kawasan Ekonomi Khusus, dipungut Pajak Pertambahan Nilai.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">
<p align="justify">(3)</p>
</td>
<td valign="top" width="96%">
<p align="justify">Saat terutang Pajak Pertambahan Nilai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) adalah pada saat pemanfaatan Barang Kena Pajak Tidak Berwujud dan/atau Jasa Kena Pajak di tempat lain dalam Daerah Pabean, Tempat Penimbunan Berikat, atau Kawasan Ekonomi Khusus.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">
<p align="justify">(4)</p>
</td>
<td valign="top" width="96%">
<p align="justify">Pemanfaatan Barang Kena Pajak Tidak Berwujud dan/atau Jasa Kena Pajak dari Kawasan Bebas sebagaimana dimaksud pada ayat (3) terjadi pada saat:</p>
<ol type="a">
<li>
<p align="justify">harga perolehan Barang Kena Pajak Tidak Berwujud dan/atau Jasa Kena Pajak tersebut dinyatakan sebagai utang oleh pihak yang memanfaatkannya;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">harga jual Barang Kena Pajak Tidak Berwujud dan/atau penggantian Jasa Kena Pajak tersebut ditagih oleh pihak yang menyerahkannya; atau</p>
</li>
<li>
<p align="justify">harga perolehan Barang Kena Pajak Tidak Berwujud dan/atau Jasa Kena Pajak tersebut dibayar, baik sebagian atau seluruhnya oleh pihak yang memanfaatkannya,</p>
</li>
</ol>
<p align="justify">yang terjadi lebih dahulu.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">
<p align="justify">(5)</p>
</td>
<td valign="top" width="96%">
<p align="justify">Pemanfaatan Barang Kena Pajak Tidak Berwujud dan/atau Jasa Kena Pajak dari Kawasan Bebas ke tempat lain dalam Daerah Pabean, Tempat Penimbunan Berikat, atau Kawasan Ekonomi Khusus terjadi pada tanggal ditandatanganinya kontrak atau perjanjian, dalam hal saat terjadinya pemanfaatan Barang Kena Pajak Tidak Berwujud dan/atau Jasa Kena Pajak dari Kawasan Bebas sebagaimana dimaksud pada ayat (4) tidak diketahui.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">
<p align="justify">(6)</p>
</td>
<td valign="top" width="96%">
<p align="justify">Dasar Pengenaan Pajak atas Pajak Pertambahan Nilai yang terutang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) adalah sebesar harga jual Barang Kena Pajak Tidak Berwujud dan/atau penggantian Jasa Kena Pajak.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">
<p align="justify">(7)</p>
</td>
<td valign="top" width="96%">
<p align="justify">Pajak Pertambahan Nilai yang terutang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dipungut oleh Orang yang memanfaatkan Barang Kena Pajak Tidak Berwujud dan/atau Jasa Kena Pajak di tempat lain dalam Daerah Pabean, Tempat Penimbunan Berikat, atau Kawasan Ekonomi Khusus pada saat pemanfaatan Barang Kena Pajak Tidak Berwujud dan/atau Jasa Kena Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (4) atau ayat (5).</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">
<p align="justify">(8)</p>
</td>
<td valign="top" width="96%">
<p align="justify">Pajak Pertambahan Nilai yang telah dipungut sebagaimana dimaksud pada ayat (7), disetor ke kas negara oleh Orang yang memanfaatkan Barang Kena Pajak Tidak Berwujud dan/atau Jasa Kena Pajak di tempat lain dalam Daerah Pabean, Tempat Penimbunan Berikat, atau Kawasan Ekonomi Khusus melalui kantor pos atau bank persepsi yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan, dengan menggunakan Surat Setoran Pajak paling lama pada akhir bulan berikutnya setelah bulan terjadinya pemungutan.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">
<p align="justify">(9)</p>
</td>
<td valign="top" width="96%">
<p align="justify">Surat Setoran Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (8) yang dilampiri dengan invoice atau kontrak merupakan dokumen yang kedudukannya dipersamakan dengan Faktur Pajak.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">
<p align="justify">(10)</p>
</td>
<td valign="top" width="96%">
<p align="justify">Dalam hal Orang yang memanfaatkan Barang Kena Pajak Tidak Berwujud dan/atau Jasa Kena Pajak merupakan Pengusaha Kena Pajak, Pajak Pertambahan Nilai yang disetorkan dengan menggunakan Surat Setoran Pajak yang dilampiri dengan invoice atau kontrak sebagaimana dimaksud pada ayat (9) merupakan Pajak Masukan yang dapat dikreditkan sesuai peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan dan dilaporkan dalam Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai pada Masa Pajak yang sama dengan bulan penyetoran.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">
<p align="justify">(11)</p>
</td>
<td valign="top" width="96%">
<p align="justify">Dalam hal Orang yang memanfaatkan Barang Kena Pajak Tidak Berwujud dan/atau Jasa Kena Pajak bukan merupakan Pengusaha Kena Pajak, Pajak Pertambahan Nilai yang disetor sebagaimana dimaksud pada ayat (8) dengan menggunakan Surat Setoran Pajak lembar ke-3 wajib dilaporkan paling lama akhir bulan berikutnya setelah saat terutangnya pajak ke Kantor Pelayanan Pajak yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal atau tempat kedudukan Orang tersebut.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">
<p align="justify">(12)</p>
</td>
<td valign="top" width="96%">
<p align="justify">Dikecualikan dari pengenaan Pajak Pertambahan Nilai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) adalah penyerahan Jasa Kena Pajak yang menurut ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan dibebaskan dari pengenaan Pajak Pertambahan Nilai.</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 7</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="3%">
<p align="justify">(1)</p>
</td>
<td valign="top" width="97%">
<p align="justify">Atas penyerahan jasa angkutan udara di dalam Kawasan Bebas dibebaskan dari pengenaan Pajak Pertambahan Nilai.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">
<p align="justify">(2)</p>
</td>
<td valign="top" width="97%">
<p align="justify">Atas penyerahan jasa angkutan udara dalam negeri dari tempat lain dalam Daerah Pabean ke Kawasan Bebas dikenai Pajak Pertambahan Nilai.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">
<p align="justify">(3)</p>
</td>
<td valign="top" width="97%">
<p align="justify">Atas penyerahan jasa angkutan udara dalam negeri dari Kawasan Bebas ke tempat lain dalam Daerah Pabean dikenai Pajak Pertambahan Nilai.</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 8</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="3%">
<p align="justify">(1)</p>
</td>
<td valign="top" width="97%">
<p align="justify">Atas penyerahan jasa telekomunikasi di dalam Kawasan Bebas dibebaskan dari pengenaan Pajak Pertambahan Nilai.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">
<p align="justify">(2)</p>
</td>
<td valign="top" width="97%">
<p align="justify">Atas penyerahan jasa telekomunikasi dari tempat lain dalam Daerah Pabean atau Tempat Penimbunan Berikat ke Kawasan Bebas dikenai Pajak Pertambahan Nilai.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">
<p align="justify">(3)</p>
</td>
<td valign="top" width="97%">
<p align="justify">Atas penyerahan jasa telekomunikasi dari Kawasan Bebas ke tempat lain dalam Daerah Pabean atau Tempat Penimbunan Berikat dikenai Pajak Pertambahan Nilai.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">
<p align="justify">(4)</p>
</td>
<td valign="top" width="97%">
<p align="justify">Dikecualikan dari ketentuan pengenaan Pajak Pertambahan Nilai pada ayat (2) atas penyerahan jasa telekomunikasi yang menggunakan jaringan berkabel (fixed line) di Kawasan Bebas.</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 9</strong></p>
<p align="justify">Tata cara penghitungan Pajak Pertambahan Nilai dan pemenuhan kewajiban perpajakan atas pengeluaran Barang Kena Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 dan/atau penyerahan Barang Kena Pajak Tidak Berwujud dan/atau Jasa Kena Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 dari Kawasan Bebas ke tempat lain dalam Daerah Pabean adalah sebagaimana tercantum dalam Lampiran III Peraturan Menteri ini, yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.</p>
<p align="center"><strong>Pasal 10</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="4%">
<p align="justify">(1)</p>
</td>
<td valign="top" width="96%">
<p align="justify">Pemasukan Barang Kena Pajak dari tempat lain dalam Daerah Pabean ke Kawasan Bebas melalui pelabuhan atau bandar udara yang ditunjuk, tidak dipungut Pajak Pertambahan Nilai atau Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">
<p align="justify">(2)</p>
</td>
<td valign="top" width="96%">
<p align="justify">Pemasukan Barang Kena Pajak dari Tempat Penimbunan Berikat atau Kawasan Ekonomi Khusus ke Kawasan Bebas melalui pelabuhan atau bandar udara yang ditunjuk, tidak dipungut Pajak Pertambahan Nilai atau Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">
<p align="justify">(3)</p>
</td>
<td valign="top" width="96%">
<p align="justify">Penyerahan Barang Kena Pajak Tidak Berwujud dari tempat lain dalam Daerah Pabean ke Kawasan Bebas, tidak dipungut Pajak Pertambahan Nilai.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">
<p align="justify">(4)</p>
</td>
<td valign="top" width="96%">
<p align="justify">Penyerahan Barang Kena Pajak Tidak Berwujud dari Tempat Penimbunan Berikat atau Kawasan Ekonomi Khusus ke Kawasan Bebas, tidak dipungut Pajak Pertambahan Nilai.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">
<p align="justify">(5)</p>
</td>
<td valign="top" width="96%">
<p align="justify">Penyerahan Jasa Kena Pajak dari tempat lain dalam Daerah Pabean ke Kawasan Bebas yang penyerahannya tidak dilakukan di Kawasan Bebas, dikenai Pajak Pertambahan Nilai.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">
<p align="justify">(6)</p>
</td>
<td valign="top" width="96%">
<p align="justify">Penyerahan Jasa Kena Pajak dari Tempat Penimbunan Berikat atau Kawasan Ekonomi Khusus ke Kawasan Bebas yang penyerahannya tidak dilakukan di Kawasan Bebas, dipungut Pajak Pertambahan Nilai.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">
<p align="justify">(7)</p>
</td>
<td valign="top" width="96%">
<p align="justify">Penyerahan Jasa Kena Pajak tertentu dari tempat lain dalam Daerah Pabean ke Kawasan Bebas, tidak dipungut Pajak Pertambahan Nilai.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">
<p align="justify">(8)</p>
</td>
<td valign="top" width="96%">
<p align="justify">Penyerahan Jasa Kena Pajak tertentu dari Tempat Penimbunan Berikat atau Kawasan Ekonomi Khusus ke Kawasan Bebas, tidak dipungut Pajak Pertambahan Nilai.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">
<p align="justify">(9)</p>
</td>
<td valign="top" width="96%">
<p align="justify">Jasa Kena Pajak tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (7) dan ayat (8) adalah Jasa Kena Pajak yang batasan kegiatan dan jenisnya diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (2) Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">
<p align="justify">(10)</p>
</td>
<td valign="top" width="96%">
<p align="justify">Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), ayat (3), ayat (4), ayat (7), dan ayat (8), juga berlaku untuk pemasukan Barang Kena Pajak dan penyerahan Jasa Kena Pajak yang sesuai dengan ketentuan perundang-undangan perpajakan dibebaskan dari pengenaan Pajak Pertambahan Nilai.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">
<p align="justify">(11)</p>
</td>
<td valign="top" width="96%">
<p align="justify">Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) tidak berlaku untuk pemasukan Barang Kena Pajak yang telah dilunasi Pajak Pertambahan Nilai dengan menggunakan stiker lunas Pajak Pertambahan Nilai, dan Bahan Bakar Minyak bersubsidi.</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 11</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="3%">
<p align="justify">(1)</p>
</td>
<td valign="top" width="97%">
<p align="justify">Atas pemasukan Barang Kena Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (1) dan ayat (2) wajib dibuatkan Faktur Pajak yang diisi lengkap sesuai dengan ketentuan Pasal 13 ayat (5) Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">
<p align="justify">(2)</p>
</td>
<td valign="top" width="97%">
<p align="justify">Termasuk dalam pengertian Faktur Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah dokumen tertentu yang kedudukannya dipersamakan dengan Faktur Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (6) Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">
<p align="justify">(3)</p>
</td>
<td valign="top" width="97%">
<p align="justify">Faktur Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibuat paling lambat pada saat pengiriman Barang Kena Pajak ke Kawasan Bebas.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">
<p align="justify">(4)</p>
</td>
<td valign="top" width="97%">
<p align="justify">Atas penyerahan Barang Kena Pajak Tidak Berwujud dan/atau Jasa Kena Pajak tertentu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (3), ayat (4), ayat (7), dan ayat (8), wajib dibuatkan Faktur Pajak sesuai peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">
<p align="justify">(5)</p>
</td>
<td valign="top" width="97%">
<p align="justify">Atas penyerahan Jasa Kena Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (5) dan ayat (6) wajib dibuatkan Faktur Pajak sesuai peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">
<p align="justify">(6)</p>
</td>
<td valign="top" width="97%">
<p align="justify">Faktur Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (4) harus diberi cap “PAJAK PERTAMBAHAN NILAI TIDAK DIPUNGUT BERDASARKAN PP NOMOR 10 TAHUN 2012” oleh Pengusaha Kena Pajak yang melakukan penyerahan.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">
<p align="justify">(7)</p>
</td>
<td valign="top" width="97%">
<p align="justify">Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku atas pemasukan Barang Kena Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) huruf b dan pemasukan kembali Barang Kena Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) huruf a.</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 12</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="3%">
<p align="justify">(1)</p>
</td>
<td valign="top" width="97%">
<p align="justify">Fasilitas Pajak Pertambahan Nilai atau Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah tidak dipungut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (1) dan ayat (2) diberikan sepanjang Barang Kena Pajak Berwujud tersebut benar-benar telah masuk di Kawasan Bebas yang dibuktikan dengan dokumen yang telah diberikan Endorsement oleh pejabat/pegawai Direktorat Jenderal Pajak.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">
<p align="justify">(2)</p>
</td>
<td valign="top" width="97%">
<p align="justify">Dokumen yang harus disampaikan dalam rangka Endorsement sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah Pemberitahuan Pabean yang telah didaftarkan pada kantor pabean, yang dilampiri dengan:</p>
<ol type="a">
<li>
<p align="justify">fotokopi Faktur Pajak (lembar pembeli);</p>
</li>
<li>
<p align="justify">fotokopi Bill of Lading, Airway Bill, atau Delivery Order; dan</p>
</li>
<li>
<p align="justify">fotokopi invoice.</p>
</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">
<p align="justify">(3)</p>
</td>
<td valign="top" width="97%">
<p align="justify">Dokumen yang harus disampaikan dalam rangka Endorsement sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk pemasukan Barang Kena Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) huruf a dan huruf b adalah Pemberitahuan Pabean yang telah didaftarkan pada Kantor Pabean, yang dilampiri dengan:</p>
<ol type="a">
<li>
<p align="justify">PPBTT yang telah disetujui oleh Kepala Kantor Pelayanan Pajak tempat pengusaha di tempat lain dalam Daerah Pabean terdaftar beserta lampirannya; dan</p>
</li>
<li>
<p align="justify">fotokopi Bill of Lading, Airway Bill, atau Delivery Order.</p>
</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">
<p align="justify">(4)</p>
</td>
<td valign="top" width="97%">
<p align="justify">Penyampaian lampiran dokumen sebagaimana dimaksud pada ayat (2) harus disertai dengan menunjukkan dokumen aslinya.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">
<p align="justify">(5)</p>
</td>
<td valign="top" width="97%">
<p align="justify">Dalam hal pengurusan Pemberitahuan Pabean dilakukan oleh pengusaha pengurusan jasa kepabeanan, dokumen yang harus disampaikan dalam rangka Endorsement sebagaimana dimaksud pada ayat (2) harus dilampiri dengan surat kuasa dari pengusaha yang melakukan pemasukan Barang Kena Pajak ke Kawasan Bebas.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">
<p align="justify">(6)</p>
</td>
<td valign="top" width="97%">
<p align="justify">Dalam hal Pemberitahuan Pabean tidak sesuai dengan dokumen-dokumen yang harus dilampirkan dalam rangka Endorsement, Barang Kena Pajak tetap dapat dikeluarkan dari pelabuhan/bandar udara yang ditunjuk dan atas pemasukan Barang Kena Pajak tidak dapat diberikan fasilitas Pajak Pertambahan Nilai atau Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah tidak dipungut.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">
<p align="justify">(7)</p>
</td>
<td valign="top" width="97%">
<p align="justify">Dalam hal Pemberitahuan untuk pemasukan Barang Kena Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) huruf a dan huruf b tidak sesuai dengan dokumen-dokumen yang harus dilampirkan dalam rangka Endorsement sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3), Barang Kena Pajak tetap dapat dikeluarkan dari pelabuhan/bandar udara yang ditunjuk dan atas pemasukan Barang Kena Pajak tersebut tidak termasuk transaksi tertentu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) huruf a dan huruf b.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">
<p align="justify">(8)</p>
</td>
<td valign="top" width="97%">
<p align="justify">Tata cara Endorsement oleh pejabat/pegawai Direktorat Jenderal Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah sebagaimana tercantum dalam Lampiran IV Peraturan Menteri ini, yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">
<p align="justify">(9)</p>
</td>
<td valign="top" width="97%">
<p align="justify">Penugasan pejabat/pegawai Direktorat Jenderal Pajak dalam rangka melakukan Endorsement sebagaimana dimaksud pada ayat (1) di Kantor Pabean ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan.</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 13</strong></p>
<p align="justify">Ketentuan mengenai tata cara:</p>
<ol>
<li>
<p align="justify">pengeluaran dan pelunasan pajak terutang atas Barang Kena Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) huruf a asal luar Daerah Pabean;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">pemasukan dan pengeluaran pengemas yang dipakai berulang-ulang (returnable package) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) huruf f; dan</p>
</li>
<li>
<p align="justify">pengeluaran Barang Kena Pajak dengan tujuan angkut terus atau angkut lanjut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4;</p>
</li>
</ol>
<p align="justify">mengikuti ketentuan sebagaimana diatur dalam:</p>
<ol type="a">
<li>
<p align="justify">Peraturan Menteri Keuangan Nomor 47/PMK.04/2012 tentang Tata Laksana Pemasukan dan Pengeluaran Barang Ke dan Dari Kawasan yang Telah Ditetapkan Sebagai Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas dan Pembebasan Cukai dan perubahannya; dan</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Peraturan Menteri Keuangan Nomor 48/PMK.04/2012 tentang Pemberitahuan Pabean Dalam Rangka Pemasukan dan Pengeluaran Barang Ke dan Dari Kawasan yang Telah Ditetapkan Sebagai Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas dan perubahannya.</p>
</li>
</ol>
<p align="center"><strong>Pasal 14</strong></p>
<p align="justify">Pada saat Peraturan Menteri ini mulai berlaku, Peraturan Menteri Keuangan Nomor 45/PMK.03/2009 tentang Tata Cara Pengawasan, Pengadministrasian, Pembayaran, Serta Pelunasan Pajak Pertambahan Nilai dan/atau Pajak Penjualan Atas Barang Mewah Atas Pengeluaran dan/atau Penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak Dari Kawasan Bebas Ke Tempat Lain Dalam Daerah Pabean Dan Pemasukan dan/atau Penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak Dari Tempat Lain Dalam Daerah Pabean Ke Kawasan Bebas sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 240/PMK.03/2009, dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.</p>
<p align="center"><strong>Pasal 15</strong></p>
<p align="justify">Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.</p>
<p align="justify">Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Menteri ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ditetapkan di Jakarta<br />
pada tanggal 26 April 2012<br />
MENTERI KEUANGAN,</p>
<p>ttd.</p>
<p>AGUS D.W. MARTOWARDOJO<br />
Diundangkan di Jakarta<br />
pada tanggal 26 April 2012<br />
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA,</p>
<p>ttd.</p>
<p>AMIR SYAMSUDIN</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center"><strong>BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2012 NOMOR 462</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.mytaxlink.net/62pmk-032012/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keputusan Menteri Keuangan Nomor 502/KM.1/2012</title>
		<link>http://www.mytaxlink.net/502km-12012/</link>
		<comments>http://www.mytaxlink.net/502km-12012/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 May 2012 04:10:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kurs Pajak]]></category>
		<category><![CDATA[DAN PAJAK PENGHASILAN YANG BERLAKU UNTUK TANGGAL 07 MEI 2012 SAMPAI DENGAN 13 MEI 2012]]></category>
		<category><![CDATA[Keputusan Menteri Keuangan Nomor 502/KM.1/2012]]></category>
		<category><![CDATA[NILAI KURS SEBAGAI DASAR PELUNASAN BEA MASUK]]></category>
		<category><![CDATA[PAJAK EKSPOR]]></category>
		<category><![CDATA[PAJAK PERTAMBAHAN NILAI BARANG DAN JASA DAN PAJAK PENJUALAN ATAS BARANG MEWAH]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.mytaxlink.net/?p=681</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>KEPUTUSAN<br />
MENTERI KEUANGAN<br />
NOMOR 502/KM.1/2012<br />
Tanggal 07 Mei 2012</strong></p>
<p align="center"><strong>NILAI KURS SEBAGAI DASAR PELUNASAN BEA MASUK, PAJAK PERTAMBAHAN NILAI BARANG DAN JASA DAN PAJAK PENJUALAN ATAS BARANG MEWAH, PAJAK EKSPOR, DAN PAJAK PENGHASILAN YANG BERLAKU UNTUK TANGGAL 07 MEI 2012 SAMPAI DENGAN 13 MEI 2012</strong></p>
<p align="center"><strong>MENTERI KEUANGAN,</strong></p>
<p align="justify">Menimbang :</p>
<ol type="a">
<li>
<p align="justify">bahwa untuk keperluan pelunasan Bea Masuk, Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah, Pajak Ekspor, dan Pajak Penghasilan atas pemasukan barang, hutang Pajak yang berhubungan dengan Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah, Pajak Ekspor, dan penghasilan yang diterima atau diperoleh berupa uang asing, harus terlebih dahulu dinilai ke dalam uang rupiah;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, perlu menetapkan Keputusan Menteri Keuangan tentang Nilai Kurs sebagai Dasar Pelunasan Bea Masuk, Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah, Pajak Ekspor, dan Pajak Penghasilan yang berlaku untuk tanggal 07 Mei 2012 sampai dengan 13 Mei 2012.</p>
</li>
</ol>
<p align="justify">Mengingat :</p>
<ol>
<li>
<p align="justify">Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 50, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3263) sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2000 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 127);</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 51, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3264) sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2000 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 128, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3986);</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1995 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3612) sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2006 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 93, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4661); Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1995 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3612);</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1995 Nomor 76, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3613) sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2007 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 105, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4755);</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Keputusan Presiden Nomor 187/M Tahun 2004 tentang Pembentukan Kabinet Indonesia Bersatu sebagaimana telah diubah terakhir dengan Keputusan Presiden Nomor 20/P tahun 2005;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Keputusan Menteri Keuangan Nomor 371/KMK.01/2002 tentang Pelimpahan Wewenang Kepada Pejabat Eselon I Di Lingkungan Departemen Keuangan Untuk dan Atas Nama Menteri Keuangan Menandatangani Surat dan atau Keputusan Menteri Keuangan;</p>
</li>
</ol>
<p align="center"><strong>MEMUTUSKAN :</strong></p>
<p align="justify">Menetapkan :</p>
<p align="justify">KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN TENTANG NILAI KURS SEBAGAI DASAR PELUNASAN BEA MASUK, PAJAK PERTAMBAHAN NILAI BARANG DAN JASA DAN PAJAK PENJUALAN ATAS BARANG MEWAH, PAJAK EKSPOR, DAN PAJAK PENGHASILAN YANG BERLAKU UNTUK TANGGAL 07 MEI 2012 SAMPAI DENGAN 13 MEI 2012.</p>
<p align="center"><strong>Pasal 1</strong></p>
<p align="justify">Nilai Kurs sebagai Dasar Pelunasan Bea Masuk, Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah, Pajak Ekspor, dan Pajak Penghasilan yang berlaku untuk tanggal 07 Mei 2012 sampai dengan 13 Mei 2012, ditetapkan sebagai berikut :</p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="9%">
<p align="justify">1.</p>
</td>
<td valign="top" width="14%">
<p align="justify">Rp</p>
</td>
<td valign="top" width="17%">
<p align="justify">9.203,00</p>
</td>
<td valign="top" width="27%">
<p align="justify">Untuk Dolar Amerika Serikat (USD)</p>
</td>
<td valign="top" width="33%">
<p align="justify">1-</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="9%">
<p align="justify">2</p>
</td>
<td valign="top" width="14%">
<p align="justify">Rp</p>
</td>
<td valign="top" width="17%">
<p align="justify">9.504,28</p>
</td>
<td valign="top" width="27%">
<p align="justify">Untuk Dolar Australia (AUD)</p>
</td>
<td valign="top" width="33%">
<p align="justify">1-</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="9%">
<p align="justify">3</p>
</td>
<td valign="top" width="14%">
<p align="justify">Rp</p>
</td>
<td valign="top" width="17%">
<p align="justify">9.323,07</p>
</td>
<td valign="top" width="27%">
<p align="justify">Untuk Dolar Canada (CAD)</p>
</td>
<td valign="top" width="33%">
<p align="justify">1-</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="9%">
<p align="justify">4</p>
</td>
<td valign="top" width="14%">
<p align="justify">Rp</p>
</td>
<td valign="top" width="17%">
<p align="justify">1.631,86</p>
</td>
<td valign="top" width="27%">
<p align="justify">Untuk Kroner Denmark (DKK)</p>
</td>
<td valign="top" width="33%">
<p align="justify">1-</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="9%">
<p align="justify">5</p>
</td>
<td valign="top" width="14%">
<p align="justify">Rp</p>
</td>
<td valign="top" width="17%">
<p align="justify">1.186,11</p>
</td>
<td valign="top" width="27%">
<p align="justify">Untuk Dolar Hongkong (HKD)</p>
</td>
<td valign="top" width="33%">
<p align="justify">1-</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="9%">
<p align="justify">6</p>
</td>
<td valign="top" width="14%">
<p align="justify">Rp</p>
</td>
<td valign="top" width="17%">
<p align="justify">3.036,63</p>
</td>
<td valign="top" width="27%">
<p align="justify">Untuk Ringgit Malaysia (MYR)</p>
</td>
<td valign="top" width="33%">
<p align="justify">1-</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="9%">
<p align="justify">7</p>
</td>
<td valign="top" width="14%">
<p align="justify">Rp</p>
</td>
<td valign="top" width="17%">
<p align="justify">7.447,09</p>
</td>
<td valign="top" width="27%">
<p align="justify">Untuk Dolar Selandia Baru (NZD)</p>
</td>
<td valign="top" width="33%">
<p align="justify">1-</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="9%">
<p align="justify">8</p>
</td>
<td valign="top" width="14%">
<p align="justify">Rp</p>
</td>
<td valign="top" width="17%">
<p align="justify">1.604,79</p>
</td>
<td valign="top" width="27%">
<p align="justify">Untuk Kroner Norwegia (NOK)</p>
</td>
<td valign="top" width="33%">
<p align="justify">1-</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="9%">
<p align="justify">9</p>
</td>
<td valign="top" width="14%">
<p align="justify">Rp</p>
</td>
<td valign="top" width="17%">
<p align="justify">14.912,95</p>
</td>
<td valign="top" width="27%">
<p align="justify">Untuk Poundsterling Inggris (GBP)</p>
</td>
<td valign="top" width="33%">
<p align="justify">1-</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="9%">
<p align="justify">10</p>
</td>
<td valign="top" width="14%">
<p align="justify">Rp</p>
</td>
<td valign="top" width="17%">
<p align="justify">7.423,65</p>
</td>
<td valign="top" width="27%">
<p align="justify">Untuk Dolar Singapura (SGD)</p>
</td>
<td valign="top" width="33%">
<p align="justify">1-</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="9%">
<p align="justify">11</p>
</td>
<td valign="top" width="14%">
<p align="justify">Rp</p>
</td>
<td valign="top" width="17%">
<p align="justify">1.365,37</p>
</td>
<td valign="top" width="27%">
<p align="justify">Untuk Kroner Swedia (SEK)</p>
</td>
<td valign="top" width="33%">
<p align="justify">1-</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="9%">
<p align="justify">12</p>
</td>
<td valign="top" width="14%">
<p align="justify">Rp</p>
</td>
<td valign="top" width="17%">
<p align="justify">10.102,09</p>
</td>
<td valign="top" width="27%">
<p align="justify">Untuk Franc Swiss (CHF)</p>
</td>
<td valign="top" width="33%">
<p align="justify">1-</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="9%">
<p align="justify">13</p>
</td>
<td valign="top" width="14%">
<p align="justify">Rp</p>
</td>
<td valign="top" width="17%">
<p align="justify">11.492,01</p>
</td>
<td valign="top" width="27%">
<p align="justify">Untuk Yen Jepang (JPY)</p>
</td>
<td valign="top" width="33%">
<p align="justify">100-</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="9%">
<p align="justify">14</p>
</td>
<td valign="top" width="14%">
<p align="justify">Rp</p>
</td>
<td valign="top" width="17%">
<p align="justify">11,18</p>
</td>
<td valign="top" width="27%">
<p align="justify">Untuk Kyat Burma (BUK)</p>
</td>
<td valign="top" width="33%">
<p align="justify">1-</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="9%">
<p align="justify">15</p>
</td>
<td valign="top" width="14%">
<p align="justify">Rp</p>
</td>
<td valign="top" width="17%">
<p align="justify">173,52</p>
</td>
<td valign="top" width="27%">
<p align="justify">Untuk Rupee India (INR)</p>
</td>
<td valign="top" width="33%">
<p align="justify">1-</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="9%">
<p align="justify">16</p>
</td>
<td valign="top" width="14%">
<p align="justify">Rp</p>
</td>
<td valign="top" width="17%">
<p align="justify">33.154,28</p>
</td>
<td valign="top" width="27%">
<p align="justify">Untuk Dinar Kuwait (KWD)</p>
</td>
<td valign="top" width="33%">
<p align="justify">1-</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="9%">
<p align="justify">17</p>
</td>
<td valign="top" width="14%">
<p align="justify">Rp</p>
</td>
<td valign="top" width="17%">
<p align="justify">101,19</p>
</td>
<td valign="top" width="27%">
<p align="justify">Untuk Rupee Pakistan (PKR)</p>
</td>
<td valign="top" width="33%">
<p align="justify">1-</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="9%">
<p align="justify">18</p>
</td>
<td valign="top" width="14%">
<p align="justify">Rp</p>
</td>
<td valign="top" width="17%">
<p align="justify">218,10</p>
</td>
<td valign="top" width="27%">
<p align="justify">Untuk Peso Philipina (PHP)</p>
</td>
<td valign="top" width="33%">
<p align="justify">1-</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="9%">
<p align="justify">19</p>
</td>
<td valign="top" width="14%">
<p align="justify">Rp</p>
</td>
<td valign="top" width="17%">
<p align="justify">2.453,93</p>
</td>
<td valign="top" width="27%">
<p align="justify">Untuk Riyal Saudi Arabia (SAR)</p>
</td>
<td valign="top" width="33%">
<p align="justify">1-</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="9%">
<p align="justify">20</p>
</td>
<td valign="top" width="14%">
<p align="justify">Rp</p>
</td>
<td valign="top" width="17%">
<p align="justify">71,79</p>
</td>
<td valign="top" width="27%">
<p align="justify">Untuk Rupee Sri Lanka (LKR)</p>
</td>
<td valign="top" width="33%">
<p align="justify">1-</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="9%">
<p align="justify">21</p>
</td>
<td valign="top" width="14%">
<p align="justify">Rp</p>
</td>
<td valign="top" width="17%">
<p align="justify">298,42</p>
</td>
<td valign="top" width="27%">
<p align="justify">Untuk Baht Thailand (THB)</p>
</td>
<td valign="top" width="33%">
<p align="justify">1-</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="9%">
<p align="justify">22</p>
</td>
<td valign="top" width="14%">
<p align="justify">Rp</p>
</td>
<td valign="top" width="17%">
<p align="justify">7.420,89</p>
</td>
<td valign="top" width="27%">
<p align="justify">Untuk Dolar Brunei Darussalam (BND)</p>
</td>
<td valign="top" width="33%">
<p align="justify">1-</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="9%">
<p align="justify">23</p>
</td>
<td valign="top" width="14%">
<p align="justify">Rp</p>
</td>
<td valign="top" width="17%">
<p align="justify">12.138,13</p>
</td>
<td valign="top" width="27%">
<p align="justify">Untuk Euro (EUR)</p>
</td>
<td valign="top" width="33%">
<p align="justify">1-</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="9%">
<p align="justify">24</p>
</td>
<td valign="top" width="14%">
<p align="justify">Rp</p>
</td>
<td valign="top" width="17%">
<p align="justify">1.461,91</p>
</td>
<td valign="top" width="27%">
<p align="justify">Untuk Yuan China (CNY)</p>
</td>
<td valign="top" width="33%">
<p align="justify">1-</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="9%">
<p align="justify">25</p>
</td>
<td valign="top" width="14%">
<p align="justify">Rp</p>
</td>
<td valign="top" width="17%">
<p align="justify">8,15</p>
</td>
<td valign="top" width="27%">
<p align="justify">Untuk Won Korea (KRW)</p>
</td>
<td valign="top" width="33%">
<p align="justify">1-</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 2</strong></p>
<p align="justify">Dalam hal kurs valuta asing lainnya tidak tercantum dalam Pasal 1 maka nilai kurs yang digunakan sebagai dasar pelunasan adalah kurs spot harian valuta asing yang bersangkutan di pasar internasional terhadap dolar Amerika Serikat yang berlaku pada penutupan hari kerja sebelumnya dan dikalikan kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat sebagaimana ditetapkan dalam Keputusan Menteri Keuangan ini</p>
<p align="center"><strong>Pasal 3</strong></p>
<p align="justify">Keputusan Menteri Keuangan ini mulai berlaku pada tanggal 07 Mei 2012</p>
<p align="justify">Agar setiap orang mengetahuinya memerintahkan pengumuman Keputusan Menteri Keuangan ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ditetapkan di Jakarta<br />
Pada tanggal 07 Mei 2012<br />
An MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA<br />
Plt SEKRETARIS JENDERAL</p>
<p>ttd</p>
<p>KIAGUS AHMAD BADARUDIN</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.mytaxlink.net/502km-12012/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-163/PJ/2012</title>
		<link>http://www.mytaxlink.net/kep-163pj2012/</link>
		<comments>http://www.mytaxlink.net/kep-163pj2012/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 May 2012 03:29:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[PBB]]></category>
		<category><![CDATA[DAN ANGKA KAPITALISASI]]></category>
		<category><![CDATA[DAN PANAS BUMI TAHUN PAJAK 2012]]></category>
		<category><![CDATA[GAS BUMI]]></category>
		<category><![CDATA[KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR KEP-163/PJ/2012]]></category>
		<category><![CDATA[NILAI BUMI PER METER PERSEGI UNTUK AREAL OFFSHORE]]></category>
		<category><![CDATA[NILAI BUMI PER METER PERSEGI UNTUK TUBUH BUMI EKSPLORASI]]></category>
		<category><![CDATA[UNTUK PENENTUAN BESARNYA NILAI JUAL OBJEK PAJAK PAJAK BUMI DAN BANGUNAN SEKTOR PERTAMBANGAN UNTUK PERTAMBANGAN MINYAK BUMI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.mytaxlink.net/?p=678</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>KEPUTUSAN<br />
DIREKTUR JENDERAL PAJAK<br />
NOMOR KEP-163/PJ/2012<br />
Tanggal 25 April 2012</strong></p>
<p align="center"><strong>NILAI BUMI PER METER PERSEGI UNTUK AREAL OFFSHORE, NILAI BUMI PER METER PERSEGI UNTUK TUBUH BUMI EKSPLORASI, DAN ANGKA KAPITALISASI, UNTUK PENENTUAN BESARNYA NILAI JUAL OBJEK PAJAK PAJAK BUMI DAN BANGUNAN SEKTOR PERTAMBANGAN UNTUK PERTAMBANGAN MINYAK BUMI, GAS BUMI, DAN PANAS BUMI TAHUN PAJAK 2012</strong></p>
<p align="center"><strong>DIREKTUR JENDERAL PAJAK,</strong></p>
<p align="justify">Menimbang :</p>
<ol type="a">
<li>
<p align="justify">bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 10 ayat (1) huruf c dan Pasal 10 ayat (6) Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-11/PJ/2012 tentang Tata Cara Pengenaan Pajak Bumi dan Bangunan Sektor Pertambangan Untuk Pertambangan Minyak Bumi, Gas Bumi, dan Panas Bumi;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a, perlu menetapkan Keputusan Direktur Jenderal Pajak tentang Nilai Bumi Per Meter Persegi untuk Areal Offshore, Nilai Bumi Per Meter Persegi untuk Tubuh Bumi Eksplorasi, dan Angka Kapitalisasi, untuk Penentuan Besarnya Nilai Jual Objek Pajak Pajak Bumi dan Bangunan Sektor Pertambangan untuk Pertambangan Minyak Bumi, Gas Bumi, dan Panas Bumi Tahun Pajak 2012;</p>
</li>
</ol>
<p align="justify">Mengingat :</p>
<ol>
<li>
<p align="justify">Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1985 tentang Pajak Bumi dan Bangunan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1985 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3312) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1994 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1994 Nomor 62, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3569);</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Peraturan Menteri Keuangan Nomor 15/PMK.03/2012 tentang Penatausahaan dan Pemindahbukuan Pajak Bumi dan Bangunan Sektor Pertambangan untuk Pertambangan Minyak Bumi, Gas Bumi, dan Panas Bumi;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-11/PJ/2012 tentang Tata Cara Pengenaan Pajak Bumi dan Bangunan Sektor Pertambangan Untuk Pertambangan Minyak Bumi, Gas Bumi, dan Panas Bumi;</p>
</li>
</ol>
<p align="center"><strong>MEMUTUSKAN:</strong></p>
<p align="justify">Menetapkan :</p>
<p align="justify">KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK TENTANG NILAI BUMI PER METER PERSEGI UNTUK AREAL OFFSHORE, DAN NILAI BUMI PER METER PERSEGI UNTUK TUBUH BUMI EKSPLORASI, DAN ANGKA KAPITALISASI, UNTUK PENENTUAN BESARNYA NILAI JUAL OBJEK PAJAK PAJAK BUMI DAN BANGUNAN SEKTOR PERTAMBANGAN UNTUK PERTAMBANGAN MINYAK BUMI, GAS BUMI, DAN PANAS BUMI TAHUN PAJAK 2012.</p>
<p align="justify">KESATU :</p>
<p align="justify">Nilai bumi per meter persegi untuk areal offshore ditetapkan sebesar Rp3.998,00 (tiga ribu sembilan ratus sembilan puluh delapan rupiah).</p>
<p align="justify">KEDUA :</p>
<p align="justify">Nilai bumi per meter persegi untuk tubuh bumi eksplorasi sektor pertambangan untuk pertambangan minyak bumi dan gas bumi ditetapkan sebesar Rp3.218,00 (tiga ribu dua ratus delapan belas rupiah).</p>
<p align="justify">KETIGA :</p>
<p align="justify">Nilai bumi per meter persegi untuk tubuh bumi eksplorasi sektor pertambangan untuk pertambangan panas bumi ditetapkan sebesar Rp3.358,00 (tiga ribu tiga ratus lima puluh delapan rupiah).</p>
<p align="justify">KEEMPAT :</p>
<p align="justify">Angka kapitalisasi ditetapkan sebesar 9,5 (sembilan koma lima).</p>
<p align="justify">KELIMA :</p>
<p align="justify">Keputusan Direktur Jenderal Pajak ini berlaku untuk Tahun Pajak 2012.</p>
<p align="justify">Salinan Keputusan Direktur Jenderal Pajak ini disampaikan kepada:</p>
<ol>
<li>
<p align="justify">Direktur Ekstensifikasi dan Penilaian</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Para Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Para Kepala Kantor Pelayanan Pajak Pratama dan</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Kepala Kantor Pelayanan Pajak Minyak dan Gas Bumi</p>
</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ditetapkan di Jakarta<br />
pada tanggal 25-04-2012<br />
DIREKTUR JENDERAL PAJAK,</p>
<p>ttd</p>
<p>A. FUAD RAHMANY<br />
NIP 195411111981121001</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.mytaxlink.net/kep-163pj2012/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keputusan Jenderal Pajaka KEP-161/PJ/2012</title>
		<link>http://www.mytaxlink.net/kep-161pj2012/</link>
		<comments>http://www.mytaxlink.net/kep-161pj2012/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 May 2012 03:19:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[PBB]]></category>
		<category><![CDATA[DAFTAR KPP PRATAMA YANG MENGADMINISTRASIKAN PBB MINYAK BUMI DAN GAS BUMI]]></category>
		<category><![CDATA[DAN PANAS BUMI]]></category>
		<category><![CDATA[GAS BUMI]]></category>
		<category><![CDATA[KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR KEP-161/PJ/2012]]></category>
		<category><![CDATA[LAMPIRAN KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR KEP-161/PJ/2012 TENTANG PENETAPAN KANTOR PELAYANAN PAJAK YANG MENGADMINISTRASIKAN PAJAK BUMI DAN BANGUNAN SEKTOR PERTAMBANGAN UNTUK PERTAMBANGAN MINYAK]]></category>
		<category><![CDATA[PENUNJUKAN KANTOR PELAYANAN PAJAK YANG MENGADMINISTRASIKAN PAJAK BUMI DAN BANGUNAN SEKTOR PERTAMBANGAN UNTUK PERTAMBANGAN MINYAK BUMI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.mytaxlink.net/?p=675</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>KEPUTUSAN<br />
DIREKTUR JENDERAL PAJAK<br />
NOMOR KEP-161/PJ/2012<br />
Tanggal 25 April 2012</strong></p>
<p align="center"><strong>PENUNJUKAN KANTOR PELAYANAN PAJAK YANG MENGADMINISTRASIKAN PAJAK BUMI DAN BANGUNAN SEKTOR PERTAMBANGAN UNTUK PERTAMBANGAN MINYAK BUMI, GAS BUMI, DAN PANAS BUMI</strong></p>
<p align="center"><strong>DIREKTUR JENDERAL PAJAK,</strong></p>
<p align="justify">Menimbang :</p>
<ol type="a">
<li>
<p align="justify">bahwa untuk memberikan kepastian hukum dalam pelaksanaan tugas Direktorat Jenderal Pajak untuk mengadministrasikan Pajak Bumi dan Bangunan Sektor Pertambangan Untuk Pertambangan Minyak Bumi, Gas Bumi, dan Panas Bumi;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 12 ayat (3) Peraturan Menteri Keuangan Nomor 15/PMK.03/2012 tentang Penatausahaan dan Pemindahbukuan Pajak Bumi dan Bangunan Sektor Pertambangan Untuk Pertambangan Minyak Bumi, Gas Bumi, dan Panas Bumi;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a, perlu menetapkan Keputusan Direktur Jenderal Pajak tentang Penunjukan Kantor Pelayanan Pajak Yang Mengadministrasikan Pajak Bumi dan Bangunan Sektor Pertambangan Untuk Pertambangan Minyak Bumi, Gas Bumi, dan Panas Bumi;</p>
</li>
</ol>
<p align="justify">Mengingat :</p>
<ol>
<li>
<p align="justify">Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1985 tentang Pajak Bumi dan Bangunan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1985 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3312) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1994 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1994 Nomor 62, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3569);</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 79 Tahun 2010 tentang Biaya Operasi Yang Dapat Dikembalikan dan Perlakuan Pajak Penghasilan di Bidang Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Peraturan Menteri Keuangan Nomor 15/PMK.03/2012 tentang Penatausahaan dan Pemindahbukuan Pajak Bumi dan Bangunan Sektor Pertambangan untuk Pertambangan Minyak Bumi, Gas Bumi, dan Panas Bumi;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Peraturan Menteri Keuangan Nomor 29/PMK.01/2012 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 62/PMK.01/2009 tentang Organisasi dan Tata Kerja Instansi Vertikal Direktorat Jenderal Pajak:</p>
</li>
</ol>
<p align="justify"><strong>MEMUTUSKAN:</strong></p>
<p align="justify">Menetapkan :</p>
<p align="justify">KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK TENTANG PENUNJUKAN KANTOR PELAYANAN PAJAK YANG MENGADMINISTRASIKAN PAJAK BUMI DAN BANGUNAN SEKTOR PERTAMBANGAN UNTUK PERTAMBANGAN MINYAK BUMI, GAS BUMI, DAN PANAS BUMI.</p>
<p align="justify">KESATU :</p>
<p align="justify">Menunjuk Kantor Pelayanan Pajak Pratama sebagaimana tercantum dalam kolom 3 lampiran I keputusan ini untuk mengadministrasikan objek PBB Minyak Bumi dan Gas Bumi untuk areal onshore yang wilayahnya sebagaimana tercantum dalarn kolom 4 lampiran I keputusan ini, untuk kabupaten/kota yang terdapat lebih dari 1 (satu) Kantor Pelayanan Pajak Pratama.</p>
<p align="justify">KEDUA :</p>
<p align="justify">Menunjuk Kantor Pelayanan Pajak Pratama sebagaimana tercantum dalam kolom 3 lampiran II keputusan ini untuk mengadministrasikan objek PBB Panas Bumi yang wilayahnya sebagaimana tercantum dalam kolom 4 lampiran II keputusan ini, untuk kabupaten/kota yang terdapat lebih dari 1 (satu) Kantor Pelayanan Pajak Pratama.</p>
<p align="justify">KETIGA :</p>
<p align="justify">Menunjuk Kantor Pelayanan Pajak Minyak dan Gas Bumi untuk mengadministrasikan objek PBB Minyak Bumi dan Gas Bumi untuk areal offshore dan tubuh bumi.</p>
<p align="justify">KEEMPAT :</p>
<p align="justify">Keputusan Direktur Jenderal Pajak ini mulai berlaku untuk tahun pajak 2012.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ditetapkan di Jakarta<br />
pada tanggal 25-04-2012<br />
DIREKTUR JENDERAL PAJAK,</p>
<p>ttd</p>
<p>A. FUAD RAHMANY<br />
NIP 195411111981121001</p>
<p><strong>LAMPIRAN I<br />
KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK<br />
NOMOR KEP-161/PJ/2012<br />
TENTANG PENETAPAN KANTOR PELAYANAN PAJAK YANG MENGADMINISTRASIKAN PAJAK BUMI DAN BANGUNAN SEKTOR PERTAMBANGAN UNTUK PERTAMBANGAN MINYAK BUMI, GAS BUMI, DAN PANAS BUM</strong>I</p>
<p align="center"><strong>DAFTAR KPP PRATAMA YANG MENGADMINISTRASIKAN PBB MINYAK BUMI DAN GAS BUMI</strong></p>
<table width="100%" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td align="center" valign="top" width="4%">No</td>
<td align="center" valign="top" width="38%">Kanwil DJP</td>
<td align="center" valign="top" width="33%">KPP Pratama</td>
<td align="center" valign="top" width="25%">Kabupaten/Kota</td>
</tr>
<tr>
<td align="center" valign="top" width="4%">1</td>
<td align="center" valign="top" width="38%">2</td>
<td align="center" valign="top" width="33%">3</td>
<td align="center" valign="top" width="25%">4</td>
</tr>
<tr>
<td align="center" valign="top" width="4%">1</td>
<td valign="top" width="38%">Kanwil DJP Sumatera Utara I</td>
<td valign="top" width="33%">KPP Pratama Medan Polonia</td>
<td valign="top" width="25%">Kt. Medan</td>
</tr>
<tr>
<td align="center" valign="top" width="4%">2</td>
<td valign="top" width="38%">Kanwil DJP Riau &amp; Kepulauan Riau</td>
<td valign="top" width="33%">KPP Pratama Pekanbaru Sanapelan</td>
<td valign="top" width="25%">Kt. Pekanbaru</td>
</tr>
<tr>
<td align="center" valign="top" width="4%">3</td>
<td valign="top" width="38%">Kanwil DJP Sumatera Selatan &amp; Kepulauan Bangka Belitung</td>
<td valign="top" width="33%">KPP Pratama Palembang Ilir Barat</td>
<td valign="top" width="25%">Kt. Palembang</td>
</tr>
<tr>
<td align="center" valign="top" width="4%">4</td>
<td valign="top" width="38%">Kanwil DJP Jakarta Pusat</td>
<td valign="top" width="33%">KPP Pratama Jakarta Tanah Abang Tiga</td>
<td valign="top" width="25%">Kt. Jakarta Pusat</td>
</tr>
<tr>
<td align="center" valign="top" width="4%">5</td>
<td valign="top" width="38%">Kanwil DJP Jakarta Barat</td>
<td valign="top" width="33%">KPP Pratama Jakarta Grogol Petamburan</td>
<td valign="top" width="25%">Kt. Jakarta Barat</td>
</tr>
<tr>
<td align="center" valign="top" width="4%">6</td>
<td valign="top" width="38%">Kanwil DJP Jakarta Selatan</td>
<td valign="top" width="33%">KPP Pratama Jakarta Pancoran</td>
<td valign="top" width="25%">Kt. Jakarta Selatan</td>
</tr>
<tr>
<td align="center" valign="top" width="4%">7</td>
<td valign="top" width="38%">Kanwil DJP Jakarta Timur</td>
<td valign="top" width="33%">KPP Pratama Jakarta Duren Sawit</td>
<td valign="top" width="25%">Kt. Jakarta Timur</td>
</tr>
<tr>
<td rowspan="2" align="center" valign="top" width="4%">8</td>
<td rowspan="2" valign="top" width="38%">Kanwil DJP Jakarta Utara</td>
<td valign="top" width="33%">KPP Pratama Jakarta Tanjung Priok</td>
<td valign="top" width="25%">Kt. Jakarta Utara</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="33%">KPP Pratama Jakarta Pademangan</td>
<td valign="top" width="25%">Kab. Kep. Seribu</td>
</tr>
<tr>
<td rowspan="2" align="center" valign="top" width="4%">9</td>
<td rowspan="2" valign="top" width="38%">Kanwil DJP Banten</td>
<td valign="top" width="33%">KPP Pratama Tangerang Timur</td>
<td valign="top" width="25%">Kt. Tangerang</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="33%">KPP Pratama Kosambi</td>
<td valign="top" width="25%">Kab. Tangerang</td>
</tr>
<tr>
<td align="center" valign="top" width="4%">10</td>
<td valign="top" width="38%">Kanwil DJP Jawa Barat I</td>
<td valign="top" width="33%">KPP Pratama Bandung Bojonagara</td>
<td valign="top" width="25%">Kt. Bandung</td>
</tr>
<tr>
<td rowspan="4" align="center" valign="top" width="4%">11</td>
<td rowspan="4" valign="top" width="38%">Kanwil DJP Jawa Barat II</td>
<td valign="top" width="33%">KPP Pratama Cileungsi</td>
<td valign="top" width="25%">Kab. Bogor</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="33%">KPP Pratama Bekasi Selatan</td>
<td valign="top" width="25%">Kt. Bekasi</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="33%">KPP Pratama Cibitung</td>
<td valign="top" width="25%">Kab. Bekasi</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="33%">KPP Pratama Karawang Selatan</td>
<td valign="top" width="25%">Kab. Karawang`</td>
</tr>
<tr>
<td align="center" valign="top" width="4%">12</td>
<td valign="top" width="38%">Kanwil DJP Jawa Tengah I</td>
<td valign="top" width="33%">KPP Pratama Semarang Tengah Dua</td>
<td valign="top" width="25%">Kt. Semarang</td>
</tr>
<tr>
<td align="center" valign="top" width="4%">13</td>
<td valign="top" width="38%">Kanwil DJP Jawa Timur I</td>
<td valign="top" width="33%">KPP Pratama Surabaya Simokerto</td>
<td valign="top" width="25%">Kt. Surabaya</td>
</tr>
<tr>
<td rowspan="2" align="center" valign="top" width="4%">14</td>
<td rowspan="2" valign="top" width="38%">Kanwil DJP Jawa Timur II</td>
<td valign="top" width="33%">KPP Pratama Sidoarjo Selatan</td>
<td valign="top" width="25%">Kab. Sidoarjo</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="33%">KPP Pratama Gresik Selatan</td>
<td valign="top" width="25%">Kab. Gresik</td>
</tr>
<tr>
<td align="center" valign="top" width="4%">15</td>
<td valign="top" width="38%">Kanwil DJP Jawa Timur III</td>
<td valign="top" width="33%">KPP Pratama Kepanjen</td>
<td valign="top" width="25%">Kab. Malang</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<hr />
<p><strong>LAMPIRAN II<br />
KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK<br />
NOMOR KEP-161/PJ/2012<br />
TENTANG PENETAPAN KANTOR PELAYANAN PAJAK YANG MENGADMINISTRASIKAN PAJAK BUMI DAN BANGUNAN SEKTOR PERTAMBANGAN UNTUK PERTAMBANGAN MINYAK BUMI, GAS BUMI, DAN PANAS BUMI</strong></p>
<p align="center"><strong>DAFTAR KPP PRATAMA YANG MENGADMINISTRASIKAN PBB PANAS BUMI</strong></p>
<table width="100%" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td align="center" valign="top" width="5%">No</td>
<td align="center" valign="top" width="45%">Kanwil DJP</td>
<td align="center" valign="top" width="25%">KPP Pratama</td>
<td align="center" valign="top" width="25%">Kabupaten/Kota</td>
</tr>
<tr>
<td align="center" valign="top" width="5%">1</td>
<td align="center" valign="top" width="45%">2</td>
<td align="center" valign="top" width="25%">3</td>
<td align="center" valign="top" width="25%">4</td>
</tr>
<tr>
<td align="center" valign="top" width="5%">1</td>
<td valign="top" width="45%">Kanwil DJP Jawa Barat I</td>
<td valign="top" width="25%">KPP Pratama Soreangx</td>
<td valign="top" width="25%">KPP Pratama Soreang Kab. Bandung</td>
</tr>
<tr>
<td align="center" valign="top" width="5%">2</td>
<td valign="top" width="45%">Kanwil DJP Jawa Barat II</td>
<td valign="top" width="25%">KPP Pratama Ciawi</td>
<td valign="top" width="25%">Kab. Bogor</td>
</tr>
<tr>
<td align="center" valign="top" width="5%">3</td>
<td valign="top" width="45%">Kanwil DJP Bali</td>
<td valign="top" width="25%">KPP Pratama Badung Selatan</td>
<td valign="top" width="25%">Kab. Badung</td>
</tr>
</tbody>
</table>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.mytaxlink.net/kep-161pj2012/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keputusan Direktur  Jenderal Pajak Nomor KEP-118/PJ/2012</title>
		<link>http://www.mytaxlink.net/kep-118pj2012/</link>
		<comments>http://www.mytaxlink.net/kep-118pj2012/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 May 2012 02:28:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lain-lain]]></category>
		<category><![CDATA[KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR KEP-118/PJ/2012]]></category>
		<category><![CDATA[PENUNJUKAN TIM KEGIATAN ON THE JOB TRAINING (OJT) DI LINGKUNGAN DIREKTORAT JENDERAL PAJAK TAHUN 2012]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.mytaxlink.net/?p=673</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>KEPUTUSAN<br />
DIREKTUR JENDERAL PAJAK<br />
NOMOR KEP-118/PJ/2012<br />
Tanggal 5 April 2012</strong></p>
<p align="center"><strong>PENUNJUKAN TIM KEGIATAN ON THE JOB TRAINING (OJT) DI LINGKUNGAN DIREKTORAT JENDERAL PAJAK TAHUN 2012</strong></p>
<p align="center"><strong>DIREKTUR JENDERAL PAJAK,</strong></p>
<p align="justify">Menimbang :</p>
<ol type="a">
<li>
<p align="justify">bahwa dalam rangka pelaksanaan salah satu program reformasi birokrasi di bidang peningkatan kapasitas sumber daya aparatur, dipandang perlu melaksanakan kegiatan On the Job Training (OJT) di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">bahwa dalam rangka perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi, perlu ditunjuk Tim Kegiatan OJT;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a dan b di atas, perlu menetapkan Keputusan Direktur Jenderal Pajak tentang Penunjukan Tim Kegiatan OJT Direktorat Jenderal Pajak;</p>
</li>
</ol>
<p align="justify">Mengingat :</p>
<ol>
<li>
<p align="justify">Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 2010 tentang Disiplin PNS;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Arah kebijakan pembangunan nasional yang ditetapkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2010-2014, dan Agenda Pembangunan Nasional Kabinet Indonesia Bersatu II pada Bidang Aparatur Negara tahun 2010-2014;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Keputusan Menteri Keuangan Nomor 464/KMK.01/2005 tentang Pedoman Strategi dan Kebijakan Kementerian Keuangan (Road-Map Kementerian Keuangan) Tahun 2005 2009;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-111/PJ/2008 tentang Rencana Strategis Direktorat Jenderal Pajak 2008-2012 sebagaimana telah diubah dengan Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-76/PJ/2009;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor 233/PJ/2011 tentang Cetak Biru Manajemen Sumber Daya Manusia Direktorat Jenderal Pajak Tahun 2011-2018;</p>
</li>
</ol>
<p align="center"><strong>MEMUTUSKAN:</strong></p>
<p>Menetapkan :</p>
<p align="justify">KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK TENTANG PENUNJUKAN TIM KEGIATAN ON THE JOB TRAINING DI LINGKUNGAN DIREKTORAT JENDERAL PAJAK TAHUN 2012.</p>
<p align="justify">PERTAMA :</p>
<p align="justify">Menetapkan Tim Kegiatan OJT di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak dengan susunan keanggotaan sebagaimana tercantum dalam Lampiran Keputusan Direktur Jenderal Pajak ini.</p>
<p align="justify">KEDUA :</p>
<p align="justify">Tim Kegiatan OJT mempunyai tugas menyelenggarakan kegiatan OJT di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak Tahun 2012 secara efektif sesuai tujuan yang telah ditetapkan.</p>
<p align="justify">KETIGA :</p>
<p align="justify">Tim Kegiatan OJT terdiri dari:</p>
<ol>
<li>
<p align="justify">Tim OJT Pusat, yaitu:</p>
<ol type="a">
<li>
<p align="justify">Pengarah;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Penanggung Jawab;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Ketua Tim OJT Pusat;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Wakil Ketua Tim OJT Pusat;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Sekretaris Tim OJT Pusat;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Anggota Tim OJT Pusat;</p>
</li>
</ol>
</li>
<li>
<p align="justify">Tim OJT Instansi Vertikal DJP, yaitu:</p>
<ol type="a">
<li>
<p align="justify">Tim OJT Direktorat;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Tim OJT Kantor Wilayah (Kanwil);</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Tim OJT Kantor Pelayanan Pajak (KPP).</p>
</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p align="justify">KEEMPAT :</p>
<p align="justify">Pengarah mempunyai tugas:</p>
<ol type="a">
<li>
<p align="justify">memberikan arahan terhadap keseluruhan kegiatan OJT;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">memberikan dukungan yang bersifat strategis.</p>
</li>
</ol>
<p align="justify">KELIMA :</p>
<p align="justify">Penanggung Jawab mempunyai tugas:</p>
<ol type="a">
<li>
<p align="justify">bertanggung jawab terhadap keseluruhan proses pelaksaan OJT;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">memberikan dukungan terhadap pelaksanaan OJT.</p>
</li>
</ol>
<p align="justify">KEENAM :</p>
<p align="justify">Ketua Tim OJT Pusat mempunyai tugas:</p>
<ol type="a">
<li>
<p align="justify">menyiapkan dan/atau merevisi konsep dasar hukum pelaksanaan kegiatan OJT:</p>
</li>
<li>
<p align="justify">menjamin perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi kegiatan OJT dilakukan secara efektif;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">melaporkan seluruh kegiatan OJT kepada Direktur Jenderal Pajak.</p>
</li>
</ol>
<p align="justify">KETUJUH :</p>
<p align="justify">Wakil Ketua Tim OJT Pusat mempunyai tugas:</p>
<ol type="a">
<li>
<p align="justify">melakukan perencanaan dan memberikan dukungan yang diperlukan dalam pelaksanaan;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">memastikan ketersediaan sumber daya yang memadai, waktu, dana, sarana dan prasarana untuk melakukan tugas perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">menelaah laporan pelaksanaan OJT;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">melakukan pemantauan dan menindaklanjuti hasil pemantauan pelaksanaan OJT pada Unit vertikal agar selaras dengan tujuan yang telah digariskan;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">mempromosikan secara aktif kegiatan OJT baik di lingkungan internal maupun eksternal DJP;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">bekerja sama dengan pihak eksternal untuk kepentingan pengembangan kegiatan OJT.</p>
</li>
</ol>
<p align="justify">KEDELAPAN :</p>
<p align="justify">Sekretaris Tim OJT Pusat mempunyai tugas:</p>
<ol type="a">
<li>
<p align="justify">merencanakan dan melaksanakan pengadaan kebutuhan yang diperlukan dalam penyelenggaraan pertemuan/rapat tim;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">mengadministrasikan dokumen/surat-surat yang dibutuhkan untuk mendukung kelancaran kegiatan OJT;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">mengadministrasikan laporan, mengevaluasi dan menyiapkan bahan laporan seluruh kegiatan OJT;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">membantu melaksanakan bimbingan teknis pelaksanaan dan melakukan pemantauan langsung pada Tim OJT Instansi vertikal DJP.</p>
</li>
</ol>
<p align="justify">KESEMBILAN :</p>
<p align="justify">Anggota Tim OJT Pusat mempunyai tugas:</p>
<ol type="a">
<li>
<p align="justify">mengoordinasikan pengelolaan kegiatan OJT dan pemantauan melalui aplikasi SIKKA di web kepegawaian dengan subtim terkait;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">memberikan konsultasi teknis dan membantu penyelesaian permasalahan pelaksanaan OJT CPNS di Tim OJT Instansi Vertikal DJP melalui saluran komunikasi yang disediakan;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">membantu melaksanakan bimbingan teknis pelaksanaan dan melakukan pemantauan langsung pada unit pelaksana OJT;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">melaksanakan fungsi kesekretariatan yang dibutuhkan untuk mendukung kelancaran kegiatan OJT;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">menyusun laporan pelaksanaan OJT;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">mengelola sarana dan prasarana pendukung kegiatan OJT.</p>
</li>
</ol>
<p align="justify">KESEPULUH :</p>
<p align="justify">Tugas Anggota Subtim OJT CPNS, OJT Fungsional Pemeriksa Pajak, OJT Penelaah Keberatan, OJT Account Representative dan OJT Juru Sita Pajak adalah:</p>
<ol type="a">
<li>
<p align="justify">melakukan pengembangan sistem, modul dan metode OJT;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">menjamin perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi kegiatan OJT dilakukan secara efektif;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">memberikan konsultasi teknis dan membantu penyelesaian permasalahan pelaksanaan OJT yang dihadapi oleh Tim OJT Instansi Vertikal DJP;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">melakukan pemantauan dan evaluasi kegiatan pada unit pelaksana OJT;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">mempersiapkan laporan evaluasi pelaksanaan OJT untuk tujuan pengembangan kapasitas pegawai;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">melakukan perbaikan dan/atau pengembangan sistem dan metode OJT sesuai hasil evaluasi;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">berkoordinasi dengan subtim lainnya dalam pelaksanaan tugasnya;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">mengelola dan memantau pelaksanaan kegiatan OJT melalui aplikasi SIKKA di web kepegawaian dan/atau media lainnya.</p>
</li>
</ol>
<p align="justify">KESEBELAS :</p>
<p align="justify">Tugas Anggota Subtim Pendukung OJT adalah:</p>
<ol type="a">
<li>
<p align="justify">menyiapkan daya dukung sistem teknologi informasi keseluruhan kegiatan OJT dan memantau pelaksanaannya;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">melayani konsultasi teknis terkait sistem teknologi informasi pendukung dan menyiapkan data hasil perekaman formulir keseluruhan kegiatan OJT;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">melakukan simulasi aplikasi;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">melakukan implementasi aplikasi;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">melakukan pengembangan dan perbaikan desain sistem bersama pihak ketiga;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">memantau pelaksanaan dan meyiapkan data hasil survei on line tingkat efektivitas pelaksanaan OJT;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">berkoordinasi dengan subtim lainnya dalam pelaksanaan tugas;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">menyelenggarakan administrasi anggaran Tim kegiatan OJT.</p>
</li>
</ol>
<p align="justify">KEDUABELAS :</p>
<p align="justify">Susunan, tugas dan masa penugasan Tim OJT Instansi Vertikal DJP akan diatur lebih lanjut dalam petunjuk umum penggunaan anggaran Internalisasi Corporate Value (ICV) dan In House Training (IHT) Tahun 2012.</p>
<p align="justify">KETIGABELAS :</p>
<p align="justify">Masa penugasan Tim OJT Pusat dimulai pada bulan Januari hingga bulan Desember 2012 dan dapat diperpanjang apabila diperlukan.</p>
<p align="justify">KEEMPATBELAS :</p>
<p align="justify">Segala biaya yang timbul sebagai akibat dari Keputusan Direktur Jenderal Pajak ini dibebankan pada DIPA Bagian Anggaran 015 Tahun Anggaran 2012 Kantor Pusat DJP.</p>
<p align="justify">KELIMABELAS :</p>
<p align="justify">Apabila dikemudian hari terdapat kekeliruan dalam keputusan ini, maka dilakukan perbaikan sebagaimana mestinya.</p>
<p align="justify">KEENAMBELAS :</p>
<p align="justify">Keputusan Direktur Jenderal Pajak ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan dan berdaya laku surut sejak tanggal 2 Januari 2012.</p>
<p align="justify">Salinan Keputusan Direktur Jenderal Pajak ini disampaikan kepada:</p>
<ol>
<li>
<p align="justify">Sekretaris Direktorat Jenderal Pajak;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Para Direktur di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Para Tenaga Pengkaji di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Para Kepala Kantor Wilayah di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Para anggota Tim Kegiatan On The Job Training (OJT) di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak Tahun 2012.</p>
</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ditetapkan di Jakarta<br />
pada tanggal 5 April 2012<br />
DIREKTUR JENDERAL PAJAK,</p>
<p>ttd</p>
<p>A. FUAD RAHMANY<br />
NIP 195411111981121001</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.mytaxlink.net/kep-118pj2012/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keputusan Menteri Keuangan Nomor 459/KM.1/2012</title>
		<link>http://www.mytaxlink.net/459km-12012/</link>
		<comments>http://www.mytaxlink.net/459km-12012/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 May 2012 02:51:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kurs Pajak]]></category>
		<category><![CDATA[DAN PAJAK PENGHASILAN YANG BERLAKU UNTUK TANGGAL 30 APRIL 2012 SAMPAI DENGAN 06 MEI 2012]]></category>
		<category><![CDATA[KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 459/KM.1/2012]]></category>
		<category><![CDATA[NILAI KURS SEBAGAI DASAR PELUNASAN BEA MASUK]]></category>
		<category><![CDATA[PAJAK EKSPOR]]></category>
		<category><![CDATA[PAJAK PERTAMBAHAN NILAI BARANG DAN JASA DAN PAJAK PENJUALAN ATAS BARANG MEWAH]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.mytaxlink.net/?p=670</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>KEPUTUSAN<br />
MENTERI KEUANGAN<br />
NOMOR 459/KM.1/2012<br />
Tanggal 30 April 2012</strong></p>
<p align="center"><strong>NILAI KURS SEBAGAI DASAR PELUNASAN BEA MASUK, PAJAK PERTAMBAHAN NILAI BARANG DAN JASA DAN PAJAK PENJUALAN ATAS BARANG MEWAH, PAJAK EKSPOR, DAN PAJAK PENGHASILAN YANG BERLAKU UNTUK TANGGAL 30 APRIL 2012 SAMPAI DENGAN 06 MEI 2012</strong></p>
<p align="center"><strong>MENTERI KEUANGAN,</strong></p>
<p align="justify">Menimbang :</p>
<ol type="a">
<li>
<p align="justify">bahwa untuk keperluan pelunasan Bea Masuk, Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah, Pajak Ekspor, dan Pajak Penghasilan atas pemasukan barang, hutang Pajak yang berhubungan dengan Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah, Pajak Ekspor, dan penghasilan yang diterima atau diperoleh berupa uang asing, harus terlebih dahulu dinilai ke dalam uang rupiah;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, perlu menetapkan Keputusan Menteri Keuangan tentang Nilai Kurs sebagai Dasar Pelunasan Bea Masuk, Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah, Pajak Ekspor, dan Pajak Penghasilan yang berlaku untuk tanggal 30 April 2012 sampai dengan 06 Mei 2012.</p>
</li>
</ol>
<p align="justify">Mengingat :</p>
<ol>
<li>
<p align="justify">Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 50, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3263) sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2000 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 127);</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 51, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3264) sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2000 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 128, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3986);</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1995 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3612) sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2006 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 93, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4661); Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1995 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3612);</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1995 Nomor 76, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3613) sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2007 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 105, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4755);</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Keputusan Presiden Nomor 187/M Tahun 2004 tentang Pembentukan Kabinet Indonesia Bersatu sebagaimana telah diubah terakhir dengan Keputusan Presiden Nomor 20/P tahun 2005;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Keputusan Menteri Keuangan Nomor 371/KMK.01/2002 tentang Pelimpahan Wewenang Kepada Pejabat Eselon I Di Lingkungan Departemen Keuangan Untuk dan Atas Nama Menteri Keuangan Menandatangani Surat dan atau Keputusan Menteri Keuangan;</p>
</li>
</ol>
<p align="center"><strong>MEMUTUSKAN :</strong></p>
<p align="justify">Menetapkan :</p>
<p align="justify">KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN TENTANG NILAI KURS SEBAGAI DASAR PELUNASAN BEA MASUK, PAJAK PERTAMBAHAN NILAI BARANG DAN JASA DAN PAJAK PENJUALAN ATAS BARANG MEWAH, PAJAK EKSPOR, DAN PAJAK PENGHASILAN YANG BERLAKU UNTUK TANGGAL 30 APRIL 2012 SAMPAI DENGAN 06 MEI 2012.</p>
<p align="center"><strong>Pasal 1</strong></p>
<p align="justify">Nilai Kurs sebagai Dasar Pelunasan Bea Masuk, Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah, Pajak Ekspor, dan Pajak Penghasilan yang berlaku untuk tanggal 30 April 2012 sampai dengan 06 Mei 2012, ditetapkan sebagai berikut :</p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="8%">
<p align="justify">1.</p>
</td>
<td valign="top" width="13%">
<p align="justify">Rp</p>
</td>
<td valign="top" width="21%">
<p align="justify">9.194,00</p>
</td>
<td valign="top" width="25%">
<p align="justify">Untuk Dolar Amerika Serikat (USD)</p>
</td>
<td valign="top" width="33%">
<p align="justify">1-</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="8%">
<p align="justify">2</p>
</td>
<td valign="top" width="13%">
<p align="justify">Rp</p>
</td>
<td valign="top" width="21%">
<p align="justify">9.515,70</p>
</td>
<td valign="top" width="25%">
<p align="justify">Untuk Dolar Australia (AUD)</p>
</td>
<td valign="top" width="33%">
<p align="justify">1-</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="8%">
<p align="justify">3</p>
</td>
<td valign="top" width="13%">
<p align="justify">Rp</p>
</td>
<td valign="top" width="21%">
<p align="justify">9.321,09</p>
</td>
<td valign="top" width="25%">
<p align="justify">Untuk Dolar Canada (CAD)</p>
</td>
<td valign="top" width="33%">
<p align="justify">1-</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="8%">
<p align="justify">4</p>
</td>
<td valign="top" width="13%">
<p align="justify">Rp</p>
</td>
<td valign="top" width="21%">
<p align="justify">1.630,99</p>
</td>
<td valign="top" width="25%">
<p align="justify">Untuk Kroner Denmark (DKK)</p>
</td>
<td valign="top" width="33%">
<p align="justify">1-</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="8%">
<p align="justify">5</p>
</td>
<td valign="top" width="13%">
<p align="justify">Rp</p>
</td>
<td valign="top" width="21%">
<p align="justify">1.184,68</p>
</td>
<td valign="top" width="25%">
<p align="justify">Untuk Dolar Hongkong (HKD)</p>
</td>
<td valign="top" width="33%">
<p align="justify">1-</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="8%">
<p align="justify">6</p>
</td>
<td valign="top" width="13%">
<p align="justify">Rp</p>
</td>
<td valign="top" width="21%">
<p align="justify">3.005,83</p>
</td>
<td valign="top" width="25%">
<p align="justify">Untuk Ringgit Malaysia (MYR)</p>
</td>
<td valign="top" width="33%">
<p align="justify">1-</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="8%">
<p align="justify">7</p>
</td>
<td valign="top" width="13%">
<p align="justify">Rp</p>
</td>
<td valign="top" width="21%">
<p align="justify">7.480,14</p>
</td>
<td valign="top" width="25%">
<p align="justify">Untuk Dolar Selandia Baru (NZD)</p>
</td>
<td valign="top" width="33%">
<p align="justify">1-</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="8%">
<p align="justify">8</p>
</td>
<td valign="top" width="13%">
<p align="justify">Rp</p>
</td>
<td valign="top" width="21%">
<p align="justify">1.602,71</p>
</td>
<td valign="top" width="25%">
<p align="justify">Untuk Kroner Norwegia (NOK)</p>
</td>
<td valign="top" width="33%">
<p align="justify">1-</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="8%">
<p align="justify">9</p>
</td>
<td valign="top" width="13%">
<p align="justify">Rp</p>
</td>
<td valign="top" width="21%">
<p align="justify">14.857,50</p>
</td>
<td valign="top" width="25%">
<p align="justify">Untuk Poundsterling Inggris (GBP)</p>
</td>
<td valign="top" width="33%">
<p align="justify">1-</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="8%">
<p align="justify">10</p>
</td>
<td valign="top" width="13%">
<p align="justify">Rp</p>
</td>
<td valign="top" width="21%">
<p align="justify">7.389,91</p>
</td>
<td valign="top" width="25%">
<p align="justify">Untuk Dolar Singapura (SGD)</p>
</td>
<td valign="top" width="33%">
<p align="justify">1-</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="8%">
<p align="justify">11</p>
</td>
<td valign="top" width="13%">
<p align="justify">Rp</p>
</td>
<td valign="top" width="21%">
<p align="justify">1.365,65</p>
</td>
<td valign="top" width="25%">
<p align="justify">Untuk Kroner Swedia (SEK)</p>
</td>
<td valign="top" width="33%">
<p align="justify">1-</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="8%">
<p align="justify">12</p>
</td>
<td valign="top" width="13%">
<p align="justify">Rp</p>
</td>
<td valign="top" width="21%">
<p align="justify">10.097,54</p>
</td>
<td valign="top" width="25%">
<p align="justify">Untuk Franc Swiss (CHF)</p>
</td>
<td valign="top" width="33%">
<p align="justify">1-</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="8%">
<p align="justify">13</p>
</td>
<td valign="top" width="13%">
<p align="justify">Rp</p>
</td>
<td valign="top" width="21%">
<p align="justify">11.323,35</p>
</td>
<td valign="top" width="25%">
<p align="justify">Untuk Yen Jepang (JPY)</p>
</td>
<td valign="top" width="33%">
<p align="justify">100-</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="8%">
<p align="justify">14</p>
</td>
<td valign="top" width="13%">
<p align="justify">Rp</p>
</td>
<td valign="top" width="21%">
<p align="justify">11,18</p>
</td>
<td valign="top" width="25%">
<p align="justify">Untuk Kyat Burma (BUK)</p>
</td>
<td valign="top" width="33%">
<p align="justify">1-</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="8%">
<p align="justify">15</p>
</td>
<td valign="top" width="13%">
<p align="justify">Rp</p>
</td>
<td valign="top" width="21%">
<p align="justify">174,84</p>
</td>
<td valign="top" width="25%">
<p align="justify">Untuk Rupee India (INR)</p>
</td>
<td valign="top" width="33%">
<p align="justify">1-</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="8%">
<p align="justify">16</p>
</td>
<td valign="top" width="13%">
<p align="justify">Rp</p>
</td>
<td valign="top" width="21%">
<p align="justify">33.072,04</p>
</td>
<td valign="top" width="25%">
<p align="justify">Untuk Dinar Kuwait (KWD)</p>
</td>
<td valign="top" width="33%">
<p align="justify">1-</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="8%">
<p align="justify">17</p>
</td>
<td valign="top" width="13%">
<p align="justify">Rp</p>
</td>
<td valign="top" width="21%">
<p align="justify">101,16</p>
</td>
<td valign="top" width="25%">
<p align="justify">Untuk Rupee Pakistan (PKR)</p>
</td>
<td valign="top" width="33%">
<p align="justify">1-</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="8%">
<p align="justify">18</p>
</td>
<td valign="top" width="13%">
<p align="justify">Rp</p>
</td>
<td valign="top" width="21%">
<p align="justify">215,76</p>
</td>
<td valign="top" width="25%">
<p align="justify">Untuk Peso Philipina (PHP)</p>
</td>
<td valign="top" width="33%">
<p align="justify">1-</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="8%">
<p align="justify">19</p>
</td>
<td valign="top" width="13%">
<p align="justify">Rp</p>
</td>
<td valign="top" width="21%">
<p align="justify">2.451,37</p>
</td>
<td valign="top" width="25%">
<p align="justify">Untuk Riyal Saudi Arabia (SAR)</p>
</td>
<td valign="top" width="33%">
<p align="justify">1-</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="8%">
<p align="justify">20</p>
</td>
<td valign="top" width="13%">
<p align="justify">Rp</p>
</td>
<td valign="top" width="21%">
<p align="justify">69,88</p>
</td>
<td valign="top" width="25%">
<p align="justify">Untuk Rupee Sri Lanka (LKR)</p>
</td>
<td valign="top" width="33%">
<p align="justify">1-</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="8%">
<p align="justify">21</p>
</td>
<td valign="top" width="13%">
<p align="justify">Rp</p>
</td>
<td valign="top" width="21%">
<p align="justify">297,40</p>
</td>
<td valign="top" width="25%">
<p align="justify">Untuk Baht Thailand (THB)</p>
</td>
<td valign="top" width="33%">
<p align="justify">1-</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="8%">
<p align="justify">22</p>
</td>
<td valign="top" width="13%">
<p align="justify">Rp</p>
</td>
<td valign="top" width="21%">
<p align="justify">7.390,98</p>
</td>
<td valign="top" width="25%">
<p align="justify">Untuk Dolar Brunei Darussalam (BND)</p>
</td>
<td valign="top" width="33%">
<p align="justify">1-</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="8%">
<p align="justify">23</p>
</td>
<td valign="top" width="13%">
<p align="justify">Rp</p>
</td>
<td valign="top" width="21%">
<p align="justify">12.133,74</p>
</td>
<td valign="top" width="25%">
<p align="justify">Untuk Euro (EUR)</p>
</td>
<td valign="top" width="33%">
<p align="justify">1-</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="8%">
<p align="justify">24</p>
</td>
<td valign="top" width="13%">
<p align="justify">Rp</p>
</td>
<td valign="top" width="21%">
<p align="justify">1.457,71</p>
</td>
<td valign="top" width="25%">
<p align="justify">Untuk Yuan China (CNY)</p>
</td>
<td valign="top" width="33%">
<p align="justify">1-</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="8%">
<p align="justify">25</p>
</td>
<td valign="top" width="13%">
<p align="justify">Rp</p>
</td>
<td valign="top" width="21%">
<p align="justify">8,08</p>
</td>
<td valign="top" width="25%">
<p align="justify">Untuk Won Korea (KRW)</p>
</td>
<td valign="top" width="33%">
<p align="justify">1-</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 2</strong></p>
<p align="justify">Dalam hal kurs valuta asing lainnya tidak tercantum dalam Pasal 1 maka nilai kurs yang digunakan sebagai dasar pelunasan adalah kurs spot harian valuta asing yang bersangkutan di pasar internasional terhadap dolar Amerika Serikat yang berlaku pada penutupan hari kerja sebelumnya dan dikalikan kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat sebagaimana ditetapkan dalam Keputusan Menteri Keuangan ini</p>
<p align="center"><strong>Pasal 3</strong></p>
<p align="justify">Keputusan Menteri Keuangan ini mulai berlaku pada tanggal 30 April 2012</p>
<p align="justify">Agar setiap orang mengetahuinya memerintahkan pengumuman Keputusan Menteri Keuangan ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ditetapkan di Jakarta<br />
Pada tanggal 30 April 2012<br />
An MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA<br />
Plt SEKRETARIS JENDERAL</p>
<p>ttd</p>
<p>KIAGUS AHMAD BADARUDIN</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.mytaxlink.net/459km-12012/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-10/PJ/2102</title>
		<link>http://www.mytaxlink.net/per-10pj2102/</link>
		<comments>http://www.mytaxlink.net/per-10pj2102/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Apr 2012 06:34:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lain-lain]]></category>
		<category><![CDATA[DAN PEMBATALAN IZIN MENYELENGGARAKAN PEMBUKUAN DENGAN MENGGUNAKAN BAHASA INGGRIS DAN SATUAN MATA UANG DOLLAR AMERIKA SERIKAT]]></category>
		<category><![CDATA[PEMBERIAN]]></category>
		<category><![CDATA[PEMBERITAHUAN]]></category>
		<category><![CDATA[Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-10/PJ/2102]]></category>
		<category><![CDATA[PERUBAHAN ATAS PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER-11/PJ/2010 TENTANG TATA CARA PERMOHONAN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.mytaxlink.net/?p=668</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>PERATURAN<br />
DIREKTUR JENDERAL PAJAK<br />
NOMOR PER-10/PJ/2012<br />
Tanggal 18 April 2012</strong></p>
<p align="center"><strong>PERUBAHAN ATAS PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER-11/PJ/2010 TENTANG TATA CARA PERMOHONAN, PEMBERITAHUAN, PEMBERIAN, DAN PEMBATALAN IZIN MENYELENGGARAKAN PEMBUKUAN DENGAN MENGGUNAKAN BAHASA INGGRIS DAN SATUAN MATA UANG DOLLAR AMERIKA SERIKAT</strong></p>
<p align="center"><strong>DIREKTUR JENDERAL PAJAK,</strong></p>
<p align="justify">Menimbang :</p>
<p align="justify">bahwa dalam rangka meningkatkan pelayanan serta memberikan kemudahan dan kepastian hukum kepada Wajib Pajak yang menyelenggarakan pembukuan dengan menggunakan bahasa Inggris dan satuan mata uang Dollar Amerika Serikat, perlu dilakukan perubahan atas Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-11/PJ/2010 tentang Tata Cara Permohonan, Pemberitahuan, Pemberian, dan Pembatalan Izin Menyelenggarakan Pembukuan dengan Menggunakan Bahasa Inggris dan Satuan Mata Uang Dollar Amerika Serikat;</p>
<p align="justify">Mengingat :</p>
<ol>
<li>
<p align="justify">Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3262) sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2009 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 62, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4999);</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 50, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3263) sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 133, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4893);</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Peraturan Menteri Keuangan Nomor 196/PMK.03/2007 tentang Tata Cara Penyelenggaraan Pembukuan dengan Menggunakan Bahasa Asing dan Satuan Mata Uang selain Rupiah serta Kewajiban Penyampaian Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 24/PMK.011/2012;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-11/PJ/2010 tentang Tata Cara Permohonan, Pemberitahuan, Pemberian, dan Pembatalan Izin Menyelenggarakan Pembukuan dengan Menggunakan Bahasa Inggris dan Satuan Mata Uang Dollar Amerika Serikat;</p>
</li>
</ol>
<p align="center"><strong>MEMUTUSKAN:</strong></p>
<p align="justify">Menetapkan :</p>
<p align="justify">PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER-11/PJ/2010 TENTANG TATA CARA PERMOHONAN, PEMBERITAHUAN, PEMBERIAN, DAN PEMBATALAN IZIN MENYELENGGARAKAN PEMBUKUAN DENGAN MENGGUNAKAN BAHASA INGGRIS DAN SATUAN MATA UANG DOLLAR AMERIKA SERIKAT.</p>
<p align="center"><strong>Pasal I</strong></p>
<p align="justify">Beberapa ketentuan dalam Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-11/PJ/2010 tentang Tata Cara Permohonan, Pemberitahuan, Pemberian, dan Pembatalan Izin Menyelenggarakan Pembukuan dengan Menggunakan Bahasa Inggris dan Satuan Mata Uang Dollar Amerika Serikat diubah sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>
<p align="justify">Ketentuan Pasal 1 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut:</p>
<p align="center"><strong>Pasal 1</strong></p>
<p align="justify">Wajib Pajak yang dapat menyelenggarakan pembukuan dengan menggunakan bahasa Inggris dan satuan mata uang Dollar Amerika Serikat adalah:</p>
<ol type="a">
<li>
<p align="justify">Wajib Pajak dalam rangka Penanaman Modal Asing yang beroperasi berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan Penanaman Modal Asing;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Wajib Pajak dalam rangka Kontrak Karya yang beroperasi berdasarkan kontrak dengan Pemerintah Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam ketentuan peraturan perundang-undangan pertambangan selain pertambangan minyak dan gas bumi;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Wajib Pajak Kontraktor Kontrak Kerja Sama yang beroperasi berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan pertambangan minyak dan gas bumi;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Bentuk Usaha Tetap sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (5) Undang-Undang Pajak Penghasilan atau sebagaimana diatur dalam Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda (P3B) terkait;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Wajib Pajak yang mendaftarkan emisi sahamnya baik sebagian maupun seluruhnya di bursa efek luar negeri;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Kontrak Investasi Kolektif (KIK) yang menerbitkan reksadana dalam denominasi satuan mata uang Dollar Amerika Serikat dan telah memperoleh Surat Pemberitahuan Efektif Pernyataan Pendaftaran dari Badan Pengawas Pasar Modal-Lembaga Keuangan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan pasar modal;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Wajib Pajak yang berafiliasi langsung dengan perusahaan induk di luar negeri, yaitu perusahaan anak (subsidiary company) yang dimiliki dan/atau dikuasai oleh perusahaan induk (parent company) di luar negeri yang mempunyai hubungan istimewa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (4) huruf a dan huruf b Undang-Undang Pajak Penghasilan; atau</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Wajib Pajak yang menyajikan laporan keuangan dalam mata uang fungsionalnya menggunakan satuan mata uang Dollar Amerika Serikat sesuai Standar Akuntansi Keuangan yang berlaku di Indonesia.</p>
</li>
</ol>
</li>
</ol>
<ol start="2">
<li>
<p align="justify">Ketentuan Pasal 2 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut:</p>
<p align="center"><strong>Pasal 2</strong></p>
<table width="95%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(1)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Wajib Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 huruf a, d, e, f, g, dan h yang akan menyelenggarakan pembukuan dengan menggunakan bahasa Inggris dan satuan mata uang Dollar Amerika Serikat harus terlebih dahulu mendapatkan izin tertulis dari Menteri Keuangan.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(2)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Izin tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diperoleh Wajib Pajak dengan mengajukan surat permohonan kepada Kepala Kantor Wilayah dengan format sesuai dengan Lampiran I yang tidak terpisahkan dari Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini, paling lambat 3 (tiga) bulan:</p>
<ol type="a">
<li>
<p align="justify">sebelum tahun buku yang diselenggarakan dengan menggunakan bahasa Inggris dan satuan mata uang Dollar Amerika Serikat tersebut dimulai; atau</p>
</li>
<li>
<p align="justify">sejak tanggal pendirian bagi Wajib Pajak baru untuk Bagian Tahun Pajak atau Tahun Pajak pertama.</p>
</li>
</ol>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</li>
</ol>
<ol start="3">
<li>
<p align="justify">Ketentuan Pasal 3 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut:</p>
<p align="center"><strong>Pasal 3</strong></p>
<p align="justify">Permohonan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 harus dilampiri dengan:</p>
<ol type="a">
<li>
<p align="justify">fotokopi akta pendirian perusahaan dan perubahannya atau dokumen lain yang serupa bagi Wajib Pajak Bentuk Usaha Tetap;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">fotokopi Surat Persetujuan Penanaman Modal Asing dari Badan Koordinasi Penanaman Modal bagi Wajib Pajak dalam rangka Penanaman Modal Asing;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">fotokopi surat keterangan/penunjukan kantor perwakilan Indonesia dari kantor pusat bagi Wajib Pajak Bentuk Usaha Tetap;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">surat keterangan dari bursa efek luar negeri yang menyatakan bahwa emisi saham Wajib Pajak pemohon didaftarkan di bursa efek tersebut bagi Wajib Pajak yang mendaftarkan emisi sahamnya baik sebagian maupun seluruhnya di bursa efek luar negeri;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">fotokopi Surat Pemberitahuan Efektifnya Pernyataan Pendaftaran dari Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan atas penerbitan reksadana oleh Kontrak Investasi Kolektif yang bersangkutan bagi Wajib Pajak Kontrak Investasi Kolektif;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">fotokopi prospektus penawaran atas reksadana yang diterbitkan dalam satuan mata uang Dollar Amerika Serikat bagi Wajib Pajak Kontrak Investasi Kolektif;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">surat keterangan/pernyataan dari perusahaan induk (parent company) di luar negeri dan laporan keuangan konsolidasi (consolidated financial statement) perusahaan induk (parent company) di luar negeri bagi Wajib Pajak yang berafiliasi langsung dengan perusahaan induk di luar negeri;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">fotokopi Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan tahun pajak yang terakhir, kecuali bagi Wajib Pajak baru terdaftar yang belum wajib menyampaikan Surat Pemberitahuan Tahunan;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Surat Pernyataan (bermeterai Rp6000,00) bahwa transaksi penjualan dan biaya yang dilakukan perusahaan didominasi oleh satuan mata uang Dollar Amerika Serikat dan pembukuan menggunakan bahasa Inggris serta seluruh aktiva, pasiva, modal, pendapatan, dan biaya seluruhnya dicatat dalam satuan mata uang Dollar Amerika Serikat dengan menggunakan format sesuai dengan Lampiran II yang tidak terpisahkan dari Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">fotokopi Bukti Penyetoran Modal Awal dalam Dollar Amerika Serikat bagi Wajib Pajak baru untuk Bagian Tahun Pajak atau Tahun Pajak pertama; dan</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Surat Pernyataan (bermeterai Rp6000,00) dari Wajib Pajak yang menyatakan bahwa mata uang fungsional yang digunakan Wajib Pajak sesuai Standar Akuntansi Keuangan yang berlaku di Indonesia adalah satuan mata uang Dollar Amerika Serikat bagi Wajib Pajak yang menyajikan laporan keuangan dalam mata uang fungsionalnya menggunakan satuan mata uang Dollar Amerika Serikat sesuai Standar Akuntansi Keuangan yang berlaku di Indonesia dengan menggunakan format sesuai dengan Lampiran VI yang tidak terpisahkan dari Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini.</p>
</li>
</ol>
</li>
</ol>
<ol start="4">
<li>
<p align="justify">Mengubah Lampiran I, Lampiran II, Lampiran III, dan Lampiran IV Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor 11/PJ/2010 menjadi sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran I, Lampiran II, Lampiran III, dan Lampiran IV Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini, yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Menambah lampiran contoh formulir Surat Pernyataan dari Wajib Pajak yang menyatakan bahwa mata uang fungsional yang digunakan Wajib Pajak sesuai Standar Akuntansi Keuangan yang berlaku di Indonesia adalah satuan mata uang Dollar Amerika Serikat sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran VI Peraturan ini, yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini.</p>
</li>
</ol>
<p align="center"><strong>Pasal II</strong></p>
<ol>
<li>
<p align="justify">Dengan berlakunya Peraturan Menteri Keuangan Nomor 24/PMK.011/2012, untuk memperoleh izin menyelenggarakan pembukuan dengan menggunakan bahasa Inggris dan satuan mata uang Dollar Amerika Serikat, Wajib Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 huruf h yang tahun bukunya dimulai dalam bulan Januari, Februari, Maret atau April, pada tahun 2012, harus mengajukan permohonan paling lambat 30 (tiga puluh) hari setelah Peraturan Menteri Keuangan Nomor 24/PMK.011/2012 diundangkan.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Surat permohonan/pemberitahuan yang diajukan oleh Wajib Pajak, surat pernyataan yang dilampirkan oleh Wajib Pajak, dan keputusan pencabutan/pemberian/pembatalan izin serta surat penolakan yang diterbitkan oleh Kepala Kantor Wilayah sebelum ditetapkannya Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini menggunakan format sesuai dengan Lampiran I, Lampiran II, Lampiran III, Lampiran IV, dan Lampiran V Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor 11/PJ/2010 tentang Tata Cara Permohonan, Pemberitahuan, Pemberian, dan Pembatalan Izin Menyelenggarakan Pembukuan dengan Menggunakan Bahasa Inggris dan Satuan Mata Uang Dollar Amerika Serikat.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.</p>
</li>
</ol>
<p align="justify">Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengumuman Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ditetapkan di Jakarta<br />
pada tanggal 18 April 2012<br />
DIREKTUR JENDERAL PAJAK,</p>
<p>ttd</p>
<p>A. FUAD RAHMANY<br />
NIP 195411111981121001</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.mytaxlink.net/per-10pj2102/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Peraturan Menteri Keuangan Nomor 49/PMK.02/2012</title>
		<link>http://www.mytaxlink.net/49pmk-022012/</link>
		<comments>http://www.mytaxlink.net/49pmk-022012/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Apr 2012 04:16:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lain-lain]]></category>
		<category><![CDATA[PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 49/PMK.02/2012]]></category>
		<category><![CDATA[TATA CARA REVISI ANGGARAN TAHUN ANGGARAN 2012]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.mytaxlink.net/?p=662</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>PERATURAN<br />
MENTERI KEUANGAN<br />
NOMOR 49/PMK.02/2012<br />
Tanggal 28 Maret 2012</strong></p>
<p align="center"><strong>TATA CARA REVISI ANGGARAN TAHUN ANGGARAN 2012</strong></p>
<p align="center"><strong>MENTERI KEUANGAN,</strong></p>
<p align="justify">Menimbang :</p>
<ol type="a">
<li>
<p align="justify">bahwa dalam rangka efisiensi dan efektivitas pelaksanaan Anggaran Belanja Pemerintah Pusat Tahun Anggaran 2012 serta percepatan pencapaian kinerja Kementerian Negara/Lembaga, perlu dilakukan perubahan atas Rincian Anggaran Belanja Pemerintah Pusat Tahun Anggaran 2012;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 15 Peraturan Pemerintah Nomor 90 Tahun 2010 tentang Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga, tata cara perubahan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga dalam pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 2 Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 2011 tentang Rincian Anggaran Belanja Pemerintah Pusat Tahun Anggaran 2012, perubahan Rincian Anggaran Belanja Pemerintah Pusat Tahun Anggaran 2012 ditetapkan oleh Menteri Keuangan;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, dan huruf c, perlu menetapkan Peraturan Menteri Keuangan tentang Tata Cara Revisi Anggaran Tahun Anggaran 2012;</p>
</li>
</ol>
<p align="justify">Mengingat :</p>
<ol>
<li>
<p align="justify">Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286);</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4355);</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2011 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2012 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 113, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5254);</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2004 tentang Rencana Kerja Pemerintah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 74, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4405);</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Peraturan Pemerintah Nomor 90 Tahun 2010 tentang Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 152, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5178);</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Keputusan Presiden Nomor 56/P Tahun 2010;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 2011 tentang Rincian Anggaran Belanja Pemerintah Pusat Tahun Anggaran 2012;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Peraturan Menteri Keuangan Nomor 93/PMK.02/2011 tentang Petunjuk Penyusunan dan Penelaahan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Peraturan Menteri Keuangan Nomor 164/PMK.05/2011 tentang Petunjuk Penyusunan dan Pengesahan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Peraturan Menteri Keuangan Nomor 165/PMK.02/2011 tentang Tata Cara Pergeseran Anggaran Belanja dari Bagian Anggaran Bendaharan Umum Negara Pengelola Belanja Lainnya (BA 999.08) ke Bagian Anggaran Kementerian Negara/Lembaga Tahun Anggaran 2011;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Peraturan Menteri Keuangan Nomor 191/PMK.05/2011 tentang Mekanisme Pengelolaan Hibah;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Peraturan Menteri Keuangan Nomor 25/PMK.05/2012 tentang Pelaksanaan Sisa Pekerjaan Tahun Berkenaan yang Dibebankan pada Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) Tahun Anggaran Berikutnya.</p>
</li>
</ol>
<p align="center"><strong>MEMUTUSKAN:</strong></p>
<p align="justify">Menetapkan :</p>
<p align="justify">PERATURAN MENTERI KEUANGAN TENTANG TATA CARA REVISI ANGGARAN TAHUN ANGGARAN 2012.</p>
<p align="center"><strong>BAB I<br />
KETENTUAN UMUM</strong></p>
<p align="center"><strong>Pasal 1</strong></p>
<p align="justify">Dalam Peraturan Menteri ini, yang dimaksud dengan:</p>
<ol>
<li>
<p align="justify">Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, yang selanjutnya disingkat APBN adalah rencana keuangan tahunan pemerintahan negara yang disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Kementerian Negara yang selanjutnya disingkat Kementerian, adalah perangkat Pemerintah yang membidangi urusan tertentu dalam pemerintahan.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Lembaga adalah organisasi non Kementerian Negara dan instansi lain pengguna anggaran yang dibentuk untuk melaksanakan tugas tertentu berdasarkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 atau peraturan perundang-undangan lainnya.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Revisi Anggaran adalah perubahan Rincian Anggaran Belanja Pemerintah Pusat yang telah ditetapkan berdasarkan APBN Tahun Anggaran 2012, Surat Penetapan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian/Lembaga (SP RKA-K/L) Tahun Anggaran 2012 dan/atau Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) Tahun Anggaran 2012.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Satuan Kerja, yang selanjutnya disingkat Satker, adalah bagian dari suatu unit organisasi pada Kementerian/Lembaga yang melaksanakan 1 (satu) atau beberapa kegiatan dan membebani dana APBN.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Program adalah penjabaran dari kebijakan sesuai dengan visi dan misi Kementerian/Lembaga yang rumusannya mencerminkan tugas dan fungsi unit eselon I atau unit Kementerian/Lembaga yang berisi kegiatan untuk mencapai hasil dengan indikator kinerja yang terukur.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Kegiatan adalah penjabaran dari Program yang rumusannya mencerminkan tugas dan fungsi unit eselon II/Satker atau penugasan tertentu Kementerian/Lembaga yang berisi komponen kegiatan untuk mencapai Keluaran dengan indikator kinerja yang terukur.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Kegiatan Prioritas Nasional adalah kegiatan yang ditetapkan didalam Buku I Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2012 yang menjadi tanggung jawab Kementerian/Lembaga yang bersangkutan.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Kebijakan Prioritas Pemerintah Yang Telah Ditetapkan adalah Program/Kegiatan/Keluaran yang ditetapkan oleh Pemerintah setelah Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2012 ditetapkan.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Kegiatan Prioritas Kementerian/Lembaga adalah kegiatan-kegiatan selain kegiatan prioritas nasional dan/atau kebijakan Prioritas Pemerintah Yang Telah Ditetapkan.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Kegiatan Operasional, yang selanjutnya disebut Biaya Operasional, adalah anggaran yang dibutuhkan untuk penyelenggaraan sebuah Satker dalam melaksanakan tugas dan fungsinya meliputi pembayaran gaji, tunjangan yang melekat pada gaji, uang makan, dan pembayaran yang terkait dengan belanja pegawai (Komponen 001) dan kebutuhan sehari-hari perkantoran, langganan daya dan jasa, pemeliharaan kantor, dan pembayaran yang terkait dengan pelaksanaan operasional kantor (Komponen 002), termasuk tunjangan profesi guru/dosen dan tunjangan kehormatan profesor.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Bagian Anggaran Bendahara Umum Negara (BUN) Pengelola Belanja Lainnya (BA 999.08) yang selanjutnya disebut BA 999.08 adalah bagian anggaran BUN yang menampung Belanja Pemerintah Pusat di luar Belanja Pembayaran Bunga Utang, Hibah, Subsidi, dan Transaksi Khusus, yang pagu anggarannya tidak dialokasikan dalam bagian anggaran Kementerian/Lembaga</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Komponen Input, yang selanjutnya disebut Komponen, adalah bagian atau tahapan Kegiatan yang dilaksanakan untuk menghasilkan sebuah Keluaran.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Hasil adalah segala sesuatu yang mencerminkan berfungsinya keluaran dari kegiatan dalam satu program.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Keluaran adalah barang atau jasa yang dihasilkan oleh suatu kegiatan yang dilaksanakan untuk mendukung pencapaian sasaran dan tujuan program dan kebijakan.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian/Lembaga, yang selanjutnya disingkat RKA-K/L, adalah dokumen rencana keuangan tahunan Kementerian/Lembaga yang disusun menurut bagian anggaran Kementerian/Lembaga.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Surat Penetapan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian/Lembaga, yang selanjutnya disingkat SP RKA-K/L, adalah alokasi anggaran yang ditetapkan menurut unit organisasi dan program dan dirinci ke dalam Satker-Satker berdasarkan hasil penelaahan RKA-K/L termasuk SP RKA-Bendahara Umum Negara (BUN) khusus untuk belanja.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran, yang selanjutnya disingkat DIPA, adalah dokumen pelaksanaan anggaran yang disusun oleh Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran dan disahkan oleh Direktur Jenderal Perbendaharaan atau Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan atas nama Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Hasil Optimalisasi adalah hasil lebih atau sisa dana yang diperoleh setelah pelaksanaan dan/atau penandatanganan kontrak dari suatu kegiatan yang target sasarannya telah dicapai.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Perubahan Pagu Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) adalah perubahan pagu sebagai akibat kelebihan realisasi PNBP dari target yang direncanakan dalam APBN.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Lanjutan Pinjaman Proyek/Hibah Luar Negeri (PHLN) atau Pinjaman/Hibah Dalam Negeri (PHDN) adalah penggunaan kembali sisa alokasi anggaran yang bersumber dari PHLN/PHDN yang tidak terserap.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Percepatan Penarikan PHLN/PHDN adalah tambahan dana untuk alokasi anggaran yang berasal dari total pagu PHLN/PHDN untuk memenuhi kebutuhan pendanaan kegiatan dalam rangka percepatan penyelesaian pekerjaan dan/atau memenuhi kebutuhan anggaran yang belum tersedia pada tahun 2012.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Keadaan Kahar adalah kondisi/keadaan yang terjadi di luar kehendak para pihak dan tidak dapat diperkirakan sebelumnya, meliputi bencana alam, bencana non alam, pemogokan, kebakaran, dan/atau gangguan industri lainnya sebagaimana ditetapkan melalui keputusan bersama Menteri Keuangan dan Menteri teknis terkait.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Subsidi Energi adalah subsidi dalam bentuk subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM), Liquefied Petrolium Gas (LPG), dan subsidi listrik.</p>
</li>
</ol>
<p align="center"><strong>BAB II<br />
RUANG LINGKUP DAN BATASAN REVISI ANGGARAN</strong></p>
<p align="center"><strong>Bagian Kesatu<br />
Ruang Lingkup Revisi Anggaran</strong></p>
<p align="center"><strong>Pasal 2</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(1)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Revisi Anggaran terdiri atas:</p>
<ol type="a">
<li>
<p align="justify">perubahan rincian anggaran yang disebabkan penambahan atau pengurangan pagu anggaran belanja termasuk pergeseran rincian anggaran belanjanya;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">perubahan atau pergeseran rincian anggaran dalam hal pagu anggaran tetap; dan/atau</p>
</li>
<li>
<p align="justify">perubahan/ralat karena kesalahan administrasi.</p>
</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(2)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Revisi Anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan perubahan alokasi anggaran dan/atau perubahan jenis belanja dan/atau volume Keluaran pada:</p>
<ol type="a">
<li>
<p align="justify">Kegiatan;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Satker;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Program;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Kementerian/Lembaga; dan/atau</p>
</li>
<li>
<p align="justify">APBN.</p>
</li>
</ol>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 3</strong></p>
<p align="justify">Revisi Anggaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 juga dilakukan dalam hal terjadi:</p>
<ol type="a">
<li>
<p align="justify">perubahan atas APBN Tahun Anggaran 2012;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">penerapan pemberian penghargaan dan pengenaan sanksi (Reward and Punishment System);</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Instruksi Presiden mengenai penghematan anggaran; dan/atau</p>
</li>
<li>
<p align="justify">kebijakan pemerintah lainnya.</p>
</li>
</ol>
<p align="center"><strong>Pasal 4</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(1)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Perubahan rincian anggaran yang disebabkan penambahan atau pengurangan pagu anggaran belanja termasuk pergeseran rincian anggaran belanjanya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) huruf a sebagai akibat dari adanya hal-hal sebagai berikut:</p>
<ol type="a">
<li>
<p align="justify">kelebihan realisasi PNBP di atas target yang direncanakan dalam APBN;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">lanjutan pelaksanaan Kegiatan yang dananya bersumber dari PHLN dan/atau PHDN;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Percepatan Penarikan PHLN dan/atau PHDN;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">penerimaan Hibah Luar Negeri (HLN)/Hibah Dalam Negeri (HDN) setelah Undang-Undang mengenai APBN Tahun Anggaran 2012 ditetapkan yang diterima oleh Pemerintah c.q. Kementerian Keuangan dan dilaksanakan oleh Kementerian/Lembaga;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">penerimaan HLN/HDN setelah Undang-Undang mengenai APBN Tahun Anggaran 2012 ditetapkan yang diterima dalam bentuk uang dan dilaksanakan secara langsung oleh Kementerian/Lembaga;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">penggunaan anggaran belanja yang bersumber dari PNBP di atas pagu APBN untuk Satker BLU;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">pengurangan alokasi PHLN dan/atau PHDN;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">perubahan parameter dalam penghitungan Subsidi Energi; dan/atau</p>
</li>
<li>
<p align="justify">perubahan parameter dalam perhitungan bunga utang.</p>
</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(2)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Perubahan rincian anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan perubahan berupa :</p>
<ol type="a">
<li>
<p align="justify">penambahan alokasi anggaran pada Keluaran/Kegiatan/Program/Satker/Kementerian/Lembaga/APBN dan penambahan volume Keluaran;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">penambahan alokasi anggaran pada Keluaran/Kegiatan/Program/Satker/Kementerian/Lembaga/APBN dan volume Keluaran tetap;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">pengurangan alokasi anggaran pada Keluaran/Kegiatan/Program/Satker/Kementerian/Lembaga/APBN dan pengurangan volume Keluaran; atau</p>
</li>
<li>
<p align="justify">pengurangan alokasi anggaran pada Keluaran/Kegiatan/Program/Satker/Kementerian/Lembaga/APBN dan volume Keluaran tetap.</p>
</li>
</ol>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 5</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(1)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Perubahan atau pergeseran rincian anggaran dalam hal pagu anggaran tetap sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) huruf b sebagai akibat dari adanya hal-hal sebagai berikut:(1) Perubahan atau pergeseran rincian anggaran dalam hal pagu anggaran tetap sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) huruf b sebagai akibat dari adanya hal-hal sebagai berikut:</p>
<ol type="a">
<li>
<p align="justify">Hasil Optimalisasi;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">kekurangan Biaya Operasional;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">perubahan prioritas penggunaan anggaran;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">perubahan kebijakan pemerintah; dan/atau</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Keadaan Kahar.</p>
</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(2)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Perubahan atau pergeseran rincian anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:</p>
<ol type="a">
<li>
<p align="justify">pergeseran dalam Keluaran yang sama atau antar Keluaran dalam satu Kegiatan dan satu Satker;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">pergeseran dalam Keluaran yang sama dan antar Satker atau antar Keluaran dan antar Satker dalam Kegiatan yang sama;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">pergeseran antar Kegiatan dalam satu Program dan satu Satker;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">pergeseran antar Kegiatan dan antar Satker dalam satu Program;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">realokasi anggaran antar Kegiatan/antar Satker/antar Program dalam rangka tanggap darurat bencana;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">pergeseran antar Program dalam satu unit Eselon I dalam rangka memenuhi kebutuhan Biaya Operasional;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">pergeseran antar Program dan antar unit Eselon I dalam satu bagian anggaran dalam rangka memenuhi kebutuhan Biaya Operasional;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">pergeseran antar Program dan antar bagian anggaran dari BA 999.08 ke bagian anggaran Kementerian/Lembaga;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">perubahan karena pencairan blokir/tanda bintang (*); dan/atau</p>
</li>
<li>
<p align="justify">perubahan/penambahan rumusan kinerja.</p>
</li>
</ol>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 6</strong></p>
<p align="justify">Perubahan/ralat karena kesalahan administrasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) huruf c meliputi:</p>
<ol type="a">
<li>
<p align="justify">ralat kode akun sesuai kaidah akuntansi sepanjang dalam peruntukan dan sasaran yang sama dan sudah direalisasikan;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">ralat kode Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN);</p>
</li>
<li>
<p align="justify">perubahan nomenklatur bagian anggaran dan/atau Satker sepanjang kode tetap;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">ralat kode nomor register PHLN/PHDN;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">ralat kode kewenangan;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">ralat kode lokasi;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">ralat cara penarikan PHLN/PHDN;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">ralat sumber dana terkait perubahan komposisi pendanaan dan/atau kesalahan pencantuman;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">ralat pencantuman volume Keluaran yang berbeda dengan penjumlahan volume sub Keluaran;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">ralat pencantuman volume, jenis, dan satuan Keluaran yang berbeda antara RKA-K/L dan DIPA; dan/atau</p>
</li>
<li>
<p align="justify">ralat pencantuman volume, jenis, dan satuan Keluaran yang berbeda antara RKA-K/L dan RKP atau hasil kesepakatan DPR-RI.</p>
</li>
</ol>
<p align="center"><strong>Bagian Kedua<br />
Batasan Revisi Anggaran</strong></p>
<p align="center"><strong>Pasal 7</strong></p>
<p align="justify">Revisi Anggaran dapat dilakukan sepanjang tidak mengakibatkan pengurangan alokasi anggaran terhadap:</p>
<ol type="a">
<li>
<p align="justify">kebutuhan Biaya Operasional Satker kecuali untuk memenuhi Biaya Operasional pada Satker sepanjang masih dalam peruntukan yang sama dan kebutuhan Biaya Operasional masih mencukupi;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">alokasi tunjangan profesi guru/dosen dan tunjangan kehormatan profesor kecuali untuk memenuhi tunjangan profesi guru/dosen dan tunjangan kehormatan profesor pada Satker lain;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">kebutuhan pengadaan bahan makanan dan/atau perawatan tahanan untuk tahanan/narapidana kecuali untuk memenuhi kebutuhan pengadaan bahan makanan dan/atau perawatan tahanan untuk tahanan/narapidana pada Satker lain;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">pembayaran berbagai tunggakan;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">paket pekerjaan yang bersifat multiyears;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Rupiah Murni Pendamping (RMP) sepanjang paket pekerjaan masih berlanjut (on-going); dan/atau</p>
</li>
<li>
<p align="justify">paket pekerjaan yang telah dikontrakkan dan/atau direalisasikan dananya sehingga menjadi minus.</p>
</li>
</ol>
<p align="center"><strong>Pasal 8</strong></p>
<p align="justify">Revisi Anggaran dapat dilakukan setelah volume Keluaran yang tercantum dalam DIPA tercapai dan/atau dijamin tercapai dan tidak mengakibatkan pengurangan volume Keluaran terhadap:</p>
<ol type="a">
<li>
<p align="justify">Kegiatan Prioritas Nasional; dan/atau</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Kebijakan Prioritas Pemerintah Yang Telah Ditetapkan.</p>
</li>
</ol>
<p align="center"><strong>Pasal 9</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(1)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Hasil Optimalisasi dapat digunakan dengan ketentuan:</p>
<ol type="a">
<li>
<p align="justify">antar Kegiatan dalam satu Program dan satu Satker dan/atau pergeseran antar Kegiatan dan antar Satker dalam satu Program sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (2) huruf c dan huruf d serta digunakan untuk hal-hal yang bersifat prioritas, mendesak, kedaruratan atau yang tidak dapat ditunda;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">pergeseran dalam Keluaran yang sama atau antar Keluaran dalam satu Kegiatan dan satu Satker sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (2) huruf a berupa:</p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="2%">
<p align="justify">1)</p>
</td>
<td width="98%">
<p align="justify">pergeseran anggaran dan penambahan volume Keluaran termasuk dalam rangka adendum kontrak sampai dengan 10% (sepuluh persen) dari nilai kontrak; dan/atau</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="2%">
<p align="justify">2)</p>
</td>
<td width="98%">
<p align="justify">penyediaan anggaran untuk persiapan pengadaan barang dan jasa untuk tahun anggaran berikutnya.</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(2)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Kegiatan lain yang bersifat prioritas, mendesak, kedaruratan atau yang tidak dapat ditunda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a meliputi:</p>
<ol type="a">
<li>
<p align="justify">Kegiatan yang bersifat prioritas, yakni Kegiatan Prioritas Nasional dan/atau Kebijakan Prioritas Pemerintah Yang Telah Ditetapkan yang merupakan penugasan atau menjadi tanggung jawab Kementerian/Lembaga yang bersangkutan dalam rangka menambah volume Keluaran atau percepatan pencapaian kinerja;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Kegiatan yang bersifat mendesak, yakni Kegiatan-Kegiatan yang harus segera dilaksanakan sebagai akibat adanya kebijakan pemerintah yang ditetapkan dengan peraturan perundang-undangan paling rendah setingkat Peraturan Menteri dan belum direncanakan sebelumnya;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Kegiatan yang bersifat kedaruratan, yakni Kegiatan-Kegiatan yang harus segera dilaksanakan sebagai akibat adanya bencana atau keadaan Kahar dan belum direncanakan sebelumnya; dan/atau</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Kegiatan yang tidak dapat ditunda, yakni Kegiatan-Kegiatan yang harus dilaksanakan dan apabila tidak dilaksanakan akan menimbulkan biaya yang lebih besar dan belum direncanakan sebelumnya.</p>
</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(3)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Kegiatan lain yang bersifat prioritas, mendesak, kedaruratan, atau yang tidak dapat ditunda sebagaimana dimaksud pada ayat (2) harus dilengkapi surat pernyataan yang ditandatangani oleh Sekretaris Jenderal/Sekretaris Utama/Sekretaris/Pejabat Eselon I Kementerian/Lembaga selaku Kuasa Pengguna Anggaran (KPA).</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(4)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Biaya persiapan pengadaan barang dan jasa untuk tahun anggaran berikutnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b angka 2) meliputi antara lain biaya pengumuman lelang, pengadaan dokumen lelang, dan penyelenggaraan lelang untuk paket-paket pekerjaan yang akan dikontrakan pada tahun 2013 dan telah dialokasikan anggarannya di dalam RKA-K/L Tahun Anggaran 2013.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(5)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Biaya persiapan pengadaan barang dan jasa untuk tahun anggaran berikutnya sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dituangkan dalam Komponen baru pada Keluaran yang menghasilkan optimalisasi.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(6)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Format surat pernyataan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tercantum dalam Lampiran I yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Bagian Ketiga</strong></p>
<p align="center"><strong>Perubahan Rincian Anggaran Yang Disebabkan Penambahan Atau Pengurangan<br />
Pagu Anggaran Belanja Termasuk Pergeseran Rincian Anggaran Belanjanya</strong></p>
<p align="center"><strong>Pasal 10</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(1)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Perubahan rincian anggaran yang disebabkan adanya kelebihan realisasi PNBP di atas target yang direncanakan dalam APBN sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) huruf a merupakan tambahan alokasi anggaran yang dapat digunakan oleh Kementerian/Lembaga.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(2)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Perubahan rincian anggaran yang disebabkan adanya kelebihan realisasi PNBP di atas target yang direncanakan dalam APBN sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bersifat menambah pagu anggaran belanja Tahun Anggaran 2012 dan diatur dengan ketentuan sebagai berikut:</p>
<ol type="a">
<li>
<p align="justify">dapat digunakan oleh Kementerian/Lembaga penghasil sesuai dengan ketentuan izin penggunaan yang berlaku;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">termasuk adanya jenis PNBP baru yang ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah dan penerimaan serta penggunaan dari jenis PNBP dimaksud belum tercantum dalam APBN;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">termasuk adanya Keputusan Menteri Keuangan tentang persetujuan penggunaan sebagian dana yang berasal dari PNBP yang baru, atau tambahan besaran (persentase) persetujuan penggunaan sebagian dana PNBP;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">termasuk kontrak/kerjasama/nota kesepahaman atau dokumen yang dipersamakan; atau</p>
</li>
<li>
<p align="justify">termasuk adanya Satker PNBP/BLU baru.</p>
</li>
</ol>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 11</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(1)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Perubahan rincian anggaran yang disebabkan adanya lanjutan pelaksanaan Kegiatan yang dananya bersumber dari PHLN dan/atau PHDN sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) huruf b bersifat menambah pagu anggaran belanja Tahun Anggaran 2012.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(2)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Perubahan rincian anggaran yang disebabkan adanya lanjutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan sepanjang PHLN/PHDN belum closing date.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(3)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Lanjutan pelaksanaan Kegiatan yang dananya bersumber dari PHLN dan/atau PHDN sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak termasuk pinjaman proyek baru yang belum dialokasikan dalam APBN Tahun Anggaran 2012 serta pinjaman yang bersumber dari pinjaman komersial dan fasilitas kredit ekspor yang bukan merupakan kelanjutan proyek multiyears.</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 12</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(1)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Perubahan rincian anggaran yang disebabkan adanya Percepatan Penarikan PHLN dan/atau PHDN sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) huruf c merupakan optimalisasi pemanfaatan dana yang bersumber dari PHLN dan/atau PHDN dan bersifat menambah pagu anggaran belanja Tahun Anggaran 2012</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="3%">(2)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Percepatan Penarikan PHLN dan/atau PHDN sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak termasuk pinjaman proyek baru yang belum dialokasikan dalam APBN Tahun Anggaran 2012.</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 13</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(1)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Perubahan rincian anggaran yang disebabkan adanya penerimaan HLN/HDN setelah Undang-Undang mengenai APBN Tahun Anggaran 2012 ditetapkan yang diterima oleh Pemerintah c.q. Kementerian Keuangan dan dilaksanakan oleh Kementerian/Lembaga sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) huruf d bersifat menambah pagu anggaran belanja Tahun Anggaran 2012.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(2)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Penerimaan HLN/HDN setelah Undang-Undang mengenai APBN Tahun Anggaran 2012 ditetapkan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), rincian peruntukannya dituangkan dalam dokumen RKA-K/L dan diajukan oleh Kementerian/Lembaga.</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 14</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(1)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Perubahan rincian anggaran yang disebabkan adanya penerimaan HLN/HDN setelah Undang-Undang mengenai APBN Tahun Anggaran 2012 ditetapkan yang diterima dalam bentuk uang dan dilaksanakan secara langsung oleh Kementerian/Lembaga sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) huruf e bersifat menambah pagu anggaran belanja Tahun Anggaran 2012.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(2)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Tata cara pencatatan dan pelaporan untuk penerimaan HLN/HDN setelah Undang-Undang mengenai APBN Tahun Anggaran 2012 ditetapkan yang diterima dalam bentuk uang dan dilaksanakan secara langsung oleh Kementerian/Lembaga sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilaksanakan sesuai ketentuan dalam Peraturan Menteri Keuangan yang mengatur mengenai Mekanisme Pengelolaan Hibah.</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 15</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(1)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Perubahan rincian anggaran yang disebabkan adanya penggunaan anggaran belanja yang bersumber dari PNBP di atas pagu APBN untuk Satker BLU sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) huruf f merupakan tambahan alokasi anggaran yang dapat digunakan oleh Satker BLU dan bersifat menambah pagu anggaran belanja Tahun Anggaran 2012<br />
(2) Tambahan alokasi anggaran yang dapat digunakan oleh Satker BLU sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bersumber dari:</p>
<ol type="a">
<li>
<p align="justify">realisasi PNBP di atas target yang direncanakan; dan/atau</p>
</li>
<li>
<p align="justify">penggunaan saldo BLU dari tahun sebelumnya.</p>
</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(3)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara Revisi Anggaran tentang penggunaan anggaran belanja yang bersumber dari PNBP di atas pagu APBN untuk Satker BLU sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan.</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 16</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(1)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Perubahan rincian anggaran yang disebabkan adanya pengurangan alokasi PHLN dan/atau PHDN sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) huruf g bersifat mengurangi pagu anggaran belanja Tahun Anggaran 2012.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(2)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Pengurangan alokasi PHLN dan/atau PHDN sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dalam hal:</p>
<ol type="a">
<li>
<p align="justify">paket Kegiatan/proyek yang didanai dari PHLN dan/atau PHDN telah selesai dilaksanakan dan target kinerjanya telah terpenuhi serta sisa alokasi anggarannya tidak diperlukan lagi;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">terjadi perubahan penjadwalan pembiayaan (cost table) yang disetujui oleh pemberi PHLN dan/atau PHDN; atau</p>
</li>
<li>
<p align="justify">adanya pembatalan alokasi PHLN dan/atau PHDN.</p>
</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(3)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Dana Rupiah Murni Pendamping (RMP) yang telah dialokasikan untuk paket Kegiatan/proyek sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat digunakan/direalokasi untuk mendanai Rupiah Murni Pendamping (RMP) pada paket Kegiatan/proyek yang lain atau menambah volume Keluaran.</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 17</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(1)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Perubahan rincian anggaran yang disebabkan adanya perubahan parameter dalam penghitungan Subsidi Energi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) huruf h merupakan tambahan alokasi anggaran yang diberikan untuk memenuhi pembayaran Subsidi Energi dan bersifat menambah pagu anggaran belanja Tahun Anggaran 2012.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(2)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Tambahan alokasi anggaran yang diberikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan ketentuan sebagai berikut:</p>
<ol type="a">
<li>
<p align="justify">merupakan selisih antara alokasi yang telah ditetapkan dalam APBN dengan hasil perhitungan sesuai perubahan parameter;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">diberikan setelah mendapat persetujuan Menteri Keuangan; dan</p>
</li>
<li>
<p align="justify">tata cara pembayaran subsidi dilaksanakan sesuai ketentuan dalam Peraturan Menteri Keuangan yang mengatur mengenai tata cara pembayaran subsidi di bidang energi.</p>
</li>
</ol>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 18</strong></p>
<p align="justify">Perubahan rincian anggaran yang disebabkan perubahan parameter dalam perhitungan bunga utang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) huruf i merupakan tambahan/pengurangan alokasi anggaran dalam rangka pembayaran bunga utang karena adanya perubahan kurs.</p>
<p align="center"><strong>Bagian Keempat<br />
Perubahan atau Pergeseran Rincian Anggaran Dalam Hal Pagu Anggaran Tetap</strong></p>
<p align="center"><strong>Pasal 19</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(1)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Pergeseran dalam Keluaran yang sama atau antar Keluaran dalam satu Kegiatan dan satu Satker sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (2) huruf a terdiri atas:</p>
<ol type="a">
<li>
<p align="justify">pergeseran anggaran dan penambahan volume Keluaran termasuk dalam rangka adendum kontrak sampai dengan 10% (sepuluh persen) dari nilai kontrak;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">pergeseran anggaran dan volume Keluaran tetap;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">pergeseran anggaran dan pengurangan volume Keluaran Kegiatan Prioritas Kementerian/Lembaga;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">pergeseran antarjenis belanja;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">pergeseran anggaran dalam rangka memenuhi kebutuhan Biaya Operasional;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">pergeseran anggaran dalam rangka memenuhi kebutuhan selisih kurs;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">pergeseran rincian anggaran untuk Satker BLU yang sumber dananya berasal dari PNBP; dan/atau</p>
</li>
<li>
<p align="justify">pergeseran anggaran dalam rangka penyelesaian pekerjaan yang belum selesai pada tahun anggaran sebelumnya.</p>
</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(2)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Dalam hal pergeseran anggaran dilaksanakan melalui pengurangan volume Keluaran Kegiatan Prioritas Kementerian/Lembaga sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c, dapat dilakukan setelah mendapat persetujuan Direktur Jenderal Anggaran.</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 20</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(1)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Pergeseran dalam Keluaran yang sama dan antar Satker atau antar Keluaran dan antar Satker dalam Kegiatan yang sama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (2) huruf b terdiri atas:</p>
<ol type="a">
<li>
<p align="justify">pergeseran anggaran dan penambahan volume Keluaran;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">pergeseran anggaran dan volume Keluaran tetap;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">pergeseran anggaran dan pengurangan volume Keluaran Kegiatan Prioritas Kementerian/Lembaga;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">pergeseran antar jenis belanja;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">pergeseran antar provinsi/kabupaten/kota untuk memenuhi Biaya Operasional yang dilaksanakan oleh unit organisasi di tingkat pusat maupun oleh instansi vertikalnya di daerah;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">pergeseran dalam satu provinsi/kabupaten/kota untuk Kegiatan dalam rangka Tugas Pembantuan dan Urusan Bersama, atau dalam satu provinsi untuk Kegiatan dalam rangka Dekonsentrasi</p>
</li>
<li>
<p align="justify">pergeseran anggaran dalam rangka penyelesaian tunggakan tahun yang lalu;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">pergeseran anggaran dalam rangka penyelesaian kegiatan-kegiatan pembangunan infrastruktur serta rehabilitasi dan rekonstruksi bencana alam tahun 2011; dan/atau</p>
</li>
<li>
<p align="justify">pergeseran anggaran dalam rangka memenuhi kebutuhan selisih kurs.</p>
</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(2)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Dalam hal pergeseran anggaran dilaksanakan melalui pengurangan volume Keluaran Kegiatan Prioritas Kementerian/Lembaga sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c dapat dilakukan setelah mendapat persetujuan Direktur Jenderal Anggaran.</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 21</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(1)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Pergeseran antar Kegiatan dalam satu Program dan satu Satker sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (2) huruf c terdiri atas:</p>
<ol type="a">
<li>
<p align="justify">pergeseran anggaran dan penambahan volume Keluaran;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">pergeseran anggaran dan volume Keluaran tetap;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">pergeseran anggaran dan pengurangan volume Keluaran Kegiatan Prioritas Kementerian/Lembaga;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">pergeseran anggaran dalam rangka memenuhi kebutuhan Biaya Operasional;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">pergeseran anggaran dalam rangka penyelesaian tunggakan tahun yang lalu;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">pergeseran anggaran dalam rangka penyelesaian kegiatan-kegiatan pembangunan infrastruktur serta rehabilitasi dan rekonstruksi bencana alam tahun 2011</p>
</li>
<li>
<p align="justify">pergeseran anggaran dalam rangka memenuhi kebutuhan selisih kurs;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">pergeseran rincian anggaran untuk Satker BLU yang sumber dananya berasal dari PNBP; dan/atau</p>
</li>
<li>
<p align="justify">pergeseran anggaran dalam rangka penyelesaian pekerjaan yang belum selesai pada tahun anggaran sebelumnya.</p>
</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(2)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Dalam hal pergeseran anggaran dilaksanakan melalui pengurangan volume Keluaran Kegiatan Prioritas Kementerian/Lembaga sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c dapat dilakukan setelah mendapat persetujuan Direktur Jenderal Anggaran.</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 22</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(1)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Pergeseran antar Kegiatan dan antar Satker dalam satu Program sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (2) huruf d terdiri atas:</p>
<ol type="a">
<li>
<p align="justify">pergeseran anggaran dan penambahan volume Keluaran;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">pergeseran anggaran dan volume Keluaran tetap;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">pergeseran anggaran dan pengurangan volume Keluaran Kegiatan Prioritas Kementerian/Lembaga;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">pergeseran anggaran dalam rangka memenuhi kebutuhan Biaya Operasional dan pembukaan kantor baru;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">pergeseran anggaran dalam rangka penyelesaian tunggakan tahun yang lalu;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">pergeseran anggaran dalam rangka penyelesaian kegiatan-kegiatan pembangunan infrastruktur serta rehabilitasi dan rekonstruksi bencana alam tahun 2011; dan/atau</p>
</li>
<li>
<p align="justify">pergeseran anggaran dalam rangka memenuhi kebutuhan selisih kurs.</p>
</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(2)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Dalam hal pergeseran anggaran dilaksanakan melalui pengurangan volume Keluaran Kegiatan Prioritas Kementerian/Lembaga sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c dapat dilakukan setelah mendapat persetujuan Direktur Jenderal Anggaran.</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 23</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(1)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Realokasi anggaran antar Kegiatan/antar Satker/antar Program dalam rangka tanggap darurat bencana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (2) huruf e dapat digunakan untuk mendanai pelaksanaan mitigasi bencana, tanggap darurat, dan penanganan pasca bencana.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="3%">(2)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Realokasi anggaran dalam rangka tanggap darurat bencana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajukan oleh Pengguna Anggaran dengan dilengkapi alasan yang dapat dipertanggungjawabkan.</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 24</strong></p>
<p align="justify">Pergeseran antar Program dalam satu unit Eselon I dan/atau pergeseran antar Program dan antar unit eselon I dalam satu bagian anggaran dalam rangka memenuhi kebutuhan Biaya Operasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (2) huruf f dan huruf g dapat dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut:</p>
<ol type="a">
<li>
<p align="justify">pergeseran dimaksud berasal dari dan hanya untuk Biaya Operasional; dan</p>
</li>
<li>
<p align="justify">tidak mengakibatkan kekurangan kebutuhan Biaya Operasional pada Program asal setelah dilakukan pergeseran.</p>
</li>
</ol>
<p align="center"><strong>Pasal 25</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(1)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Pergeseran antar Program dan antar bagian anggaran dari BA 999.08 ke bagian anggaran Kementerian/Lembaga sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (2) huruf h bersifat insidentil dan menambah pagu anggaran belanja Kementerian/Lembaga Tahun Anggaran 2012 namun tidak menjadi dasar perhitungan untuk penetapan alokasi anggaran tahun berikutnya.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(2)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Tata cara Revisi Anggaran untuk pergeseran anggaran belanja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai ketentuan dalam Peraturan Menteri Keuangan yang mengatur mengenai Tata Cara Pergeseran Anggaran Belanja dari BA 999.08 ke bagian anggaran Kementerian/Lembaga.</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 26</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(1)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Perubahan karena pencairan blokir/tanda bintang (*) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (2) huruf i terdiri atas:</p>
<ol type="a">
<li>
<p align="justify">pencairan blokir/tanda bintang (*) karena telah dilengkapinya syarat administratif berupa dokumen pendukung seperti:</p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="2%">
<p align="justify">1)</p>
</td>
<td width="98%">
<p align="justify">Kerangka Acuan Kerja (KAK)/Term of Reference (TOR) dan Rincian Anggaran Biaya (RAB);</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="2%">
<p align="justify">2)</p>
</td>
<td width="98%">
<p align="justify">loan agreement dan/atau grant agreement dan Nomor Register;</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="2%">
<p align="justify">3)</p>
</td>
<td width="98%">
<p align="justify">Annual Work Plan (AWP) PHLN;</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="2%">
<p align="justify">4)</p>
</td>
<td width="98%">
<p align="justify">dokumen studi kelayakan dan Detailed Engineering Design (DED);</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="2%">
<p align="justify">5)</p>
</td>
<td width="98%">
<p align="justify">dokumen rincian alokasi anggaran dalam rangka Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan menurut SKPD;</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="2%">
<p align="justify">6)</p>
</td>
<td width="98%">
<p align="justify">Rencana Bisnis Anggaran (RBA) BLU;</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="2%">
<p align="justify">7)</p>
</td>
<td width="98%">
<p align="justify">peraturan perundangan sebagai dasar pengalokasian;</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="2%">
<p align="justify">8)</p>
</td>
<td width="98%">
<p align="justify">peraturan atas pembentukan organisasi termasuk reorganisasi;</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="2%">
<p align="justify">9)</p>
</td>
<td width="98%">
<p align="justify">SK pembentukan Tim;</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="2%">
<p align="justify">10)</p>
</td>
<td width="98%">
<p align="justify">SK pemberian tunjangan;</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="2%">
<p align="justify">11)</p>
</td>
<td width="98%">
<p align="justify">persetujuan DPR RI;</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="2%">
<p align="justify">12)</p>
</td>
<td width="98%">
<p align="justify">Surat Pernyataan Tanggung Jawab Mutlak (SPTJM);</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="2%">
<p align="justify">13)</p>
</td>
<td width="98%">
<p align="justify">risalah lelang;</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="2%">
<p align="justify">14)</p>
</td>
<td width="98%">
<p align="justify">dokumen clearance;</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="2%">
<p align="justify">15)</p>
</td>
<td width="98%">
<p align="justify">hasil audit Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) dalam rangka pembayaran eskalasi;</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="2%">
<p align="justify">16)</p>
</td>
<td width="98%">
<p align="justify">hasil audit BPKP dalam rangka pembayaran tunggakan;</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="2%">
<p align="justify">17)</p>
</td>
<td width="98%">
<p align="justify">referensi harga untuk input yang tidak tercantum dalam standar biaya masukan;</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="2%">
<p align="justify">18)</p>
</td>
<td width="98%">
<p align="justify">ijin prinsip dari Kementerian Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN dan RB) untuk pakaian dinas/seragam;</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="2%">
<p align="justify">19)</p>
</td>
<td width="98%">
<p align="justify">ijin penggunaan PNBP/Penerimaan BLU;</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="2%">
<p align="justify">20)</p>
</td>
<td width="98%">
<p align="justify">penggunaan belanja pegawai transito;</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</li>
<li>
<p align="justify">pencairan blokir/tanda bintang (*) terhadap Kegiatan yang sudah jelas peruntukannya namun masih terpusat;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">pencairan blokir/tanda bintang (*) dana output cadangan.</p>
</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(2)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Pencairan blokir/tanda bintang (*) sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan setelah persyaratan dipenuhi dengan lengkap dan benar.</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 27</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(1)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Perubahan/penambahan rumusan kinerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (2) huruf j terdiri atas:</p>
<ol type="a">
<li>
<p align="justify">perubahan/penambahan rumusan Keluaran; dan/atau</p>
</li>
<li>
<p align="justify">perubahan/penambahan rumusan selain rumusan Keluaran.</p>
</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(2)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Perubahan/penambahan rumusan Keluaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dapat dilakukan:</p>
<ol type="a">
<li>
<p align="justify">sebagai akibat adanya penyempurnaan rumusan nomenklatur, perubahan tugas fungsi unit dan/atau adanya tambahan penugasan;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">sepanjang tidak mengubah pagu anggaran dan tidak mengurangi volume Keluaran Kegiatan Prioritas Nasional dan/atau Kebijakan Prioritas Pemerintah Yang Telah Ditetapkan.</p>
</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(3)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Tata cara perubahan/penambahan rumusan Keluaran sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur sebagai berikut:</p>
<ol type="a">
<li>
<p align="justify">usulan perubahan/penambahan rumusan Keluaran diajukan oleh Sekretaris Jenderal/Sekretaris Utama/Sekretaris/ Pejabat Eselon I Kementerian/Lembaga selaku KPA kepada Direktur Jenderal Anggaran;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">hasil perubahan/penambahan rumusan Keluaran sebagai dasar untuk melakukan perubahan database RKA-K/L/DIPA;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">berdasarkan perubahan database RKA-K/L/DIPA menjadi dasar pengajuan revisi SP RKA-K/L kepada Direktur Jenderal Anggaran.</p>
</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(4)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Perubahan/penambahan rumusan selain rumusan Keluaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dapat dilakukan:</p>
<ol type="a">
<li>
<p align="justify">sebagai akibat adanya re-organisasi atau penyempurnaan perumusan nomenklatur antara lain nomenklatur program, indikator kinerja program, kegiatan, indikator kinerja kegiatan, fungsi, perubahan tugas fungsi unit dan/atau adanya tambahan penugasan; dan</p>
</li>
<li>
<p align="justify">sepanjang tidak mengubah pagu anggaran dan tidak mengurangi volume Keluaran Kegiatan Prioritas Nasional dan/atau Kebijakan Prioritas Pemerintah Yang Telah Ditetapkan.</p>
</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(5)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Tata cara perubahan/penambahan rumusan selain rumusan Keluaran sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diatur sebagai berikut:</p>
<ol type="a">
<li>
<p align="justify">usulan perubahan/penambahan rumusan selain rumusan Keluaran diajukan oleh Sekretaris Jenderal/Sekretaris Utama/Sekretaris/Pejabat Eselon I Kementerian/Lembaga selaku KPA kepada Direktur Jenderal Anggaran dan Deputi Pendanaan Pembangunan Bappenas;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">perubahan/penambahan rumusan selain rumusan Keluaran dapat ditetapkan sepanjang telah disepakati dalam pertemuan tiga pihak antara Kementerian Perencanaan, Kementerian Keuangan, dan Kementerian/Lembaga yang bersangkutan;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">hasil perubahan/penambahan rumusan selain rumusan Keluaran sebagai dasar untuk melakukan perubahan database RKA-KL/DIPA;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">berdasarkan perubahan database RKA-KL/DIPA menjadi dasar pengajuan revisi SP RKA-K/L kepada Direktur Jenderal Anggaran.</p>
</li>
</ol>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 28</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(1)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Pergeseran anggaran dalam rangka penyelesaian Kegiatan-Kegiatan pembangunan infrastruktur serta rehabilitasi dan rekonstruksi bencana alam tahun 2011 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 ayat (1) huruf h, Pasal 21 ayat (1) huruf f, dan Pasal 22 ayat (1) huruf f dapat dilakukan sepanjang tidak mengurangi volume Keluaran Kegiatan Prioritas Nasional dan/atau Kebijakan Prioritas Pemerintah Yang Telah Ditetapkan.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="3%">(2)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Pergeseran anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pendanaannya bersumber dari pagu anggaran Kementerian/Lembaga yang bersangkutan Tahun Anggaran 2012.</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 29</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(1)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Pergeseran anggaran dalam rangka memenuhi kebutuhan selisih kurs sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1) huruf f, Pasal 20 ayat (1) huruf i, Pasal 21 ayat (1) huruf g, dan Pasal 22 ayat (1) huruf g merupakan pergeseran anggaran rupiah karena adanya kekurangan alokasi anggaran untuk pembayaran sebuah kontrak dalam valuta asing sebagai akibat adanya selisih kurs.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(2)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Pergeseran anggaran dalam rangka memenuhi kebutuhan selisih kurs sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan sepanjang selisih tersebut terjadi setelah kontrak ditandatangani dan diatur dengan ketentuan sebagai berikut:</p>
<ol type="a">
<li>
<p align="justify">merupakan selisih antara nilai kurs yang digunakan dalam APBN dengan nilai kurs pada saat transaksi dilakukan;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">pergeseran alokasi anggaran yang dilakukan paling tinggi sebesar nilai kontrak dikalikan dengan selisih kurs sebagaimana dimaksud pada huruf a; dan</p>
</li>
<li>
<p align="justify">kebutuhan anggaran untuk memenuhi selisih kurs menggunakan alokasi anggaran Kementerian/Lembaga yang bersangkutan.</p>
</li>
</ol>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 30</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(1)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Pergeseran rincian anggaran untuk Satker BLU yang sumber dananya berasal dari PNBP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1) huruf g dan Pasal 21 ayat (1) huruf h dapat dilakukan dalam rangka mempercepat pencapaian Kinerja Satker BLU.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(2)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara Revisi Anggaran mengenai pergeseran rincian anggaran untuk Satker BLU yang sumber dananya berasal dari PNBP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan.</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 31</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(1)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Pergeseran anggaran dalam rangka penyelesaian tunggakan tahun yang lalu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 ayat (1) huruf g, Pasal 21 ayat (1) huruf e, dan Pasal 22 ayat (1) huruf e dapat dilakukan sepanjang tidak mengurangi volume Keluaran Kegiatan Prioritas Nasional dan/atau Kebijakan Prioritas Pemerintah Yang Telah Ditetapkan.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(2)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Dalam hal pergeseran anggaran dalam rangka penyelesaian tunggakan tahun yang lalu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) nilainya untuk jumlah seluruh tunggakan Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) ke atas per DIPA per Satker harus dilampiri hasil verifikasi BPKP setempat.</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 32</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(1)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Pergeseran anggaran dalam rangka penyelesaian pekerjaan yang belum selesai pada tahun anggaran sebelumnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1) huruf h dan Pasal 21 ayat (1) huruf i merupakan lanjutan pekerjaan yang bukan merupakan multiyears project.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(2)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Pergeseran anggaran dalam rangka penyelesaian pekerjaan yang belum selesai pada tahun anggaran sebelumnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai ketentuan dalam Peraturan Menteri Keuangan yang mengatur mengenai Pelaksanaan Sisa Pekerjaan Tahun Anggaran Berkenaan yang Dibebankan pada DIPA Tahun Anggaran Berikutnya.</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>BAB III<br />
KEWENANGAN DAN TATA CARA REVISI ANGGARAN</strong></p>
<p align="center"><strong>Bagian Kesatu<br />
Revisi Anggaran Pada Direktorat Jenderal Anggaran</strong></p>
<p align="center"><strong>Pasal 33</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(1)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Revisi Anggaran yang dilaksanakan pada Direktorat Jenderal Anggaran meliputi:</p>
<ol type="a">
<li>
<p align="justify">perubahan rincian anggaran yang disebabkan penambahan atau pengurangan pagu anggaran belanja termasuk pergeseran rincian anggaran belanjanya;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">perubahan atau pergeseran rincian anggaran dalam hal pagu anggaran tetap; dan/atau</p>
</li>
<li>
<p align="justify">perubahan/ralat karena kesalahan administrasi.</p>
</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(2)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Revisi Anggaran yang dilaksanakan pada Direktorat Jenderal Anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a sebagai akibat adanya:</p>
<ol type="a">
<li>
<p align="justify">kelebihan realisasi PNBP di atas target yang direncanakan dalam APBN;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">lanjutan pelaksanaan Kegiatan yang dananya bersumber dari PHLN dan/atau PHDN;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Percepatan Penarikan PHLN dan/atau PHDN;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">penerimaan HLN/HDN setelah Undang-Undang mengenai APBN Tahun Anggaran 2012 ditetapkan yang diterima oleh Pemerintah c.q. Kementerian Keuangan dan dilaksanakan oleh Kementerian/Lembaga;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">pengurangan alokasi PHLN dan/atau PHDN;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">perubahan parameter dalam penghitungan Subsidi Energi; dan/atau</p>
</li>
<li>
<p align="justify">perubahan parameter dalam perhitungan bunga utang.</p>
</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(3)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Revisi Anggaran yang dilaksanakan pada Direktorat Jenderal Anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b terdiri atas:</p>
<ol type="a">
<li>
<p align="justify">pergeseran dalam Keluaran yang sama atau antar Keluaran dalam satu Kegiatan dan satu Satker meliputi pergeseran anggaran dan pengurangan volume Keluaran Kegiatan Prioritas Kementerian/Lembaga;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">pergeseran dalam Keluaran yang sama dan antar Satker atau antar Keluaran dan antar Satker dalam Kegiatan yang sama meliputi:</p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="2%">
<p align="justify">1)</p>
</td>
<td width="98%">
<p align="justify">pergeseran anggaran dan pengurangan volume Keluaran Kegiatan Prioritas Kementerian/Lembaga;</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="2%">
<p align="justify">2)</p>
</td>
<td width="98%">
<p align="justify">pergeseran anggaran dalam rangka penyelesaian kegiatan-Kegiatan pembangunan infrastruktur serta rehabilitasi dan rekonstruksi bencana alam tahun 2011;</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</li>
<li>
<p align="justify">pergeseran antar Kegiatan dalam satu Program dan satu Satker meliputi:</p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="2%">
<p align="justify">1)</p>
</td>
<td width="98%">
<p align="justify">pergeseran anggaran dan pengurangan volume Keluaran Kegiatan Prioritas Kementerian/Lembaga;</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="2%">
<p align="justify">2)</p>
</td>
<td width="98%">
<p align="justify">pergeseran anggaran dalam rangka penyelesaian kegiatan-Kegiatan pembangunan infrastruktur serta rehabilitasi dan rekonstruksi bencana alam tahun 2011.</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</li>
<li>
<p align="justify">pergeseran antar Kegiatan dan antar Satker dalam satu Program meliputi:</p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="2%">
<p align="justify">1)</p>
</td>
<td width="98%">
<p align="justify">pergeseran anggaran dan pengurangan volume Keluaran Kegiatan Prioritas Kementerian/Lembaga;</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="2%">
<p align="justify">2)</p>
</td>
<td width="98%">
<p align="justify">pergeseran anggaran dalam rangka penyelesaian Kegiatan-Kegiatan pembangunan infrastruktur serta rehabilitasi dan rekonstruksi bencana alam tahun 2011;</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</li>
<li>
<p align="justify">realokasi anggaran antar Kegiatan/antar Satker/antar Program dalam rangka tanggap darurat bencana;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">pergeseran antar Program dan antar bagian anggaran yaitu pergeseran anggaran dari BA 999.08 ke bagian anggaran Kementerian/Lembaga.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">perubahan karena pencairan blokir/tanda bintang (*) meliputi:</p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="3%">
<p align="justify">1)</p>
</td>
<td width="97%">
<p align="justify">pencairan blokir/tanda bintang (*) karena telah dilengkapinya syarat administratif meliputi:</p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="3%">
<p align="justify">a)</p>
</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Kerangka Acuan Kerja (KAK)/Term of Reference (TOR) dan Rincian Anggaran Biaya (RAB);</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="3%">
<p align="justify">b)</p>
</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Annual Work Plan (AWP) PHLN;</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="3%">
<p align="justify">c)</p>
</td>
<td width="97%">
<p align="justify">dokumen rincian alokasi anggaran dalam rangka Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan menurut SKPD;</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="3%">
<p align="justify">d)</p>
</td>
<td width="97%">
<p align="justify">dokumen studi kelayakan dan Detailed Engineering Design (DED);</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="3%">
<p align="justify">e)</p>
</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Rencana Bisnis Anggaran (RBA) BLU;</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="3%">
<p align="justify">f)</p>
</td>
<td width="97%">
<p align="justify">peraturan perundangan sebagai dasar pengalokasian;</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="3%">
<p align="justify">g)</p>
</td>
<td width="97%">
<p align="justify">peraturan atas pembentukan organisasi termasuk reorganisasi;</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="3%">
<p align="justify">h)</p>
</td>
<td width="97%">
<p align="justify">SK pembentukan Tim;</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="3%">
<p align="justify">i)</p>
</td>
<td width="97%">
<p align="justify">SK pemberian tunjangan;</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="3%">
<p align="justify">j)</p>
</td>
<td width="97%">
<p align="justify">persetujuan DPR RI;</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="3%">
<p align="justify">k)</p>
</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Surat Pernyataan Tanggung Jawab Mutlak (SPTJM);</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="3%">
<p align="justify">l)</p>
</td>
<td width="97%">
<p align="justify">risalah lelang;</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="3%">
<p align="justify">m)</p>
</td>
<td width="97%">
<p align="justify">dokumen clearance;</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="3%">
<p align="justify">n)</p>
</td>
<td width="97%">
<p align="justify">hasil audit BPKP dalam rangka pembayaran eskalasi;</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="3%">
<p align="justify">o)</p>
</td>
<td width="97%">
<p align="justify">referensi harga untuk input yang tidak tercantum dalam standar biaya masukan;</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="3%">
<p align="justify">p)</p>
</td>
<td width="97%">
<p align="justify">ijin prinsip dari Kementerian Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN dan RB) untuk pakaian dinas/seragam;</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="3%">
<p align="justify">q)</p>
</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Ijin penggunaan PNBP/Penerimaan BLU;</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="3%">
<p align="justify">2)</p>
</td>
<td width="97%">
<p align="justify">pencairan blokir/tanda bintang (*) terhadap Kegiatan yang sudah jelas peruntukannya namun masih terpusat; dan/atau</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="3%">
<p align="justify">3)</p>
</td>
<td width="97%">
<p align="justify">pencairan blokir/tanda bintang (*) dana output cadangan;</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</li>
<li>
<p align="justify">perubahan/penambahan rumusan kinerja meliputi:</p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="3%">
<p align="justify">1)</p>
</td>
<td width="97%">
<p align="justify">perubahan/penambahan rumusan Keluaran; dan/atau</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="3%">
<p align="justify">2)</p>
</td>
<td width="97%">
<p align="justify">perubahan/penambahan rumusan selain rumusan Keluaran.</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(4)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Revisi Anggaran yang dilaksanakan pada Direktorat Jenderal Anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c meliputi:</p>
<ol type="a">
<li>
<p align="justify">ralat sumber dana terkait perubahan komposisi pendanaan; dan</p>
</li>
<li>
<p align="justify">ralat pencantuman volume, jenis, dan satuan Keluaran yang berbeda antara RKA-K/L dan RKP atau hasil kesepakatan DPR-RI.</p>
</li>
</ol>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 34</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(1)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Sekretaris Jenderal/Sekretaris Utama/Sekretaris/Pejabat Eselon I/Kementerian/Lembaga selaku KPA menyampaikan usulan Revisi Anggaran kepada Menteri Keuangan c.q. Direktur Jenderal Anggaran.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(2)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Direktur Jenderal Anggaran menelaah dan menetapkan Revisi Anggaran atas nama Menteri Keuangan yang dituangkan dalam perubahan SP RKA-K/L paling lambat dalam waktu 5 (lima) hari kerja setelah dokumen diterima secara lengkap dan benar.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(3)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Direktur Jenderal Anggaran menyampaikan perubahan SP RKA-K/L beserta ADK kepada Direktur Jenderal Perbendaharaan dan Sekretaris Jenderal/Sekretaris Utama/ Sekretaris/Pejabat Eselon I Kementerian/Lembaga selaku KPA.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(4)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Berdasarkan perubahan SP RKA-K/L sebagaimana dimaksud pada ayat (3), Sekretaris Jenderal/Sekretaris Utama/Sekretaris/Pejabat Eselon I/Kepala Satker Kementerian/Lembaga selaku KPA menyusun dan menandatangani revisi DIPA untuk selanjutnya disampaikan kepada Direktur Jenderal Perbendaharaan/Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(5)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Perubahan SP RKA-K/L sebagaimana dimaksud pada ayat (3) menjadi dasar pengesahan Revisi DIPA dan/atau penerbitan Daftar Revisi Anggaran (DRA) oleh Direktur Jenderal Perbendaharaan atas nama Menteri Keuangan.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(6)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">DRA sebagaimana dimaksud pada ayat (5) menjadi dasar pengesahan revisi DIPA oleh Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan atas nama Menteri Keuangan.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(7)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Alur dokumen dan proses Revisi Anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), ayat (3), ayat (4), ayat (5), dan ayat (6) tercantum dalam Lampiran II yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 35</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(1)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Dalam hal usulan Revisi Anggaran yang diajukan oleh Kementerian/Lembaga memuat substansi yang meliputi kewenangan Direktorat Jenderal Anggaran dan Direktorat Jenderal Perbendaharaan, Direktorat Jenderal Anggaran memproses/menyelesaikan Revisi Anggaran yang diusulkan.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(2)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Ketentuan mengenai tata cara pengajuan Revisi Anggaran pada Direktorat Jenderal Anggaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 dan Pasal 34 berlaku mutatis mutandis dalam pengajuan Revisi Anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1).</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Bagian Kedua</strong></p>
<p align="center"><strong>Revisi Anggaran pada Kantor Pusat/Kantor Wilayah<br />
Direktorat Jenderal Perbendaharaan</strong></p>
<p align="center"><strong>Pasal 36</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(1)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Revisi Anggaran yang dilaksanakan pada Kantor Pusat/Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan meliputi:</p>
<ol type="a">
<li>
<p align="justify">perubahan rincian anggaran yang disebabkan penambahan atau pengurangan pagu anggaran belanja termasuk pergeseran rincian anggaran belanjanya;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">perubahan atau pergeseran rincian anggaran dalam hal pagu anggaran tetap; dan/atau</p>
</li>
<li>
<p align="justify">perubahan/ralat karena kesalahan administrasi.</p>
</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(2)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Revisi Anggaran yang dilaksanakan pada Kantor Pusat/Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a terdiri atas:</p>
<ol type="a">
<li>
<p align="justify">penerimaan HLN/HDN Negeri setelah Undang-Undang mengenai APBN Tahun Anggaran 2012 ditetapkan yang diterima dalam bentuk uang dan dilaksanakan secara langsung oleh Kementerian/Lembaga; dan/atau</p>
</li>
<li>
<p align="justify">penggunaan anggaran belanja yang bersumber dari PNBP di atas pagu APBN untuk Satker BLU.</p>
</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(3)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Revisi Anggaran yang dilaksanakan pada Kantor Pusat/Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b terdiri atas:</p>
<ol type="a">
<li>
<p align="justify">pergeseran dalam Keluaran yang sama atau antar Keluaran dalam satu Kegiatan dan satu Satker meliputi :</p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="2%" height="40">
<p align="justify">1)</p>
</td>
<td width="98%" height="40">
<p align="justify">pergeseran anggaran dan penambahan volume Keluaran termasuk dalam rangka adendum kontrak sampai dengan 10% (sepuluh persen) dari nilai kontrak;</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="2%" height="19">
<p align="justify">2)</p>
</td>
<td width="98%" height="19">
<p align="justify">pergeseran anggaran dan volume Keluaran tetap;</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="2%" height="21">
<p align="justify">3)</p>
</td>
<td width="98%" height="21">
<p align="justify">pergeseran antar jenis belanja;</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="2%" height="21">
<p align="justify">4)</p>
</td>
<td width="98%" height="21">
<p align="justify">pergeseran anggaran dalam rangka memenuhi kebutuhan Biaya Operasional;</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="2%" height="21">
<p align="justify">5)</p>
</td>
<td width="98%" height="21">
<p align="justify">pergeseran anggaran dalam rangka memenuhi kebutuhan selisih kurs;</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="2%" height="21">
<p align="justify">6)</p>
</td>
<td width="98%" height="21">
<p align="justify">pergeseran rincian anggaran untuk Satker BLU yang sumber dananya berasal dari PNBP; dan/atau</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="2%" height="40">
<p align="justify">7)</p>
</td>
<td width="98%" height="40">
<p align="justify">pergeseran anggaran dalam rangka penyelesaian pekerjaan yang belum selesai pada tahun anggaran sebelumnya.</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</li>
<li>
<p align="justify">Pergeseran dalam Keluaran yang sama dan antar Satker atau antar Keluaran dan antar Satker dalam Kegiatan yang sama meliputi:</p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="2%">
<p align="justify">1)</p>
</td>
<td width="98%">
<p align="justify">pergeseran anggaran dan penambahan volume Keluaran;</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="2%">
<p align="justify">2)</p>
</td>
<td width="98%">
<p align="justify">pergeseran anggaran dan volume Keluaran tetap;</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="2%">
<p align="justify">3)</p>
</td>
<td width="98%">
<p align="justify">pergeseran antarjenis belanja;</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="2%">
<p align="justify">4)</p>
</td>
<td width="98%">
<p align="justify">pergeseran antar provinsi/kabupaten/kota untuk memenuhi Biaya Operasional yang dilaksanakan oleh unit organisasi di tingkat pusat maupun oleh instansi vertikalnya di daerah;</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="2%">
<p align="justify">5)</p>
</td>
<td width="98%">
<p align="justify">pergeseran dalam satu provinsi/kabupaten/kota untuk Kegiatan dalam rangka Tugas Pembantuan dan Urusan Bersama, atau dalam satu provinsi untuk Kegiatan dalam rangka Dekonsentrasi;</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="2%">
<p align="justify">6)</p>
</td>
<td width="98%">
<p align="justify">pergeseran anggaran dalam rangka penyelesaian tunggakan tahun yang lalu; dan/atau</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="2%">
<p align="justify">7)</p>
</td>
<td width="98%">
<p align="justify">pergeseran anggaran dalam rangka memenuhi kebutuhan selisih kurs;</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</li>
<li>
<p align="justify">Pergeseran antar Kegiatan dalam satu Program dan satu Satker meliputi :</p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="2%">
<p align="justify">1)</p>
</td>
<td width="98%">
<p align="justify">pergeseran anggaran dan penambahan volume Keluaran;</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="2%">
<p align="justify">2)</p>
</td>
<td width="98%">
<p align="justify">pergeseran anggaran dan volume Keluaran tetap;</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="2%">
<p align="justify">3)</p>
</td>
<td width="98%">
<p align="justify">pergeseran anggaran dalam rangka memenuhi kebutuhan Biaya Operasional;</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="2%">
<p align="justify">4)</p>
</td>
<td width="98%">
<p align="justify">pergeseran anggaran dalam rangka penyelesaian tunggakan tahun yang lalu;</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="2%">
<p align="justify">5)</p>
</td>
<td width="98%">
<p align="justify">pergeseran anggaran dalam rangka memenuhi kebutuhan selisih kurs;</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="2%">
<p align="justify">6)</p>
</td>
<td width="98%">
<p align="justify">pergeseran rincian anggaran untuk Satker BLU yang sumber dananya berasal dari PNBP; dan/atau</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="2%">
<p align="justify">7)</p>
</td>
<td width="98%">
<p align="justify">pergeseran anggaran dalam rangka penyelesaian pekerjaan yang belum selesai pada tahun anggaran sebelumnya;</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</li>
<li>
<p align="justify">pergeseran antar Kegiatan dan antar Satker dalam satu Program meliputi:</p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="2%">
<p align="justify">1)</p>
</td>
<td width="98%">
<p align="justify">pergeseran anggaran dan penambahan volume Keluaran;</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="2%">
<p align="justify">2)</p>
</td>
<td width="98%">
<p align="justify">pergeseran anggaran dan volume Keluaran tetap;</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="2%">
<p align="justify">3)</p>
</td>
<td width="98%">
<p align="justify">pergeseran anggaran dalam rangka memenuhi kebutuhan Biaya Operasional dan pembukaan kantor baru;</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="2%">
<p align="justify">4)</p>
</td>
<td width="98%">
<p align="justify">pergeseran anggaran dalam rangka penyelesaian tunggakan tahun yang lalu; dan/atau</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="2%">
<p align="justify">5)</p>
</td>
<td width="98%">
<p align="justify">pergeseran anggaran dalam rangka memenuhi kebutuhan selisih kurs;</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</li>
<li>
<p align="justify">pergeseran antar Program dalam satu unit Eselon I dalam rangka memenuhi kebutuhan Biaya Operasional;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">pergeseran antar Program dan antar unit Eselon I dalam satu bagian anggaran dalam rangka memenuhi kebutuhan Biaya Operasional;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">pencairan blokir/tanda bintang (*) karena telah dilengkapinya syarat administratif meliputi:</p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="2%">
<p align="justify">1)</p>
</td>
<td width="98%">
<p align="justify">loan agreement dan/atau grant agreement dan Nomor Register; dan</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="2%">
<p align="justify">2)</p>
</td>
<td width="98%">
<p align="justify">hasil audit BPKP dalam rangka pembayaran tunggakan.</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(4)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Revisi Anggaran yang dilaksanakan pada Kantor Pusat/Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c meliputi:</p>
<ol type="a">
<li>
<p align="justify">ralat kode akun sesuai kaidah akuntansi sepanjang dalam peruntukan dan sasaran yang sama dan sudah direalisasikan;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">ralat kode Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN);</p>
</li>
<li>
<p align="justify">perubahan nomenklatur bagian anggaran dan/atau Satker sepanjang kode tetap;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">ralat kode nomor register PHLN/PHDN;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">ralat kode kewenangan;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">ralat kode lokasi;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">ralat cara penarikan PHLN/PHDN;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">ralat kesalahan pencantuman sumber dana;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">ralat pencantuman volume Keluaran yang berbeda dengan penjumlahan volume sub Keluaran; dan/atau</p>
</li>
<li>
<p align="justify">ralat pencantuman volume, jenis, dan satuan Keluaran yang berbeda antara RKA-K/L dan DIPA.</p>
</li>
</ol>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 37</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(1)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Sekretaris Jenderal/Sekretaris Utama/Sekretaris/Pejabat Eselon I/Kepala Satuan Kerja Kementerian/Lembaga selaku KPA menyampaikan usulan Revisi DIPA kepada Menteri Keuangan c.q. Direktur Jenderal Perbendaharaan/Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(2)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Dalam hal usulan Revisi DIPA sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 ayat (3) huruf b dan huruf d lokasi Satker-Satker yang mengusulkan Revisi DIPA berada pada wilayah kerja Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan yang berbeda, usulan Revisi DIPA diajukan kepada Direktur Jenderal Perbendaharaan.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(3)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Direktur Jenderal Perbendaharaan/Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan mencocokkan dan meneliti usulan Revisi DIPA dengan tetap memperhatikan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7, Pasal 8, dan Pasal 9.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(4)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Berdasarkan hasil pencocokan dan penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (3), Direktur Jenderal Perbendaharaan/ Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan menetapkan Revisi DIPA atas nama Menteri Keuangan yang dituangkan dalam pengesahan Revisi DIPA paling lambat 5 (lima) hari kerja setelah dokumen diterima secara lengkap dan benar.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(5)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Alur dokumen dan proses Revisi DIPA sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) tercantum dalam Lampiran III yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 38</strong></p>
<p align="justify">Daftar rincian ruang lingkup, kewenangan penyelesaian Revisi Anggaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4, Pasal 5, dan Pasal 6 serta persyaratan Revisi Anggaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 dan Pasal 36 tercantum dalam Lampiran IV yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.</p>
<p align="center"><strong>Pasal 39</strong></p>
<p align="justify">Format surat usulan Revisi Anggaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (1) dan Pasal 37 ayat (1) tercantum dalam Lampiran V yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.</p>
<p align="center"><strong>Pasal 40</strong></p>
<p align="justify">Satker pelaksana Kegiatan dalam rangka Dekonsentrasi/Tugas Pembantuan/Urusan Bersama melaporkan perubahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 ayat (3) huruf b angka 5) kepada unit Eselon I yang menugaskan paling lambat 5 (lima) hari kerja setelah Revisi Anggaran ditetapkan.</p>
<p align="center"><strong>Bagian Ketiga<br />
Revisi Anggaran Pada Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran</strong></p>
<p align="center"><strong>Pasal 41</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(1)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Revisi Anggaran dapat dilaksanakan oleh PA/KPA sepanjang tidak merubah DIPA dengan ketentuan sebagai berikut:</p>
<ol type="a">
<li>
<p align="justify">pergeseran antar akun/antar sub Komponen dalam satu Komponen dan/atau antar Komponen untuk memenuhi kebutuhan Biaya Operasional sepanjang dalam jenis belanja yang sama;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">antar akun/antar sub Komponen dalam satu Komponen dan/atau pergeseran antar Komponen dalam satu Keluaran sepanjang dalam jenis belanja yang sama; dan/atau</p>
</li>
<li>
<p align="justify">penambahan/pengurangan akun/sub Komponen/Komponen dalam satu Keluaran.</p>
</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(2)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Revisi Anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan cara mengubah ADK RKA-Satker berkenaan melalui aplikasi RKA-K/L, mencetak Petunjuk Operasional Kegiatan (POK), dan KPA menetapkan perubahan POK.</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Bagian Keempat<br />
Revisi Anggaran Yang Memerlukan Persetujuan DPR-RI</strong></p>
<p align="center"><strong>Pasal 42</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(1)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Revisi Anggaran yang memerlukan persetujuan DPR-RI diajukan oleh Sekretaris Jenderal/Sekretaris Utama/Sekretaris/Pejabat Eselon I Kementerian/Lembaga selaku KPA kepada Menteri Keuangan c.q. Direktur Jenderal Anggaran untuk selanjutnya dimintakan persetujuan dari DPR-RI.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(2)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Revisi Anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari:</p>
<ol type="a">
<li>
<p align="justify">tambahan Pinjaman Proyek Luar Negeri/Pinjaman Dalam Negeri baru setelah Undang-Undang mengenai APBN Tahun Anggaran 2012 ditetapkan;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">pergeseran anggaran antar Program selain untuk memenuhi kebutuhan Biaya Operasional;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">pergeseran anggaran antar Kegiatan yang tidak berasal dari Hasil Optimalisasi</p>
</li>
<li>
<p align="justify">pergeseran anggaran yang mengakibatkan perubahan Hasil Program;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">penggunaan anggaran yang harus mendapat persetujuan DPR-RI terlebih dahulu;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">pencairan blokir/tanda bintang (*) yang dicantumkan oleh DPR-RI termasuk pencairan blokir yang tidak sesuai dengan rencana peruntukan/penggunaannya;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">pergeseran anggaran yang digunakan untuk Program/Kegiatan yang tidak sesuai dengan hasil kesepakatan antara Pemerintah dengan DPR-RI (kesimpulan rapat kerja dalam rangka APBN); dan/atau</p>
</li>
<li>
<p align="justify">pergeseran antar provinsi/kabupaten/kota untuk Kegiatan dalam rangka Tugas Pembantuan dan Urusan Bersama, atau antarprovinsi untuk Kegiatan dalam rangka Dekonsentrasi.</p>
</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(3)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Revisi Anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat ditetapkan Menteri Keuangan c.q. Direktur Jenderal Anggaran setelah mendapat persetujuan DPR-RI</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(4)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Ketentuan mengenai tata cara pengajuan Revisi Anggaran pada Direktorat Jenderal Anggaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 dan Pasal 34 berlaku mutatis mutandis dalam pengajuan Revisi Anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (2).</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Bagian Kelima<br />
Batas Akhir Penerimaan Usul Revisi Anggaran</strong></p>
<p align="center"><strong>Pasal 43</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(1)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Batas akhir penerimaan usul Revisi Anggaran untuk Tahun Anggaran 2012 ditetapkan sebagai berikut:</p>
<ol type="a">
<li>
<p align="justify">tanggal 12 Oktober 2012, untuk Revisi Anggaran pada Direktorat Jenderal Anggaran; dan</p>
</li>
<li>
<p align="justify">tanggal 29 Oktober 2012, untuk Revisi DIPA pada Kantor Pusat/Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan baik berdasarkan perubahan SP RKA-K/L sebagaimana ketentuan pada huruf a maupun tanpa perubahan SP RKA-K/L.</p>
</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(2)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Dalam hal Revisi Anggaran berkenaan dengan:</p>
<ol type="a">
<li>
<p align="justify">Kegiatan yang dananya bersumber dari PNBP, PLN berupa Kredit Ekspor, HLN, dan HDN serta Pinjaman Dalam Negeri;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Kegiatan dalam lingkup BA BUN; dan/atau</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Kegiatan-Kegiatan yang membutuhkan data/dokumen yang harus mendapat persetujuan dari unit eksternal Kementerian/Lembaga seperti persetujuan DPR, persetujuan Menteri Keuangan, hasil audit eksternal, dan sejenisnya,</p>
</li>
</ol>
<p align="justify">Direktorat Jenderal Anggaran tetap dapat memproses usulan Revisi Anggaran sampai dengan batas akhir pengajuan pencairan anggaran sebagaimana diatur dalam ketentuan mengenai langkah-langkah akhir Tahun Anggaran 2012.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(3)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Dalam hal ketentuan langkah-langkah akhir Tahun Anggaran 2012 sebagaimana dimaksud pada ayat (2) belum diterbitkan, batas waktu proses Revisi Anggaran tetap dapat mengacu pada ketentuan mengenai langkah-langkah akhir Tahun Anggaran 2011.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(4)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Pada saat penerimaan usul Revisi Anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), seluruh dokumen telah diterima secara lengkap dan benar.</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>BAB IV<br />
PENGESAHAN DAN PENYAMPAIAN REVISI DIPA</strong></p>
<p align="center"><strong>Pasal 44</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(1)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Pengesahan Revisi DIPA dilaksanakan oleh:</p>
<ol type="a">
<li>
<p align="justify">Direktur Jenderal Perbendaharaan; atau</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan.</p>
</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(2)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Pengesahan Revisi DIPA yang dilaksanakan oleh Direktur Jenderal Perbendaharaan meliputi:</p>
<ol type="a">
<li>
<p align="justify">Revisi DIPA Satker Pusat yang berlokasi di DKI Jakarta;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Revisi DIPA yang bersifat antar provinsi dan berbeda wilayah kerja Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan; dan</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Revisi DIPA Satker Pusat dalam rangka penerimaan HLN/HDN setelah Undang-Undang mengenai APBN Tahun Anggaran 2012 ditetapkan yang diterima dalam bentuk uang dan dilaksanakan secara langsung oleh Kementerian/Lembaga.</p>
</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(3)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Pengesahan Revisi DIPA yang dilaksanakan oleh Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan meliputi:</p>
<ol type="a">
<li>
<p align="justify">Revisi DIPA untuk:</p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="2%">
<p align="justify">1)</p>
</td>
<td width="98%">
<p align="justify">DIPA Satker Pusat yang berlokasi di daerah (diluar DKI Jakarta);</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="2%">
<p align="justify">2)</p>
</td>
<td width="98%">
<p align="justify">DIPA Satker vertikal;</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="2%">
<p align="justify">3)</p>
</td>
<td width="98%">
<p align="justify">DIPA Dekonsentrasi;</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="2%">
<p align="justify">4)</p>
</td>
<td width="98%">
<p align="justify">DIPA Tugas Pembantuan; dan</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="2%">
<p align="justify">5)</p>
</td>
<td width="98%">
<p align="justify">DIPA Urusan Bersama.</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</li>
<li>
<p align="justify">Revisi DIPA sebagaimana dimaksud pada huruf a, baik untuk DIPA yang awalnya disahkan di pusat maupun di daerah.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Revisi DIPA Satker daerah dalam rangka penerimaan HLN/HDN setelah Undang-Undang mengenai APBN Tahun Anggaran 2012 ditetapkan yang diterima dalam bentuk uang dan dilaksanakan secara langsung oleh Kementerian/Lembaga.</p>
</li>
</ol>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 45</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(1)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Penyampaian Revisi DIPA yang telah disahkan diatur dengan ketentuan sebagai berikut:</p>
<ol type="a">
<li>
<p align="justify">Revisi DIPA yang disahkan oleh Direktur Jenderal Perbendaharaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 ayat (4), disampaikan kepada KPA yang bersangkutan dan KPPN terkait, dan tembusan kepada:</p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="2%">
<p align="justify">1)</p>
</td>
<td width="98%">
<p align="justify">Menteri/Pimpinan Lembaga Negara;</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="2%">
<p align="justify">2)</p>
</td>
<td width="98%">
<p align="justify">Ketua Badan Pemeriksa Keuangan;</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="2%">
<p align="justify">3)</p>
</td>
<td width="98%">
<p align="justify">Gubernur;</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="2%">
<p align="justify">4)</p>
</td>
<td width="98%">
<p align="justify">Direktur Jenderal Anggaran;</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="2%">
<p align="justify">5)</p>
</td>
<td width="98%">
<p align="justify">Direktur Jenderal Perbendaharaan c.q. Direktur Akuntansi dan Pelaporan Keuangan, Direktorat Jenderal Perbendaharaan; dan</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="2%">
<p align="justify">6)</p>
</td>
<td width="98%">
<p align="justify">Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan terkait.</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</li>
<li>
<p align="justify">Revisi DIPA yang disahkan oleh Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 ayat (4), disampaikan kepada KPA yang bersangkutan dan KPPN terkait dan tembusan kepada:</p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="2%">
<p align="justify">1)</p>
</td>
<td width="98%">
<p align="justify">Menteri/Pimpinan Lembaga Negara;</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="2%">
<p align="justify">2)</p>
</td>
<td width="98%">
<p align="justify">Ketua Badan Pemeriksa Keuangan;</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="2%">
<p align="justify">3)</p>
</td>
<td width="98%">
<p align="justify">Gubernur;</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="2%">
<p align="justify">4)</p>
</td>
<td width="98%">
<p align="justify">Direktur Jenderal Anggaran;</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="2%">
<p align="justify">5)</p>
</td>
<td width="98%">
<p align="justify">Direktur Jenderal Perbendaharaan c.q:</p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="2%">
<p align="justify">a)</p>
</td>
<td width="98%">
<p align="justify">Direktur Pelaksanaan Anggaran Direktorat Jenderal Perbendaharan, dan</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="2%">
<p align="justify">b)</p>
</td>
<td width="98%">
<p align="justify">Direktur Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Direktorat Jenderal Perbendaharaan.</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(2)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">DIPA yang disahkan oleh Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan harus dilaporkan kepada Direktur Jenderal Perbendaharaan c.q. Direktur Pelaksanaan Anggaran Direktorat Jenderal Perbendaharaan setiap bulan, baik DIPA yang direvisi maupun yang tidak direvisi.</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>BAB V<br />
PELAPORAN REVISI ANGGARAN KEPADA DPR-RI</strong></p>
<p align="center"><strong>Pasal 46</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(1)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Setiap Revisi Anggaran yang ditetapkan dalam perubahan SP RKA-K/L sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (2) tembusannya disampaikan kepada DPR-RI oleh Direktur Jenderal Anggaran atas nama Menteri Keuangan.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="3%">(2)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Seluruh Revisi Anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaporkan kepada DPR-RI dalam APBN-Perubahan dan/atau Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP).</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="3%">(3)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Revisi Anggaran yang dilaporkan dalam APBN-Perubahan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) merupakan Revisi Anggaran yang dilakukan sebelum APBN-Perubahan diajukan kepada DPR-RI.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="3%">(4)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Revisi Anggaran yang dilaporkan dalam LKPP sebagaimana dimaksud pada ayat (2) merupakan seluruh Revisi Anggaran yang dilakukan sepanjang Tahun Anggaran 2012.</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>BAB VI<br />
KETENTUAN PENUTUP</strong></p>
<p align="center"><strong>Pasal 47</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(1)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Dalam hal terdapat paket pekerjaan yang alokasi anggarannya diblokir/dibintang (*) sebagai akibat belum dilengkapi TOR/RAB dan sampai dengan akhir bulan April 2012 KPA tidak melengkapi dokumen yang dipersyaratkan, alokasi anggaran yang diblokir/dibintang (*) tersebut tidak dapat digunakan sampai dengan akhir Tahun Anggaran 2012.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(2)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Paket pekerjaan yang alokasi anggarannya diblokir/dibintang (*) sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak termasuk paket pekerjaan yang sudah jelas peruntukannya namun pelaksanaannya memerlukan syarat dan kondisi tertentu.</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 48</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(1)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Dalam hal terdapat pagu minus terkait pembayaran gaji dan tunjangan yang melekat pada gaji untuk Tahun Anggaran 2012, pagu minus tersebut harus diselesaikan melalui mekanisme revisi DIPA.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(2)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Penyelesaian pagu minus melalui mekanisme revisi DIPA Tahun Anggaran 2012 sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan penyesuaian administratif.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(3)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Penyelesaian pagu minus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan ketentuan sebagai berikut:</p>
<ol type="a">
<li>
<p align="justify">selisih minus dipenuhi melalui pergeseran anggaran dari sisa anggaran pada Satker yang bersangkutan;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">dalam hal sisa anggaran pada Satker yang bersangkutan tidak mencukupi, selisih minus dipenuhi melalui pergeseran anggaran antar Satker dalam satu Program;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">dalam hal selisih minus tidak dapat dipenuhi melalui pergeseran anggaran antar Satker dalam satu Program, selisih minus dipenuhi melalui pergeseran anggaran antar Program dalam satu bagian anggaran; dan/atau</p>
</li>
<li>
<p align="justify">dalam hal selisih minus tidak dapat dipenuhi melalui pergeseran anggaran antar Program dalam satu bagian anggaran, selisih minus dipenuhi melalui BA 999.08.</p>
</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(4)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Mekanisme penyelesaian pagu minus sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf a dan huruf b diajukan kepada Direktur Jenderal Perbendaharaan/Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan dengan ketentuan mengikuti tata cara pengajuan Revisi Anggaran pada Direktorat Jenderal Perbendaharaan/Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 dan Pasal 37.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(5)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Mekanisme penyelesaian pagu minus sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf c dan huruf d diajukan kepada Direktur Jenderal Anggaran dengan ketentuan mengikuti tata cara pengajuan Revisi Anggaran pada Direktorat Jenderal Anggaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 dan Pasal 34.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(6)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Batas akhir penyelesaian pagu minus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling lambat tanggal 28 Desember 2012.</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 49</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(1)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Dalam rangka memperoleh data yang akurat, Direktorat Jenderal Anggaran dan Direktorat Jenderal Perbendaharaan melakukan pemutakhiran data anggaran (rekonsiliasi) berdasarkan revisi DIPA yang telah disahkan paling sedikit 3 (tiga) bulan sekali.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="3%">(2)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Alur perubahan database sebagai akibat Revisi Anggaran tercantum dalam Lampiran VI yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 50</strong></p>
<p align="justify">Ketentuan teknis yang diperlukan dalam rangka pelaksanaan Revisi Anggaran Tahun Anggaran 2012 sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri ini diatur lebih lanjut oleh Direktur Jenderal Anggaran dan Direktur Jenderal Perbendaharaan secara bersama-sama maupun sendiri-sendiri sesuai dengan kewenangannya.</p>
<p align="center"><strong>Pasal 51</strong></p>
<p align="justify">Pada saat Peraturan Menteri ini mulai berlaku, Peraturan Menteri Keuangan Nomor 49/PMK.02/2011 tentang Tata Cara Revisi Anggaran Tahun Anggaran 2011, dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.</p>
<p align="center"><strong>Pasal 52</strong></p>
<p align="justify">Ketentuan mengenai tata cara Revisi Anggaran yang diatur dalam Peraturan Menteri ini masih tetap berlaku sebagai acuan tata cara Revisi Anggaran untuk Tahun Anggaran 2013, sampai dengan ditetapkannya pengganti Peraturan Menteri ini.</p>
<p align="center"><strong>Pasal 53</strong></p>
<p align="justify">Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.</p>
<p align="justify">Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Menteri ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ditetapkan di Jakarta<br />
pada tanggal 28 Maret 2012<br />
MENTERI KEUANGAN,</p>
<p>ttd.</p>
<p>AGUS D.W. MARTOWARDOJO<br />
Diundangkan di Jakarta<br />
pada tanggal 28 Maret 2012<br />
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA,</p>
<p>ttd.</p>
<p>AMIR SYAMSUDIN</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center"><strong>BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2012 NOMOR 349</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.mytaxlink.net/49pmk-022012/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keputusan Menteri Keuangan Nomor 414/KM.1/2012</title>
		<link>http://www.mytaxlink.net/414km-12012/</link>
		<comments>http://www.mytaxlink.net/414km-12012/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Apr 2012 06:42:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kurs Pajak]]></category>
		<category><![CDATA[DAN PAJAK PENGHASILAN YANG BERLAKU UNTUK TANGGAL 23 April 2012 SAMPAI DENGAN 29 April 2012]]></category>
		<category><![CDATA[KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 414/KM.1/2012]]></category>
		<category><![CDATA[NILAI KURS SEBAGAI DASAR PELUNASAN BEA MASUK]]></category>
		<category><![CDATA[PAJAK EKSPOR]]></category>
		<category><![CDATA[PAJAK PERTAMBAHAN NILAI BARANG DAN JASA DAN PAJAK PENJUALAN ATAS BARANG MEWAH]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.mytaxlink.net/?p=660</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>KEPUTUSAN<br />
MENTERI KEUANGAN<br />
NOMOR 414/KM.1/2012<br />
Tanggal 23 April 2012</strong></p>
<p align="center"><strong>NILAI KURS SEBAGAI DASAR PELUNASAN BEA MASUK, PAJAK PERTAMBAHAN NILAI BARANG DAN JASA DAN PAJAK PENJUALAN ATAS BARANG MEWAH, PAJAK EKSPOR, DAN PAJAK PENGHASILAN YANG BERLAKU UNTUK TANGGAL 23 April 2012 SAMPAI DENGAN 29 April 2012</strong></p>
<p align="center"><strong>MENTERI KEUANGAN</strong></p>
<p align="justify">Menimbang :</p>
<ol type="a">
<li>
<p align="justify">bahwa untuk keperluan pelunasan Bea Masuk, Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah, Pajak Ekspor, dan Pajak Penghasilan atas pemasukan barang, hutang Pajak yang berhubungan dengan Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah, Pajak Ekspor, dan penghasilan yang diterima atau diperoleh berupa uang asing, harus terlebih dahulu dinilai ke dalam uang rupiah;</p>
</li>
<li>
<p align="justify"> bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, perlu menetapkan Keputusan Menteri Keuangan tentang Nilai Kurs sebagai Dasar Pelunasan Bea Masuk, Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah, Pajak Ekspor, dan Pajak Penghasilan yang berlaku untuk tanggal 23 April 2012 sampai dengan 29 April 2012</p>
</li>
</ol>
<p align="justify">Mengingat :</p>
<ol>
<li>
<p align="justify">Undang-undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan(Lembaran negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 50; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3263) sebagai telah diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2000(lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 127, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3985);</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Undang-undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 51; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3264) sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 18 Tahun 2000 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 128; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3986);</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Undang-undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1995 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3612) sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2006 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 93, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4661);Undang-undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1995 Nomor 75; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3612);</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Undang-undang Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1995 Nomor 76, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3613) sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 39 Tahun 2007 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 105, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4755);</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Keputusan Presiden Nomor 187/M Tahun 2004 tentang Pembentukan Kabinet Indonesia Bersatu sebagaimana telah diubah terakhir dengan Keputusan Presiden No.20/P tahun 2005;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Keputusan Menteri Keuangan Nomor 371/KMK.01/2002 tentang Pelimpahan Wewenang Kepada Pejabat Eselon I Di Lingkungan Departemen Keuangan Untuk dan Atas Nama Menteri Keuangan Menandatangani Surat dan atau Keputusan Menteri Keuangan;</p>
</li>
</ol>
<p align="center"><strong>MEMUTUSKAN:</strong></p>
<p align="justify">Menetapkan :<br />
KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN TENTANG NILAI KURS SEBAGAI DASAR PELUNASAN BEA MASUK, PAJAK PERTAMBAHAN NILAI BARANG DAN JASA DAN PAJAK PENJUALAN ATAS BARANG MEWAH, PAJAK EKSPOR, DAN PAJAK PENGHASILAN YANG BERLAKU UNTUK TANGGAL 23 April 2012 SAMPAI DENGAN 29 April 2012.</p>
<p align="center"><strong>Pasal 1</strong></p>
<p align="justify">Nilai Kurs sebagai Dasar Pelunasan Bea Masuk, Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah, Pajak Ekspor, dan Pajak Penghasilan yang berlaku untuk tanggal 23 April 2012 sampai dengan 29 April 2012, ditetapkan sebagai berikut:</p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="12%" height="21">1</td>
<td width="13%" height="21">Rp.</td>
<td width="16%" height="21">9,182.00</td>
<td width="32%" height="21">Untuk Dolar Amerika Serikat (USD)</td>
<td width="27%" height="21">1,-</td>
</tr>
<tr>
<td width="12%" height="21">2</td>
<td width="13%" height="21">Rp.</td>
<td width="16%" height="21">9,502.36</td>
<td width="32%" height="21">Untuk Dolar Australia (AUD)</td>
<td width="27%" height="21">1,-</td>
</tr>
<tr>
<td width="12%" height="21">3</td>
<td width="13%" height="21">Rp.</td>
<td width="16%" height="21">9,233.28</td>
<td width="32%" height="21">Untuk Dolar Canada (CAD)</td>
<td width="27%" height="21">1,-</td>
</tr>
<tr>
<td width="12%" height="22">4</td>
<td width="13%" height="22">Rp.</td>
<td width="16%" height="22">1,620.86</td>
<td width="32%" height="22">Untuk Kroner Denmark (DKK)</td>
<td width="27%" height="22">1,-</td>
</tr>
<tr>
<td width="12%" height="21">5</td>
<td width="13%" height="21">Rp.</td>
<td width="16%" height="21">1,183.06</td>
<td width="32%" height="21">Untuk Dolar Hongkong (HKD)</td>
<td width="27%" height="21">1,-</td>
</tr>
<tr>
<td width="12%" height="21">6</td>
<td width="13%" height="21">Rp.</td>
<td width="16%" height="21">2,993.86</td>
<td width="32%" height="21">Untuk Ringgit Malaysia (MYR)</td>
<td width="27%" height="21">1,-</td>
</tr>
<tr>
<td width="12%" height="21">7</td>
<td width="13%" height="21">Rp.</td>
<td width="16%" height="21">7,498.47</td>
<td width="32%" height="21">Untuk Dolar Selandia Baru (NZD)</td>
<td width="27%" height="21">1,-</td>
</tr>
<tr>
<td width="12%" height="21">8</td>
<td width="13%" height="21">Rp.</td>
<td width="16%" height="21">1,597.01</td>
<td width="32%" height="21">Untuk Kroner Norwegia (NOK)</td>
<td width="27%" height="21">1,-</td>
</tr>
<tr>
<td width="12%" height="21">9</td>
<td width="13%" height="21">Rp.</td>
<td width="16%" height="21">14,679.64</td>
<td width="32%" height="21">Untuk Poundsterling Inggris (GBP)</td>
<td width="27%" height="21">1,-</td>
</tr>
<tr>
<td width="12%" height="21">10</td>
<td width="13%" height="21">Rp.</td>
<td width="16%" height="21">7,343.20</td>
<td width="32%" height="21">Untuk Dolar Singapura (SGD)</td>
<td width="27%" height="21">1,-</td>
</tr>
<tr>
<td width="12%" height="21">11</td>
<td width="13%" height="21">Rp.</td>
<td width="16%" height="21">1,360.14</td>
<td width="32%" height="21">Untuk Kroner Swedia (SEK)</td>
<td width="27%" height="21">1,-</td>
</tr>
<tr>
<td width="12%" height="21">12</td>
<td width="13%" height="21">Rp.</td>
<td width="16%" height="21">10,032.12</td>
<td width="32%" height="21">Untuk Franc Swiss (CHF)</td>
<td width="27%" height="21">1,-</td>
</tr>
<tr>
<td width="12%" height="21">13</td>
<td width="13%" height="21">Rp.</td>
<td width="16%" height="21">11,313.03</td>
<td width="32%" height="21">Untuk Yen Jepang (JPY)</td>
<td width="27%" height="21">100,-</td>
</tr>
<tr>
<td width="12%" height="21">14</td>
<td width="13%" height="21">Rp.</td>
<td width="16%" height="21">11.16</td>
<td width="32%" height="21">Untuk Kyat Burma (BUK)</td>
<td width="27%" height="21">1,-</td>
</tr>
<tr>
<td width="12%" height="21">15</td>
<td width="13%" height="21">Rp.</td>
<td width="16%" height="21">177.34</td>
<td width="32%" height="21">Untuk Rupee India (INR)</td>
<td width="27%" height="21">1,-</td>
</tr>
<tr>
<td width="12%" height="21">16</td>
<td width="13%" height="21">Rp.</td>
<td width="16%" height="21">32,979.63</td>
<td width="32%" height="21">Untuk Dinar Kuwait (KWD)</td>
<td width="27%" height="21">1,-</td>
</tr>
<tr>
<td width="12%" height="21">17</td>
<td width="13%" height="21">Rp.</td>
<td width="16%" height="21">101.18</td>
<td width="32%" height="21">Untuk Rupee Pakistan (PKR)</td>
<td width="27%" height="21">1,-</td>
</tr>
<tr>
<td width="12%" height="21">18</td>
<td width="13%" height="21">Rp.</td>
<td width="16%" height="21">215.11</td>
<td width="32%" height="21">Untuk Peso Philipina (PHP)</td>
<td width="27%" height="21">1,-</td>
</tr>
<tr>
<td width="12%" height="21">19</td>
<td width="13%" height="21">Rp.</td>
<td width="16%" height="21">2,448.17</td>
<td width="32%" height="21">Untuk Riyal Saudi Arabia (SAR)</td>
<td width="27%" height="21">1,-</td>
</tr>
<tr>
<td width="12%" height="21">20</td>
<td width="13%" height="21">Rp.</td>
<td width="16%" height="21">71.23</td>
<td width="32%" height="21">Untuk Rupee Sri Lanka (LKR)</td>
<td width="27%" height="21">1,-</td>
</tr>
<tr>
<td width="12%" height="21">21</td>
<td width="13%" height="21">Rp.</td>
<td width="16%" height="21">297.63</td>
<td width="32%" height="21">Untuk Bath Thailand (THB)</td>
<td width="27%" height="21">1,-</td>
</tr>
<tr>
<td width="12%" height="21">22</td>
<td width="13%" height="21">Rp.</td>
<td width="16%" height="21">7,345.55</td>
<td width="32%" height="21">Untuk Dolar Brunei Darussalam (BND)</td>
<td width="27%" height="21">1,-</td>
</tr>
<tr>
<td width="12%" height="21">23</td>
<td width="13%" height="21">Rp.</td>
<td width="16%" height="21">12,057.49</td>
<td width="32%" height="21">Untuk Euro Euro (EUR)</td>
<td width="27%" height="21">1,-</td>
</tr>
<tr>
<td width="12%" height="21">24</td>
<td width="13%" height="21">Rp.</td>
<td width="16%" height="21">1,455.80</td>
<td width="32%" height="21">Untuk Yuan China (CNY)</td>
<td width="27%" height="21">1,-</td>
</tr>
<tr>
<td width="12%" height="21">25</td>
<td width="13%" height="21">Rp.</td>
<td width="16%" height="21">8.06</td>
<td width="32%" height="21">Untuk Won Korea (KRW)</td>
<td width="27%" height="21">1,-</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 2</strong></p>
<p align="justify">Dalam hal kurs valuta asing lainnya tidak tercantum dalam Pasal 1, maka nilai kurs yang digunakan sebagai dasar pelunasan adalah kurs spot harian valuta asing yang bersangkutan di pasar internasional terhadap dolar Amerika Serikat yang berlaku pada penutupan hari kerja sebelumnya dan dikalikan kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat sebagaimana ditetapkan dalam Keputusan Menteri Keuangan ini.</p>
<p align="center"><strong>Pasal 3</strong></p>
<p align="justify">Keputusan Menteri Keuangan ini mulai berlaku pada tanggal 23 April 2012</p>
<p align="justify">Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengumuman Keputusan Menteri Keuangan ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ditetapkan di Jakarta<br />
Pada tanggal 23 April 2012<br />
an. MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA<br />
Plt. SEKRETARIS JENDERAL</p>
<p>ttd</p>
<p>KIAGUS AHMAD BADARUDIN</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.mytaxlink.net/414km-12012/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 31 TAHUN 2012</title>
		<link>http://www.mytaxlink.net/31-tahun-2012/</link>
		<comments>http://www.mytaxlink.net/31-tahun-2012/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Apr 2012 02:40:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lain-lain]]></category>
		<category><![CDATA[PEMBERIAN DAN PENGHIMPUNAN DATA DAN INFORMASI YANG BERKAITAN DENGAN PERPAJAKAN]]></category>
		<category><![CDATA[PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 31 TAHUN 2012]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.mytaxlink.net/?p=658</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>PERATURAN<br />
PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA<br />
NOMOR 31 TAHUN 2012<br />
Tanggal 27 Februari 2012</strong></p>
<p align="center"><strong>PEMBERIAN DAN PENGHIMPUNAN DATA DAN INFORMASI YANG BERKAITAN DENGAN PERPAJAKAN</strong></p>
<p align="center"><strong>PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,</strong></p>
<p align="justify">Menimbang :</p>
<p align="justify">bahwa dalam rangka melaksanakan ketentuan Pasal 35A Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2009 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan Menjadi Undang-Undang, perlu menetapkan Peraturan Pemerintah tentang Pemberian dan Penghimpunan Data dan Informasi yang Berkaitan dengan Perpajakan;</p>
<p align="justify">Mengingat :</p>
<ol>
<li>
<p align="justify">Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3262) sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2009 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan Menjadi Undang-Undang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 62, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4999);</p>
</li>
</ol>
<p align="center"><strong>MEMUTUSKAN:</strong></p>
<p align="justify">Menetapkan :</p>
<p align="justify">PERATURAN PEMERINTAH TENTANG PEMBERIAN DAN PENGHIMPUNAN DATA DAN INFORMASI YANG BERKAITAN DENGAN PERPAJAKAN.</p>
<p align="center"><strong>Pasal 1</strong></p>
<p align="justify">Dalam Peraturan Pemerintah ini, yang dimaksud dengan:</p>
<ol>
<li>
<p align="justify">Undang-Undang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan yang selanjutnya disebut Undang-Undang KUP adalah Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2009 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan Menjadi Undang-Undang.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Data dan Informasi adalah kumpulan angka, huruf, kata, dan/atau citra, yang bentuknya dapat berupa surat, dokumen, buku, atau catatan serta keterangan tertulis, yang dapat memberikan petunjuk mengenai penghasilan dan/atau kekayaan/harta orang pribadi atau badan, termasuk kegiatan usaha atau pekerjaan bebas orang pribadi atau badan.</p>
</li>
</ol>
<p align="center"><strong>Pasal 2</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="3%">(1)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Instansi pemerintah, lembaga, asosiasi, dan pihak lain wajib memberikan Data dan Informasi yang berkaitan dengan perpajakan.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="3%">(2)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Data dan Informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan kepada Direktorat Jenderal Pajak.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(3)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Jenis Data dan Informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), berupa:</p>
<ol type="a">
<li>
<p align="justify">Data dan Informasi yang berkaitan dengan kekayaan atau harta yang dimiliki orang pribadi atau badan;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Data dan Informasi yang berkaitan dengan utang yang dimiliki orang pribadi atau badan;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Data dan Informasi yang berkaitan dengan penghasilan yang diperoleh atau diterima orang pribadi atau badan;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Data dan Informasi yang berkaitan dengan biaya yang dikeluarkan dan/atau yang menjadi beban orang pribadi atau badan;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Data dan Informasi yang berkaitan dengan transaksi keuangan; dan</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Data dan Informasi yang berkaitan dengan kegiatan ekonomi orang pribadi atau badan.</p>
</li>
</ol>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 3</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(1)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Instansi pemerintah yang wajib memberikan Data dan Informasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) meliputi:</p>
<ol type="a">
<li>
<p align="justify">kementerian;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">lembaga pemerintah non kementerian;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">instansi pada Pemerintah Provinsi;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">instansi pada Pemerintah Kabupaten/Kota; dan</p>
</li>
<li>
<p align="justify">instansi pemerintah lainnya.</p>
</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(2)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Lembaga yang wajib memberikan Data dan Informasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) meliputi:</p>
<ol type="a">
<li>
<p align="justify">lembaga Tinggi Negara;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">lembaga pada Pemerintah Provinsi;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">lembaga pada Pemerintah Kabupaten/Kota;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">lembaga pemerintah lainnya; dan</p>
</li>
<li>
<p align="justify">lembaga non pemerintah.</p>
</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(3)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Asosiasi yang wajib memberikan Data dan Informasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) meliputi:</p>
<ol type="a">
<li>
<p align="justify">Kamar dagang dan industri;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Himpunan bank-bank milik negara;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Perhimpunan bank-bank umum nasional;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Ikatan akuntan publik Indonesia;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Asosiasi pengusaha Indonesia;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Gabungan industri kendaraan bermotor Indonesia;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Himpunan pengusaha muda Indonesia;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Ikatan konsultan pajak Indonesia;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Gabungan pengusaha ekspor Indonesia; dan</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Asosiasi pengusaha ritel Indonesia.</p>
</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(4)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Penetapan instansi pemerintah, lembaga, asosiasi dan pihak lain yang wajib memberikan Data dan Informasi selain sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) ditetapkan dengan Peraturan Menteri Keuangan.</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 4</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(1)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Rincian jenis Data dan Informasi yang wajib diberikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2) dan tata cara penyampaian Data dan Informasi diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan setelah Menteri Keuangan berkoordinasi dengan pimpinan dari instansi pemerintah, lembaga, asosiasi atau pihak lain yang merupakan sumber Data dan Informasi dimaksud.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(2)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Rincian jenis Data dan Informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), wajib diberikan kepada Direktur Jenderal Pajak secara berkala paling sedikit 1 (satu) kali dalam 1 (satu) tahun.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(3)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Pimpinan dari instansi pemerintah, lembaga, asosiasi atau pihak lain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 wajib memberikan Data dan Informasi dalam jangka waktu 6 (enam) bulan sejak diterbitkannya Peraturan Menteri Keuangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 5</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="3%">(1)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Rincian jenis Data dan Informasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) harus diberikan dalam bentuk elektronik.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(2)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Dalam hal rincian jenis Data dan Informasi belum tersedia dalam bentuk elektronik, rincian Data dan Informasi tersebut dapat diberikan dalam bentuk non elektronik sampai batas waktu yang diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="3%">(3)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Rincian jenis Data dan Informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), dapat disampaikan secara online atau secara langsung.</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 6</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="3%">(1)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Pimpinan instansi pemerintah, lembaga, asosiasi, dan pihak lain bertanggung jawab atas pemenuhan kewajiban pemberian Data dan Informasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1).</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(2)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Pimpinan instansi pemerintah, lembaga, asosiasi, dan pihak lain sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat menunjuk pejabat dibawahnya untuk melaksanakan pemenuhan kewajiban pemberian Data dan Informasi.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="3%">(3)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Pejabat yang ditunjuk sebagaimana dimaksud pada ayat (2) turut bertanggung jawab atas pemenuhan kewajiban pemberian Data dan Informasi.</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 7</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(1)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Dalam hal Data dan Informasi yang diterima tidak mencukupi, Direktur Jenderal Pajak berwenang menghimpun Data dan Informasi yang berkaitan dengan perpajakan sehubungan dengan terjadinya suatu peristiwa yang berkaitan dengan pemenuhan kewajiban perpajakan Wajib Pajak dengan memperhatikan ketentuan tentang kerahasiaan atas Data dan Informasi dimaksud.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(2)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Penghimpunan Data dan Informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan melalui permintaan kepada pihak terkait.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(3)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penghimpunan Data dan Informasi yang berkaitan dengan perpajakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan.</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 8</strong></p>
<p align="justify">Pejabat Direktorat Jenderal Pajak yang berwenang mengelola Data dan Informasi, wajib merahasiakan Data dan Informasi yang diterima dari instansi pemerintah, lembaga, asosiasi, dan pihak lain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2, kecuali untuk pelaksanaan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan.</p>
<p align="center"><strong>Pasal 9</strong></p>
<p align="justify">Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.</p>
<p align="justify">Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ditetapkan di Jakarta<br />
pada tanggal 27 Februari 2012<br />
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,</p>
<p>ttd</p>
<p>DR. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Diundangkan di Jakarta<br />
pada tanggal 27 Februari 2012<br />
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA<br />
REPUBLIK INDONESIA,</p>
<p>ttd</p>
<p>AMIR SYAMSUDIN</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center"><strong>LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2012 NOMOR 56</strong></p>
<p align="center"><strong>PENJELASAN</strong></p>
<p align="center"><strong>ATAS</strong></p>
<p align="center"><strong>PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA<br />
NOMOR 31 TAHUN 2012</strong></p>
<p align="center"><strong>TENTANG</strong></p>
<p align="center"><strong>PEMBERIAN DAN PENGHIMPUNAN DATA DAN INFORMASI<br />
YANG BERKAITAN DENGAN PERPAJAKAN</strong></p>
<ol type="I">
<li>
<p align="justify">UMUM</p>
<p>Sistem perpajakan yang dianut dalam Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2009 adalah sistem self assessment yang keberhasilannya sangat ditentukan oleh kepatuhan sukarela Wajib Pajak dan pengawasan dari aparatur perpajakan. Sistem ini memberikan kepercayaan dan tanggung jawab yang lebih besar kepada Wajib Pajak untuk melaksanakan kewajiban perpajakannya. Pemerintah dalam hal ini aparatur perpajakan sesuai dengan fungsinya berkewajiban memberikan penyuluhan dan pembinaan serta pengawasan agar Wajib Pajak mau dan mampu melaksanakan kewajiban perpajakannya dengan baik sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.<br />
Untuk mendukung pelaksanaan sistem self assessment secara murni dan konsisten, Direktorat Jenderal Pajak perlu memiliki infrastruktur yang dapat digunakan untuk mendeteksi secara cepat dan akurat terhadap adanya kemungkinan ketidakpatuhan Wajib Pajak dalam memenuhi kewajiban perpajakannya.<br />
Sehubungan dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan, dan agar Wajib Pajak dapat memenuhi kewajibannya dengan mudah serta aparatur perpajakan dapat melakukan pembinaan dan pengawasan dengan baik, dipandang perlu mengatur tentang kewajiban pihak lain memberikan Data dan Informasi yang berkaitan dengan perpajakan kepada Direktorat Jenderal Pajak dan mengatur wewenang Direktur Jenderal Pajak untuk menghimpun Data dan Informasi yang berkaitan dengan perpajakan sebagaimana diatur dalam Pasal 35A Undang-Undang tersebut, dengan Peraturan Pemerintah.<br />
Tujuan pemberian dan penghimpunan Data dan Informasi yang berkaitan dengan perpajakan adalah untuk membangun data perpajakan sebagai dasar pengawasan kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan yang dilakukan oleh masyarakat, sehingga dapat meningkatkan kepatuhan Wajib Pajak, meminimalkan kontak antara aparatur perpajakan dengan Wajib Pajak, dan meningkatkan profesionalisme bagi aparatur perpajakan maupun Wajib Pajak.<br />
Dalam hal kewajiban untuk memberikan Data dan Informasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35A Undang-Undang KUP dengan sengaja tidak dipenuhi, berlaku ketentuan pengenaan sanksi pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41C ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) Undang-Undang KUP. Demikian juga, dalam hal terdapat penyalahgunaan Data dan Informasi perpajakan sehingga menimbulkan kerugian kepada negara berlaku ketentuan pengenaan sanksi pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41C ayat (4) Undang-Undang KUP.</p>
</li>
</ol>
<ol type="I" start="2">
<li>
<p align="justify">PASAL DEMI PASAL</p>
</li>
</ol>
<p align="center"><strong>Pasal 1</strong></p>
<p>Cukup jelas.</p>
<p align="center"><strong>Pasal 2</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="6%">Ayat (1)</td>
<td width="94%">
<p align="justify">Dalam rangka pengawasan kepatuhan pelaksanaan kewajiban perpajakan sebagai konsekuensi penerapan sistem self assessment, Data dan Informasi yang berkaitan dengan perpajakan yang bersumber dari instansi pemerintah, lembaga, asosiasi, dan pihak lain sangat diperlukan oleh Direktorat Jenderal Pajak. Data dan Informasi dimaksud adalah Data dan Informasi orang pribadi atau badan yang dapat menggambarkan kegiatan atau usaha, peredaran usaha, penghasilan dan/atau kekayaan yang bersangkutan, termasuk informasi mengenai nasabah debitur, data transaksi keuangan dan lalu lintas devisa, kartu kredit, serta laporan keuangan dan/atau laporan kegiatan usaha yang disampaikan kepada instansi lain di luar Direktorat Jenderal Pajak.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="6%">Ayat (2)</td>
<td width="94%">
<p align="justify">Cukup jelas.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="6%">Ayat (3)</td>
<td width="94%">
<p align="justify">Huruf a<br />
Jenis Data dan Informasi yang berkaitan dengan kekayaan atau harta yang dimiliki oleh orang pribadi atau badan antara lain berupa Data dan Informasi yang berkaitan dengan pertanahan, bangunan, mesin, peralatan berat, kendaraan, surat berharga, dan simpanan di bank.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="6%"></td>
<td width="94%">
<p align="justify">Huruf b<br />
Jenis Data dan Informasi yang berkaitan dengan utang yang dimiliki oleh orang pribadi atau badan antara lain berupa Data dan Informasi yang berkaitan dengan utang bank atau utang obligasi.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="6%"></td>
<td width="94%">
<p align="justify">Huruf c<br />
Jenis Data dan Informasi yang berkaitan dengan penghasilan yang diperoleh atau diterima oleh orang pribadi atau badan antara lain berupa Data dan Informasi yang berkaitan dengan transaksi penjualan saham dan obligasi, transaksi penjualan kendaraan, atau transaksi penjualan tanah dan bangunan.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="6%"></td>
<td width="94%">
<p align="justify">Huruf d<br />
Jenis Data dan Informasi yang berkaitan dengan biaya yang dikeluarkan dan/atau yang menjadi beban orang pribadi atau badan antara lain berupa Data dan Informasi yang berkaitan dengan rekening listrik, rekening telepon, transaksi pembayaran kartu kredit, transaksi pembelian kendaraan, atau transaksi pembayaran biaya bunga.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="6%"></td>
<td width="94%">
<p align="justify">Huruf e<br />
Jenis Data dan Informasi yang berkaitan dengan kegiatan transaksi keuangan yang dilakukan oleh orang pribadi atau badan antara lain Data dan Informasi yang berkaitan dengan data lalu lintas devisa yang dilakukan melalui perbankan dan/atau penyedia jasa keuangan.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="6%"></td>
<td width="94%">
<p align="justify">Huruf f<br />
Jenis Data dan Informasi yang berkaitan dengan kegiatan ekonomi orang pribadi atau badan antara lain Data dan Informasi yang berkaitan dengan perizinan, kegiatan ekspor dan impor, informasi penanaman modal, hasil lelang, pemberian hak penguasaan atau pengelolaan, kependudukan, pendirian usaha, keimigrasian, kegiatan pengembang, dan laporan yang dibuat oleh instansi atau lembaga pemerintah.</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 3</strong></p>
<p>Cukup Jelas.</p>
<p align="center"><strong>Pasal 4</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="6%">Ayat (1)</td>
<td width="94%">
<p align="justify">Cukup Jelas.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="6%">Ayat (2)</td>
<td width="94%">
<p align="justify">Data dan Informasi yang disampaikan pada suatu saat harus mencakup Data dan Informasi yang tercakup dalam periode paling lama 1 (satu) tahun secara berkesinambungan.<br />
Namun demikian, dalam hal Data dan Informasi dapat disediakan dalam periode kurang dari 1 (satu) tahun, misalnya dalam periode 3 (tiga) bulan atau 6 (enam) bulan, Data dan Informasi yang disampaikan harus mencakup periode tersebut sebagaimana ditetapkan dalam Peraturan Menteri Keuangan.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="6%">Ayat (3)</td>
<td width="94%">
<p align="justify">Cukup Jelas.</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 5</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="6%">Ayat (1)</td>
<td width="94%">
<p align="justify">Yang dimaksud dengan Data dan Informasi dalam bentuk elektronik adalah Data dan Informasi yang sifat dan bentuknya elektronik yang dihasilkan oleh komputer dan/atau pengolah data elektronik lainnya, yang disimpan dalam media elektronik dan/atau yang masih berada dalam suatu jaringan elektronik.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="6%">Ayat (2)</td>
<td width="94%">
<p align="justify">Pengaturan batas waktu untuk pemberian jenis Data dan Informasi selain yang sifat dan bentuknya elektronik, yang tidak dihasilkan oleh komputer dan/atau pengolah data elektronik lainnya, dan tidak disimpan dalam media elektronik dan/atau yang tidak berada dalam suatu jaringan elektronik, dilakukan oleh Menteri Keuangan setelah berkoordinasi dengan pimpinan instansi pemerintah, lembaga, asosiasi, dan pihak lain.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="6%">Ayat (3)</td>
<td width="94%">
<p align="justify">Kewajiban memberikan Data dan Informasi kepada Direktur Jenderal Pajak harus dilakukan secara terus menerus dan berkesinambungan.<br />
Oleh karena itu, untuk meningkatkan efisiensi dan keakuratan dalam pemberian Data dan Informasi yang berkaitan dengan perpajakan, penyampaian Data dan Informasi perlu dilakukan secara online, yaitu dengan mengirimkan Data dan Informasi dalam bentuk elektronik melalui jaringan komunikasi data yang disepakati antara Direktorat Jenderal Pajak dengan pihak yang wajib memberikan data.<br />
Namun demikian, apabila terdapat instansi pemerintah, lembaga, asosiasi, atau pihak lain yang belum mampu menyampaikan Data dan Informasi perpajakan secara elektronik, instansi pemerintah, lembaga, asosiasi, atau pihak lain tersebut wajib menyampaikan Data dan Informasi perpajakan secara manual (secara langsung/melalui kurir) kepada Direktorat Jenderal Pajak dengan menggunakan media elektronik yang berupa sarana penyimpan data elektronik yang dapat digunakan untuk memindahkan data dari suatu komputer ke komputer lainnya, antara lain disket, flash disk, memory card dan compact disc.</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 6</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="6%">Ayat (1)</td>
<td width="94%">
<p align="justify">Yang dimaksud pimpinan dalam ketentuan ini adalah setiap orang yang menduduki jabatan tertinggi dalam unit instansi pemerintah, lembaga, asosiasi, atau pihak lain pengelola Data dan Informasi yang berkaitan dengan perpajakan.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="6%">Ayat (2)</td>
<td width="94%">
<p align="justify">Cukup jelas.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="6%">Ayat (3)</td>
<td width="94%">
<p align="justify">Cukup jelas.</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 7</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="6%">Ayat (1)</td>
<td width="94%">
<p align="justify">Apabila Data dan Informasi yang berkaitan dengan perpajakan yang diberikan oleh instansi pemerintah, lembaga, asosiasi, dan pihak lain belum mencukupi, untuk kepentingan penerimaan negara, Direktur Jenderal Pajak dapat menghimpun Data dan Informasi yang berkaitan dengan perpajakan sehubungan dengan terjadinya suatu transaksi, peristiwa, dan/atau keadaan yang berkaitan dengan pemenuhan kewajiban perpajakan.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="6%">Ayat (2)</td>
<td width="94%">
<p align="justify">Dalam melengkapi Data dan Informasi perpajakan yang diterima dari instansi pemerintah, lembaga, asosiasi, dan pihak lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35A ayat (1) Undang-Undang KUP, Direktur Jenderal Pajak dapat menugaskan Pejabat di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak untuk meminta Data dan Informasi tambahan yang diperlukan secara tertulis. Selanjutnya dalam rangka melindungi kepentingan penerimaan negara, Direktur Jenderal Pajak berwenang menugasi Pegawai Direktorat Jenderal Pajak untuk menghimpun Data dan Informasi yang berkaitan dengan perpajakan, termasuk melalui kegiatan intelijen.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="6%">Ayat (3)</td>
<td width="94%">
<p align="justify">Cukup jelas.</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 8</strong></p>
<p>Cukup jelas.</p>
<p align="center"><strong>Pasal 9</strong></p>
<p>Cukup jelas.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center"><strong>TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2012 NOMOR 5289</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.mytaxlink.net/31-tahun-2012/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

