<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Software Peraturan Pajak Taxlink</title>
	<atom:link href="http://www.mytaxlink.net/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.mytaxlink.net</link>
	<description>PT. Target Digital Solusindo</description>
	<lastBuildDate>Fri, 03 Feb 2012 04:29:59 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
		<item>
		<title>SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR SE-01/PJ/2012</title>
		<link>http://www.mytaxlink.net/se-01pj2012/</link>
		<comments>http://www.mytaxlink.net/se-01pj2012/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Feb 2012 04:29:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lain-lain]]></category>
		<category><![CDATA[ENYEMPURNAAN APLIKASI APPROWEB SEBAGAI SARANA PEMBUATAN DAN PEMUTAKHIRAN PROFIL WAJIB PAJAK]]></category>
		<category><![CDATA[SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR SE-01/PJ/2012]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.mytaxlink.net/?p=502</guid>
		<description><![CDATA[<p align="center">SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR SE-01/PJ/2012 Tanggal 9 Januari 2012</p> <p align="center">PENYEMPURNAAN APLIKASI APPROWEB SEBAGAI SARANA PEMBUATAN DAN PEMUTAKHIRAN PROFIL WAJIB PAJAK</p> <p align="center">DIREKTUR JENDERAL PAJAK,</p> <p align="justify">Dalam rangka pengamanan penerimaan pajak melalui pengawasan kepatuhan dan penggalian potensi pajak terhadap Wajib Pajak secara efektif, terintegrasi dan berkesinambungan perlu dilakukan penyempurnaan aplikasi profil Wajib [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>SURAT EDARAN<br />
DIREKTUR JENDERAL PAJAK<br />
NOMOR SE-01/PJ/2012<br />
Tanggal 9 Januari 2012</strong></p>
<p align="center"><strong>PENYEMPURNAAN APLIKASI APPROWEB SEBAGAI SARANA PEMBUATAN DAN PEMUTAKHIRAN PROFIL WAJIB PAJAK</strong></p>
<p align="center"><strong>DIREKTUR JENDERAL PAJAK,</strong></p>
<p align="justify">Dalam rangka pengamanan penerimaan pajak melalui pengawasan kepatuhan dan penggalian potensi pajak terhadap Wajib Pajak secara efektif, terintegrasi dan berkesinambungan perlu dilakukan penyempurnaan aplikasi profil Wajib Pajak yang saat ini digunakan Sehubungan dengan hal tersebut, dengan ini ditegaskan hal-hal sebagai berikut :</p>
<ol type="A">
<li>
<p align="justify">Umum</p>
<ol>
<li>
<p align="justify">Aplikasi Profil Berbasis Web (Approweb) merupakan aplikasi untuk mempermudah pengawasan dan penggalian potensi Wajib Pajak yang harus digunakan di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Wajib Pajak yang ditunjuk telah disediakan profil bakunya oleh Approweb. Selanjutnya Account Representative harus memutakhirkan profil Wajib Pajak dimaksud yang berada dalam pengawasannya.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Modul yang tersedia pada Approweb terdiri atas 4 (empat) modul, sebagai berikut :</p>
<ol type="a">
<li>
<p align="justify">Modul Penerimaan<br />
Modul ini merupakan modul yang berisi informasi perkembangan penerimaan pajak baik per jenis pajak, per Wajib Pajak, per KPP, per bulan atau per AR dari data penerimaan. Modul ini dapat memberikan informasi terkait dengan informasi penerimaan MPN, SPM, valuta asing, DTP, SPMKP secara terstruktur dan dapat ditelusuri hingga SSP.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Modul Profil<br />
Modul ini merupakan modul utama yang berisi informasi dari data yang diperoleh dari berbagai sumber termasuk isian Account Representative yang memberikan informasi seluas-luasnya tentang Wajib Pajak tersebut. Profil yang dikembangkan, meliputi Wajib Pajak Badan, Orang Pribadi, Bendahara dan Cabang yang mengacu pada S-142/PJ/2008 tentang Panduan Profile WP Badan Domisili dan buku panduan pembuatan mapping, profil WP dan feeding tahun 2011.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Modul Analisis<br />
Modul ini merupakan modul yang memberikan informasi yang tersaji secara otomatis, sebagai sistem peringatan dini kondisi Wajib Pajak secara umum atau khusus, sebagai langkah awal dalam pengambilan keputusan (Decision Support System).</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Modul Pengawasan<br />
Modul ini merupakan modul yang memberikan informasi kegiatan penggalian potensi yang dilakukan oleh Account Reperesentative dan pengawasan lainnya.</p>
</li>
</ol>
</li>
<li>
<p align="justify">Penyempurnaan profil dalam Approweb mencakup hal-hal antara lain sebagai berikut :</p>
<ol type="a">
<li>
<p align="justify">Sentralisasi server sehingga mempercepat koneksi dan mempermudah pemeliharaan.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Penyempurnaan konten profil sehingga data yang disajikan lebih lengkap.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Menyajikan data yang tersedia di dalam sistem secara otomatis sehingga mengurangi input manual.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Kegiatan penggalian potensi lebih sistematis dan terstruktur sehingga mempermudah pengawasan.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Mengakomodir pertukaran data pihak ketiga melalui menu Feeding.</p>
</li>
</ol>
</li>
</ol>
</li>
</ol>
<ol type="A" start="2">
<li>
<p align="justify">Pemutakhiran Profil Wajib Pajak Pada Approweb.</p>
<ol>
<li>
<p align="justify">Karakteristik data profil Wajib Pajak dalam Approweb terdiri dari :</p>
<ol type="a">
<li>
<p align="justify">Data yang disajikan secara otomatis;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Data yang diisi secara manual;</p>
</li>
</ol>
<p align="justify">sebagaimana terdapat dalam Lampiran I.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Account Representative harus melakukan pemutakhiran data profil Wajib Pajak atas :</p>
<ol type="a">
<li>
<p align="justify">Data yang diisi secara manual</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Apabila terdapat perbedaan data antara profil WP dalam Approweb dengan kondisi aktual Wajib Pajak, misalnya perbedaan KLU dan alamat Wajib Pajak, maka dilakukan pemutakhiran data sesuai dengan SE-79/PJ/2009 tanggal 26 Agustus 2009 yang mengatur Tata Cara Perubahan Data SIDJP/SIPMOD/SISMIOP.</p>
</li>
</ol>
</li>
<li>
<p align="justify">Pemutakhiran data profil Wajib Pajak dapat bersumber dari :</p>
<ol type="a">
<li>
<p align="justify">Hasil kunjungan kerja ke Wajib Pajak (visit);</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Data hasil pemeriksaan yang berbeda atau belum ada di profil;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Data penagihan yang berbeda atau belum ada di profil;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Data lainnya</p>
</li>
</ol>
</li>
<li>
<p align="justify">Pengawasan hasil pemutakhiran data profil Wajib Pajak dalam bentuk tabulasi secara periodik.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Tata cara pemutakhiran profil WP melalui Approweb dapat dilihat pada Lampiran II SE ini.</p>
</li>
</ol>
</li>
</ol>
<ol type="A" start="3">
<li>
<p align="justify">Analisis dan Tindak Lanjut</p>
<ol>
<li>
<p align="justify">Analisis pemanfaatan data profil dan tindak lanjut oleh Account Representative dalam Approweb dapat dikelompokkan sebagai berikut :</p>
<ol type="a">
<li>
<p align="justify">Analisis oleh Approweb pada Modul Analisis yang tersaji secara otomatis dalam bentuk sistem peringatan dini (alert system) atas kondisi Wajib Pajak, sebagai langkah awal dalam pengambilan keputusan yang harus ditindaklanjuti oleh Account Representative meliputi antara lain :</p>
<ol type="i">
<li>
<p align="justify">Analisis terhadap pembayaran Wajib Pajak dengan tindak lanjut oleh Account Representative sesuai dengan SOP KPP70-0063 tentang Tata Cara Penerbitan Surat Tagihan Pajak (STP).</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Analisis terhadap pelaporan SPT pada menu alert system dengan tindak lanjut oleh Account Representative sesuai dengan SOP KPP30-0012 tentang Tata Cara Penerbitan Surat Teguran Penyampaian SPT Masa, SOP KPP30-0013 tentang Tata Cara Penerbitan Surat Teguran Penyampaian SPT Tahunan PPh dan SOP KPP70-0063 tentang Tata Cara Penerbitan Surat Tagihan Pajak (STP).</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Analisis lainnya sesuai pengembangan Approweb.</p>
</li>
</ol>
</li>
<li>
<p align="justify">Analisis yang harus diinput ke dalam Approweb dengan tindak lanjut sesuai dengan SOP KPP70-0079 tentang Tata Cara Pelaksanaan Penelitian dan Analisis Kepatuhan Material Wajib Pajak, antara lain :</p>
<ol type="i">
<li>
<p align="justify">Analisis SPT termasuk di antaranya :</p>
<table width="87%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="3%">
<p align="justify">a)</p>
</td>
<td width="103%">
<p align="justify">Ekualisasi sesuai dengan SOP KPP70-0073 tentang Tata Cara Pelaksanaan Ekualisasi.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="3%">
<p align="justify">b)</p>
</td>
<td width="103%">
<p align="justify">Dinamisasi sesuai dengan SOP KPP70-0043 tentang Tata Cara Penerbitan Surat Pemberitahuan Perubahan Besarnya Angsuran Pajak Penghasilan Pasal 25 (Dinamisasi)</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="3%">
<p align="justify">c)</p>
</td>
<td width="103%">
<p align="justify">Analisis Laporan Keuangan</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="3%">
<p align="justify">d)</p>
</td>
<td width="103%">
<p align="justify">Benchmarking</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="3%">
<p align="justify">e)</p>
</td>
<td width="103%">
<p align="justify">Lainnya</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</li>
<li>
<p align="justify">Analisis Program Feeding yang kertas kerjanya harus diinput ke dalam Approweb dengan tindak lanjut sesuai SE-77/PJ/2011 tanggal 29 September 2011 tentang Program Feeding.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Analisis atas Alat Keterangan</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Analisis atas Data Pihak Ketiga</p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="2%">
<p align="justify">a)</p>
</td>
<td width="98%">
<p align="justify">Data PIB</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="2%">
<p align="justify">b)</p>
</td>
<td width="98%">
<p align="justify">Data PEB</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="2%">
<p align="justify">c)</p>
</td>
<td width="98%">
<p align="justify">Media Massa</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="2%">
<p align="justify">d)</p>
</td>
<td width="98%">
<p align="justify">Data Instansi Lain</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="2%">
<p align="justify">e)</p>
</td>
<td width="98%">
<p align="justify">Data Asosiasi</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="2%">
<p align="justify">f)</p>
</td>
<td width="98%">
<p align="justify">Data Sumber Lainnya</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</li>
<li>
<p align="justify">Analisis atas Data Mikro</p>
</li>
</ol>
</li>
</ol>
</li>
<li>
<p align="justify">Hasil analisis dan tindak lanjut penggalian potensi oleh Account Representative harus diinput ke dalam Approweb.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Pengawasan kegiatan penggalian potensi pajak dari profil Wajib Pajak dalam bentuk tabulasi secara periodik.</p>
</li>
</ol>
</li>
</ol>
<ol type="A" start="4">
<li>
<p align="justify">Pengawasan Penggunaan Approweb<br />
Pengawasan pemutakhiran dan penggalian potensi berbasis Approweb dilakukan secara berjenjang meliputi :</p>
<ol>
<li>
<p align="justify">1. Di tingkat Kantor Pelayanan Pajak</p>
<ol type="a">
<li>
<p align="justify">Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi memastikan semua pemutakhiran data ke dalam Approweb telah dilakukan dengan benar oleh Account Representative.<br />
Apabila terdapat kesalahan dan/atau kekurangan dalam pemutakhiran data tersebut maka Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi menugaskan Account Representative untuk merevisi dan/atau melengkapi pemutakhiran data tersebut.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi mengawasi kegiatan Account Representative dalam penggalian potensi pajak.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Kepala Kantor Pelayanan Pajak mengawasi kegiatan Seksi Pengawasan dan Konsultasi dalam pemutakhiran data dan penggalian potensi pajak.</p>
</li>
</ol>
</li>
<li>
<p align="justify">Di tingkat Kantor Wilayah DJP<br />
Kepala Kantor Wilayah DJP melalui Kepala Bidang Dukungan Teknis dan Konsultasi mengawasi kegiatan Kantor Pelayanan Pajak dalam pemutakhiran data dan penggalian potensi pajak.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Di tingkat Kantor Pusat DJP<br />
Pengawasan profil Wajib Pajak secara nasional dilakukan oleh Direktur Potensi, Kepatuhan dan Penerimaan (PKP) melalui Kepala Sub Direktorat Potensi Perpajakan.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Untuk mempermudah pengawasan penggunaan data profil pada Approweb maka level otorisasi penggunaan akan ditetapkan sesuai Lampiran III surat edaran ini.</p>
</li>
</ol>
</li>
</ol>
<ol>
<li>
<p align="justify">E. Pemeliharaan Data Profil Wajib Pajak pada Approweb</p>
<ol>
<li>
<p align="justify">Seksi Pemutakhiran Data Tampilan Sub Direktorat Pendukung Operasional Direktorat Teknologi Informasi Perpajakan melakukan sinkronisasi (update) data secara berkala dengan ketentuan sebagai berikut :</p>
<ol type="a">
<li>
<p align="justify">Data penerimaan pajak setiap hari berikutnya (H+1)</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Data SPT Masa setiap tanggal 8 bulan berikutnya</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Data SPT Tahunan setiap tanggal 8 bulan berikutnya</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Data Lainnya setiap tanggal 8 bulan berikutnya.</p>
</li>
</ol>
</li>
<li>
<p align="justify">Seksi Pemantauan Basis Data Sub Direktorat Pemantauan Sistem dan Infrastruktur Direktorat Teknologi Informasi Perpajakan melakukan back up data hasil input manual Account Representative awal minggu pertama setiap bulan.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Seksi Pelayanan Sistem Informasi Sub Direktorat Pelayanan Operasional Direktorat Teknologi Informasi Perpajakan menindaklanjuti keluhan (complain) atas penggunaan Approweb.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Seksi Pemantauan Konfigurasi dan Kapasitas Sub Direktorat Pemantauan Sistem dan Infrastruktur Direktorat Teknologi Informasi Perpajakan memantau dan menjaga kelancaran operasional Approweb.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Seksi Pengelolaan Basis Data Sub Direktorat Pengembangan Perangkat Keras Direktorat Transformasi Teknologi Komunikasi dan Informasi memantau dan melakukan optimalisasi kinerja basis data Approweb.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Approweb dapat dikembangkan sesuai dengan kebutuhan pengguna. Apabila ada usulan pengembangan aplikasi, maka pengguna dapat mengajukan usulan pengembangan Approweb kepada Direktur Potensi Kepatuhan dan Penerimaan dengan melampirkan keterangan mengenai kebutuhan pengguna (user requirements).</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Usulan pengembangan akan dianalisis oleh Direktur Potensi Kepatuhan dan Penerimaan sebelum diteruskan ke Direktur Transformasi Teknologi Komunikasi dan Informasi dan Direktur Teknologi Informasi Perpajakan.</p>
</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p align="justify">Surat Edaran ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan.</p>
<p align="justify">Surat Edaran ini dapat disebut sebagai penyempurnaan aplikasi Approweb sebagai sarana pembuatan dan pemutakhiran profil Wajib Pajak dan dengan berlakunya Surat Edaran ini, maka Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-41/PJ/2010 tanggal 24 Maret 2010 tentang Penggunaan Aplikasi Approweb Sebagai Sarana Pembuatan Profil Wajib Pajak dinyatakan tidak berlaku.</p>
<p align="justify">Demikian disampaikan untuk dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.</p>
<p align="justify">Ditetapkan di Jakarta<br />
Pada tanggal 09 Januari 2012<br />
DIREKTUR JENDERAL,</p>
<p align="justify">ttd,</p>
<p align="justify">A. FUAD RAHMANY<br />
NIP 195411111981121001</p>
<p align="justify">Tembusan :</p>
<ol>
<li>
<p align="justify">Sekretaris Direktorat Jenderal Pajak;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Para Direktur di Lingkungan Ditjen Pajak;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Para Tenaga Pengkaji Direktur di Lingkungan Ditjen Pajak;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Kepala Pusat Pengolahan Data dan Dokumen Perpajakan.</p>
</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.mytaxlink.net/se-01pj2012/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 11/PMK.05/2012</title>
		<link>http://www.mytaxlink.net/11pmk-052012/</link>
		<comments>http://www.mytaxlink.net/11pmk-052012/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Feb 2012 04:00:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lain-lain]]></category>
		<category><![CDATA[PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 11/PMK.05/2012]]></category>
		<category><![CDATA[Tanggal 13 Januari 2012 TARIF LAYANAN BADAN LAYANAN UMUM UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG PADA KEMENTERIAN AGAMA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.mytaxlink.net/?p=500</guid>
		<description><![CDATA[<p align="center">PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 11/PMK.05/2012 Tanggal 13 Januari 2012</p> <p align="center">TARIF LAYANAN BADAN LAYANAN UMUM UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG PADA KEMENTERIAN AGAMA</p> <p align="center">MENTERI KEUANGAN,</p> <p align="justify">Menimbang :</p> <p align="justify">bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 9 Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum, tarif layanan instansi yang menerapkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>PERATURAN<br />
MENTERI KEUANGAN<br />
NOMOR 11/PMK.05/2012<br />
Tanggal 13 Januari 2012</strong></p>
<p align="center"><strong>TARIF LAYANAN BADAN LAYANAN UMUM UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG PADA KEMENTERIAN AGAMA</strong></p>
<p align="center"><strong>MENTERI KEUANGAN,</strong></p>
<p align="justify">Menimbang :</p>
<ol type="a">
<li>
<p align="justify">bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 9 Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum, tarif layanan instansi yang menerapkan Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum ditetapkan oleh Menteri Keuangan atas usulan menteri/pimpinan lembaga;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">bahwa Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung pada Kementerian Agama telah ditetapkan sebagai Instansi Pemerintah yang menerapkan Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 251/KMK.05/2008;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">bahwa Menteri Agama melalui Surat Nomor: SJ/B.III/KU.01/999/2009 tanggal 26 Juni 2009 dan Nomor: SJ/B.III/I/KU.01.1/87/2010 tanggal 15 Januari 2010, telah mengajukan usulan tarif layanan Badan Layanan Umum Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung pada Kementerian Agama;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">bahwa usulan tarif layanan Badan Layanan Umum Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung pada Kementerian Agama, telah dibahas dan dikaji oleh Tim Penilai;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, huruf c, dan huruf d, perlu menetapkan Peraturan Menteri Keuangan tentang Tarif Layanan Badan Layanan Umum Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung pada Kementerian Agama;</p>
</li>
</ol>
<p align="justify">Mengingat :</p>
<ol>
<li>
<p align="justify">Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286);</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4355);</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 48, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4502);</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Keputusan Presiden Nomor 56/P Tahun 2010;</p>
</li>
</ol>
<p align="center"><strong>MEMUTUSKAN:</strong></p>
<p align="justify">Menetapkan :</p>
<p align="justify">PERATURAN MENTERI KEUANGAN TENTANG TARIF LAYANAN BADAN LAYANAN UMUM UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG PADA KEMENTERIAN AGAMA.</p>
<p align="center"><strong>Pasal 1</strong></p>
<p align="justify">Tarif layanan Badan Layanan Umum Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung pada Kementerian Agama adalah imbalan atas jasa layanan yang diberikan oleh Badan Layanan Umum Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung pada Kementerian Agama.</p>
<p align="center"><strong>Pasal 2</strong></p>
<p align="justify">Tarif layanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1, terdiri dari:</p>
<ol type="a">
<li>
<p align="justify">Tarif Seleksi Ujian Masuk;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Tarif Orientasi Pengenalan Akademik dan Kampus (OPAK);</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Tarif Matrikulasi (Anvulen) untuk Program S3;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Tarif Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP);</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Tarif Dana Sarana Pendidikan (DSP);</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Tarif Praktikum;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Tarif Kuliah Kerja Nyata;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Tarif Semester Pendek untuk Program S1;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Tarif Ujian/Munaqosah;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Tarif Bebas Perpustakaan;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Tarif Wisuda;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Tarif Kegiatan Ma’had Al Jami’ah;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Tarif Layanan Information and Communication Technology (ICT);</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Tarif Pelatihan Information Technology (IT);</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Tarif Test Of English as Foreign Language (TOEFL)/Test Of Arabic as Foreign Language (TOAFL);</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Tarif Kursus Test Of English as Foreign Language (TOEFL)/Test Of Arabic as Foreign Language (TOAFL); dan</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Tarif Kursus Bahasa Inggris/Arab.</p>
</li>
</ol>
<p align="center"><strong>Pasal 3</strong></p>
<p align="justify">Tarif layanan Badan Layanan Umum Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung pada Kementerian Agama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 tercantum dalam Lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.</p>
<p align="center"><strong>Pasal 4</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(1)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Badan Layanan Umum Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung pada Kementerian Agama dapat memberikan jasa layanan di bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat berdasarkan kebutuhan dari pihak pengguna jasa melalui kontrak kerja sama.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(2)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Tarif layanan Badan Layanan Umum Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung pada Kementerian Agama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan berdasarkan kontrak kerja sama antara Rektor Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung pada Kementerian Agama dengan pihak pengguna jasa.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(3)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Rektor Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung pada Kementerian Agama wajib menyampaikan copy dokumen kontrak kerja sama dengan pihak pengguna jasa kepada Menteri Agama dan Menteri Keuangan.</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 5</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="3%">
<p align="justify">(1)</p>
</td>
<td valign="top" width="97%">
<p align="justify">Badan Layanan Umum Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung pada Kementerian Agama dapat melakukan Kerja Sama Operasional (KSO) dengan pihak lain untuk meningkatkan layanan jasa di bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">
<p align="justify">(2)</p>
</td>
<td valign="top" width="97%">
<p align="justify">Tarif layanan yang berasal dari KSO dengan pihak lain sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan berdasarkan kontrak kerja sama antara Rektor Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung pada Kementerian Agama dengan pihak lain.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">
<p align="justify">(3)</p>
</td>
<td valign="top" width="97%">
<p align="justify">Rektor Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung pada Kementerian Agama wajib menyampaikan copy dokumen kontrak kerja sama kepada Menteri Agama dan Menteri Keuangan.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">
<p align="justify">(4)</p>
</td>
<td valign="top" width="97%">
<p align="justify">KSO sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak termasuk KSO pemanfaatan aset.</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 6</strong></p>
<p align="justify">Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.</p>
<p align="justify">Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Menteri ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ditetapkan di Jakarta<br />
Pada tanggal 13 Januari 2012<br />
MENTERI KEUANGAN,</p>
<p>ttd.</p>
<p>AGUS D.W. MARTOWARDOJO</p>
<p>Diundangkan di Jakarta<br />
Pada tanggal 13 Januari 2012<br />
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA,</p>
<p>ttd.</p>
<p>AMIR SYAMSUDIN</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center"><strong>BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2012 NOMOR 71</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.mytaxlink.net/11pmk-052012/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR KEP-26/PJ/2012</title>
		<link>http://www.mytaxlink.net/keputusan-direktur-jenderal-pajak-nomor-kep-26pj2012/</link>
		<comments>http://www.mytaxlink.net/keputusan-direktur-jenderal-pajak-nomor-kep-26pj2012/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Feb 2012 03:58:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lain-lain]]></category>
		<category><![CDATA[DAN KANTOR PELAYANAN PAJAK MADYA]]></category>
		<category><![CDATA[KANTOR PELAYANAN PAJAK DI LINGKUNGAN KANTOR WILAYAH DIREKTORAT JENDERAL PAJAK JAKARTA KHUSUS]]></category>
		<category><![CDATA[KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR KEP-26/PJ/2012]]></category>
		<category><![CDATA[PEMINDAHAN WAJIB PAJAK DARI KANTOR PELAYANAN PAJAK DI LINGKUNGAN KANTOR WILAYAH DIREKTORAT JENDERAL PAJAK WAJIB PAJAK BESAR]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.mytaxlink.net/?p=497</guid>
		<description><![CDATA[<p align="center">KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR KEP-26/PJ/2012 Tanggal 30 Januari 2012</p> <p align="center">PEMINDAHAN WAJIB PAJAK DARI KANTOR PELAYANAN PAJAK DI LINGKUNGAN KANTOR WILAYAH DIREKTORAT JENDERAL PAJAK WAJIB PAJAK BESAR, KANTOR PELAYANAN PAJAK DI LINGKUNGAN KANTOR WILAYAH DIREKTORAT JENDERAL PAJAK JAKARTA KHUSUS, DAN KANTOR PELAYANAN PAJAK MADYA</p> <p align="center">DIREKTUR JENDERAL PAJAK,</p> <p align="justify">Menimbang :</p> <p align="justify">bahwa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>KEPUTUSAN<br />
DIREKTUR JENDERAL PAJAK<br />
NOMOR KEP-26/PJ/2012<br />
Tanggal 30 Januari 2012</strong></p>
<p align="center"><strong>PEMINDAHAN WAJIB PAJAK DARI KANTOR PELAYANAN PAJAK DI LINGKUNGAN KANTOR WILAYAH DIREKTORAT JENDERAL PAJAK WAJIB PAJAK BESAR, KANTOR PELAYANAN PAJAK DI LINGKUNGAN KANTOR WILAYAH DIREKTORAT JENDERAL PAJAK JAKARTA KHUSUS, DAN KANTOR PELAYANAN PAJAK MADYA</strong></p>
<p align="center"><strong>DIREKTUR JENDERAL PAJAK,</strong></p>
<p align="justify">Menimbang :</p>
<ol type="a">
<li>
<p align="justify">bahwa sehubungan dengan hasil evaluasi terhadap Wajib Pajak yang terdaftar pada Kantor Pelayanan Pajak di Lingkungan Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Wajib Pajak Besar, Kantor Pelayanan Pajak di Lingkungan Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Jakarta Khusus, dan Kantor Pelayanan Pajak Madya;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">bahwa dalam rangka melaksanakan pasal 2 ayat (3) huruf a Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2009;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b, perlu menetapkan Keputusan Direktur Jenderal Pajak tentang Pemindahan Wajib Pajak dari Kantor Pelayanan Pajak di Lingkungan Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Wajib Pajak Besar, Kantor Pelayanan Pajak di Lingkungan Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Jakarta Khusus, dan Kantor Pelayanan Pajak Madya;</p>
</li>
</ol>
<p align="justify">Mengingat :</p>
<ol>
<li>
<p align="justify">Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3262) sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2009 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 62, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4999);</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-49/PJ/2011 tentang Tempat Pendaftaran dan Pelaporan Usaha bagi Wajib Pajak pada Kantor Pelayanan Pajak di Lingkungan Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Wajib Pajak Besar, Kantor Pelayanan Pajak di Lingkungan Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Jakarta Khusus, dan Kantor Pelayanan Pajak Madya;</p>
</li>
</ol>
<p align="center"><strong>MEMUTUSKAN:</strong></p>
<p align="justify">Menetapkan :</p>
<p align="justify">KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK TENTANG PEMINDAHAN WAJIB PAJAK DARI KANTOR PELAYANAN PAJAK DI LINGKUNGAN KANTOR WILAYAH DIREKTORAT JENDERAL PAJAK WAJIB PAJAK BESAR, KANTOR PELAYANAN PAJAK DI LINGKUNGAN KANTOR WILAYAH DIREKTORAT JENDERAL PAJAK JAKARTA KHUSUS, DAN KANTOR PELAYANAN PAJAK MADYA</p>
<p align="center"><strong>KESATU:</strong></p>
<p align="justify">Memindahkan Wajib Pajak sebagaimana tercantum dalam kolom (2) dan (3) yang semula terdaftar dan melaporkan usahanya pada Kantor Pelayanan Pajak (KPP) sebagaimana tercantum pada kolom (4) ke KPP sebagaimana tercantum pada kolom (5) Lampiran Keputusan Direktur Jenderal Pajak ini.</p>
<p align="center"><strong>KEDUA</strong></p>
<p align="justify">Keputusan Direktur Jenderal Pajak ini berlaku sejak tanggal 1 April 2012</p>
<p align="justify">Salinan Keputusan Direktur Jenderal Pajak ini disampaikan kepada:</p>
<ol>
<li>
<p align="justify">Sekretaris Direktorat Jenderal Pajak;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Para Direktur, Para Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak, Para Tenaga Pengkaji, dan Kepala Pusat Pengolahan Data dan Dokumen Perpajakan;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Para Kepala Kantor Pelayanan Pajak,</p>
</li>
</ol>
<p align="justify">untuk diketahui dan digunakan sebagaimana mestinya</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ditetapkan di Jakarta<br />
Pada tanggal 30 Januari 2012<br />
DIREKTUR JENDERAL PAJAK<br />
A. FUAD RAHMANY</p>
<p>TTD</p>
<p>NIP 195411111981121001</p>
<p><strong>KEPUTUSAN<br />
DIREKTUR JENDERAL PAJAK<br />
NOMOR KEP-26/PJ/2012</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.mytaxlink.net/keputusan-direktur-jenderal-pajak-nomor-kep-26pj2012/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 54/KM.1/2012</title>
		<link>http://www.mytaxlink.net/54km-12012/</link>
		<comments>http://www.mytaxlink.net/54km-12012/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Feb 2012 02:41:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kurs Pajak]]></category>
		<category><![CDATA[DAN PAJAK PENGHASILAN YANG BERLAKU UNTUK TANGGAL 30 Januari 2012 SAMPAI DENGAN 05 Februari 2012]]></category>
		<category><![CDATA[KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 54/KM.1/2012]]></category>
		<category><![CDATA[NILAI KURS SEBAGAI DASAR PELUNASAN BEA MASUK]]></category>
		<category><![CDATA[PAJAK EKSPOR]]></category>
		<category><![CDATA[PAJAK PERTAMBAHAN NILAI BARANG DAN JASA DAN PAJAK PENJUALAN ATAS BARANG MEWAH]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.mytaxlink.net/?p=495</guid>
		<description><![CDATA[<p align="center">KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 54/KM.1/2012 Tanggal 30 Januari 2012</p> <p align="center">NILAI KURS SEBAGAI DASAR PELUNASAN BEA MASUK, PAJAK PERTAMBAHAN NILAI BARANG DAN JASA DAN PAJAK PENJUALAN ATAS BARANG MEWAH, PAJAK EKSPOR, DAN PAJAK PENGHASILAN YANG BERLAKU UNTUK TANGGAL 30 Januari 2012 SAMPAI DENGAN 05 Februari 2012</p> <p align="center">MENTERI KEUANGAN</p> <p align="justify">Menimbang :</p> <p align="justify">bahwa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong><span>KEPUTUSAN</span><br />
MENTERI KEUANGAN<br />
NOMOR 54/KM.1/2012<br />
Tanggal 30 Januari 2012</strong></p>
<p align="center"><strong>NILAI KURS SEBAGAI DASAR PELUNASAN BEA MASUK, PAJAK PERTAMBAHAN NILAI BARANG DAN JASA DAN PAJAK PENJUALAN ATAS BARANG MEWAH, PAJAK EKSPOR, DAN PAJAK PENGHASILAN YANG BERLAKU UNTUK TANGGAL 30 Januari 2012 SAMPAI DENGAN 05 Februari 2012</strong></p>
<p align="center"><strong>MENTERI KEUANGAN</strong></p>
<p align="justify">Menimbang :</p>
<ol type="a">
<li>
<p align="justify">bahwa untuk keperluan pelunasan Bea Masuk, Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah, Pajak Ekspor, dan Pajak Penghasilan atas pemasukan barang, hutang Pajak yang berhubungan dengan Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah, Pajak Ekspor, dan penghasilan yang diterima atau diperoleh berupa uang asing, harus terlebih dahulu dinilai ke dalam uang rupiah;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, perlu menetapkan Keputusan Menteri Keuangan tentang Nilai Kurs sebagai Dasar Pelunasan Bea Masuk, Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah, Pajak Ekspor, dan Pajak Penghasilan yang berlaku untuk tanggal 30 Januari 2012 sampai dengan 05 Februari 2012</p>
</li>
</ol>
<p align="justify">Mengingat :</p>
<ol>
<li>
<p align="justify">Undang-undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan(Lembaran negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 50; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3263) sebagai telah diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2000(lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 127, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3985);</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Undang-undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 51; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3264) sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 18 Tahun 2000 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 128; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3986);</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Undang-undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1995 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3612) sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2006 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 93, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4661);Undang-undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1995 Nomor 75; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3612);</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Undang-undang Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1995 Nomor 76, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3613) sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 39 Tahun 2007 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 105, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4755);</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Keputusan Presiden Nomor 187/M Tahun 2004 tentang Pembentukan Kabinet Indonesia Bersatu sebagaimana telah diubah terakhir dengan Keputusan Presiden No.20/P tahun 2005;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Keputusan Menteri Keuangan Nomor 371/KMK.01/2002 tentang Pelimpahan Wewenang Kepada Pejabat Eselon I Di Lingkungan Departemen Keuangan Untuk dan Atas Nama Menteri Keuangan Menandatangani Surat dan atau Keputusan Menteri Keuangan;</p>
</li>
</ol>
<p align="center"><strong>MEMUTUSKAN:</strong></p>
<p align="justify">Menetapkan :</p>
<p align="justify">KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN TENTANG NILAI KURS SEBAGAI DASAR PELUNASAN BEA MASUK, PAJAK PERTAMBAHAN NILAI BARANG DAN JASA DAN PAJAK PENJUALAN ATAS BARANG MEWAH, PAJAK EKSPOR, DAN PAJAK PENGHASILAN YANG BERLAKU UNTUK TANGGAL 30 Januari 2012 SAMPAI DENGAN 05 Februari 2012.</p>
<p align="center"><strong>Pasal 1</strong></p>
<p align="justify">Nilai Kurs sebagai Dasar Pelunasan Bea Masuk, Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah, Pajak Ekspor, dan Pajak Penghasilan yang berlaku untuk tanggal 30 Januari 2012 sampai dengan 05 Februari 2012, ditetapkan sebagai berikut:</p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="12%">1</td>
<td width="20%">Rp.</td>
<td width="19%">8,952.00</td>
<td width="25%">Untuk Dolar Amerika Serikat (USD)</td>
<td width="24%">1,-</td>
</tr>
<tr>
<td width="12%">2</td>
<td width="20%">Rp.</td>
<td width="19%">9,463.45</td>
<td width="25%">Untuk Dolar Australia (AUD)</td>
<td width="24%">1,-</td>
</tr>
<tr>
<td width="12%">3</td>
<td width="20%">Rp.</td>
<td width="19%">8,904.41</td>
<td width="25%">Untuk Dolar Canada (CAD)</td>
<td width="24%">1,-</td>
</tr>
<tr>
<td width="12%">4</td>
<td width="20%">Rp.</td>
<td width="19%">1,573.99</td>
<td width="25%">Untuk Kroner Denmark (DKK)</td>
<td width="24%">1,-</td>
</tr>
<tr>
<td width="12%">5</td>
<td width="20%">Rp.</td>
<td width="19%">1,153.69</td>
<td width="25%">Untuk Dolar Hongkong (HKD)</td>
<td width="24%">1,-</td>
</tr>
<tr>
<td width="12%">6</td>
<td width="20%">Rp.</td>
<td width="19%">2,917.79</td>
<td width="25%">Untuk Ringgit Malaysia (MYR)</td>
<td width="24%">1,-</td>
</tr>
<tr>
<td width="12%">7</td>
<td width="20%">Rp.</td>
<td width="19%">7,306.12</td>
<td width="25%">Untuk Dolar Selandia Baru (NZD)</td>
<td width="24%">1,-</td>
</tr>
<tr>
<td width="12%">8</td>
<td width="20%">Rp.</td>
<td width="19%">1,529.30</td>
<td width="25%">Untuk Kroner Norwegia (NOK)</td>
<td width="24%">1,-</td>
</tr>
<tr>
<td width="12%">9</td>
<td width="20%">Rp.</td>
<td width="19%">14,003.52</td>
<td width="25%">Untuk Poundsterling Inggris (GBP)</td>
<td width="24%">1,-</td>
</tr>
<tr>
<td width="12%">10</td>
<td width="20%">Rp.</td>
<td width="19%">7,088.47</td>
<td width="25%">Untuk Dolar Singapura (SGD)</td>
<td width="24%">1,-</td>
</tr>
<tr>
<td width="12%">11</td>
<td width="20%">Rp.</td>
<td width="19%">1,323.70</td>
<td width="25%">Untuk Kroner Swedia (SEK)</td>
<td width="24%">1,-</td>
</tr>
<tr>
<td width="12%">12</td>
<td width="20%">Rp.</td>
<td width="19%">9,690.19</td>
<td width="25%">Untuk Franc Swiss (CHF)</td>
<td width="24%">1,-</td>
</tr>
<tr>
<td width="12%">13</td>
<td width="20%">Rp.</td>
<td width="19%">11,555.52</td>
<td width="25%">Untuk Yen Jepang (JPY)</td>
<td width="24%">100,-</td>
</tr>
<tr>
<td width="12%">14</td>
<td width="20%">Rp.</td>
<td width="19%">1,391.42</td>
<td width="25%">Untuk Kyat Burma (BUK)</td>
<td width="24%">1,-</td>
</tr>
<tr>
<td width="12%">15</td>
<td width="20%">Rp.</td>
<td width="19%">178.72</td>
<td width="25%">Untuk Rupee India (INR)</td>
<td width="24%">1,-</td>
</tr>
<tr>
<td width="12%">16</td>
<td width="20%">Rp.</td>
<td width="19%">32,148.54</td>
<td width="25%">Untuk Dinar Kuwait (KWD)</td>
<td width="24%">1,-</td>
</tr>
<tr>
<td width="12%">17</td>
<td width="20%">Rp.</td>
<td width="19%">99.25</td>
<td width="25%">Untuk Rupee Pakistan (PKR)</td>
<td width="24%">1,-</td>
</tr>
<tr>
<td width="12%">18</td>
<td width="20%">Rp.</td>
<td width="19%">207.87</td>
<td width="25%">Untuk Peso Philipina (PHP)</td>
<td width="24%">1,-</td>
</tr>
<tr>
<td width="12%">19</td>
<td width="20%">Rp.</td>
<td width="19%">2,386.92</td>
<td width="25%">Untuk Riyal Saudi Arabia (SAR)</td>
<td width="24%">1,-</td>
</tr>
<tr>
<td width="12%">20</td>
<td width="20%">Rp.</td>
<td width="19%">78.60</td>
<td width="25%">Untuk Rupee Sri Lanka (LKR)</td>
<td width="24%">1,-</td>
</tr>
<tr>
<td width="12%">21</td>
<td width="20%">Rp.</td>
<td width="19%">285.56</td>
<td width="25%">Untuk Bath Thailand (THB)</td>
<td width="24%">1,-</td>
</tr>
<tr>
<td width="12%">22</td>
<td width="20%">Rp.</td>
<td width="19%">7,089.59</td>
<td width="25%">Untuk Dolar Brunei Darussalam (BND)</td>
<td width="24%">1,-</td>
</tr>
<tr>
<td width="12%">23</td>
<td width="20%">Rp.</td>
<td width="19%">11,702.25</td>
<td width="25%">Untuk Euro Euro (EUR)</td>
<td width="24%">1,-</td>
</tr>
<tr>
<td width="12%">24</td>
<td width="20%">Rp.</td>
<td width="19%">1,417.59</td>
<td width="25%">Untuk Yuan China (CNY)</td>
<td width="24%">1,-</td>
</tr>
<tr>
<td width="12%">25</td>
<td width="20%">Rp.</td>
<td width="19%">7.95</td>
<td width="25%">Untuk Won Korea (KRW)</td>
<td width="24%">1,-</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 2</strong></p>
<p align="justify">Dalam hal kurs valuta asing lainnya tidak tercantum dalam Pasal 1, maka nilai kurs yang digunakan sebagai dasar pelunasan adalah kurs spot harian valuta asing yang bersangkutan di pasar internasional terhadap dolar Amerika Serikat yang berlaku pada penutupan hari kerja sebelumnya dan dikalikan kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat sebagaimana ditetapkan dalam Keputusan Menteri Keuangan ini.</p>
<p align="center"><strong>Pasal 3</strong></p>
<p align="justify">Keputusan Menteri Keuangan ini mulai berlaku pada tanggal 30 Januari 2012</p>
<p align="justify">Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengumuman Keputusan Menteri Keuangan ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia.</p>
<p>Ditetapkan di Jakarta<br />
Pada tanggal 30 Januari 2012</p>
<p>an.</p>
<p>MENTERI KEUANGAN</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.mytaxlink.net/54km-12012/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PERATURAN  MENTERI KEUANGAN NOMOR 10/PMK.07/2012</title>
		<link>http://www.mytaxlink.net/10pmk-072012/</link>
		<comments>http://www.mytaxlink.net/10pmk-072012/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Jan 2012 03:39:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lain-lain]]></category>
		<category><![CDATA[PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 06/PMK.07/2012]]></category>
		<category><![CDATA[PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 10/PMK.07/2012]]></category>
		<category><![CDATA[PERKIRAAN ALOKASI TAMBAHAN DANA BAGI HASIL SUMBER DAYA ALAM PERTAMBANGAN MINYAK BUMI DAN GAS BUMI UNTUK PROVINSI ACEH TAHUN ANGGARAN 2012]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.mytaxlink.net/?p=490</guid>
		<description><![CDATA[<p align="center">PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 10/PMK.07/2012 Tanggal 13 Januari 2012</p> <p align="center">PERKIRAAN ALOKASI TAMBAHAN DANA BAGI HASIL SUMBER DAYA ALAM PERTAMBANGAN MINYAK BUMI DAN GAS BUMI UNTUK PROVINSI ACEH TAHUN ANGGARAN 2012</p> <p align="center">MENTERI KEUANGAN,</p> <p>Menimbang :</p> <p>bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 181 ayat (3) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh dan Pasal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>PERATURAN<br />
MENTERI KEUANGAN<br />
NOMOR 10/PMK.07/2012<br />
Tanggal 13 Januari 2012</strong></p>
<p align="center"><strong>PERKIRAAN ALOKASI TAMBAHAN DANA BAGI HASIL SUMBER DAYA ALAM</strong><br />
<strong>PERTAMBANGAN MINYAK BUMI DAN GAS BUMI UNTUK PROVINSI ACEH TAHUN ANGGARAN 2012</strong></p>
<p align="center"><strong>MENTERI KEUANGAN,</strong></p>
<p>Menimbang :</p>
<p>bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 181 ayat (3) Undang-Undang Nomor 11<br />
Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh dan Pasal 27 ayat (5) Peraturan Pemerintah<br />
Nomor 55 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan, perlu menetapkan Peraturan Menteri<br />
Keuangan tentang Perkiraan Alokasi Tambahan Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam<br />
Pertambangan Minyak Bumi dan Gas Bumi untuk Provinsi Aceh Tahun Anggaran 2012;</p>
<p>Mengingat:</p>
<ol>
<li>Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh (Lembaran<br />
Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 62, Tambahan Lembaran Negara<br />
Republik Indonesia Nomor 4633);</li>
<li>Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2011 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja<br />
Negara Tahun Anggaran 2012 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011<br />
Nomor 113, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5254);</li>
<li>Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan (Lembaran<br />
Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 137, Tambahan Lembaran Negara<br />
Republik Indonesia Nomor 4575);</li>
<li>Keputusan Presiden Nomor 56/P Tahun 2010;</li>
<li>Peraturan Menteri Keuangan Nomor 126/PMK.07/2010 tentang Pelaksanaan dan<br />
Pertanggungjawaban Anggaran Transfer ke Daerah;</li>
</ol>
<p>Memperhatikan:</p>
<p>Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 2965 K/80/MEM/2011<br />
tentang Penetapan Daerah Penghasil dan Dasar Penghitungan Bagian Daerah<br />
Penghasil Pertambangan Umum, Pertambangan Panas Bumi, Minyak Bumi dan Gas Bumi<br />
untuk Tahun 2012;</p>
<p align="center"><strong>MEMUTUSKAN:</strong></p>
<p>Menetapkan:</p>
<p>PERATURAN MENTERI KEUANGAN TENTANG PERKIRAAN ALOKASI TAMBAHAN DANA BAGI HASIL<br />
SUMBER DAYA ALAM PERTAMBANGAN MINYAK BUMI DAN GAS BUMI UNTUK PROVINSI ACEH TAHUN<br />
ANGGARAN 2012.</p>
<p align="center"><strong>Pasal 1</strong></p>
<p>Perkiraan alokasi tambahan Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam Pertambangan<br />
Minyak Bumi dan Gas Bumi (DBH SDA Pertambangan Migas) untuk Provinsi Aceh Tahun<br />
Anggaran 2012 didasarkan atas rencana penerimaan SDA Pertambangan Migas<br />
sebagaimana ditetapkan dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2011 tentang Anggaran<br />
Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2012.</p>
<p align="center"><strong>Pasal 2</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(1)</td>
<td valign="top" width="96%">Perkiraan alokasi tambahan DBH SDA Pertambangan<br />
Migas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 adalah sebesar<br />
Rp540.051.743.000,00 (lima ratus empat puluh miliar lima puluh satu juta<br />
tujuh ratus empat puluh tiga ribu rupiah), dengan rincian sebagai berikut:</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%"></td>
<td valign="top" width="96%">
<ol type="a">
<li>tambahan DBH SDA yang berasal dari Pertambangan Minyak Bumi adalah<br />
55% (lima puluh lima persen) dari perkiraan total penerimaan negara<br />
yang berasal dari Sumber Daya Alam Minyak Bumi Provinsi Aceh, yaitu<br />
sebesar Rp261.914.415.000,00 (dua ratus enam puluh satu miliar<br />
sembilan ratus empat belas juta empat ratus lima belas ribu rupiah);<br />
dan</li>
<li>tambahan DBH SDA yang berasal dari Pertambangan Gas Bumi adalah 40%<br />
(empat puluh persen) dari perkiraan total penerimaan negara yang<br />
berasal dari Sumber Daya Alam Gas Bumi Provinsi Aceh, yaitu sebesar Rp<br />
278.137.328.000,00 (dua ratus tujuh puluh delapan miliar seratus tiga<br />
puluh tujuh juta tiga ratus dua puluh delapan ribu rupiah).</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(2)</td>
<td valign="top" width="96%">Dalam hal terdapat perubahan asumsi indikator<br />
ekonomi makro sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2011<br />
tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2012, maka<br />
perkiraan alokasi tambahan DBH SDA Pertambangan Migas sebagaimana dimaksud<br />
pada ayat (1) perlu dilakukan penyesuaian.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 3</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(1)</td>
<td valign="top" width="96%">Penyaluran tambahan DBH SDA Pertambangan Migas<br />
untuk Provinsi Aceh dilaksanakan secara triwulanan.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(2)</td>
<td valign="top" width="96%">Penyaluran tambahan DBH SDA Pertambangan Migas<br />
untuk Provinsi Aceh triwulan I dan triwulan II dilaksanakan masing-masing<br />
sebesar 20% (dua puluh persen) dari pagu perkiraan alokasi.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(3)</td>
<td valign="top" width="96%">Penyaluran tambahan DBH SDA Pertambangan Migas<br />
untuk Provinsi Aceh sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diperhitungkan<br />
dengan realisasi penerimaan SDA Pertambangan Migas triwulan III dan<br />
triwulan IV.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(4)</td>
<td valign="top" width="96%">Penyaluran tambahan DBH SDA Pertambangan Migas<br />
untuk Provinsi Aceh sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan<br />
berdasarkan perhitungan melalui mekanisme rekonsiliasi data antara<br />
Pemerintah Pusat dengan daerah penghasil.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(5)</td>
<td valign="top" width="96%">Tata cara penyaluran tambahan alokasi DBH SDA<br />
Pertambangan Migas untuk Provinsi Aceh dilaksanakan sesuai dengan<br />
ketentuan peraturan perundang-undangan.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 4</strong></p>
<p>Dalam hal pagu atas perkiraan alokasi DBH SDA Pertambangan Migas untuk<br />
Provinsi Aceh yang ditetapkan dalam Tahun Anggaran 2012 tidak mencukupi<br />
kebutuhan penyaluran atau realisasi penerimaan melebihi pagu dalam Tahun<br />
Anggaran 2012, maka dapat dilakukan penyaluran berdasarkan realisasi penerimaan<br />
SDA Pertambangan Migas sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.</p>
<p align="center"><strong>Pasal 5</strong></p>
<p>Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.</p>
<p>Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Menteri<br />
ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia.</p>
<p>Ditetapkan di Jakarta</p>
<p>pada tanggal 13 Januari 2012</p>
<p>MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA,</p>
<p>ttd.</p>
<p>AGUS D.W. MARTOWARDOJO</p>
<p>Diundangkan di Jakarta</p>
<p>pada tanggal 13 Januari 2012</p>
<p>MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA</p>
<p>ttd.</p>
<p>AMIR SYAMSUDIN</p>
<p align="center"><strong>BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2012 NOMOR 70</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.mytaxlink.net/10pmk-072012/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 06/PMK.07/2012</title>
		<link>http://www.mytaxlink.net/06pmk-072012-2/</link>
		<comments>http://www.mytaxlink.net/06pmk-072012-2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Jan 2012 03:35:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lain-lain]]></category>
		<category><![CDATA[PELAKSANAAN DAN PERTANGGUNGJAWABAN ANGGARAN TRANSFER KE DAERAH]]></category>
		<category><![CDATA[PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 06/PMK.07/2012]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.mytaxlink.net/?p=488</guid>
		<description><![CDATA[<p align="center">PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 06/PMK.07/2012 Tanggal 9 Januari 2012</p> <p align="center">PELAKSANAAN DAN PERTANGGUNGJAWABAN ANGGARAN TRANSFER KE DAERAH</p> <p align="center">MENTERI KEUANGAN,</p> <p>Menimbang :</p> bahwa berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 126/PMK.07/2010 tentang Pelaksanaan dan Pertanggungjawaban Anggaran Transfer ke Daerah, telah diatur tata cara pelaksanaan penyaluran dan pertanggungjawaban anggaran Transfer ke Daerah; bahwa untuk meningkatkan efisiensi pelaksanaan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>PERATURAN<br />
MENTERI KEUANGAN<br />
NOMOR 06/PMK.07/2012<br />
Tanggal 9 Januari 2012</strong></p>
<p align="center"><strong>PELAKSANAAN DAN PERTANGGUNGJAWABAN ANGGARAN TRANSFER KE DAERAH</strong></p>
<p align="center"><strong>MENTERI KEUANGAN,</strong></p>
<p>Menimbang :</p>
<ol type="a">
<li>bahwa berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 126/PMK.07/2010 tentang Pelaksanaan dan Pertanggungjawaban Anggaran Transfer ke Daerah, telah diatur tata cara pelaksanaan penyaluran dan pertanggungjawaban anggaran Transfer ke Daerah;</li>
<li>bahwa untuk meningkatkan efisiensi pelaksanaan penyaluran dan pertanggungjawaban anggaran Transfer ke Daerah, perlu mengatur kembali tata cara pelaksanaan penyaluran dan pertanggungjawaban Anggaran Transfer ke Daerah;</li>
<li>bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b, perlu menetapkan Peraturan Menteri Keuangan tentang Pelaksanaan dan Pertanggungjawaban Anggaran Transfer ke Daerah;</li>
</ol>
<p>Mengingat :</p>
<ol>
<li>Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1995 Nomor 76, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3613) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2007 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 105, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4755);</li>
<li>Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Bagi Provinsi Papua (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 Nomor 135, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4151) sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 35 Tahun 2008 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 112, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4884);</li>
<li>Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438);</li>
<li>Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 62, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4633);</li>
<li>Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 130, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5049);</li>
<li>Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 137, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4575);</li>
<li>Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 2005 tentang Sistem Informasi Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 138, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4576) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2010 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 110, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5155);</li>
<li>Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Uang Negara/Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 83, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4738);</li>
<li>Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 123, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5165);</li>
<li>Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 2011 tentang Pinjaman Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5219);</li>
<li>Keputusan Presiden Nomor 56/P Tahun 2010;</li>
<li>Keputusan Menteri Keuangan Nomor 347/KMK.01/2008 tentang Pelimpahan Wewenang Kepada Pejabat Eselon I di Lingkungan Departemen Keuangan Untuk dan Atas Nama Menteri Keuangan Menandatangani Surat dan atau Keputusan Menteri Keuangan sebagaimana telah diubah dengan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 218/KMK.01/2010;</li>
</ol>
<p align="center"><strong>MEMUTUSKAN:</strong></p>
<p>Menetapkan :</p>
<p>PERATURAN MENTERI KEUANGAN TENTANG PELAKSANAAN DAN PERTANGGUNGJAWABAN ANGGARAN TRANSFER KE DAERAH.</p>
<p align="center"><strong>BAB I<br />
KETENTUAN UMUM</strong></p>
<p align="center"><strong>Pasal 1</strong></p>
<p>Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan:</p>
<ol>
<li>Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang selanjutnya disingkat APBN adalah rencana keuangan tahunan pemerintahan negara yang disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat.</li>
<li>Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah yang selanjutnya disingkat APBD adalah rencana keuangan tahunan pemerintahan daerah yang disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.</li>
<li>Pengguna Anggaran adalah pejabat pemegang kewenangan penggunaan anggaran kementerian negara/lembaga/satuan kerja perangkat daerah.</li>
<li>Transfer ke Daerah adalah bagian dari belanja negara dalam rangka mendanai pelaksanaan desentralisasi fiskal berupa dana perimbangan, dana otonomi khusus, dan dana penyesuaian.</li>
<li>Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran Transfer ke Daerah adalah Menteri Keuangan atau kuasanya yang bertanggung jawab atas pengelolaan anggaran Transfer ke Daerah.</li>
<li>Rekening Kas Umum Negara adalah rekening tempat penyimpanan uang negara yang ditentukan oleh Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara untuk menampung seluruh penerimaan negara dan membayar seluruh pengeluaran negara pada bank sentral.</li>
<li>Rekening Kas Umum Daerah adalah rekening tempat penyimpanan uang daerah yang ditentukan oleh gubernur/bupati/walikota untuk menampung seluruh penerimaan daerah dan membayar seluruh pengeluaran daerah pada bank yang ditetapkan.</li>
<li>Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran yang selanjutnya disingkat DIPA adalah dokumen pelaksanaan anggaran yang dibuat oleh Menteri/Pimpinan Lembaga serta disahkan oleh Direktur Jenderal Perbendaharaan atas nama Menteri Keuangan dan berfungsi sebagai dasar untuk melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran negara dan pencairan dana atas beban APBN serta dokumen pendukung kegiatan akuntansi pemerintah.</li>
<li>Surat Keputusan Penetapan Rincian Transfer ke Daerah yang selanjutnya disingkat SKP-RTD adalah surat keputusan yang mengakibatkan pengeluaran atas beban anggaran yang memuat rincian jumlah transfer per daerah untuk setiap jenis transfer dalam periode tertentu.</li>
<li>Surat Permintaan Pembayaran yang selanjutnya disingkat SPP adalah dokumen yang diterbitkan oleh pejabat yang bertanggung jawab atas pelaksanaan transfer dan disampaikan kepada pejabat penguji SPP/penandatangan Surat Perintah Membayar.</li>
<li>Surat Perintah Membayar yang selanjutnya disingkat SPM adalah dokumen yang diterbitkan oleh Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran atau pejabat lain yang ditunjuk untuk mencairkan alokasi dana yang bersumber dari DIPA atau dokumen lain yang dipersamakan.</li>
<li>Surat Perintah Pencairan Dana yang selanjutnya disingkat SP2D adalah surat perintah yang diterbitkan oleh Kuasa Bendahara Umum Negara untuk pelaksanaan pengeluaran atas beban APBN berdasarkan SPM.</li>
<li>Sisa Dana Alokasi Khusus yang selanjutnya disebut Sisa DAK adalah Dana Alokasi Khusus yang telah disalurkan oleh Pemerintah kepada Pemerintah Daerah namun tidak habis digunakan untuk mendanai kegiatan dan/atau tidak terealisasinya kegiatan yang didanai dari Dana Alokasi Khusus.</li>
</ol>
<p align="center"><strong>BAB II<br />
RUANG LINGKUP</strong></p>
<p align="center"><strong>Pasal 2</strong></p>
<p>Ruang lingkup pelaksanaan dan pertanggungjawaban anggaran Transfer ke Daerah meliputi:</p>
<ol type="a">
<li>jenis anggaran Transfer ke Daerah;</li>
<li>penetapan alokasi anggaran Transfer ke Daerah;</li>
<li>Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran Transfer ke Daerah;</li>
<li>dokumen pelaksanaan anggaran Transfer ke Daerah;</li>
<li>tata cara pelaksanaan anggaran Transfer ke Daerah;</li>
<li>Rekening Kas Umum Daerah; dan</li>
<li>penatausahaan dan pertanggungjawaban anggaran Transfer ke Daerah.</li>
</ol>
<p align="center"><strong>BAB III<br />
JENIS ANGGARAN TRANSFER KE DAERAH</strong></p>
<p align="center"><strong>Pasal 3</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="4%">(1)</td>
<td width="96%">Anggaran Transfer ke Daerah meliputi Dana Perimbangan serta Dana Otonomi Khusus dan Penyesuaian.</td>
</tr>
<tr>
<td width="4%">(2)</td>
<td width="96%">Dana Perimbangan terdiri atas:</td>
</tr>
<tr>
<td width="4%"></td>
<td width="96%">
<ol type="a">
<li>Dana Bagi Hasil (DBH);</li>
<li>Dana Alokasi Umum (DAU); dan</li>
<li>Dana Alokasi Khusus (DAK).</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="4%">(3)</td>
<td width="96%">Dana Otonomi Khusus dan Penyesuaian terdiri atas:</td>
</tr>
<tr>
<td width="4%"></td>
<td width="96%">
<ol type="a">
<li>Dana Otonomi Khusus; dan</li>
<li>Dana Penyesuaian.</li>
</ol>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 4</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(1)</td>
<td valign="top" width="96%">DBH sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2) huruf a terdiri atas:</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%"></td>
<td valign="top" width="96%">
<ol type="a">
<li>DBH Pajak;</li>
<li>DBH Cukai Hasil Tembakau (CHT);</li>
<li>DBH Sumber Daya Alam (SDA).</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(2)</td>
<td valign="top" width="96%">DBH Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a terdiri atas:</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%"></td>
<td valign="top" width="96%">
<ol type="a">
<li>DBH Pajak Bumi dan Bangunan (PBB); dan</li>
<li>
<p align="justify">DBH Pajak Penghasilan Pasal 25 dan 29 Wajib Pajak Orang Pribadi Dalam Negeri dan DBH Pajak Penghasilan Pasal 21 (PPh WPOPDN dan PPh Pasal 21).</p>
</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(3)</td>
<td valign="top" width="96%">DBH SDA sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c terdiri atas:</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%"></td>
<td valign="top" width="96%">
<ol type="a">
<li>DBH SDA Kehutanan;</li>
<li>DBH SDA Pertambangan Umum;</li>
<li>DBH SDA Perikanan;</li>
<li>DBH SDA Pertambangan Minyak Bumi;</li>
<li>DBH SDA Pertambangan Gas Bumi; dan</li>
<li>DBH SDA Pertambangan Panas Bumi.</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(4)</td>
<td valign="top" width="96%">Dana Otonomi Khusus sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (3) huruf a terdiri atas:</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%"></td>
<td valign="top" width="96%">
<ol type="a">
<li>Dana Otonomi Khusus Provinsi Papua;</li>
<li>Dana Otonomi Khusus Provinsi Papua Barat;</li>
<li>Dana Otonomi Khusus Provinsi Aceh; dan</li>
<li>Dana Tambahan Infrastruktur dalam rangka Otonomi Khusus Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat.</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(5)</td>
<td valign="top" width="96%">
<p align="justify">Dana Penyesuaian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (3) huruf b merupakan jenis anggaran Transfer ke Daerah yang diatur dalam Undang-Undang mengenai APBN.</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>BAB IV<br />
PENETAPAN ALOKASI ANGGARAN TRANSFER KE DAERAH</strong></p>
<p align="center"><strong>Pasal 5</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(1)</td>
<td valign="top" width="96%">Alokasi anggaran Transfer ke Daerah ditetapkan berdasarkan Undang-Undang mengenai APBN.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(2)</td>
<td valign="top" width="96%">Alokasi anggaran Transfer ke Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk provinsi dan kabupaten/kota diatur dengan Peraturan Presiden atau Peraturan Menteri Keuangan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>BAB V<br />
PENGGUNA ANGGARAN/KUASA PENGGUNA<br />
ANGGARAN TRANSFER KE DAERAH</strong></p>
<p align="center"><strong>Pasal 6</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(1)</td>
<td valign="top" width="96%">Menteri Keuangan selaku Pengguna Anggaran Transfer ke Daerah mempunyai kewenangan atas pelaksanaan anggaran Transfer ke Daerah.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(2)</td>
<td valign="top" width="96%">Untuk melaksanakan kewenangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Menteri Keuangan menunjuk Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan sebagai Kuasa Pengguna Anggaran Transfer ke Daerah.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(3)</td>
<td valign="top" width="96%">Kewenangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%"></td>
<td valign="top" width="96%">
<ol type="a">
<li>menyusun DIPA Transfer ke Daerah sebagai dokumen pelaksanaan anggaran Transfer ke Daerah;</li>
<li>menerbitkan SKP-RTD atas beban DIPA Transfer ke Daerah;</li>
<li>menetapkan pejabat yang bertanggungjawab untuk menerbitkan SPP atas beban DIPA Transfer ke Daerah;</li>
<li>menetapkan pejabat yang bertanggungjawab untuk melakukan pengujian SPP dan menandatangani SPM atas beban DIPA Transfer ke Daerah; dan</li>
<li>menyusun laporan keuangan sebagai pertanggungjawaban anggaran Transfer ke Daerah.</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(4)</td>
<td valign="top" width="96%">Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan dapat melimpahkan kewenangan sebagai Kuasa Pengguna Anggaran Transfer ke Daerah kepada pejabat eselon II yang ditunjuk.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>BAB VI<br />
DOKUMEN PELAKSANAAN ANGGARAN TRANSFER KE DAERAH</strong></p>
<p align="center"><strong>Bagian Kesatu<br />
Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran</strong></p>
<p align="center"><strong>Pasal 7</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(1)</td>
<td valign="top" width="96%">Kuasa Pengguna Anggaran Transfer ke Daerah menyusun DIPA Transfer ke Daerah berdasarkan Peraturan Presiden dan/atau Peraturan Menteri Keuangan mengenai alokasi anggaran Transfer ke Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (2).</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(2)</td>
<td valign="top" width="96%">DIPA Transfer ke Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak memuat rincian alokasi Transfer ke Daerah per provinsi dan kabupaten/kota, kecuali DIPA DBH PBB Bagian Daerah dan Biaya Pemungutan PBB Bagian Daerah.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(3)</td>
<td valign="top" width="96%">DIPA Transfer ke Daerah ditandatangani oleh Kuasa Pengguna Anggaran Transfer ke Daerah.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(4)</td>
<td valign="top" width="96%">DIPA Transfer ke Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (3) disampaikan oleh Kuasa Pengguna Anggaran Transfer ke Daerah kepada Direktur Jenderal Perbendaharaan untuk mendapatkan pengesahan.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 8</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(1)</td>
<td valign="top" width="96%">Kuasa Pengguna Anggaran Transfer ke Daerah dapat menyusun perubahan atau revisi DIPA Transfer ke Daerah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(2)</td>
<td valign="top" width="96%">Perubahan atau revisi DIPA Transfer ke Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan oleh Kuasa Pengguna Anggaran Transfer ke Daerah kepada Direktur Jenderal Perbendaharaan untuk mendapatkan pengesahan.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(3)</td>
<td valign="top" width="96%">Perubahan atau revisi DIPA Transfer ke Daerah yang telah mendapatkan pengesahan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) merupakan dasar pelaksanaan anggaran Transfer ke Daerah.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(4)</td>
<td valign="top" width="96%">Perubahan atau revisi DIPA DBH PBB Bagian Daerah dan Biaya Pemungutan PBB Bagian Daerah dilakukan oleh Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan berdasarkan Surat Kuasa dari Kuasa Pengguna Anggaran Transfer ke Daerah.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(5)</td>
<td valign="top" width="96%">Surat Kuasa sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diterbitkan oleh Kuasa Pengguna Anggaran Transfer ke Daerah pada setiap awal tahun anggaran.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(6)</td>
<td valign="top" width="96%">Perubahan atau revisi DIPA DBH PBB Bagian Daerah dan Biaya Pemungutan PBB Bagian Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dilakukan dalam hal realisasi penyaluran DBH PBB Bagian Daerah dan Biaya Pemungutan PBB Bagian Daerah dalam 1 (satu) tahun anggaran lebih besar dari pagu DIPA DBH PBB Bagian Daerah dan Biaya Pemungutan PBB Bagian Daerah dan diberi tanggal akhir tahun anggaran berkenaan.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(7)</td>
<td valign="top" width="96%">Ketentuan lebih lanjut mengenai perubahan atau revisi DIPA DBH PBB Bagian Daerah dan Biaya Pemungutan PBB Bagian Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (6) diatur dengan Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Bagian Kedua<br />
Surat Keputusan Penetapan Rincian Transfer ke Daerah, Surat Permintaan Pembayaran, Surat Perintah Membayar dan Surat Perintah Pencairan Dana</strong></p>
<p align="center"><strong>Pasal 9</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(1)</td>
<td valign="top" width="96%">Kuasa Pengguna Anggaran Transfer ke Daerah menerbitkan SKP-RTD.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(2)</td>
<td valign="top" width="96%">SKP-RTD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) digunakan oleh Kuasa Pengguna Anggaran Transfer ke Daerah sebagai dasar penerbitan SPP.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(3)</td>
<td valign="top" width="96%">SPP sebagaimana dimaksud pada ayat (2) digunakan oleh Kuasa Pengguna Anggaran Transfer ke Daerah sebagai dasar penerbitan SPM.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(4)</td>
<td valign="top" width="96%">SPM sebagaimana dimaksud pada ayat (3) disampaikan oleh Kuasa Pengguna Anggaran Transfer ke Daerah kepada Kepala Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara sebagai dasar penerbitan SP2D.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(5)</td>
<td valign="top" width="96%">SPM sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dilampiri Daftar Penerima Dana, Surat Pernyataan Tanggung Jawab Belanja/Transfer (SPTBT) dan Arsip Data Komputer (ADK).</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Bagian Ketiga<br />
Konfirmasi Transfer</strong></p>
<p align="center"><strong>Pasal 10</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(1)</td>
<td valign="top" width="96%">Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan mengirimkan Lembar Konfirmasi atas penyaluran anggaran Transfer ke Daerah kepada Kepala Daerah setiap triwulan paling lambat 10 (sepuluh) hari kerja setelah triwulan berkenaan berakhir.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(2)</td>
<td valign="top" width="96%">Kepala Daerah menyampaikan kembali Lembar Konfirmasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan c.q. Direktur Dana Perimbangan paling lambat 5 (lima) hari kerja setelah Lembar Konfirmasi diterima dan ditandatangani oleh Kepala Daerah atau pejabat yang ditunjuk.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(3)</td>
<td valign="top" width="96%">Dalam hal Kepala Daerah tidak menyampaikan kembali Lembar Konfirmasi dalam waktu 25 (dua puluh lima) hari kerja setelah triwulan berkenaan berakhir, maka Daerah dianggap sudah menerima dana yang disalurkan ke Rekening Kas Umum Daerah.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(4)</td>
<td valign="top" width="96%">Lembar Konfirmasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan bukti penerimaan bagi daerah atas penyaluran anggaran Transfer ke Daerah.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(5)</td>
<td valign="top" width="96%">Format Lembar Konfirmasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam Lampiran I yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>BAB VII<br />
TATA CARA PELAKSANAAN ANGGARAN TRANSFER KE DAERAH</strong></p>
<p align="center"><strong>Bagian Kesatu<br />
Dana Bagi Hasil Pajak</strong></p>
<p align="center"><strong>Pasal 11</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(1)</td>
<td valign="top" width="96%">Penyaluran DBH PBB Bagian Pemerintah yang dibagikan secara merata kepada seluruh kabupaten/kota dilaksanakan dalam 3 (tiga) tahap, yaitu:</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%"></td>
<td valign="top" width="96%">
<ol type="a">
<li>tahap I pada bulan April;</li>
<li>tahap II pada bulan Agustus; dan</li>
<li>tahap III pada bulan November.</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(2)</td>
<td valign="top" width="96%">Penyaluran DBH PBB Bagian Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan dengan rincian sebagai berikut:</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%"></td>
<td valign="top" width="96%">
<ol type="a">
<li>penyaluran tahap I dan tahap II masing-masing sebesar 25% (dua puluh lima persen) dan 50% (lima puluh persen) dari pagu alokasi sementara; dan</li>
<li>penyaluran tahap III didasarkan pada selisih antara pagu alokasi definitif dengan jumlah dana yang telah disalurkan pada tahap I dan tahap II.</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(3)</td>
<td valign="top" width="96%">Dalam hal sampai dengan akhir bulan November, alokasi definitif belum ditetapkan, penyaluran tahap III sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b adalah sebesar sisa pagu alokasi sementara.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(4)</td>
<td valign="top" width="96%">Penyaluran DBH PBB Bagian Pemerintah yang dibagikan sebagai insentif kepada kabupaten/kota yang realisasi penerimaan PBB sektor pedesaan dan sektor perkotaan pada tahun anggaran sebelumnya mencapai/melampaui rencana penerimaan yang ditetapkan, dilaksanakan pada bulan November berdasarkan realisasi penerimaan PBB tahun anggaran berjalan.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 12</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(1)</td>
<td valign="top" width="96%">Penyaluran DBH PBB Bagian Daerah dan Biaya Pemungutan PBB Bagian Daerah dilaksanakan berdasarkan realisasi penerimaan PBB tahun anggaran berjalan.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(2)</td>
<td valign="top" width="96%">Penyaluran DBH PBB Bagian Daerah dan Biaya Pemungutan PBB Bagian Daerah dilaksanakan secara mingguan.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 13</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(1)</td>
<td valign="top" width="96%">Penyaluran DBH PBB Bagian Daerah dan Biaya Pemungutan PBB Bagian Daerah dilaksanakan oleh Kuasa Bendahara Umum Negara dengan menerbitkan SP2D atas beban Bank Operasional III.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(2)</td>
<td valign="top" width="96%">Penyaluran DBH PBB sektor Pertambangan Minyak Bumi dan Gas Bumi serta Panas Bumi Bagian Daerah dan Biaya Pemungutan PBB sektor Pertambangan Minyak Bumi dan Gas Bumi serta Panas Bumi Bagian Daerah dilaksanakan oleh Kuasa Bendahara Umum Negara dengan menerbitkan SP2D atas beban Bank Operasional I.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(3)</td>
<td valign="top" width="96%">Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pelaksanaan penyaluran DBH PBB Bagian Daerah dan Biaya Pemungutan PBB Bagian Daerah diatur dengan Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 14</strong></p>
<p>Pada setiap awal tahun anggaran, Kuasa Pengguna Anggaran Transfer ke Daerah menunjuk Pejabat di Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara dengan Surat Kuasa, yaitu:</p>
<ol type="a">
<li>Kepala Seksi Bank/Giro Pos atau Kepala Seksi Bendahara Umum sebagai Verifikator dan Penandatangan SPP, Surat Ketetapan Pembagian (SKP) dan Surat Permohonan Transfer DBH PBB Bagian Daerah dan Biaya Pemungutan PBB Bagian Daerah; dan</li>
<li>Kepala Subbagian Umum sebagai Verifikator dan Penandatangan SPM, SKP dan Surat Permohonan Transfer DBH PBB Bagian Daerah dan Biaya Pemungutan PBB Bagian Daerah.</li>
</ol>
<p align="center"><strong>Pasal 15</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(1)</td>
<td valign="top" width="96%">Kepala Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara menyampaikan SPM dan SP2D atas realisasi penyaluran DBH PBB Bagian Daerah dan Biaya Pemungutan PBB Bagian Daerah beserta rekapitulasi SPM dan SP2D dalam bentuk hardcopy dan ADK melalui sistem jaringan komunikasi data kepada Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan c.q. Direktur Dana Perimbangan dengan tembusan kepada Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(2)</td>
<td valign="top" width="96%">SPM sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memuat rincian realisasi penyaluran DBH PBB Bagian Daerah dan Biaya Pemungutan PBB Bagian Daerah per provinsi dan kabupaten/kota.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(3)</td>
<td valign="top" width="96%">Penyampaian SPM dan SP2D sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan secara triwulanan paling lambat 10 (sepuluh) hari kerja setelah triwulan berkenaan berakhir.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(4)</td>
<td valign="top" width="96%">Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan berdasarkan SPM dan SP2D sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menyampaikan Laporan Realisasi Pagu DIPA DBH PBB Bagian Daerah dan Biaya Pemungutan PBB Bagian Daerah kepada Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan c.q. Direktur Dana Perimbangan secara triwulanan paling lambat tanggal 15 bulan berikutnya setelah triwulan berkenaan berakhir.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(5)</td>
<td valign="top" width="96%">Laporan Realisasi Pagu DIPA DBH PBB Bagian Daerah dan Biaya Pemungutan PBB Bagian Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dirinci menurut sektor.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(6)</td>
<td valign="top" width="96%">Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penyampaian SPM dan SP2D, dan laporan realisasi pagu DIPA DBH PBB Bagian Daerah dan Biaya Pemungutan PBB Bagian Daerah diatur dengan Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 16</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(1)</td>
<td valign="top" width="96%">Penyaluran DBH PBB dan Biaya Pemungutan PBB sektor pertambangan Minyak Bumi dan Gas Bumi serta Panas Bumi dilaksanakan secara triwulanan, yaitu:</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%"></td>
<td valign="top" width="96%">
<ol type="a">
<li>triwulan I paling lambat pada bulan Maret;</li>
<li>triwulan II paling lambat pada bulan Juni;</li>
<li>triwulan III paling lambat pada bulan September; dan</li>
<li>triwulan IV paling lambat pada bulan Desember.</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(2)</td>
<td valign="top" width="96%">Penyaluran DBH PBB dan Biaya Pemungutan PBB sektor pertambangan Minyak Bumi dan Gas Bumi serta Panas Bumi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan dengan rincian sebagai berikut:</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%"></td>
<td valign="top" width="96%">
<ol type="a">
<li>penyaluran triwulan I, triwulan II, dan triwulan III masing-masing sebesar 25% (dua puluh lima persen) dari pagu alokasi sementara; dan</li>
<li>penyaluran triwulan IV didasarkan pada selisih antara pagu alokasi definitif dengan jumlah dana yang telah disalurkan pada triwulan I, triwulan II, dan triwulan III.</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(3)</td>
<td valign="top" width="96%">Dalam hal sampai dengan 5 (lima) hari kerja sebelum berakhirnya tahun anggaran berjalan belum ditetapkan alokasi definitif, penyaluran triwulan IV sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b adalah sebesar sisa pagu alokasi sementara.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(4)</td>
<td valign="top" width="96%">Dalam hal terjadi kelebihan penyaluran DBH PBB dan Biaya Pemungutan PBB sektor pertambangan Minyak Bumi dan Gas Bumi serta Panas Bumi, maka kelebihan penyaluran tersebut diperhitungkan terhadap penyaluran pada triwulan berikutnya dan/atau pada tahun anggaran berikutnya.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(5)</td>
<td valign="top" width="96%">Dalam hal perhitungan kelebihan penyaluran sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diperkirakan tidak dapat diperhitungkan dalam penyaluran DBH PBB dan Biaya Pemungutan PBB sektor pertambangan Minyak Bumi dan Gas Bumi serta Panas Bumi tahun anggaran berikutnya, maka kelebihan penyaluran tersebut dapat diperhitungkan terhadap penyaluran DBH Pajak lainnya.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(6)</td>
<td valign="top" width="96%">Dalam hal perhitungan kelebihan penyaluran sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diperkirakan tidak dapat diperhitungkan dalam penyaluran DBH PBB dan DBH Pajak lainnya tahun anggaran berikutnya, maka kelebihan penyaluran tersebut dapat diperhitungkan terhadap penyaluran DBH SDA.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(7)</td>
<td valign="top" width="96%">Dalam hal perhitungan kelebihan penyaluran sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diperkirakan tidak dapat diperhitungkan dalam penyaluran DBH PBB, DBH pajak lainnya dan DBH SDA tahun anggaran berikutnya, maka kelebihan penyaluran tersebut dapat diperhitungkan terhadap penyaluran DAU.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(8)</td>
<td valign="top" width="96%">Perhitungan kelebihan penyaluran sebagaimana dimaksud pada ayat (6) tidak dapat dilakukan untuk DBH SDA 0,5% (nol koma lima persen) Minyak Bumi dan Gas Bumi dan DBH SDA Kehutanan Dana Reboisasi.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 17</strong></p>
<p>Kelebihan penyaluran DBH PBB dan Biaya Pemungutan PBB sektor pertambangan Minyak Bumi dan Gas Bumi serta Panas Bumi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (4) meliputi:</p>
<ol type="a">
<li>kelebihan penyaluran karena realisasi penyaluran DBH PBB sektor pertambangan Minyak Bumi dan Gas Bumi serta Panas Bumi triwulan I sampai dengan triwulan III yang didasarkan atas alokasi sementara lebih besar daripada alokasi definitif; dan/atau</li>
<li>kelebihan penyaluran akibat kelebihan pembayaran PBB sektor pertambangan Minyak Bumi dan Gas Bumi serta Panas Bumi.</li>
</ol>
<p align="center"><strong>Pasal 18</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(1)</td>
<td valign="top" width="96%">Direktorat Jenderal Pajak, Direktorat Jenderal Perbendaharaan, dan Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan melakukan rekonsiliasi data realisasi penerimaan PBB serta penyaluran DBH PBB Bagian Daerah dan Biaya Pemungutan PBB Bagian Daerah.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(2)</td>
<td valign="top" width="96%">Rekonsiliasi data sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan setiap triwulan paling lambat pada minggu ketiga setelah triwulan berkenaan berakhir.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 19</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(1)</td>
<td valign="top" width="96%">Penyaluran DBH PPh WPOPDN dan DBH PPh Pasal 21 dilaksanakan secara triwulanan, yaitu:</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%"></td>
<td valign="top" width="96%">
<ol type="a">
<li>triwulan I pada bulan Maret;</li>
<li>triwulan II pada bulan Juni;</li>
<li>triwulan III pada bulan September; dan</li>
<li>triwulan IV pada bulan Desember.</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(2)</td>
<td valign="top" width="96%">Penyaluran DBH PPh WPOPDN dan DBH PPh Pasal 21 sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan dengan rincian sebagai berikut:</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%"></td>
<td valign="top" width="96%">
<ol type="a">
<li>penyaluran triwulan I, triwulan II, dan triwulan III masing-masing sebesar 20% (dua puluh persen) dari pagu alokasi sementara; dan</li>
<li>penyaluran triwulan IV didasarkan pada selisih antara pagu alokasi definitif dengan jumlah dana yang telah disalurkan pada triwulan I, triwulan II, dan triwulan III.</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(3)</td>
<td valign="top" width="96%">Dalam hal sampai dengan 5 (lima) hari kerja sebelum berakhirnya tahun anggaran berjalan belum ditetapkan alokasi definitif, penyaluran triwulan IV sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b adalah sebesar sisa pagu alokasi sementara.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(4)</td>
<td valign="top" width="96%">Dalam hal terjadi kelebihan penyaluran karena penyaluran DBH PPh WPOPDN dan DBH PPh Pasal 21 pada triwulan I sampai dengan triwulan III yang didasarkan atas alokasi sementara lebih besar daripada alokasi definitif, maka kelebihan penyaluran tersebut diperhitungkan terhadap penyaluran tahun anggaran berikutnya.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(5)</td>
<td valign="top" width="96%">Dalam hal perhitungan kelebihan penyaluran sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diperkirakan tidak dapat diperhitungkan dalam penyaluran DBH PPh WPOPDN dan/atau DBH PPh Pasal 21 tahun anggaran berikutnya, maka kelebihan penyaluran tersebut dapat diperhitungkan terhadap penyaluran DBH Pajak lainnya.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(6)</td>
<td valign="top" width="96%">Dalam hal perhitungan kelebihan penyaluran sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diperkirakan tidak dapat diperhitungkan dalam penyaluran DBH PPh dan DBH Pajak lainnya tahun anggaran berikutnya, maka kelebihan penyaluran tersebut dapat diperhitungkan terhadap penyaluran DBH SDA.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(7)</td>
<td valign="top" width="96%">Dalam hal perhitungan kelebihan penyaluran sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diperkirakan tidak dapat diperhitungkan dalam penyaluran DBH PPh, DBH Pajak lainnya dan DBH SDA tahun anggaran berikutnya, maka kelebihan penyaluran tersebut dapat diperhitungkan terhadap penyaluran DAU.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(8)</td>
<td valign="top" width="96%">Perhitungan kelebihan penyaluran sebagaimana dimaksud pada ayat (6) tidak dapat dilakukan untuk DBH SDA 0,5% (nol koma lima persen) Minyak Bumi dan Gas Bumi dan DBH SDA Kehutanan Dana Reboisasi.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Bagian Kedua<br />
Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau</strong></p>
<p align="center"><strong>Pasal 20</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(1)</td>
<td valign="top" width="96%">Penyaluran DBH CHT dilaksanakan secara triwulanan, yaitu:</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%"></td>
<td valign="top" width="96%">
<ol type="a">
<li>triwulan I pada bulan Maret;</li>
<li>triwulan II pada bulan Juni;</li>
<li>triwulan III pada bulan September; dan</li>
<li>triwulan IV pada bulan Desember.</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(2)</td>
<td valign="top" width="96%">Penyaluran DBH CHT sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan dengan rincian sebagai berikut:</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%"></td>
<td valign="top" width="96%">
<ol type="a">
<li>penyaluran triwulan I sebesar 20% (dua puluh persen) dari pagu alokasi sementara;</li>
<li>penyaluran triwulan II dan triwulan III masing-masing sebesar 30% (tiga puluh persen) dari pagu alokasi sementara; dan</li>
<li>penyaluran triwulan IV didasarkan pada selisih antara pagu alokasi definitif dengan jumlah dana yang telah disalurkan pada triwulan I, triwulan II, dan triwulan III.</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(3)</td>
<td valign="top" width="96%">Dalam hal sampai dengan 5 (lima) hari kerja sebelum berakhirnya tahun anggaran berjalan alokasi definitif belum ditetapkan, penyaluran triwulan IV sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c adalah sebesar sisa pagu alokasi sementara.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(4)</td>
<td valign="top" width="96%">Penyaluran DBH CHT triwulan IV dilakukan setelah Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan menerima laporan konsolidasi penggunaan dana atas pelaksanaan kegiatan DBH CHT semester I tahun anggaran berjalan dari Gubernur.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(5)</td>
<td valign="top" width="96%">Dalam hal laporan konsolidasi penggunaan dana atas pelaksanaan kegiatan DBH CHT sebagaimana dimaksud pada ayat (4) tidak menunjukkan adanya realisasi penggunaan dana, penyaluran DBH CHT triwulan IV ditunda sampai dengan disampaikannya laporan konsolidasi penggunaan dana atas pelaksanaan kegiatan DBH CHT yang menunjukkan adanya realisasi penggunaan dana.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(6)</td>
<td valign="top" width="96%">DBH CHT yang ditunda sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dapat disalurkan kembali setelah disampaikannya laporan konsolidasi penggunaan dana atas kegiatan DBH CHT sepanjang tidak melampaui tahun anggaran berjalan.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Bagian Ketiga<br />
Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam</strong></p>
<p align="center"><strong>Pasal 21</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(1)</td>
<td valign="top" width="96%">Penyaluran DBH SDA dilaksanakan berdasarkan realisasi penerimaan SDA tahun anggaran berjalan.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(2)</td>
<td valign="top" width="96%">Dalam hal DBH SDA yang dihitung berdasarkan realisasi penerimaan SDA melebihi pagu yang ditetapkan dalam APBN atau APBN Perubahan, maka dapat dilakukan penyaluran sesuai dengan realisasi penerimaan SDA setelah mendapat persetujuan Menteri Keuangan.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 22</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(1)</td>
<td valign="top" width="96%">Penyaluran DBH SDA dilaksanakan secara triwulanan, yaitu:</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%"></td>
<td valign="top" width="96%">
<ol type="a">
<li>triwulan I pada bulan Maret;</li>
<li>triwulan II pada bulan Juni;</li>
<li>triwulan III pada bulan September; dan</li>
<li>triwulan IV pada bulan Desember.</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(2)</td>
<td valign="top" width="96%">Penyaluran DBH SDA Minyak Bumi dan Gas Bumi serta Panas Bumi triwulan I dan triwulan II dilaksanakan masing-masing sebesar 20% (dua puluh persen) dari pagu perkiraan alokasi.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(3)</td>
<td valign="top" width="96%">Penyaluran DBH SDA Pertambangan Umum triwulan I dilaksanakan sebesar 20% (dua puluh persen) dari pagu perkiraan alokasi dan triwulan II dilaksanakan sebesar 15% (lima belas persen) dari pagu perkiraan alokasi.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(4)</td>
<td valign="top" width="96%">Penyaluran DBH SDA Kehutanan dan DBH SDA Perikanan triwulan I dan triwulan II dilaksanakan masing-masing sebesar 15% (lima belas persen) dari pagu perkiraan alokasi.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(5)</td>
<td valign="top" width="96%">Penyaluran DBH SDA triwulan III didasarkan pada selisih antara realisasi penerimaan SDA sampai dengan triwulan III dengan realisasi penyaluran DBH SDA triwulan I dan triwulan II.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(6)</td>
<td valign="top" width="96%">Penyaluran DBH SDA triwulan IV didasarkan pada selisih antara realisasi penerimaan SDA sampai dengan triwulan IV dengan realisasi penyaluran DBH SDA triwulan I, triwulan II, dan triwulan III.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(7)</td>
<td valign="top" width="96%">Penyaluran DBH SDA sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dan ayat (6) dilaksanakan berdasarkan perhitungan melalui mekanisme rekonsiliasi data antara pemerintah pusat dengan daerah penghasil, kecuali penyaluran DBH SDA Perikanan.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(8)</td>
<td valign="top" width="96%">Rekonsiliasi data antara pemerintah pusat dengan daerah penghasil sebagaimana dimaksud pada ayat (7) yang digunakan sebagai dasar penyaluran triwulan III dilaksanakan paling lambat minggu pertama bulan September dan yang digunakan sebagai dasar penyaluran triwulan IV dilaksanakan paling lambat akhir bulan November tahun anggaran berjalan.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 23</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(1)</td>
<td valign="top" width="96%">Dalam hal terdapat kelebihan penyaluran DBH SDA jenis tertentu, maka kelebihan penyaluran tersebut diperhitungkan terhadap penyaluran DBH SDA jenis yang sama pada triwulan berikutnya dan/atau tahun anggaran berikutnya.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(2)</td>
<td valign="top" width="96%">Perhitungan kelebihan penyaluran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan memperhitungkan penyaluran DBH SDA pada triwulan berikutnya sebesar jumlah kelebihan penyaluran dimaksud.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(3)</td>
<td valign="top" width="96%">Dalam hal perhitungan kelebihan penyaluran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diperkirakan tidak dapat diperhitungkan dalam penyaluran DBH SDA jenis yang sama tahun anggaran berikutnya, maka kelebihan penyaluran tersebut dapat diperhitungkan terhadap penyaluran DBH SDA jenis lainnya.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(4)</td>
<td valign="top" width="96%">Dalam hal perhitungan kelebihan penyaluran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diperkirakan tidak dapat diperhitungkan dalam penyaluran DBH SDA jenis lainnya tahun anggaran berikutnya, maka kelebihan penyaluran tersebut dapat diperhitungkan terhadap penyaluran DBH Pajak.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(5)</td>
<td valign="top" width="96%">Dalam hal perhitungan kelebihan penyaluran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diperkirakan tidak dapat diperhitungkan dalam penyaluran DBH SDA jenis lainnya dan DBH Pajak tahun anggaran berikutnya, maka kelebihan penyaluran tersebut dapat diperhitungkan terhadap penyaluran DAU.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(6)</td>
<td valign="top" width="96%">Perhitungan kelebihan penyaluran sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tidak dapat dilakukan untuk DBH SDA 0,5% (nol koma lima persen) Minyak Bumi dan Gas Bumi dan DBH SDA Kehutanan Dana Reboisasi.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 24</strong></p>
<p>Kelebihan penyaluran DBH SDA jenis tertentu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat (1) meliputi:</p>
<ol type="a">
<li>kelebihan penyaluran karena realisasi penyaluran DBH SDA triwulan I dan triwulan II yang didasarkan atas pagu perkiraan alokasi lebih besar dari pada realisasi penerimaan SDA; dan/atau</li>
<li>kelebihan penyaluran akibat kekurangan pembayaran PBB sektor Pertambangan Minyak Bumi dan Gas Bumi serta Panas Bumi.</li>
</ol>
<p align="center"><strong>Bagian Keempat<br />
Dana Alokasi Umum</strong></p>
<p align="center"><strong>Pasal 25</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(1)</td>
<td valign="top" width="96%">Penyaluran DAU dilaksanakan setiap bulan masing-masing sebesar 1/12 (satu per dua belas) dari besaran alokasi masing-masing daerah.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(2)</td>
<td valign="top" width="96%">Penyaluran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan pada awal hari kerja untuk bulan Januari dan 1 (satu) hari kerja sebelum awal hari kerja bulan berikutnya untuk bulan Februari sampai dengan bulan Desember.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Bagian Kelima<br />
Dana Alokasi Khusus</strong></p>
<p align="center"><strong>Pasal 26</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(1)</td>
<td valign="top" width="96%">Penyaluran DAK dilaksanakan secara bertahap, dengan rincian sebagai berikut:</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%"></td>
<td valign="top" width="96%">
<ol type="a">
<li>tahap I paling cepat pada bulan Februari, setelah Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan menerima Peraturan Daerah mengenai APBD tahun anggaran berjalan, Laporan Penyerapan Penggunaan DAK tahun anggaran sebelumnya, Laporan Realisasi Penyerapan DAK Tahap III tahun anggaran sebelumnya, dan Surat Pernyataan Penyediaan Dana Pendamping yang disampaikan oleh Kepala Daerah penerima DAK;</li>
<li>tahap II paling lambat 15 (lima belas) hari kerja, setelah Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan menerima Laporan Realisasi Penyerapan DAK tahap I tahun anggaran berjalan yang disampaikan oleh Kepala Daerah penerima DAK; dan</li>
<li>tahap III paling lambat 15 (lima belas) hari kerja, setelah Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan menerima Laporan Realisasi Penyerapan DAK tahap II tahun anggaran berjalan yang disampaikan oleh Kepala Daerah penerima DAK.</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(2)</td>
<td valign="top" width="96%">Penyaluran DAK sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilaksanakan dengan rincian sebagai berikut:</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%"></td>
<td valign="top" width="96%">
<ol type="a">
<li>penyaluran tahap I sebesar 30% (tiga puluh persen) dari pagu alokasi DAK;</li>
<li>penyaluran tahap II sebesar 45% (empat puluh lima persen) dari pagu alokasi DAK; dan</li>
<li>penyaluran tahap III sebesar 25% (dua puluh lima persen) dari pagu alokasi DAK.</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(3)</td>
<td valign="top" width="96%">Penyaluran secara bertahap sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak dapat dilaksanakan secara sekaligus dan tidak melampaui tahun anggaran berjalan.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(4)</td>
<td valign="top" width="96%">Laporan Realisasi Penyerapan DAK tahap I atau tahap II sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dan huruf c, disampaikan oleh Kepala Daerah penerima DAK kepada Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan setelah penggunaan DAK telah mencapai 90% (sembilan puluh persen) dari penerimaan DAK sampai dengan tahap sebelumnya.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(5)</td>
<td valign="top" width="96%">Laporan Realisasi Penyerapan DAK tahap I atau tahap II sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diterima oleh Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan paling lambat 7 (tujuh) hari kerja sebelum tahun anggaran berjalan berakhir.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(6)</td>
<td valign="top" width="96%">Format Laporan Realisasi Penyerapan DAK tahap I, tahap II, atau tahap III sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam Lampiran II yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(7)</td>
<td valign="top" width="96%">Format Surat Pernyataan Penyediaan Dana Pendamping sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a tercantum dalam Lampiran III yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 27</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(1)</td>
<td valign="top" width="96%">Laporan Realisasi Penyerapan DAK sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 ayat (1) dilengkapi dengan Rekapitulasi SP2D atas penggunaan DAK beserta softcopy data Rekapitulasi SP2D dalam format Excel.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(2)</td>
<td valign="top" width="96%">Format Rekapitulasi SP2D sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam Lampiran IV yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 28</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(1)</td>
<td valign="top" width="96%">Setelah tahun anggaran berakhir, daerah penerima DAK wajib menyampaikan laporan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 ayat (1) huruf a, yaitu:</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%"></td>
<td valign="top" width="96%">
<ol type="a">
<li>Laporan Realisasi Penyerapan DAK Tahap III; dan</li>
<li>Laporan Penyerapan Penggunaan DAK.</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(2)</td>
<td valign="top" width="96%">Laporan Realisasi Penyerapan DAK Tahap III sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a merupakan laporan realisasi atas penyerapan DAK Tahap III yang dilakukan sampai dengan tanggal 31 Desember tahun anggaran sebelumnya.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(3)</td>
<td valign="top" width="96%">Laporan Penyerapan Penggunaan DAK sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b merupakan laporan kumulatif penyerapan DAK yang telah dilakukan sampai dengan tanggal 31 Desember tahun anggaran sebelumnya.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(4)</td>
<td valign="top" width="96%">Format Laporan Penyerapan Penggunaan DAK sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tercantum dalam Lampiran V yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 29</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(1)</td>
<td valign="top" width="96%">Daerah penerima DAK dapat melakukan optimalisasi penggunaan DAK dengan merencanakan dan menganggarkan kembali kegiatan DAK dalam APBD Perubahan tahun anggaran berjalan apabila akumulasi nilai kontrak pada suatu bidang DAK lebih kecil dari pagu bidang DAK tersebut.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(2)</td>
<td valign="top" width="96%">Optimalisasi penggunaan DAK sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan untuk kegiatan-kegiatan pada bidang DAK yang sama dan sesuai dengan petunjuk teknis yang ditetapkan.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(3)</td>
<td valign="top" width="96%">Dalam hal terdapat sisa DAK pada kas daerah saat tahun anggaran berakhir, daerah dapat menggunakan sisa DAK tersebut untuk mendanai kegiatan DAK pada bidang yang sama tahun anggaran berikutnya sesuai dengan petunjuk teknis tahun anggaran sebelumnya dan/atau tahun anggaran berjalan.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(4)</td>
<td valign="top" width="96%">Sisa DAK sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tidak dapat digunakan sebagai dana pendamping DAK.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(5)</td>
<td valign="top" width="96%">Kepala Daerah menyampaikan Laporan Penggunaan Sisa DAK sebagaimana dimaksud pada ayat (3) kepada Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan c.q. Direktur Dana Perimbangan setelah kegiatan yang didanai dari sisa DAK selesai.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(6)</td>
<td valign="top" width="96%">Format Laporan Penggunaan Sisa DAK sebagaimana dimaksud pada ayat (5) tercantum dalam Lampiran VI yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Bagian Keenam<br />
Dana Otonomi Khusus dan Penyesuaian</strong></p>
<p align="center"><strong>Pasal 30</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(1)</td>
<td valign="top" width="96%">Penyaluran Dana Otonomi Khusus Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat, Dana Otonomi Khusus Provinsi Aceh serta Dana Tambahan Infrastruktur dalam rangka Otonomi Khusus Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat dilaksanakan secara bertahap, yaitu:</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%"></td>
<td valign="top" width="96%">
<ol type="a">
<li>tahap I pada bulan Maret;</li>
<li>tahap II pada bulan Juli; dan</li>
<li>tahap III pada bulan Oktober.</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(2)</td>
<td valign="top" width="96%">Penyaluran dana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan dengan rincian sebagai berikut:</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%"></td>
<td valign="top" width="96%">
<ol type="a">
<li>penyaluran tahap I sebesar 30% (tiga puluh persen) dari pagu alokasi;</li>
<li>penyaluran tahap II sebesar 45% (empat puluh lima persen) dari pagu alokasi; dan</li>
<li>penyaluran tahap III sebesar 25% (dua puluh lima persen) dari pagu alokasi.</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(3)</td>
<td valign="top" width="96%">Penyaluran dana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan setelah mendapatkan pertimbangan dari Menteri Dalam Negeri.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(4)</td>
<td valign="top" width="96%">Penyaluran Dana Penyesuaian dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Bagian Ketujuh<br />
Pemotongan, Penundaan dan/atau Pembayaran Kembali Anggaran Transfer ke Daerah</strong></p>
<p align="center"><strong>Pasal 31</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(1)</td>
<td valign="top" width="96%">Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan selaku Kuasa Pengguna Anggaran dapat melakukan pemotongan, penundaan dan/atau pembayaran kembali penyaluran anggaran Transfer ke Daerah untuk suatu daerah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(2)</td>
<td valign="top" width="96%">Pemotongan, penundaan dan/atau pembayaran kembali sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan setelah adanya surat permintaan dari instansi/unit yang mempunyai kewenangan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(3)</td>
<td valign="top" width="96%">Surat Permintaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) disampaikan oleh pimpinan instansi/unit yang mempunyai kewenangan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan kepada Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 32</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(1)</td>
<td valign="top" width="96%">Pemotongan dalam penyaluran anggaran Transfer ke Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 ayat (1) dapat dilakukan karena adanya lebih salur dan/atau kewajiban finansial daerah yang tidak dipenuhi, antara lain berupa pembayaran pinjaman daerah.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(2)</td>
<td valign="top" width="96%">Penundaan dalam penyaluran anggaran Transfer ke Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 ayat (1) dapat dilakukan karena adanya kewajiban non finansial daerah yang tidak dipenuhi, antara lain berupa penyampaian Peraturan Daerah mengenai APBD.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(3)</td>
<td valign="top" width="96%">Pembayaran kembali penyaluran anggaran Transfer ke Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 ayat (1) dapat dilakukan setelah dicabutnya sanksi penundaan atau dipenuhinya kewajiban daerah dalam tahun anggaran berjalan.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(4)</td>
<td valign="top" width="96%">Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan menetapkan besarnya pemotongan dan/atau penundaan anggaran Transfer ke Daerah yang berasal dari permintaan pimpinan instansi/unit yang berwenang antara lain dengan mempertimbangkan besarnya permintaan pemotongan, alokasi dan lebih salur anggaran Transfer ke Daerah, serta kapasitas fiskal daerah yang bersangkutan.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(5)</td>
<td valign="top" width="96%">Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemotongan, penundaan, dan pembayaran kembali penyaluran anggaran Transfer ke Daerah diatur dengan Peraturan Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Bagian Kedelapan<br />
Penyaluran Akhir Tahun Anggaran</strong></p>
<p align="center"><strong>Pasal 33</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(1)</td>
<td valign="top" width="96%">Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan dapat menetapkan langkah-langkah akhir tahun dalam rangka penyaluran anggaran Transfer ke Daerah pada akhir tahun anggaran.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(2)</td>
<td valign="top" width="96%">Langkah-langkah akhir tahun sebagaimana dimaksud pada ayat (1) antara lain menginformasikan mengenai tata cara penyampaian dan penerimaan laporan realisasi penggunaan dana dari daerah dan batas akhir penyaluran anggaran Transfer ke Daerah.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(3)</td>
<td valign="top" width="96%">Langkah-langkah akhir tahun sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan paling lambat akhir bulan November tahun anggaran berjalan.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>BAB VIII<br />
REKENING KAS UMUM DAERAH</strong></p>
<p align="center"><strong>Pasal 34</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(1)</td>
<td valign="top" width="96%">Dalam rangka penyaluran anggaran Transfer ke Daerah, Bendahara Umum Daerah/Kuasa Bendahara Umum Daerah membuka Rekening Kas Umum Daerah pada Bank Sentral atau Bank Umum untuk menampung penyaluran anggaran Transfer ke Daerah dengan nama depan Rekening Kas Umum Daerah yang diikuti dengan nama daerah yang bersangkutan.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(2)</td>
<td valign="top" width="96%">Setelah Bendahara Umum Daerah/Kuasa Bendahara Umum Daerah membuka Rekening Kas Umum Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Kepala Daerah wajib menyampaikan nomor rekening, nama rekening dan nama bank kepada Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan yang dilampiri dengan:</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%"></td>
<td valign="top" width="96%">
<ol type="a">
<li>asli rekening koran dari Rekening Kas Umum Daerah; dan</li>
<li>salinan Keputusan Kepala Daerah mengenai penunjukan bank tempat menampung Rekening Kas Umum Daerah.</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(3)</td>
<td valign="top" width="96%">Nomor rekening, nama rekening, dan nama bank sebagaimana dimaksud pada ayat (2) disampaikan oleh Kepala Daerah kepada Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan hanya satu kali sepanjang tidak ada perubahan.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(4)</td>
<td valign="top" width="96%">Dalam hal terdapat perubahan nomor rekening dan/atau nama bank sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Kepala Daerah menyampaikan perubahan tersebut dengan dilampiri dokumen sebagaimana dimaksud pada ayat (2).</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(5)</td>
<td valign="top" width="96%">Perubahan nomor rekening dan/atau nama bank sebagaimana dimaksud pada ayat (4) hanya dapat dilakukan oleh Kepala Daerah definitif.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>BAB IX<br />
PENATAUSAHAAN DAN PERTANGGUNGJAWABAN TRANSFER KE DAERAH</strong></p>
<p align="center"><strong>Pasal 35</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(1)</td>
<td valign="top" width="96%">Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan melaksanakan penatausahaan, akuntansi, dan pelaporan keuangan atas pelaksanaan anggaran Transfer ke Daerah.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(2)</td>
<td valign="top" width="96%">Pelaporan keuangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan pertanggungjawaban atas pelaksanaan anggaran Transfer ke Daerah.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(3)</td>
<td valign="top" width="96%">Laporan keuangan atas pelaksanaan anggaran Transfer ke Daerah terdiri atas:</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%"></td>
<td valign="top" width="96%">
<ol type="a">
<li>Laporan Realisasi Anggaran;</li>
<li>Neraca; dan</li>
<li>Catatan atas Laporan Keuangan.</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(4)</td>
<td valign="top" width="96%">Penatausahaan, akuntansi, dan pelaporan keuangan atas pelaksanaan anggaran Transfer ke Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(5)</td>
<td valign="top" width="96%">Untuk melaksanakan penatausahaan, akuntansi, dan pelaporan keuangan atas pelaksanaan anggaran Transfer ke Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan dapat menunjuk pejabat eselon II yang sesuai dengan bidang tugasnya.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 36</strong></p>
<p>Penerimaan PBB pada akhir tahun anggaran yang dibukukan sebagai penerimaan tahun anggaran berjalan dan belum dibagihasilkan pada tahun anggaran berjalan, akan disalurkan kepada yang berhak pada awal tahun anggaran berikutnya.</p>
<p align="center"><strong>Pasal 37</strong></p>
<p>Ketentuan lebih lanjut dalam rangka pelaksanaan Peraturan Menteri ini diatur oleh instansi terkait yang berwenang, baik secara bersama-sama maupun sendiri-sendiri sesuai dengan bidang tugasnya.</p>
<p align="center"><strong>BAB X<br />
KETENTUAN PENUTUP</strong></p>
<p align="center"><strong>Pasal 38</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="4%" height="40">(1)</td>
<td valign="top" width="96%" height="40">Pada saat Peraturan Menteri ini mulai berlaku, Peraturan Menteri Keuangan Nomor 126/PMK.07/2010 tentang Pelaksanaan dan Pertanggungjawaban Anggaran Transfer ke Daerah, dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%" height="21">(2)</td>
<td valign="top" width="96%" height="21">Ketentuan dalam Peraturan Menteri Keuangan sebagai berikut:</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%" height="82"></td>
<td valign="top" width="96%" height="82">
<ol type="a">
<li>Peraturan Menteri Keuangan Nomor 167/PMK.03/2007 tentang Penunjukan Tempat dan Tata Cara Pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan; dan</li>
<li>Peraturan Menteri Keuangan Nomor 127/PMK.05/2009 tentang Pelimpahan Wewenang Penerbitan Surat Kuasa Umum Pajak Bumi dan Bangunan dan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan kepada Kepala Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara,<br />
sepanjang tidak bertentangan dengan Peraturan Menteri ini dinyatakan tetap berlaku.</li>
</ol>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 39</strong></p>
<p>Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.</p>
<p>Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Menteri ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia.</p>
<p>Ditetapkan di Jakarta<br />
pada tanggal 9 Januari 2012</p>
<p>MENTERI KEUANGAN,<br />
ttd.<br />
AGUS D.W. MARTOWARDOJO</p>
<p>Diundangkan di Jakarta<br />
pada tanggal 9 Januari 2012</p>
<p>MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA,<br />
ttd.<br />
AMIR SYAMSUDIN</p>
<p align="center"><strong>BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2012 NOMOR 41</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.mytaxlink.net/06pmk-072012-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 06/PMK.07/2012</title>
		<link>http://www.mytaxlink.net/06pmk-072012/</link>
		<comments>http://www.mytaxlink.net/06pmk-072012/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Jan 2012 09:17:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lain-lain]]></category>
		<category><![CDATA[PELAKSANAAN DAN PERTANGGUNGJAWABAN ANGGARAN TRANSFER KE DAERAH]]></category>
		<category><![CDATA[PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 06/PMK.07/2012]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.mytaxlink.net/?p=486</guid>
		<description><![CDATA[<p align="center">PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 06/PMK.07/2012 Tanggal 9 Januari 2012</p> <p align="center">PELAKSANAAN DAN PERTANGGUNGJAWABAN ANGGARAN TRANSFER KE DAERAH</p> <p align="center">MENTERI KEUANGAN,</p> <p>Menimbang :</p> bahwa berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 126/PMK.07/2010 tentang Pelaksanaan dan Pertanggungjawaban Anggaran Transfer ke Daerah, telah diatur tata cara pelaksanaan penyaluran dan pertanggungjawaban anggaran Transfer ke Daerah; bahwa untuk meningkatkan efisiensi pelaksanaan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>PERATURAN<br />
MENTERI KEUANGAN<br />
NOMOR 06/PMK.07/2012<br />
Tanggal 9 Januari 2012</strong></p>
<p align="center"><strong>PELAKSANAAN DAN PERTANGGUNGJAWABAN ANGGARAN TRANSFER KE DAERAH</strong></p>
<p align="center"><strong>MENTERI KEUANGAN,</strong></p>
<p>Menimbang :</p>
<ol type="a">
<li>bahwa berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 126/PMK.07/2010 tentang Pelaksanaan dan Pertanggungjawaban Anggaran Transfer ke Daerah, telah diatur tata cara pelaksanaan penyaluran dan pertanggungjawaban anggaran Transfer ke Daerah;</li>
<li>bahwa untuk meningkatkan efisiensi pelaksanaan penyaluran dan pertanggungjawaban anggaran Transfer ke Daerah, perlu mengatur kembali tata cara pelaksanaan penyaluran dan pertanggungjawaban Anggaran Transfer ke Daerah;</li>
<li>bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b, perlu menetapkan Peraturan Menteri Keuangan tentang Pelaksanaan dan Pertanggungjawaban Anggaran Transfer ke Daerah;</li>
</ol>
<p>Mengingat :</p>
<ol>
<li>Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1995 Nomor 76, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3613) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2007 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 105, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4755);</li>
<li>Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Bagi Provinsi Papua (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 Nomor 135, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4151) sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 35 Tahun 2008 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 112, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4884);</li>
<li>Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438);</li>
<li>Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 62, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4633);</li>
<li>Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 130, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5049);</li>
<li>Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 137, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4575);</li>
<li>Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 2005 tentang Sistem Informasi Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 138, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4576) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2010 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 110, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5155);</li>
<li>Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Uang Negara/Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 83, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4738);</li>
<li>Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 123, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5165);</li>
<li>Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 2011 tentang Pinjaman Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5219);</li>
<li>Keputusan Presiden Nomor 56/P Tahun 2010;</li>
<li>Keputusan Menteri Keuangan Nomor 347/KMK.01/2008 tentang Pelimpahan Wewenang Kepada Pejabat Eselon I di Lingkungan Departemen Keuangan Untuk dan Atas Nama Menteri Keuangan Menandatangani Surat dan atau Keputusan Menteri Keuangan sebagaimana telah diubah dengan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 218/KMK.01/2010;</li>
</ol>
<p align="center"><strong>MEMUTUSKAN:</strong></p>
<p>Menetapkan :</p>
<p>PERATURAN MENTERI KEUANGAN TENTANG PELAKSANAAN DAN PERTANGGUNGJAWABAN ANGGARAN TRANSFER KE DAERAH.</p>
<p align="center"><strong>BAB I<br />
KETENTUAN UMUM</strong></p>
<p align="center"><strong>Pasal 1</strong></p>
<p>Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan:</p>
<ol>
<li>Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang selanjutnya disingkat APBN adalah rencana keuangan tahunan pemerintahan negara yang disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat.</li>
<li>Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah yang selanjutnya disingkat APBD adalah rencana keuangan tahunan pemerintahan daerah yang disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.</li>
<li>Pengguna Anggaran adalah pejabat pemegang kewenangan penggunaan anggaran kementerian negara/lembaga/satuan kerja perangkat daerah.</li>
<li>Transfer ke Daerah adalah bagian dari belanja negara dalam rangka mendanai pelaksanaan desentralisasi fiskal berupa dana perimbangan, dana otonomi khusus, dan dana penyesuaian.</li>
<li>Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran Transfer ke Daerah adalah Menteri Keuangan atau kuasanya yang bertanggung jawab atas pengelolaan anggaran Transfer ke Daerah.</li>
<li>Rekening Kas Umum Negara adalah rekening tempat penyimpanan uang negara yang ditentukan oleh Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara untuk menampung seluruh penerimaan negara dan membayar seluruh pengeluaran negara pada bank sentral.</li>
<li>Rekening Kas Umum Daerah adalah rekening tempat penyimpanan uang daerah yang ditentukan oleh gubernur/bupati/walikota untuk menampung seluruh penerimaan daerah dan membayar seluruh pengeluaran daerah pada bank yang ditetapkan.</li>
<li>Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran yang selanjutnya disingkat DIPA adalah dokumen pelaksanaan anggaran yang dibuat oleh Menteri/Pimpinan Lembaga serta disahkan oleh Direktur Jenderal Perbendaharaan atas nama Menteri Keuangan dan berfungsi sebagai dasar untuk melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran negara dan pencairan dana atas beban APBN serta dokumen pendukung kegiatan akuntansi pemerintah.</li>
<li>Surat Keputusan Penetapan Rincian Transfer ke Daerah yang selanjutnya disingkat SKP-RTD adalah surat keputusan yang mengakibatkan pengeluaran atas beban anggaran yang memuat rincian jumlah transfer per daerah untuk setiap jenis transfer dalam periode tertentu.</li>
<li>Surat Permintaan Pembayaran yang selanjutnya disingkat SPP adalah dokumen yang diterbitkan oleh pejabat yang bertanggung jawab atas pelaksanaan transfer dan disampaikan kepada pejabat penguji SPP/penandatangan Surat Perintah Membayar.</li>
<li>Surat Perintah Membayar yang selanjutnya disingkat SPM adalah dokumen yang diterbitkan oleh Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran atau pejabat lain yang ditunjuk untuk mencairkan alokasi dana yang bersumber dari DIPA atau dokumen lain yang dipersamakan.</li>
<li>Surat Perintah Pencairan Dana yang selanjutnya disingkat SP2D adalah surat perintah yang diterbitkan oleh Kuasa Bendahara Umum Negara untuk pelaksanaan pengeluaran atas beban APBN berdasarkan SPM.</li>
<li>Sisa Dana Alokasi Khusus yang selanjutnya disebut Sisa DAK adalah Dana Alokasi Khusus yang telah disalurkan oleh Pemerintah kepada Pemerintah Daerah namun tidak habis digunakan untuk mendanai kegiatan dan/atau tidak terealisasinya kegiatan yang didanai dari Dana Alokasi Khusus.</li>
</ol>
<p align="center"><strong>BAB II<br />
RUANG LINGKUP</strong></p>
<p align="center"><strong>Pasal 2</strong></p>
<p>Ruang lingkup pelaksanaan dan pertanggungjawaban anggaran Transfer ke Daerah meliputi:</p>
<ol type="a">
<li>jenis anggaran Transfer ke Daerah;</li>
<li>penetapan alokasi anggaran Transfer ke Daerah;</li>
<li>Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran Transfer ke Daerah;</li>
<li>dokumen pelaksanaan anggaran Transfer ke Daerah;</li>
<li>tata cara pelaksanaan anggaran Transfer ke Daerah;</li>
<li>Rekening Kas Umum Daerah; dan</li>
<li>penatausahaan dan pertanggungjawaban anggaran Transfer ke Daerah.</li>
</ol>
<p align="center"><strong>BAB III<br />
JENIS ANGGARAN TRANSFER KE DAERAH</strong></p>
<p align="center"><strong>Pasal 3</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="4%">(1)</td>
<td width="96%">Anggaran Transfer ke Daerah meliputi Dana Perimbangan serta Dana Otonomi Khusus dan Penyesuaian.</td>
</tr>
<tr>
<td width="4%">(2)</td>
<td width="96%">Dana Perimbangan terdiri atas:</td>
</tr>
<tr>
<td width="4%"></td>
<td width="96%">
<ol type="a">
<li>Dana Bagi Hasil (DBH);</li>
<li>Dana Alokasi Umum (DAU); dan</li>
<li>Dana Alokasi Khusus (DAK).</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="4%">(3)</td>
<td width="96%">Dana Otonomi Khusus dan Penyesuaian terdiri atas:</td>
</tr>
<tr>
<td width="4%"></td>
<td width="96%">
<ol type="a">
<li>Dana Otonomi Khusus; dan</li>
<li>Dana Penyesuaian.</li>
</ol>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 4</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(1)</td>
<td valign="top" width="96%">DBH sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2) huruf a terdiri atas:</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%"></td>
<td valign="top" width="96%">
<ol type="a">
<li>DBH Pajak;</li>
<li>DBH Cukai Hasil Tembakau (CHT);</li>
<li>DBH Sumber Daya Alam (SDA).</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(2)</td>
<td valign="top" width="96%">DBH Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a terdiri atas:</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%"></td>
<td valign="top" width="96%">
<ol type="a">
<li>DBH Pajak Bumi dan Bangunan (PBB); dan</li>
<li>
<p align="justify">DBH Pajak Penghasilan Pasal 25 dan 29 Wajib Pajak Orang Pribadi Dalam Negeri dan DBH Pajak Penghasilan Pasal 21 (PPh WPOPDN dan PPh Pasal 21).</p>
</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(3)</td>
<td valign="top" width="96%">DBH SDA sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c terdiri atas:</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%"></td>
<td valign="top" width="96%">
<ol type="a">
<li>DBH SDA Kehutanan;</li>
<li>DBH SDA Pertambangan Umum;</li>
<li>DBH SDA Perikanan;</li>
<li>DBH SDA Pertambangan Minyak Bumi;</li>
<li>DBH SDA Pertambangan Gas Bumi; dan</li>
<li>DBH SDA Pertambangan Panas Bumi.</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(4)</td>
<td valign="top" width="96%">Dana Otonomi Khusus sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (3) huruf a terdiri atas:</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%"></td>
<td valign="top" width="96%">
<ol type="a">
<li>Dana Otonomi Khusus Provinsi Papua;</li>
<li>Dana Otonomi Khusus Provinsi Papua Barat;</li>
<li>Dana Otonomi Khusus Provinsi Aceh; dan</li>
<li>Dana Tambahan Infrastruktur dalam rangka Otonomi Khusus Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat.</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(5)</td>
<td valign="top" width="96%">
<p align="justify">Dana Penyesuaian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (3) huruf b merupakan jenis anggaran Transfer ke Daerah yang diatur dalam Undang-Undang mengenai APBN.</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>BAB IV<br />
PENETAPAN ALOKASI ANGGARAN TRANSFER KE DAERAH</strong></p>
<p align="center"><strong>Pasal 5</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(1)</td>
<td valign="top" width="96%">Alokasi anggaran Transfer ke Daerah ditetapkan berdasarkan Undang-Undang mengenai APBN.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(2)</td>
<td valign="top" width="96%">Alokasi anggaran Transfer ke Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk provinsi dan kabupaten/kota diatur dengan Peraturan Presiden atau Peraturan Menteri Keuangan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>BAB V<br />
PENGGUNA ANGGARAN/KUASA PENGGUNA<br />
ANGGARAN TRANSFER KE DAERAH</strong></p>
<p align="center"><strong>Pasal 6</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(1)</td>
<td valign="top" width="96%">Menteri Keuangan selaku Pengguna Anggaran Transfer ke Daerah mempunyai kewenangan atas pelaksanaan anggaran Transfer ke Daerah.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(2)</td>
<td valign="top" width="96%">Untuk melaksanakan kewenangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Menteri Keuangan menunjuk Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan sebagai Kuasa Pengguna Anggaran Transfer ke Daerah.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(3)</td>
<td valign="top" width="96%">Kewenangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%"></td>
<td valign="top" width="96%">
<ol type="a">
<li>menyusun DIPA Transfer ke Daerah sebagai dokumen pelaksanaan anggaran Transfer ke Daerah;</li>
<li>menerbitkan SKP-RTD atas beban DIPA Transfer ke Daerah;</li>
<li>menetapkan pejabat yang bertanggungjawab untuk menerbitkan SPP atas beban DIPA Transfer ke Daerah;</li>
<li>menetapkan pejabat yang bertanggungjawab untuk melakukan pengujian SPP dan menandatangani SPM atas beban DIPA Transfer ke Daerah; dan</li>
<li>menyusun laporan keuangan sebagai pertanggungjawaban anggaran Transfer ke Daerah.</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(4)</td>
<td valign="top" width="96%">Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan dapat melimpahkan kewenangan sebagai Kuasa Pengguna Anggaran Transfer ke Daerah kepada pejabat eselon II yang ditunjuk.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>BAB VI<br />
DOKUMEN PELAKSANAAN ANGGARAN TRANSFER KE DAERAH</strong></p>
<p align="center"><strong>Bagian Kesatu<br />
Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran</strong></p>
<p align="center"><strong>Pasal 7</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(1)</td>
<td valign="top" width="96%">Kuasa Pengguna Anggaran Transfer ke Daerah menyusun DIPA Transfer ke Daerah berdasarkan Peraturan Presiden dan/atau Peraturan Menteri Keuangan mengenai alokasi anggaran Transfer ke Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (2).</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(2)</td>
<td valign="top" width="96%">DIPA Transfer ke Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak memuat rincian alokasi Transfer ke Daerah per provinsi dan kabupaten/kota, kecuali DIPA DBH PBB Bagian Daerah dan Biaya Pemungutan PBB Bagian Daerah.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(3)</td>
<td valign="top" width="96%">DIPA Transfer ke Daerah ditandatangani oleh Kuasa Pengguna Anggaran Transfer ke Daerah.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(4)</td>
<td valign="top" width="96%">DIPA Transfer ke Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (3) disampaikan oleh Kuasa Pengguna Anggaran Transfer ke Daerah kepada Direktur Jenderal Perbendaharaan untuk mendapatkan pengesahan.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 8</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(1)</td>
<td valign="top" width="96%">Kuasa Pengguna Anggaran Transfer ke Daerah dapat menyusun perubahan atau revisi DIPA Transfer ke Daerah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(2)</td>
<td valign="top" width="96%">Perubahan atau revisi DIPA Transfer ke Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan oleh Kuasa Pengguna Anggaran Transfer ke Daerah kepada Direktur Jenderal Perbendaharaan untuk mendapatkan pengesahan.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(3)</td>
<td valign="top" width="96%">Perubahan atau revisi DIPA Transfer ke Daerah yang telah mendapatkan pengesahan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) merupakan dasar pelaksanaan anggaran Transfer ke Daerah.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(4)</td>
<td valign="top" width="96%">Perubahan atau revisi DIPA DBH PBB Bagian Daerah dan Biaya Pemungutan PBB Bagian Daerah dilakukan oleh Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan berdasarkan Surat Kuasa dari Kuasa Pengguna Anggaran Transfer ke Daerah.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(5)</td>
<td valign="top" width="96%">Surat Kuasa sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diterbitkan oleh Kuasa Pengguna Anggaran Transfer ke Daerah pada setiap awal tahun anggaran.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(6)</td>
<td valign="top" width="96%">Perubahan atau revisi DIPA DBH PBB Bagian Daerah dan Biaya Pemungutan PBB Bagian Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dilakukan dalam hal realisasi penyaluran DBH PBB Bagian Daerah dan Biaya Pemungutan PBB Bagian Daerah dalam 1 (satu) tahun anggaran lebih besar dari pagu DIPA DBH PBB Bagian Daerah dan Biaya Pemungutan PBB Bagian Daerah dan diberi tanggal akhir tahun anggaran berkenaan.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(7)</td>
<td valign="top" width="96%">Ketentuan lebih lanjut mengenai perubahan atau revisi DIPA DBH PBB Bagian Daerah dan Biaya Pemungutan PBB Bagian Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (6) diatur dengan Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Bagian Kedua<br />
Surat Keputusan Penetapan Rincian Transfer ke Daerah, Surat Permintaan Pembayaran, Surat Perintah Membayar dan Surat Perintah Pencairan Dana</strong></p>
<p align="center"><strong>Pasal 9</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(1)</td>
<td valign="top" width="96%">Kuasa Pengguna Anggaran Transfer ke Daerah menerbitkan SKP-RTD.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(2)</td>
<td valign="top" width="96%">SKP-RTD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) digunakan oleh Kuasa Pengguna Anggaran Transfer ke Daerah sebagai dasar penerbitan SPP.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(3)</td>
<td valign="top" width="96%">SPP sebagaimana dimaksud pada ayat (2) digunakan oleh Kuasa Pengguna Anggaran Transfer ke Daerah sebagai dasar penerbitan SPM.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(4)</td>
<td valign="top" width="96%">SPM sebagaimana dimaksud pada ayat (3) disampaikan oleh Kuasa Pengguna Anggaran Transfer ke Daerah kepada Kepala Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara sebagai dasar penerbitan SP2D.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(5)</td>
<td valign="top" width="96%">SPM sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dilampiri Daftar Penerima Dana, Surat Pernyataan Tanggung Jawab Belanja/Transfer (SPTBT) dan Arsip Data Komputer (ADK).</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Bagian Ketiga<br />
Konfirmasi Transfer</strong></p>
<p align="center"><strong>Pasal 10</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(1)</td>
<td valign="top" width="96%">Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan mengirimkan Lembar Konfirmasi atas penyaluran anggaran Transfer ke Daerah kepada Kepala Daerah setiap triwulan paling lambat 10 (sepuluh) hari kerja setelah triwulan berkenaan berakhir.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(2)</td>
<td valign="top" width="96%">Kepala Daerah menyampaikan kembali Lembar Konfirmasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan c.q. Direktur Dana Perimbangan paling lambat 5 (lima) hari kerja setelah Lembar Konfirmasi diterima dan ditandatangani oleh Kepala Daerah atau pejabat yang ditunjuk.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(3)</td>
<td valign="top" width="96%">Dalam hal Kepala Daerah tidak menyampaikan kembali Lembar Konfirmasi dalam waktu 25 (dua puluh lima) hari kerja setelah triwulan berkenaan berakhir, maka Daerah dianggap sudah menerima dana yang disalurkan ke Rekening Kas Umum Daerah.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(4)</td>
<td valign="top" width="96%">Lembar Konfirmasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan bukti penerimaan bagi daerah atas penyaluran anggaran Transfer ke Daerah.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(5)</td>
<td valign="top" width="96%">Format Lembar Konfirmasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam Lampiran I yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>BAB VII<br />
TATA CARA PELAKSANAAN ANGGARAN TRANSFER KE DAERAH</strong></p>
<p align="center"><strong>Bagian Kesatu<br />
Dana Bagi Hasil Pajak</strong></p>
<p align="center"><strong>Pasal 11</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(1)</td>
<td valign="top" width="96%">Penyaluran DBH PBB Bagian Pemerintah yang dibagikan secara merata kepada seluruh kabupaten/kota dilaksanakan dalam 3 (tiga) tahap, yaitu:</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%"></td>
<td valign="top" width="96%">
<ol type="a">
<li>tahap I pada bulan April;</li>
<li>tahap II pada bulan Agustus; dan</li>
<li>tahap III pada bulan November.</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(2)</td>
<td valign="top" width="96%">Penyaluran DBH PBB Bagian Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan dengan rincian sebagai berikut:</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%"></td>
<td valign="top" width="96%">
<ol type="a">
<li>penyaluran tahap I dan tahap II masing-masing sebesar 25% (dua puluh lima persen) dan 50% (lima puluh persen) dari pagu alokasi sementara; dan</li>
<li>penyaluran tahap III didasarkan pada selisih antara pagu alokasi definitif dengan jumlah dana yang telah disalurkan pada tahap I dan tahap II.</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(3)</td>
<td valign="top" width="96%">Dalam hal sampai dengan akhir bulan November, alokasi definitif belum ditetapkan, penyaluran tahap III sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b adalah sebesar sisa pagu alokasi sementara.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(4)</td>
<td valign="top" width="96%">Penyaluran DBH PBB Bagian Pemerintah yang dibagikan sebagai insentif kepada kabupaten/kota yang realisasi penerimaan PBB sektor pedesaan dan sektor perkotaan pada tahun anggaran sebelumnya mencapai/melampaui rencana penerimaan yang ditetapkan, dilaksanakan pada bulan November berdasarkan realisasi penerimaan PBB tahun anggaran berjalan.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 12</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(1)</td>
<td valign="top" width="96%">Penyaluran DBH PBB Bagian Daerah dan Biaya Pemungutan PBB Bagian Daerah dilaksanakan berdasarkan realisasi penerimaan PBB tahun anggaran berjalan.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(2)</td>
<td valign="top" width="96%">Penyaluran DBH PBB Bagian Daerah dan Biaya Pemungutan PBB Bagian Daerah dilaksanakan secara mingguan.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 13</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(1)</td>
<td valign="top" width="96%">Penyaluran DBH PBB Bagian Daerah dan Biaya Pemungutan PBB Bagian Daerah dilaksanakan oleh Kuasa Bendahara Umum Negara dengan menerbitkan SP2D atas beban Bank Operasional III.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(2)</td>
<td valign="top" width="96%">Penyaluran DBH PBB sektor Pertambangan Minyak Bumi dan Gas Bumi serta Panas Bumi Bagian Daerah dan Biaya Pemungutan PBB sektor Pertambangan Minyak Bumi dan Gas Bumi serta Panas Bumi Bagian Daerah dilaksanakan oleh Kuasa Bendahara Umum Negara dengan menerbitkan SP2D atas beban Bank Operasional I.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(3)</td>
<td valign="top" width="96%">Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pelaksanaan penyaluran DBH PBB Bagian Daerah dan Biaya Pemungutan PBB Bagian Daerah diatur dengan Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 14</strong></p>
<p>Pada setiap awal tahun anggaran, Kuasa Pengguna Anggaran Transfer ke Daerah menunjuk Pejabat di Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara dengan Surat Kuasa, yaitu:</p>
<ol type="a">
<li>Kepala Seksi Bank/Giro Pos atau Kepala Seksi Bendahara Umum sebagai Verifikator dan Penandatangan SPP, Surat Ketetapan Pembagian (SKP) dan Surat Permohonan Transfer DBH PBB Bagian Daerah dan Biaya Pemungutan PBB Bagian Daerah; dan</li>
<li>Kepala Subbagian Umum sebagai Verifikator dan Penandatangan SPM, SKP dan Surat Permohonan Transfer DBH PBB Bagian Daerah dan Biaya Pemungutan PBB Bagian Daerah.</li>
</ol>
<p align="center"><strong>Pasal 15</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(1)</td>
<td valign="top" width="96%">Kepala Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara menyampaikan SPM dan SP2D atas realisasi penyaluran DBH PBB Bagian Daerah dan Biaya Pemungutan PBB Bagian Daerah beserta rekapitulasi SPM dan SP2D dalam bentuk hardcopy dan ADK melalui sistem jaringan komunikasi data kepada Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan c.q. Direktur Dana Perimbangan dengan tembusan kepada Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(2)</td>
<td valign="top" width="96%">SPM sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memuat rincian realisasi penyaluran DBH PBB Bagian Daerah dan Biaya Pemungutan PBB Bagian Daerah per provinsi dan kabupaten/kota.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(3)</td>
<td valign="top" width="96%">Penyampaian SPM dan SP2D sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan secara triwulanan paling lambat 10 (sepuluh) hari kerja setelah triwulan berkenaan berakhir.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(4)</td>
<td valign="top" width="96%">Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan berdasarkan SPM dan SP2D sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menyampaikan Laporan Realisasi Pagu DIPA DBH PBB Bagian Daerah dan Biaya Pemungutan PBB Bagian Daerah kepada Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan c.q. Direktur Dana Perimbangan secara triwulanan paling lambat tanggal 15 bulan berikutnya setelah triwulan berkenaan berakhir.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(5)</td>
<td valign="top" width="96%">Laporan Realisasi Pagu DIPA DBH PBB Bagian Daerah dan Biaya Pemungutan PBB Bagian Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dirinci menurut sektor.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(6)</td>
<td valign="top" width="96%">Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penyampaian SPM dan SP2D, dan laporan realisasi pagu DIPA DBH PBB Bagian Daerah dan Biaya Pemungutan PBB Bagian Daerah diatur dengan Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 16</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(1)</td>
<td valign="top" width="96%">Penyaluran DBH PBB dan Biaya Pemungutan PBB sektor pertambangan Minyak Bumi dan Gas Bumi serta Panas Bumi dilaksanakan secara triwulanan, yaitu:</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%"></td>
<td valign="top" width="96%">
<ol type="a">
<li>triwulan I paling lambat pada bulan Maret;</li>
<li>triwulan II paling lambat pada bulan Juni;</li>
<li>triwulan III paling lambat pada bulan September; dan</li>
<li>triwulan IV paling lambat pada bulan Desember.</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(2)</td>
<td valign="top" width="96%">Penyaluran DBH PBB dan Biaya Pemungutan PBB sektor pertambangan Minyak Bumi dan Gas Bumi serta Panas Bumi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan dengan rincian sebagai berikut:</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%"></td>
<td valign="top" width="96%">
<ol type="a">
<li>penyaluran triwulan I, triwulan II, dan triwulan III masing-masing sebesar 25% (dua puluh lima persen) dari pagu alokasi sementara; dan</li>
<li>penyaluran triwulan IV didasarkan pada selisih antara pagu alokasi definitif dengan jumlah dana yang telah disalurkan pada triwulan I, triwulan II, dan triwulan III.</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(3)</td>
<td valign="top" width="96%">Dalam hal sampai dengan 5 (lima) hari kerja sebelum berakhirnya tahun anggaran berjalan belum ditetapkan alokasi definitif, penyaluran triwulan IV sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b adalah sebesar sisa pagu alokasi sementara.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(4)</td>
<td valign="top" width="96%">Dalam hal terjadi kelebihan penyaluran DBH PBB dan Biaya Pemungutan PBB sektor pertambangan Minyak Bumi dan Gas Bumi serta Panas Bumi, maka kelebihan penyaluran tersebut diperhitungkan terhadap penyaluran pada triwulan berikutnya dan/atau pada tahun anggaran berikutnya.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(5)</td>
<td valign="top" width="96%">Dalam hal perhitungan kelebihan penyaluran sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diperkirakan tidak dapat diperhitungkan dalam penyaluran DBH PBB dan Biaya Pemungutan PBB sektor pertambangan Minyak Bumi dan Gas Bumi serta Panas Bumi tahun anggaran berikutnya, maka kelebihan penyaluran tersebut dapat diperhitungkan terhadap penyaluran DBH Pajak lainnya.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(6)</td>
<td valign="top" width="96%">Dalam hal perhitungan kelebihan penyaluran sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diperkirakan tidak dapat diperhitungkan dalam penyaluran DBH PBB dan DBH Pajak lainnya tahun anggaran berikutnya, maka kelebihan penyaluran tersebut dapat diperhitungkan terhadap penyaluran DBH SDA.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(7)</td>
<td valign="top" width="96%">Dalam hal perhitungan kelebihan penyaluran sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diperkirakan tidak dapat diperhitungkan dalam penyaluran DBH PBB, DBH pajak lainnya dan DBH SDA tahun anggaran berikutnya, maka kelebihan penyaluran tersebut dapat diperhitungkan terhadap penyaluran DAU.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(8)</td>
<td valign="top" width="96%">Perhitungan kelebihan penyaluran sebagaimana dimaksud pada ayat (6) tidak dapat dilakukan untuk DBH SDA 0,5% (nol koma lima persen) Minyak Bumi dan Gas Bumi dan DBH SDA Kehutanan Dana Reboisasi.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 17</strong></p>
<p>Kelebihan penyaluran DBH PBB dan Biaya Pemungutan PBB sektor pertambangan Minyak Bumi dan Gas Bumi serta Panas Bumi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (4) meliputi:</p>
<ol type="a">
<li>kelebihan penyaluran karena realisasi penyaluran DBH PBB sektor pertambangan Minyak Bumi dan Gas Bumi serta Panas Bumi triwulan I sampai dengan triwulan III yang didasarkan atas alokasi sementara lebih besar daripada alokasi definitif; dan/atau</li>
<li>kelebihan penyaluran akibat kelebihan pembayaran PBB sektor pertambangan Minyak Bumi dan Gas Bumi serta Panas Bumi.</li>
</ol>
<p align="center"><strong>Pasal 18</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(1)</td>
<td valign="top" width="96%">Direktorat Jenderal Pajak, Direktorat Jenderal Perbendaharaan, dan Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan melakukan rekonsiliasi data realisasi penerimaan PBB serta penyaluran DBH PBB Bagian Daerah dan Biaya Pemungutan PBB Bagian Daerah.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(2)</td>
<td valign="top" width="96%">Rekonsiliasi data sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan setiap triwulan paling lambat pada minggu ketiga setelah triwulan berkenaan berakhir.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 19</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(1)</td>
<td valign="top" width="96%">Penyaluran DBH PPh WPOPDN dan DBH PPh Pasal 21 dilaksanakan secara triwulanan, yaitu:</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%"></td>
<td valign="top" width="96%">
<ol type="a">
<li>triwulan I pada bulan Maret;</li>
<li>triwulan II pada bulan Juni;</li>
<li>triwulan III pada bulan September; dan</li>
<li>triwulan IV pada bulan Desember.</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(2)</td>
<td valign="top" width="96%">Penyaluran DBH PPh WPOPDN dan DBH PPh Pasal 21 sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan dengan rincian sebagai berikut:</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%"></td>
<td valign="top" width="96%">
<ol type="a">
<li>penyaluran triwulan I, triwulan II, dan triwulan III masing-masing sebesar 20% (dua puluh persen) dari pagu alokasi sementara; dan</li>
<li>penyaluran triwulan IV didasarkan pada selisih antara pagu alokasi definitif dengan jumlah dana yang telah disalurkan pada triwulan I, triwulan II, dan triwulan III.</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(3)</td>
<td valign="top" width="96%">Dalam hal sampai dengan 5 (lima) hari kerja sebelum berakhirnya tahun anggaran berjalan belum ditetapkan alokasi definitif, penyaluran triwulan IV sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b adalah sebesar sisa pagu alokasi sementara.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(4)</td>
<td valign="top" width="96%">Dalam hal terjadi kelebihan penyaluran karena penyaluran DBH PPh WPOPDN dan DBH PPh Pasal 21 pada triwulan I sampai dengan triwulan III yang didasarkan atas alokasi sementara lebih besar daripada alokasi definitif, maka kelebihan penyaluran tersebut diperhitungkan terhadap penyaluran tahun anggaran berikutnya.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(5)</td>
<td valign="top" width="96%">Dalam hal perhitungan kelebihan penyaluran sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diperkirakan tidak dapat diperhitungkan dalam penyaluran DBH PPh WPOPDN dan/atau DBH PPh Pasal 21 tahun anggaran berikutnya, maka kelebihan penyaluran tersebut dapat diperhitungkan terhadap penyaluran DBH Pajak lainnya.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(6)</td>
<td valign="top" width="96%">Dalam hal perhitungan kelebihan penyaluran sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diperkirakan tidak dapat diperhitungkan dalam penyaluran DBH PPh dan DBH Pajak lainnya tahun anggaran berikutnya, maka kelebihan penyaluran tersebut dapat diperhitungkan terhadap penyaluran DBH SDA.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(7)</td>
<td valign="top" width="96%">Dalam hal perhitungan kelebihan penyaluran sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diperkirakan tidak dapat diperhitungkan dalam penyaluran DBH PPh, DBH Pajak lainnya dan DBH SDA tahun anggaran berikutnya, maka kelebihan penyaluran tersebut dapat diperhitungkan terhadap penyaluran DAU.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(8)</td>
<td valign="top" width="96%">Perhitungan kelebihan penyaluran sebagaimana dimaksud pada ayat (6) tidak dapat dilakukan untuk DBH SDA 0,5% (nol koma lima persen) Minyak Bumi dan Gas Bumi dan DBH SDA Kehutanan Dana Reboisasi.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Bagian Kedua<br />
Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau</strong></p>
<p align="center"><strong>Pasal 20</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(1)</td>
<td valign="top" width="96%">Penyaluran DBH CHT dilaksanakan secara triwulanan, yaitu:</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%"></td>
<td valign="top" width="96%">
<ol type="a">
<li>triwulan I pada bulan Maret;</li>
<li>triwulan II pada bulan Juni;</li>
<li>triwulan III pada bulan September; dan</li>
<li>triwulan IV pada bulan Desember.</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(2)</td>
<td valign="top" width="96%">Penyaluran DBH CHT sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan dengan rincian sebagai berikut:</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%"></td>
<td valign="top" width="96%">
<ol type="a">
<li>penyaluran triwulan I sebesar 20% (dua puluh persen) dari pagu alokasi sementara;</li>
<li>penyaluran triwulan II dan triwulan III masing-masing sebesar 30% (tiga puluh persen) dari pagu alokasi sementara; dan</li>
<li>penyaluran triwulan IV didasarkan pada selisih antara pagu alokasi definitif dengan jumlah dana yang telah disalurkan pada triwulan I, triwulan II, dan triwulan III.</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(3)</td>
<td valign="top" width="96%">Dalam hal sampai dengan 5 (lima) hari kerja sebelum berakhirnya tahun anggaran berjalan alokasi definitif belum ditetapkan, penyaluran triwulan IV sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c adalah sebesar sisa pagu alokasi sementara.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(4)</td>
<td valign="top" width="96%">Penyaluran DBH CHT triwulan IV dilakukan setelah Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan menerima laporan konsolidasi penggunaan dana atas pelaksanaan kegiatan DBH CHT semester I tahun anggaran berjalan dari Gubernur.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(5)</td>
<td valign="top" width="96%">Dalam hal laporan konsolidasi penggunaan dana atas pelaksanaan kegiatan DBH CHT sebagaimana dimaksud pada ayat (4) tidak menunjukkan adanya realisasi penggunaan dana, penyaluran DBH CHT triwulan IV ditunda sampai dengan disampaikannya laporan konsolidasi penggunaan dana atas pelaksanaan kegiatan DBH CHT yang menunjukkan adanya realisasi penggunaan dana.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(6)</td>
<td valign="top" width="96%">DBH CHT yang ditunda sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dapat disalurkan kembali setelah disampaikannya laporan konsolidasi penggunaan dana atas kegiatan DBH CHT sepanjang tidak melampaui tahun anggaran berjalan.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Bagian Ketiga<br />
Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam</strong></p>
<p align="center"><strong>Pasal 21</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(1)</td>
<td valign="top" width="96%">Penyaluran DBH SDA dilaksanakan berdasarkan realisasi penerimaan SDA tahun anggaran berjalan.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(2)</td>
<td valign="top" width="96%">Dalam hal DBH SDA yang dihitung berdasarkan realisasi penerimaan SDA melebihi pagu yang ditetapkan dalam APBN atau APBN Perubahan, maka dapat dilakukan penyaluran sesuai dengan realisasi penerimaan SDA setelah mendapat persetujuan Menteri Keuangan.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 22</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(1)</td>
<td valign="top" width="96%">Penyaluran DBH SDA dilaksanakan secara triwulanan, yaitu:</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%"></td>
<td valign="top" width="96%">
<ol type="a">
<li>triwulan I pada bulan Maret;</li>
<li>triwulan II pada bulan Juni;</li>
<li>triwulan III pada bulan September; dan</li>
<li>triwulan IV pada bulan Desember.</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(2)</td>
<td valign="top" width="96%">Penyaluran DBH SDA Minyak Bumi dan Gas Bumi serta Panas Bumi triwulan I dan triwulan II dilaksanakan masing-masing sebesar 20% (dua puluh persen) dari pagu perkiraan alokasi.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(3)</td>
<td valign="top" width="96%">Penyaluran DBH SDA Pertambangan Umum triwulan I dilaksanakan sebesar 20% (dua puluh persen) dari pagu perkiraan alokasi dan triwulan II dilaksanakan sebesar 15% (lima belas persen) dari pagu perkiraan alokasi.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(4)</td>
<td valign="top" width="96%">Penyaluran DBH SDA Kehutanan dan DBH SDA Perikanan triwulan I dan triwulan II dilaksanakan masing-masing sebesar 15% (lima belas persen) dari pagu perkiraan alokasi.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(5)</td>
<td valign="top" width="96%">Penyaluran DBH SDA triwulan III didasarkan pada selisih antara realisasi penerimaan SDA sampai dengan triwulan III dengan realisasi penyaluran DBH SDA triwulan I dan triwulan II.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(6)</td>
<td valign="top" width="96%">Penyaluran DBH SDA triwulan IV didasarkan pada selisih antara realisasi penerimaan SDA sampai dengan triwulan IV dengan realisasi penyaluran DBH SDA triwulan I, triwulan II, dan triwulan III.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(7)</td>
<td valign="top" width="96%">Penyaluran DBH SDA sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dan ayat (6) dilaksanakan berdasarkan perhitungan melalui mekanisme rekonsiliasi data antara pemerintah pusat dengan daerah penghasil, kecuali penyaluran DBH SDA Perikanan.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(8)</td>
<td valign="top" width="96%">Rekonsiliasi data antara pemerintah pusat dengan daerah penghasil sebagaimana dimaksud pada ayat (7) yang digunakan sebagai dasar penyaluran triwulan III dilaksanakan paling lambat minggu pertama bulan September dan yang digunakan sebagai dasar penyaluran triwulan IV dilaksanakan paling lambat akhir bulan November tahun anggaran berjalan.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 23</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(1)</td>
<td valign="top" width="96%">Dalam hal terdapat kelebihan penyaluran DBH SDA jenis tertentu, maka kelebihan penyaluran tersebut diperhitungkan terhadap penyaluran DBH SDA jenis yang sama pada triwulan berikutnya dan/atau tahun anggaran berikutnya.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(2)</td>
<td valign="top" width="96%">Perhitungan kelebihan penyaluran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan memperhitungkan penyaluran DBH SDA pada triwulan berikutnya sebesar jumlah kelebihan penyaluran dimaksud.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(3)</td>
<td valign="top" width="96%">Dalam hal perhitungan kelebihan penyaluran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diperkirakan tidak dapat diperhitungkan dalam penyaluran DBH SDA jenis yang sama tahun anggaran berikutnya, maka kelebihan penyaluran tersebut dapat diperhitungkan terhadap penyaluran DBH SDA jenis lainnya.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(4)</td>
<td valign="top" width="96%">Dalam hal perhitungan kelebihan penyaluran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diperkirakan tidak dapat diperhitungkan dalam penyaluran DBH SDA jenis lainnya tahun anggaran berikutnya, maka kelebihan penyaluran tersebut dapat diperhitungkan terhadap penyaluran DBH Pajak.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(5)</td>
<td valign="top" width="96%">Dalam hal perhitungan kelebihan penyaluran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diperkirakan tidak dapat diperhitungkan dalam penyaluran DBH SDA jenis lainnya dan DBH Pajak tahun anggaran berikutnya, maka kelebihan penyaluran tersebut dapat diperhitungkan terhadap penyaluran DAU.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(6)</td>
<td valign="top" width="96%">Perhitungan kelebihan penyaluran sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tidak dapat dilakukan untuk DBH SDA 0,5% (nol koma lima persen) Minyak Bumi dan Gas Bumi dan DBH SDA Kehutanan Dana Reboisasi.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 24</strong></p>
<p>Kelebihan penyaluran DBH SDA jenis tertentu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat (1) meliputi:</p>
<ol type="a">
<li>kelebihan penyaluran karena realisasi penyaluran DBH SDA triwulan I dan triwulan II yang didasarkan atas pagu perkiraan alokasi lebih besar dari pada realisasi penerimaan SDA; dan/atau</li>
<li>kelebihan penyaluran akibat kekurangan pembayaran PBB sektor Pertambangan Minyak Bumi dan Gas Bumi serta Panas Bumi.</li>
</ol>
<p align="center"><strong>Bagian Keempat<br />
Dana Alokasi Umum</strong></p>
<p align="center"><strong>Pasal 25</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(1)</td>
<td valign="top" width="96%">Penyaluran DAU dilaksanakan setiap bulan masing-masing sebesar 1/12 (satu per dua belas) dari besaran alokasi masing-masing daerah.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(2)</td>
<td valign="top" width="96%">Penyaluran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan pada awal hari kerja untuk bulan Januari dan 1 (satu) hari kerja sebelum awal hari kerja bulan berikutnya untuk bulan Februari sampai dengan bulan Desember.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Bagian Kelima<br />
Dana Alokasi Khusus</strong></p>
<p align="center"><strong>Pasal 26</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(1)</td>
<td valign="top" width="96%">Penyaluran DAK dilaksanakan secara bertahap, dengan rincian sebagai berikut:</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%"></td>
<td valign="top" width="96%">
<ol type="a">
<li>tahap I paling cepat pada bulan Februari, setelah Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan menerima Peraturan Daerah mengenai APBD tahun anggaran berjalan, Laporan Penyerapan Penggunaan DAK tahun anggaran sebelumnya, Laporan Realisasi Penyerapan DAK Tahap III tahun anggaran sebelumnya, dan Surat Pernyataan Penyediaan Dana Pendamping yang disampaikan oleh Kepala Daerah penerima DAK;</li>
<li>tahap II paling lambat 15 (lima belas) hari kerja, setelah Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan menerima Laporan Realisasi Penyerapan DAK tahap I tahun anggaran berjalan yang disampaikan oleh Kepala Daerah penerima DAK; dan</li>
<li>tahap III paling lambat 15 (lima belas) hari kerja, setelah Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan menerima Laporan Realisasi Penyerapan DAK tahap II tahun anggaran berjalan yang disampaikan oleh Kepala Daerah penerima DAK.</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(2)</td>
<td valign="top" width="96%">Penyaluran DAK sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilaksanakan dengan rincian sebagai berikut:</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%"></td>
<td valign="top" width="96%">
<ol type="a">
<li>penyaluran tahap I sebesar 30% (tiga puluh persen) dari pagu alokasi DAK;</li>
<li>penyaluran tahap II sebesar 45% (empat puluh lima persen) dari pagu alokasi DAK; dan</li>
<li>penyaluran tahap III sebesar 25% (dua puluh lima persen) dari pagu alokasi DAK.</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(3)</td>
<td valign="top" width="96%">Penyaluran secara bertahap sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak dapat dilaksanakan secara sekaligus dan tidak melampaui tahun anggaran berjalan.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(4)</td>
<td valign="top" width="96%">Laporan Realisasi Penyerapan DAK tahap I atau tahap II sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dan huruf c, disampaikan oleh Kepala Daerah penerima DAK kepada Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan setelah penggunaan DAK telah mencapai 90% (sembilan puluh persen) dari penerimaan DAK sampai dengan tahap sebelumnya.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(5)</td>
<td valign="top" width="96%">Laporan Realisasi Penyerapan DAK tahap I atau tahap II sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diterima oleh Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan paling lambat 7 (tujuh) hari kerja sebelum tahun anggaran berjalan berakhir.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(6)</td>
<td valign="top" width="96%">Format Laporan Realisasi Penyerapan DAK tahap I, tahap II, atau tahap III sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam Lampiran II yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(7)</td>
<td valign="top" width="96%">Format Surat Pernyataan Penyediaan Dana Pendamping sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a tercantum dalam Lampiran III yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 27</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(1)</td>
<td valign="top" width="96%">Laporan Realisasi Penyerapan DAK sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 ayat (1) dilengkapi dengan Rekapitulasi SP2D atas penggunaan DAK beserta softcopy data Rekapitulasi SP2D dalam format Excel.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(2)</td>
<td valign="top" width="96%">Format Rekapitulasi SP2D sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam Lampiran IV yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 28</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(1)</td>
<td valign="top" width="96%">Setelah tahun anggaran berakhir, daerah penerima DAK wajib menyampaikan laporan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 ayat (1) huruf a, yaitu:</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%"></td>
<td valign="top" width="96%">
<ol type="a">
<li>Laporan Realisasi Penyerapan DAK Tahap III; dan</li>
<li>Laporan Penyerapan Penggunaan DAK.</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(2)</td>
<td valign="top" width="96%">Laporan Realisasi Penyerapan DAK Tahap III sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a merupakan laporan realisasi atas penyerapan DAK Tahap III yang dilakukan sampai dengan tanggal 31 Desember tahun anggaran sebelumnya.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(3)</td>
<td valign="top" width="96%">Laporan Penyerapan Penggunaan DAK sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b merupakan laporan kumulatif penyerapan DAK yang telah dilakukan sampai dengan tanggal 31 Desember tahun anggaran sebelumnya.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(4)</td>
<td valign="top" width="96%">Format Laporan Penyerapan Penggunaan DAK sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tercantum dalam Lampiran V yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 29</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(1)</td>
<td valign="top" width="96%">Daerah penerima DAK dapat melakukan optimalisasi penggunaan DAK dengan merencanakan dan menganggarkan kembali kegiatan DAK dalam APBD Perubahan tahun anggaran berjalan apabila akumulasi nilai kontrak pada suatu bidang DAK lebih kecil dari pagu bidang DAK tersebut.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(2)</td>
<td valign="top" width="96%">Optimalisasi penggunaan DAK sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan untuk kegiatan-kegiatan pada bidang DAK yang sama dan sesuai dengan petunjuk teknis yang ditetapkan.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(3)</td>
<td valign="top" width="96%">Dalam hal terdapat sisa DAK pada kas daerah saat tahun anggaran berakhir, daerah dapat menggunakan sisa DAK tersebut untuk mendanai kegiatan DAK pada bidang yang sama tahun anggaran berikutnya sesuai dengan petunjuk teknis tahun anggaran sebelumnya dan/atau tahun anggaran berjalan.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(4)</td>
<td valign="top" width="96%">Sisa DAK sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tidak dapat digunakan sebagai dana pendamping DAK.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(5)</td>
<td valign="top" width="96%">Kepala Daerah menyampaikan Laporan Penggunaan Sisa DAK sebagaimana dimaksud pada ayat (3) kepada Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan c.q. Direktur Dana Perimbangan setelah kegiatan yang didanai dari sisa DAK selesai.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(6)</td>
<td valign="top" width="96%">Format Laporan Penggunaan Sisa DAK sebagaimana dimaksud pada ayat (5) tercantum dalam Lampiran VI yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Bagian Keenam<br />
Dana Otonomi Khusus dan Penyesuaian</strong></p>
<p align="center"><strong>Pasal 30</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(1)</td>
<td valign="top" width="96%">Penyaluran Dana Otonomi Khusus Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat, Dana Otonomi Khusus Provinsi Aceh serta Dana Tambahan Infrastruktur dalam rangka Otonomi Khusus Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat dilaksanakan secara bertahap, yaitu:</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%"></td>
<td valign="top" width="96%">
<ol type="a">
<li>tahap I pada bulan Maret;</li>
<li>tahap II pada bulan Juli; dan</li>
<li>tahap III pada bulan Oktober.</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(2)</td>
<td valign="top" width="96%">Penyaluran dana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan dengan rincian sebagai berikut:</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%"></td>
<td valign="top" width="96%">
<ol type="a">
<li>penyaluran tahap I sebesar 30% (tiga puluh persen) dari pagu alokasi;</li>
<li>penyaluran tahap II sebesar 45% (empat puluh lima persen) dari pagu alokasi; dan</li>
<li>penyaluran tahap III sebesar 25% (dua puluh lima persen) dari pagu alokasi.</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(3)</td>
<td valign="top" width="96%">Penyaluran dana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan setelah mendapatkan pertimbangan dari Menteri Dalam Negeri.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(4)</td>
<td valign="top" width="96%">Penyaluran Dana Penyesuaian dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Bagian Ketujuh<br />
Pemotongan, Penundaan dan/atau Pembayaran Kembali Anggaran Transfer ke Daerah</strong></p>
<p align="center"><strong>Pasal 31</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(1)</td>
<td valign="top" width="96%">Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan selaku Kuasa Pengguna Anggaran dapat melakukan pemotongan, penundaan dan/atau pembayaran kembali penyaluran anggaran Transfer ke Daerah untuk suatu daerah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(2)</td>
<td valign="top" width="96%">Pemotongan, penundaan dan/atau pembayaran kembali sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan setelah adanya surat permintaan dari instansi/unit yang mempunyai kewenangan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(3)</td>
<td valign="top" width="96%">Surat Permintaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) disampaikan oleh pimpinan instansi/unit yang mempunyai kewenangan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan kepada Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 32</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(1)</td>
<td valign="top" width="96%">Pemotongan dalam penyaluran anggaran Transfer ke Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 ayat (1) dapat dilakukan karena adanya lebih salur dan/atau kewajiban finansial daerah yang tidak dipenuhi, antara lain berupa pembayaran pinjaman daerah.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(2)</td>
<td valign="top" width="96%">Penundaan dalam penyaluran anggaran Transfer ke Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 ayat (1) dapat dilakukan karena adanya kewajiban non finansial daerah yang tidak dipenuhi, antara lain berupa penyampaian Peraturan Daerah mengenai APBD.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(3)</td>
<td valign="top" width="96%">Pembayaran kembali penyaluran anggaran Transfer ke Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 ayat (1) dapat dilakukan setelah dicabutnya sanksi penundaan atau dipenuhinya kewajiban daerah dalam tahun anggaran berjalan.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(4)</td>
<td valign="top" width="96%">Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan menetapkan besarnya pemotongan dan/atau penundaan anggaran Transfer ke Daerah yang berasal dari permintaan pimpinan instansi/unit yang berwenang antara lain dengan mempertimbangkan besarnya permintaan pemotongan, alokasi dan lebih salur anggaran Transfer ke Daerah, serta kapasitas fiskal daerah yang bersangkutan.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(5)</td>
<td valign="top" width="96%">Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemotongan, penundaan, dan pembayaran kembali penyaluran anggaran Transfer ke Daerah diatur dengan Peraturan Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Bagian Kedelapan<br />
Penyaluran Akhir Tahun Anggaran</strong></p>
<p align="center"><strong>Pasal 33</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(1)</td>
<td valign="top" width="96%">Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan dapat menetapkan langkah-langkah akhir tahun dalam rangka penyaluran anggaran Transfer ke Daerah pada akhir tahun anggaran.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(2)</td>
<td valign="top" width="96%">Langkah-langkah akhir tahun sebagaimana dimaksud pada ayat (1) antara lain menginformasikan mengenai tata cara penyampaian dan penerimaan laporan realisasi penggunaan dana dari daerah dan batas akhir penyaluran anggaran Transfer ke Daerah.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(3)</td>
<td valign="top" width="96%">Langkah-langkah akhir tahun sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan paling lambat akhir bulan November tahun anggaran berjalan.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>BAB VIII<br />
REKENING KAS UMUM DAERAH</strong></p>
<p align="center"><strong>Pasal 34</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(1)</td>
<td valign="top" width="96%">Dalam rangka penyaluran anggaran Transfer ke Daerah, Bendahara Umum Daerah/Kuasa Bendahara Umum Daerah membuka Rekening Kas Umum Daerah pada Bank Sentral atau Bank Umum untuk menampung penyaluran anggaran Transfer ke Daerah dengan nama depan Rekening Kas Umum Daerah yang diikuti dengan nama daerah yang bersangkutan.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(2)</td>
<td valign="top" width="96%">Setelah Bendahara Umum Daerah/Kuasa Bendahara Umum Daerah membuka Rekening Kas Umum Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Kepala Daerah wajib menyampaikan nomor rekening, nama rekening dan nama bank kepada Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan yang dilampiri dengan:</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%"></td>
<td valign="top" width="96%">
<ol type="a">
<li>asli rekening koran dari Rekening Kas Umum Daerah; dan</li>
<li>salinan Keputusan Kepala Daerah mengenai penunjukan bank tempat menampung Rekening Kas Umum Daerah.</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(3)</td>
<td valign="top" width="96%">Nomor rekening, nama rekening, dan nama bank sebagaimana dimaksud pada ayat (2) disampaikan oleh Kepala Daerah kepada Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan hanya satu kali sepanjang tidak ada perubahan.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(4)</td>
<td valign="top" width="96%">Dalam hal terdapat perubahan nomor rekening dan/atau nama bank sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Kepala Daerah menyampaikan perubahan tersebut dengan dilampiri dokumen sebagaimana dimaksud pada ayat (2).</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(5)</td>
<td valign="top" width="96%">Perubahan nomor rekening dan/atau nama bank sebagaimana dimaksud pada ayat (4) hanya dapat dilakukan oleh Kepala Daerah definitif.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>BAB IX<br />
PENATAUSAHAAN DAN PERTANGGUNGJAWABAN TRANSFER KE DAERAH</strong></p>
<p align="center"><strong>Pasal 35</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(1)</td>
<td valign="top" width="96%">Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan melaksanakan penatausahaan, akuntansi, dan pelaporan keuangan atas pelaksanaan anggaran Transfer ke Daerah.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(2)</td>
<td valign="top" width="96%">Pelaporan keuangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan pertanggungjawaban atas pelaksanaan anggaran Transfer ke Daerah.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(3)</td>
<td valign="top" width="96%">Laporan keuangan atas pelaksanaan anggaran Transfer ke Daerah terdiri atas:</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%"></td>
<td valign="top" width="96%">
<ol type="a">
<li>Laporan Realisasi Anggaran;</li>
<li>Neraca; dan</li>
<li>Catatan atas Laporan Keuangan.</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(4)</td>
<td valign="top" width="96%">Penatausahaan, akuntansi, dan pelaporan keuangan atas pelaksanaan anggaran Transfer ke Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%">(5)</td>
<td valign="top" width="96%">Untuk melaksanakan penatausahaan, akuntansi, dan pelaporan keuangan atas pelaksanaan anggaran Transfer ke Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan dapat menunjuk pejabat eselon II yang sesuai dengan bidang tugasnya.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 36</strong></p>
<p>Penerimaan PBB pada akhir tahun anggaran yang dibukukan sebagai penerimaan tahun anggaran berjalan dan belum dibagihasilkan pada tahun anggaran berjalan, akan disalurkan kepada yang berhak pada awal tahun anggaran berikutnya.</p>
<p align="center"><strong>Pasal 37</strong></p>
<p>Ketentuan lebih lanjut dalam rangka pelaksanaan Peraturan Menteri ini diatur oleh instansi terkait yang berwenang, baik secara bersama-sama maupun sendiri-sendiri sesuai dengan bidang tugasnya.</p>
<p align="center"><strong>BAB X<br />
KETENTUAN PENUTUP</strong></p>
<p align="center"><strong>Pasal 38</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="4%" height="40">(1)</td>
<td valign="top" width="96%" height="40">Pada saat Peraturan Menteri ini mulai berlaku, Peraturan Menteri Keuangan Nomor 126/PMK.07/2010 tentang Pelaksanaan dan Pertanggungjawaban Anggaran Transfer ke Daerah, dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%" height="21">(2)</td>
<td valign="top" width="96%" height="21">Ketentuan dalam Peraturan Menteri Keuangan sebagai berikut:</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="4%" height="82"></td>
<td valign="top" width="96%" height="82">
<ol type="a">
<li>Peraturan Menteri Keuangan Nomor 167/PMK.03/2007 tentang Penunjukan Tempat dan Tata Cara Pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan; dan</li>
<li>Peraturan Menteri Keuangan Nomor 127/PMK.05/2009 tentang Pelimpahan Wewenang Penerbitan Surat Kuasa Umum Pajak Bumi dan Bangunan dan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan kepada Kepala Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara,<br />
sepanjang tidak bertentangan dengan Peraturan Menteri ini dinyatakan tetap berlaku.</li>
</ol>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 39</strong></p>
<p>Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.</p>
<p>Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Menteri ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia.</p>
<p>Ditetapkan di Jakarta<br />
pada tanggal 9 Januari 2012</p>
<p>MENTERI KEUANGAN,<br />
ttd.<br />
AGUS D.W. MARTOWARDOJO</p>
<p>Diundangkan di Jakarta<br />
pada tanggal 9 Januari 2012</p>
<p>MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA,<br />
ttd.<br />
AMIR SYAMSUDIN</p>
<p align="center"><strong>BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2012 NOMOR 41</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.mytaxlink.net/06pmk-072012/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 05/PMK.08/2012</title>
		<link>http://www.mytaxlink.net/05pmk-082012/</link>
		<comments>http://www.mytaxlink.net/05pmk-082012/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Jan 2012 05:07:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lain-lain]]></category>
		<category><![CDATA[PENERBITAN DAN PENJUALAN SURAT BERHARGA SYARIAH NEGARA DI PASAR PERDANA DALAM NEGERI DENGAN CARA LELANG]]></category>
		<category><![CDATA[PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 05/PMK.08/2012]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.mytaxlink.net/?p=484</guid>
		<description><![CDATA[<p align="center">PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 05/PMK.08/2012 Tanggal 9 Januari 2012</p> <p align="center">PENERBITAN DAN PENJUALAN SURAT BERHARGA SYARIAH NEGARA DI PASAR PERDANA DALAM NEGERI DENGAN CARA LELANG</p> <p align="center">MENTERI KEUANGAN,</p> <p align="justify">Menimbang :</p> <p align="justify">bahwa ketentuan mengenai penerbitan dan penjualan Surat Berharga Syariah Negara di pasar perdana dalam negeri dengan cara lelang sebagaimana diatur dalam Peraturan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>PERATURAN<br />
MENTERI KEUANGAN<br />
NOMOR 05/PMK.08/2012<br />
Tanggal 9 Januari 2012</strong></p>
<p align="center"><strong>PENERBITAN DAN PENJUALAN SURAT BERHARGA SYARIAH NEGARA DI PASAR PERDANA DALAM NEGERI DENGAN CARA LELANG</strong></p>
<p align="center"><strong>MENTERI KEUANGAN,</strong></p>
<p align="justify">Menimbang :</p>
<ol type="a">
<li>
<p align="justify">bahwa ketentuan mengenai penerbitan dan penjualan Surat Berharga Syariah Negara di pasar perdana dalam negeri dengan cara lelang sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 11/PMK.08/2009, belum memuat ketentuan yang memungkinkan penjualan Surat Berharga Syariah Negara melalui metode lelang Surat Berharga Syariah Negara tambahan atau green shoe option;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">bahwa pengaturan mengenai metode lelang Surat Berharga Syariah Negara tambahan sebagaimana dimaksud dalam huruf a perlu dilakukan dalam rangka mempercepat pengembangan pasar Surat Berharga Syariah Negara dan mendorong pasar keuangan syariah pada umumnya;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b, perlu menetapkan Peraturan Menteri Keuangan tentang Penerbitan dan Penjualan Surat Berharga Syariah Negara di Pasar Perdana Dalam Negeri dengan Cara Lelang;</p>
</li>
</ol>
<p align="justify">Mengingat :</p>
<ol>
<li>
<p align="justify">Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2008 tentang Surat Berharga Syariah Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 70, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4852);</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 2008 tentang Perusahaan Penerbit Surat Berharga Syariah Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 117, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4887);</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Keputusan Menteri Keuangan Nomor 215/KMK.08/2008 tentang Penunjukan Bank Indonesia Sebagai Agen Penata Usaha, Agen Pembayar, dan Agen Lelang Surat Berharga Syariah Negara di Pasar Dalam Negeri;</p>
</li>
</ol>
<p align="center"><strong>MEMUTUSKAN:</strong></p>
<p align="justify">Menetapkan :</p>
<p align="justify">PERATURAN MENTERI KEUANGAN TENTANG PENERBITAN DAN PENJUALAN SURAT BERHARGA SYARIAH NEGARA DI PASAR PERDANA DALAM NEGERI DENGAN CARA LELANG.</p>
<p align="center"><strong>BAB I<br />
KETENTUAN UMUM</strong></p>
<p align="center"><strong>Pasal 1</strong></p>
<p align="justify">Dalam Peraturan Menteri Keuangan ini yang dimaksud dengan:</p>
<ol>
<li>
<p align="justify">Surat Berharga Syariah Negara yang selanjutnya disingkat SBSN atau disebut Sukuk Negara adalah surat berharga negara yang diterbitkan berdasarkan prinsip syariah, sebagai bukti atas bagian penyertaan terhadap aset SBSN baik dalam mata uang Rupiah maupun valuta asing.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">SBSN Jangka Pendek atau disebut Surat Perbendaharaan Negara Syariah adalah SBSN yang berjangka waktu sampai dengan 12 (dua belas) bulan dengan pembayaran imbalan berupa kupon dan/atau secara diskonto.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">SBSN Jangka Panjang adalah SBSN berjangka waktu lebih dari 12 (dua belas) bulan dengan pembayaran imbalan berupa kupon dan/atau secara diskonto.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Imbalan adalah pembayaran yang dapat berupa sewa, bagi hasil atau margin atau bentuk pembayaran lainnya sesuai dengan akad penerbitan SBSN, yang diberikan kepada pemegang SBSN sampai dengan berakhirnya periode SBSN.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Perusahaan Penerbit SBSN adalah badan hukum yang didirikan berdasarkan peraturan perundang-undangan mengenai SBSN, untuk melaksanakan kegiatan penerbitan SBSN.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Menteri adalah Menteri Keuangan Republik Indonesia.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Peserta Lelang adalah bank dan perusahaan efek yang ditunjuk Menteri sebagai peserta lelang SBSN di pasar perdana dalam negeri.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Bank adalah bank umum konvensional dan bank umum syariah sebagaimana dimaksud dalam undang-undang mengenai perbankan syariah.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Perusahaan Efek adalah perusahaan efek sebagaimana dimaksud dalam undang-undang mengenai pasar modal yang melakukan kegiatan usaha sebagai penjamin emisi efek.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Pihak adalah orang perseorangan, atau kumpulan orang dan/atau kekayaan yang terorganisasi baik merupakan badan hukum maupun bukan badan hukum, Bank Indonesia, atau Lembaga Penjamin Simpanan</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Lembaga Penjamin Simpanan yang selanjutnya disingkat LPS adalah lembaga yang dibentuk berdasarkan undang-undang mengenai LPS.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Agen Lelang adalah pihak yang melakukan lelang sesuai dengan ketentuan mengenai lelang SBSN di pasar perdana dalam negeri yang ditetapkan oleh Menteri.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Lelang adalah lelang SBSN dan lelang SBSN tambahan.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Lelang SBSN adalah penjualan SBSN yang diikuti oleh Peserta Lelang, Bank Indonesia, dan/atau LPS untuk Lelang SBSN jangka pendek, atau Peserta Lelang dan/atau LPS untuk Lelang SBSN jangka panjang, dengan cara mengajukan penawaran pembelian kompetitif dan/atau penawaran pembelian nonkompetitif dalam suatu periode waktu penawaran pembelian yang telah ditentukan dan diumumkan sebelumnya melalui sistem yang disediakan agen yang melaksanakan Lelang SBSN.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Lelang SBSN Tambahan (Green Shoe Option) selanjutnya disebut Lelang SBSN Tambahan adalah penjualan SBSN di pasar perdana dengan cara lelang yang dilaksanakan pada 1 (satu) hari kerja setelah tanggal pelaksanaan Lelang SBSN.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Setelmen adalah penyelesaian transaksi SBSN yang terdiri dari Setelmen dana dan Setelmen kepemilikan SBSN.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Imbal Hasil (Yield) adalah keuntungan yang diharapkan oleh investor dalam persentase per tahun.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Penawaran Pembelian Kompetitif (Competitive Bidding) adalah pengajuan penawaran pembelian dengan mencantumkan:</p>
<ol type="a">
<li>
<p align="justify">volume dan tingkat Imbal Hasil yang diinginkan penawar dalam hal Lelang SBSN dengan pembayaran Imbalan tetap (fixed coupon) atau pembayaran Imbalan secara diskonto; atau</p>
</li>
<li>
<p align="justify">volume dan harga yang diinginkan penawar, dalam hal Lelang SBSN dengan Imbalan mengambang (floating coupon).</p>
</li>
</ol>
</li>
<li>
<p align="justify">Penawaran Pembelian Non Kompetitif (Non Competitive Bidding) adalah pengajuan penawaran pembelian dengan mencantumkan:</p>
<ol type="a">
<li>
<p align="justify">volume tanpa tingkat Imbal Hasil yang diinginkan penawar, dalam hal Lelang dengan pembayaran Imbalan tetap atau pembayaran Imbalan secara diskonto; atau</p>
</li>
<li>
<p align="justify">volume tanpa harga yang diinginkan penawar, dalam hal Lelang dengan pembayaran Imbalan mengambang.</p>
</li>
</ol>
</li>
<li>
<p align="justify">Harga Beragam (Multiple Price) adalah harga yang dibayarkan oleh masing-masing pemenang Lelang SBSN sesuai dengan harga penawaran pembelian yang diajukannya.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Harga Seragam (Uniform Price) adalah tingkat harga yang sama yang dibayarkan oleh seluruh pemenang Lelang.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Harga Rata-rata Tertimbang (Weighted Average Price) adalah harga yang dihitung dari hasil bagi antara jumlah perkalian masing-masing volume SBSN dengan harga yang dimenangkan dan total volume SBSN yang terjual.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Wali Amanat adalah pihak yang mewakili kepentingan pemegang SBSN sesuai dengan yang diperjanjikan sebagaimana dimaksud dalam undang-undang mengenai SBSN.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Harga Setelmen adalah:</p>
<ol type="a">
<li>
<p align="justify">harga yang dibayarkan atas Lelang yang dimenangkan, sebesar harga bersih (clean price) atau Imbal Hasil yang telah dikonversi sebagai harga bersih yang diajukan dalam penawaran Lelang pembelian SBSN dengan memperhitungkan Imbalan berjalan (accrued return), dalam hal Lelang dengan Imbalan berupa kupon; atau</p>
</li>
<li>
<p align="justify">harga yang dibayarkan atas Lelang yang dimenangkan, sebesar Imbal Hasil yang telah dikonversi sebagai harga bersih yang diajukan dalam penawaran Lelang pembelian SBSN, dalam hal Lelang dengan pembayaran Imbalan secara diskonto.</p>
</li>
</ol>
</li>
<li>
<p align="justify">Hari Kerja adalah hari dimana operasional sistem pembayaran diselenggarakan oleh Bank Indonesia.</p>
</li>
</ol>
<p align="center"><strong>Pasal 2</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(1)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Penerbitan SBSN dapat dilaksanakan:</p>
<ol type="a">
<li>
<p align="justify">secara langsung oleh Pemerintah; atau</p>
</li>
<li>
<p align="justify">melalui Perusahaan Penerbit SBSN.</p>
</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(2)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Dalam hal penerbitan SBSN dilakukan dengan cara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, kegiatan persiapan dan pelaksanaan penerbitan SBSN dilaksanakan oleh satuan kerja di lingkungan Kementerian Keuangan yang tugas dan fungsinya menyelenggarakan pengelolaan SBSN.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(3)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Dalam hal penerbitan SBSN dilakukan dengan cara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, kegiatan persiapan dan pelaksanaan penerbitan SBSN dilaksanakan oleh Perusahaan Penerbit SBSN dengan dibantu oleh satuan kerja di lingkungan Kementerian Keuangan yang tugas dan fungsinya menyelenggarakan pengelolaan SBSN.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(4)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Dalam melaksanakan kegiatan penerbitan SBSN, satuan kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) berkoordinasi dengan satuan kerja atau pihak lain yang terkait.</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>BAB II<br />
KETENTUAN DAN PERSYARATAN LELANG</strong></p>
<p align="center"><strong>Pasal 3</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="3%">(1)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Menteri dapat menunjuk Bank Indonesia sebagai Agen Lelang untuk melaksanakan Lelang.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(2)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Agen Lelang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mempunyai tugas sebagai berikut:</p>
<ol type="a">
<li>
<p align="justify">mengumumkan rencana Lelang SBSN yang memuat paling kurang nama Peserta Lelang, waktu pelaksanaan Lelang SBSN, jumlah indikatif SBSN yang ditawarkan, jangka waktu SBSN, tanggal penerbitan, tanggal Setelmen, tanggal jatuh tempo, jenis mata uang dan waktu pengumuman hasil Lelang SBSN kepada Peserta Lelang dan/atau LPS melalui sistem Lelang SBSN;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">melaksanakan Lelang SBSN;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">menyampaikan data penawaran pembelian Lelang SBSN kepada Menteri c.q. Direktur Jenderal Pengelolaan Utang; dan</p>
</li>
<li>
<p align="justify">mengumumkan hasil ketetapan Lelang SBSN kepada Peserta Lelang dan/atau LPS melalui sistem Lelang.</p>
</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="3%">(3)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Dalam hal Bank Indonesia bertindak sebagai Agen Lelang, ketentuan lebih lanjut mengenai teknis pelaksanaan Lelang mengikuti Peraturan Bank Indonesia.</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 4</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="3%">(1)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Setiap Pihak dapat menyampaikan penawaran pembelian dalam Lelang SBSN.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="3%">(2)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Pembelian SBSN secara Lelang di pasar perdana oleh Pihak selain Bank Indonesia dan LPS dilakukan melalui Peserta Lelang.</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 5</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="3%">(1)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Bank Indonesia dapat membeli SBSN di pasar perdana hanya untuk SBSN Jangka Pendek.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="3%">(2)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Pembelian SBSN Jangka Pendek oleh Bank Indonesia sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya untuk dan atas nama Bank Indonesia sendiri.</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 6</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="3%">(1)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">LPS dapat membeli SBSN di pasar perdana untuk SBSN Jangka Pendek maupun SBSN Jangka Panjang.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="3%">(2)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Pembelian SBSN oleh LPS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya untuk dan atas nama LPS sendiri.</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 7</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(1)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Bank dan Perusahaan Efek mengajukan permohonan sebagai Peserta Lelang kepada Menteri c.q. Direktur Jenderal Pengelolaan Utang untuk mendapatkan persetujuan serta menyerahkan surat pernyataan kesediaan untuk mematuhi ketentuan sebagai Peserta Lelang.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="3%">(2)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Persetujuan Menteri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan dengan surat Direktur Jenderal Pengelolaan Utang atas nama Menteri.</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 8</strong></p>
<p align="justify">Bank dan Perusahaan Efek yang telah menjadi Dealer Utama sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Menteri Keuangan mengenai Sistem Dealer Utama dapat mengikuti Lelang dengan mengajukan permohonan sebagai Peserta Lelang kepada Menteri c.q. Direktur Jenderal Pengelolaan Utang dengan melampirkan surat penunjukan sebagai Dealer Utama.</p>
<p align="center"><strong>Pasal 9</strong></p>
<p align="justify">Bank yang akan menjadi Peserta Lelang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:</p>
<ol type="a">
<li>
<p align="justify">memiliki izin usaha yang masih berlaku dari otoritas yang berwenang;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">memenuhi persyaratan Kewajiban Penyediaan Modal Minimum berdasarkan Peraturan Bank Indonesia; dan</p>
</li>
<li>
<p align="justify">menjadi peserta Bank Indonesia Scripless Securities Settlement System (BI-SSSS).</p>
</li>
</ol>
<p align="center"><strong>Pasal 10</strong></p>
<p align="justify">Perusahaan Efek yang akan menjadi Peserta Lelang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:</p>
<ol type="a">
<li>
<p align="justify">memiliki izin usaha yang masih berlaku dari otoritas di bidang pasar modal sebagai Perusahaan Efek yang melakukan kegiatan usaha sebagai Penjamin Emisi Efek;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">memenuhi Modal Kerja Bersih Disesuaikan minimal rata-rata harian selama satu bulan terakhir sebesar Rp200.000.000.000,00 (dua ratus miliar rupiah);</p>
</li>
<li>
<p align="justify">menjadi peserta BI-SSSS.</p>
</li>
</ol>
<p align="center"><strong>Pasal 11</strong></p>
<p align="justify">Peserta Lelang harus menyampaikan penawaran pembelian pada setiap Lelang SBSN.</p>
<p align="center"><strong>Pasal 12</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="3%">(1)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Peserta Lelang yang tidak menyampaikan penawaran pembelian pada setiap Lelang SBSN sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 dapat diberikan surat peringatan.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(2)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Menteri berwenang mencabut penunjukan Peserta Lelang dalam hal Peserta Lelang tidak menyampaikan penawaran selama 4 (empat) kali berturut-turut atau menyampaikan penawaran pembelian kurang dari 4 (empat) kali dalam 8 (delapan) kali Lelang SBSN terakhir.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(3)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Surat peringatan dan pencabutan penunjukan Peserta Lelang ditetapkan dengan surat Direktur Jenderal Pengelolaan Utang atas nama Menteri.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(4)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Peserta Lelang yang telah dicabut penunjukannya sebagai Peserta Lelang sebagaimana dimaksud pada ayat (2), dapat mengajukan permohonan kembali menjadi Peserta Lelang setelah 12 (dua belas) bulan terhitung sejak tanggal surat pencabutan.</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>BAB III<br />
PELAKSANAAN LELANG</strong></p>
<p align="center"><strong>Bagian Pertama<br />
Penetapan Rencana Lelang</strong></p>
<p align="center"><strong>Pasal 13</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="3%">
<p align="justify">(1)</p>
</td>
<td valign="top" width="97%">
<p align="justify">Menteri menetapkan rencana Lelang SBSN dan rencana Lelang SBSN Tambahan sebelum tanggal pelaksanaan Lelang.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">
<p align="justify">(2)</p>
</td>
<td valign="top" width="97%">
<p align="justify">Penetapan rencana Lelang SBSN dilakukan sebelum pelaksanaan Lelang SBSN yang paling kurang memuat jenis akad, tanggal jatuh tempo, tanggal lelang, target indikatif, metode penetapan harga SBSN, persentase alokasi bagi Penawaran Pembelian Non Kompetitif untuk SBSN yang akan ditawarkan, serta Barang Milik Negara (BMN) atau obyek pembiayaan SBSN yang akan digunakan sebagai Aset SBSN.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">
<p align="justify">(3)</p>
</td>
<td valign="top" width="97%">
<p align="justify">Penetapan rencana Lelang SBSN Tambahan dilakukan pada saat penetapan hasil Lelang SBSN yang paling kurang memuat waktu pelaksanaan Lelang SBSN Tambahan, jangka waktu SBSN dan Imbal Hasil sebagai dasar perhitungan harga SBSN yang ditawarkan dalam Lelang SBSN Tambahan, serta Pihak yang dapat mengikuti Lelang SBSN Tambahan.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">
<p align="justify">(4)</p>
</td>
<td valign="top" width="97%">
<p align="justify">Penetapan rencana Lelang SBSN dan rencana Lelang SBSN Tambahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan oleh Direktur Jenderal Pengelolaan Utang atas nama Menteri.</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 14</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="3%">(1)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Pengumuman rencana Lelang SBSN dilakukan paling lambat 2 (dua) hari kerja sebelum pelaksanaan Lelang SBSN.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="3%">(2)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Pengumuman rencana Lelang SBSN Tambahan dilakukan setelah penetapan Lelang SBSN.</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 15</strong></p>
<p align="justify">Pelaksanaan Lelang SBSN Tambahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (3) dilakukan dengan tujuan antara lain:</p>
<ol type="a">
<li>
<p align="justify">Pemenuhan kebutuhan pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN);</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Mekanisme Pembentukan Harga (Price Discovery); dan/atau</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Pembentukan seri benchmark (benchmark series).</p>
</li>
</ol>
<p align="center"><strong>Pasal 16</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="3%">(1)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Pelaksanaan Lelang SBSN Tambahan untuk tujuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 huruf a dilakukan dalam hal realisasi penerbitan SBSN lebih rendah dari target yang ditetapkan.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(2)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Pelaksanaan Lelang SBSN Tambahan untuk tujuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 huruf b dilakukan dalam hal:</p>
<ol type="a">
<li>
<p align="justify">jumlah penawaran pembelian untuk suatu seri SBSN dalam Lelang SBSN memenuhi separuh atau lebih dari target indikatif penerbitan; dan</p>
</li>
<li>
<p align="justify">jumlah penawaran pembelian untuk seri SBSN sebagaimana dimaksud pada huruf a yang dapat dimenangkan dan/atau memenuhi harga acuan (owner’s estimate) kurang dari separuh jumlah penawaran pembelian.</p>
</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(3)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Pelaksanaan Lelang SBSN Tambahan untuk tujuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 huruf c, dilakukan dalam hal separuh atau lebih penawaran pembelian atas suatu seri SBSN yang akan dipersiapkan untuk menjadi seri benchmark Surat Berharga Negara tidak dapat dimenangkan dan/atau tidak memenuhi harga acuan.</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Bagian Kedua<br />
Pelaksanaan Lelang SBSN</strong></p>
<p align="center"><strong>Pasal 17</strong></p>
<p align="justify">Penawaran pembelian dalam Lelang SBSN dapat dilakukan dengan cara Penawaran Pembelian Kompetitif dan/atau Penawaran Pembelian Non Kompetitif.</p>
<p align="center"><strong>Pasal 18</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="3%">(1)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Penetapan harga SBSN bagi pemenang Lelang SBSN dengan Penawaran Pembelian Kompetitif dapat dilakukan dengan metode Harga Beragam atau dengan metode Harga Seragam.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="3%">(2)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Penetapan harga SBSN bagi pemenang Lelang SBSN dengan Penawaran Pembelian Non Kompetitif dilakukan berdasarkan Harga Rata-Rata Tertimbang hasil lelang Penawaran Pembelian Kompetitif.</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 19</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="3%">
<p align="justify">(1)</p>
</td>
<td valign="top" width="97%">
<p align="justify">Bank Indonesia hanya dapat menyampaikan penawaran pembelian SBSN Jangka Pendek dengan Penawaran Pembelian Non Kompetitif.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">
<p align="justify">(2)</p>
</td>
<td valign="top" width="97%">
<p align="justify">LPS hanya dapat menyampaikan penawaran pembelian SBSN dengan Penawaran Pembelian Non Kompetitif.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">
<p align="justify">(3)</p>
</td>
<td valign="top" width="97%">
<p align="justify">Peserta Lelang yang menyampaikan penawaran pembelian SBSN untuk dan atas nama dirinya dan/atau melalui Peserta Lelang lain, hanya dapat melakukan Penawaran Pembelian Kompetitif.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">
<p align="justify">(4)</p>
</td>
<td valign="top" width="97%">
<p align="justify">Peserta Lelang yang menyampaikan penawaran pembelian SBSN Jangka Pendek untuk dan atas nama Pihak selain Bank Indonesia dan LPS, hanya dapat melakukan Penawaran Pembelian Kompetitif.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">
<p align="justify">(5)</p>
</td>
<td valign="top" width="97%">
<p align="justify">Peserta Lelang yang menyampaikan penawaran pembelian SBSN Jangka Panjang untuk dan atas nama Pihak selain Bank Indonesia dan LPS, dapat melakukan Penawaran Pembelian Kompetitif dan/atau Penawaran Pembelian Non Kompetitif.</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 20</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="3%">
<p align="justify">(1)</p>
</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Menteri menetapkan hasil Lelang SBSN yang meliputi nilai nominal SBSN yang dimenangkan serta tingkat Imbalan dan/atau diskonto, termasuk jenis dan nilai Aset SBSN, pada tanggal pelaksanaan Lelang SBSN.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="3%">
<p align="justify">(2)</p>
</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Penetapan hasil Lelang SBSN sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa menerima seluruh atau sebagian, atau menolak seluruh penawaran pembelian Lelang SBSN yang masuk.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="3%">
<p align="justify">(3)</p>
</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Penetapan hasil Lelang SBSN didasarkan atas pertimbangan antara lain harga, waktu pengajuan penawaran pembelian, volume, dan pengelolaan risiko utang.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="3%">
<p align="justify">(4)</p>
</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Penetapan hal-hal sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2) dan ayat (3) dilakukan oleh Direktur Jenderal Pengelolaan Utang atas nama Menteri.</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 21</strong></p>
<p align="justify">Agen Lelang mengumumkan ketetapan hasil Lelang SBSN sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 ayat (1) kepada Peserta Lelang dan/atau LPS pada hari pelaksanaan Lelang SBSN, paling kurang meliputi nama pemenang, nilai nominal, serta tingkat Imbalan dan/atau diskonto.</p>
<p align="center"><strong>Bagian Ketiga<br />
Pelaksanaan Lelang SBSN Tambahan</strong></p>
<p align="center"><strong>Pasal 22</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(1)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Lelang SBSN Tambahan hanya dapat diikuti oleh :</p>
<ol type="a">
<li>
<p align="justify">Bank Indonesia</p>
</li>
<li>
<p align="justify">LPS; dan/atau</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Peserta Lelang,</p>
</li>
</ol>
<p align="justify">yang menyampaikan penawaran pembelian dalam Lelang SBSN.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(2)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Penawaran pembelian dalam Lelang SBSN Tambahan oleh Bank Indonesia, LPS dan/atau Peserta Lelang sebagaimana dimaksud pada ayat (1), maksimal sebesar penawaran pembelian masing-masing dalam Lelang SBSN untuk seri SBSN yang ditawarkan dalam Lelang SBSN Tambahan.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="3%">(3)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Penawaran pembelian dalam Lelang SBSN Tambahan untuk SBSN Jangka Pendek hanya dapat diikuti oleh Bank Indonesia.</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 23</strong></p>
<p align="justify">Dalam pelaksanaan Lelang SBSN Tambahan, Agen Lelang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) mempunyai tugas sebagai berikut:</p>
<ol type="a">
<li>
<p align="justify">mengumumkan rencana Lelang SBSN Tambahan yang ditetapkan oleh Pemerintah yang memuat paling kurang nama peserta Lelang SBSN Tambahan, waktu pelaksanaan Lelang SBSN Tambahan, seri SBSN dan Imbal Hasil sebagai dasar perhitungan harga SBSN yang akan ditawarkan kepada Peserta Lelang dan/atau LPS melalui sistem Lelang;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">menerima penawaran pembelian dari pihak sebagimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (1) yang menyampaikan penawaran pembelian dalam Lelang SBSN Tambahan;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">menyampaikan data penawaran pembelian Lelang SBSN Tambahan kepada Menteri c.q. Direktur Jenderal Pengelolaan Utang; dan</p>
</li>
<li>
<p align="justify">mengumumkan hasil ketetapan Lelang SBSN Tambahan kepada pihak sebagimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (1) yang menyampaikan penawaran pembelian dalam Lelang SBSN Tambahan melalui sistem Lelang.</p>
</li>
</ol>
<p align="center"><strong>Pasal 24</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="3%">(1)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Penawaran pembelian dalam Lelang SBSN Tambahan dilakukan dengan Penawaran Pembelian Non Kompetitif.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(2)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Harga Setelmen bagi pemenang Lelang SBSN Tambahan ditetapkan dengan metode Harga Seragam berdasarkan harga bersih yang dikonversi dari Imbal Hasil rata-rata tertimbang (weighted average yield) dari Penawaran Pembelian Kompetitif yang dimenangkan dalam Lelang SBSN.</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 25</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="3%">(1)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Menteri dapat menerima seluruh atau sebagian penawaran pembelian yang masuk dalam Lelang SBSN Tambahan.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(2)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Menteri menetapkan hasil Lelang SBSN Tambahan yang meliputi nilai nominal SBSN yang dimenangkan, nama pemenang, dan rincian hasil penjatahan, termasuk jenis dan nilai Aset SBSN, pada tanggal pelaksanaan Lelang SBSN Tambahan.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="3%">(3)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Penetapan hasil Lelang SBSN Tambahan didasarkan atas pertimbangan, antara lain volume penawaran pembelian, kebutuhan pembiayaan APBN, dan pengelolaan risiko utang.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="3%">(4)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Penerimaan dan penetapan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2) dan ayat (3) dilakukan oleh Direktur Jenderal Pengelolaan Utang atas nama Menteri.</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 26</strong></p>
<p align="justify">Agen Lelang mengumumkan ketetapan hasil Lelang SBSN Tambahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 ayat (2) kepada pihak sebagimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (1) yang menyampaikan penawaran pembelian dalam Lelang SBSN Tambahan pada hari pelaksanaan Lelang SBSN Tambahan, paling kurang meliputi nama pemenang dan nilai nominal.</p>
<p align="center"><strong>BAB IV<br />
DOKUMEN PENERBITAN DAN PENJUALAN</strong></p>
<p align="center"><strong>Pasal 27</strong></p>
<p align="justify">Dokumen yang diperlukan dalam penerbitan dan penjualan SBSN dengan cara Lelang antara lain:</p>
<ol type="a">
<li>
<p align="justify">dokumen transaksi Aset SBSN;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">perjanjian perwaliamanatan;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">ketentuan dan syarat (terms and conditions) SBSN; dan/atau</p>
</li>
<li>
<p align="justify">fatwa atau pernyataan kesesuaian SBSN dengan prinsip syariah.</p>
</li>
</ol>
<p align="center"><strong>Pasal 28</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(1)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Dokumen transaksi Aset SBSN sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 huruf a, antara lain:</p>
<ol type="a">
<li>
<p align="justify">perjanjian jual beli atau sewa menyewa BMN untuk digunakan sebagai Aset SBSN;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">perjanjian sewa menyewa Aset SBSN</p>
</li>
<li>
<p align="justify">perjanjian jual beli Aset SBSN, termasuk yang berupa obyek pembiayaan SBSN; dan/atau</p>
</li>
<li>
<p align="justify">perjanjian penyertaan (partnership).</p>
</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="3%">(2)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Dokumen transaksi Aset SBSN sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disesuaikan dengan Akad SBSN yang diterbitkan.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="3%">(3)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Akad SBSN sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terdiri dari Akad Ijarah, Akad Istishna’, Akad Musyarakah, Akad Mudarabah, atau akad lain yang sesuai dengan prinsip syariah.</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 29</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="3%">
<p align="justify">(1)</p>
</td>
<td valign="top" width="97%">
<p align="justify">Dalam hal SBSN diterbitkan secara langsung oleh Pemerintah, dokumen transaksi Aset SBSN sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 huruf a, ditandatangani oleh Direktur Jenderal Pengelolaan Utang dan Wali Amanat yang ditunjuk.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">
<p align="justify">(2)</p>
</td>
<td valign="top" width="97%">
<p align="justify">Dalam hal SBSN diterbitkan melalui Perusahaan Penerbit SBSN, dokumen transaksi Aset SBSN sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 huruf a, ditandatangani oleh Direktur Jenderal Pengelolaan Utang dan dewan direktur Perusahaan Penerbit SBSN.</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 30</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="3%">
<p align="justify">(1)</p>
</td>
<td valign="top" width="97%">
<p align="justify">Perjanjian perwaliamanatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 huruf b hanya diperlukan dalam hal:</p>
<ol type="a">
<li>
<p align="justify">penerbitan SBSN dilakukan secara langsung oleh Pemerintah; atau</p>
</li>
<li>
<p align="justify">penerbitan SBSN dilakukan melalui Perusahaan Penerbit SBSN, dan selanjutnya Perusahaan Penerbit SBSN menunjuk pihak lain untuk membantu melaksanakan fungsi Wali Amanat.</p>
</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">
<p align="justify">(2)</p>
</td>
<td valign="top" width="97%">
<p align="justify">Dalam hal SBSN diterbitkan secara langsung oleh Pemerintah, perjanjian perwaliamanatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 huruf b ditandatangani oleh Direktur Jenderal Pengelolaan Utang dan Wali Amanat yang ditunjuk.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">
<p align="justify">(3)</p>
</td>
<td valign="top" width="97%">
<p align="justify">Dalam hal SBSN diterbitkan melalui Perusahaan Penerbit SBSN dan Perusahaan Penerbit SBSN menunjuk pihak lain untuk membantu melaksanakan fungsi Wali Amanat, perjanjian perwaliamanatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 huruf b ditandatangani oleh Direktur Jenderal Pengelolaan Utang, dewan direktur Perusahaan Penerbit SBSN dan pihak lain yang ditunjuk untuk membantu melaksanakan fungsi Wali Amanat.</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 31</strong></p>
<p align="justify">Penunjukan Wali Amanat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 ayat (1) dan Pasal 30 ayat (2), serta pihak lain untuk membantu melaksanakan fungsi sebagai Wali Amanat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (3) dilakukan oleh Direktur Jenderal Pengelolaan Utang atas nama Menteri.</p>
<p align="center"><strong>BAB V<br />
SETELMEN</strong></p>
<p align="center"><strong>Pasal 32</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="3%">(1)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Setelmen SBSN Jangka Panjang dilakukan paling lambat 5 (lima) Hari Kerja setelah tanggal pelaksanaan Lelang (T + 5).</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="3%">(2)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Setelmen SBSN Jangka Pendek dilakukan paling lambat 2 (dua) Hari Kerja setelah tanggal pelaksanaan Lelang (T + 2).</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 33</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="3%">(1)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Setelmen dalam rangka Lelang SBSN Tambahan dilakukan pada tanggal yang sama dengan pelaksanaan Setelmen Lelang SBSN sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="3%">(2)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Setelmen sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Setelmen Lelang SBSN.</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 34</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(1)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Perhitungan Harga Setelmen per unit SBSN dilakukan berdasarkan formula sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran I yang menjadi bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri Keuangan ini.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(2)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Perhitungan Harga Setelmen SBSN Jangka Pendek dengan imbalan berupa diskonto dilakukan berdasarkan formula sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran II yang menjadi bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri Keuangan ini.</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 35</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="3%">
<p align="justify">(1)</p>
</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Jangka waktu SBSN dinyatakan dalam jumlah hari sebenarnya (actual per actual) dan dihitung sejak 1 (satu) hari setelah tanggal Setelmen sampai dengan tanggal jatuh tempo.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="3%">
<p align="justify">(2)</p>
</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Jumlah hari (day count) untuk perhitungan Imbalan berjalan (accrued return) menggunakan basis jumlah hari sebenarnya.</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 36</strong></p>
<p align="justify">Peserta Lelang bertanggung jawab terhadap Setelmen seluruh penawaran pembelian masing-masing yang dinyatakan menang pada tanggal Setelmen.</p>
<p align="center"><strong>Pasal 37</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(1)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Peserta Lelang yang penawaran pembeliannya telah diterima oleh Pemerintah, dinyatakan batal dalam hal tidak melunasi seluruh kewajibannya sampai dengan batas akhir tanggal Setelmen atau saldo giro Rupiah Bank yang ditunjuk sebagai Bank pembayar di Bank Indonesia tidak mencukupi untuk pelaksanaan Setelmen sampai dengan batas akhir tanggal Setelmen.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="3%">(2)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Terhadap setiap pembatalan transaksi Lelang SBSN sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Peserta Lelang dikenakan sanksi tidak boleh mengikuti Lelang SBSN sebanyak 3 (tiga) kali berturut-turut.</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 38</strong></p>
<p align="justify">Ketentuan mengenai teknis pelaksanaan Setelmen SBSN mengikuti ketentuan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia.</p>
<p align="center"><strong>BAB VI<br />
BIAYA PENERBITAN</strong></p>
<p align="center"><strong>Pasal 39</strong></p>
<p align="justify">Segala biaya yang timbul dalam rangka pelaksanaan penerbitan SBSN dengan cara Lelang baik yang diterbitkan secara langsung oleh Pemerintah atau melalui Perusahaan Penerbit SBSN dibebankan pada APBN.</p>
<p align="center"><strong>BAB VII<br />
KETENTUAN PENUTUP</strong></p>
<p align="center"><strong>Pasal 40</strong></p>
<p align="justify">Pada saat Peraturan Menteri Keuangan ini berlaku, Peraturan Menteri Keuangan Nomor 11/PMK.08/2009 tentang Penerbitan dan Penjualan Surat Berharga Syariah Negara di Pasar Perdana Dalam Negeri dengan Cara Lelang, dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.</p>
<p align="center"><strong>Pasal 41</strong></p>
<p align="justify">Peraturan Menteri Keuangan ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.</p>
<p align="justify">Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengumuman Peraturan Menteri Keuangan ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ditetapkan di Jakarta<br />
Pada tanggal 9 Januari 2012<br />
MENTERI KEUANGAN,</p>
<p>ttd.</p>
<p>AGUS D.W. MARTOWARDOJO</p>
<p>Diundangkan di Jakarta<br />
Pada tanggal 9 Januari 2012<br />
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA,</p>
<p>ttd.</p>
<p>AMIR SYAMSUDIN</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center"><strong>BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2012 NOMOR 36</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.mytaxlink.net/05pmk-082012/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR SE-103/PJ/2011</title>
		<link>http://www.mytaxlink.net/se-103pj2011/</link>
		<comments>http://www.mytaxlink.net/se-103pj2011/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Jan 2012 04:41:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lain-lain]]></category>
		<category><![CDATA[PETUNJUK TEKNIS TATA CARA PENERIMAAN DAN PENGOLAHAN SURAT PEMBERITAHUAN TAHUNAN]]></category>
		<category><![CDATA[SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR SE-103/PJ/2011]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.mytaxlink.net/?p=480</guid>
		<description><![CDATA[<p align="center">SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR SE-103/PJ/2011 Tanggal 30 Desember 2011</p> <p align="center">PETUNJUK TEKNIS TATA CARA PENERIMAAN DAN PENGOLAHAN SURAT PEMBERITAHUAN TAHUNAN</p> <p align="center">DIREKTUR JENDERAL PAJAK,</p> <p align="justify">Sehubungan dengan pelaksanaan tata cara penerimaan dan pengolahan Surat Pemberitahuan Tahunan yang diatur dalam Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-19/PJ/2009 sebagaimana telah diubah terakhir dengan Peraturan Direktur [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>SURAT EDARAN<br />
DIREKTUR JENDERAL PAJAK<br />
NOMOR SE-103/PJ/2011<br />
Tanggal 30 Desember 2011</strong></p>
<p align="center"><strong>PETUNJUK TEKNIS TATA CARA PENERIMAAN DAN PENGOLAHAN SURAT PEMBERITAHUAN TAHUNAN</strong></p>
<p align="center"><strong>DIREKTUR JENDERAL PAJAK,</strong></p>
<p align="justify">Sehubungan dengan pelaksanaan tata cara penerimaan dan pengolahan Surat Pemberitahuan Tahunan yang diatur dalam Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-19/PJ/2009 sebagaimana telah diubah terakhir dengan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-48/PJ/2011, dengan ini disampaikan hal-hal sebagai berikut:</p>
<ol type="I">
<li>
<p align="justify">Dalam rangka meningkatkan pelayanan kepada Wajib Pajak dalam menyampaikan Surat Pemberitahuan Tahunan, perlu diatur petunjuk teknis tata cara penerimaan dan pengolahan Surat Pemberitahuan Tahunan.</p>
</li>
</ol>
<ol type="I" start="2">
<li>
<p align="justify">Dalam Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak ini, yang dimaksud dengan:</p>
<ol>
<li>
<p align="justify">Surat Pemberitahuan Tahunan yang selanjutnya disebut dengan SPT Tahunan adalah Surat Pemberitahuan untuk suatu tahun pajak atau bagian tahun pajak yang meliputi SPT Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak Orang Pribadi (SPT 1770, SPT 1770 S, SPT 1770 SS), SPT Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan (SPT 1771 dan SPT 1771/$), termasuk SPT Tahunan Pembetulan.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">SPT Tahunan Elektronik yang selanjutnya disebut dengan e-SPT Tahunan adalah data SPT Wajib Pajak sebagaimana dimaksud pada angka 1 dalam bentuk elektronik yang dibuat oleh Wajib Pajak dengan menggunakan aplikasi e-SPT yang disediakan oleh Direktorat Jenderal Pajak.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">SPT Lengkap adalah SPT yang semua elemen SPT Induk dan lampirannya telah diisi dengan lengkap, SPT Induk telah ditandatangani oleh Wajib Pajak atau kuasanya, dan telah dilengkapi dengan lampiran khusus, serta keterangan dan/atau dokumen yang disyaratkan.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">e-SPT Lengkap adalah SPT sebagaimana dimaksud pada angka 2 yang semua elemen SPT Induk dan lampirannya telah diisi dengan lengkap dan dapat diproses dalam Sistem Informasi Perpajakan di Direktorat Jenderal Pajak, dan telah dilengkapi dengan lampiran khusus, serta keterangan dan/atau dokumen lain yang tidak dapat disampaikan secara elektronik.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">e-Filing adalah suatu cara penyampaian SPT atau Pemberitahuan Perpanjangan SPT Tahunan yang dilakukan secara on-line yang real time melalui website Direktorat Jenderal Pajak (www.pajak.go.id) atau penyedia Jasa Aplikasi atau Application Service Provider (ASP).</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Tempat Pelayanan Terpadu yang selanjutnya disebut dengan TPT adalah tempat pelayanan perpajakan yang terintegrasi pada Kantor Pelayanan Pajak (KPP) termasuk Kantor Pelayanan, Penyuluhan, dan Konsultasi Perpajakan (KP2KP) untuk memberikan pelayanan perpajakan.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Pojok Pajak/Mobil Pajak/Tempat Khusus Penerimaan SPT Tahunan (Drop Box) adalah tempat lain yang dapat digunakan untuk menerima SPT Tahunan/e-SPT Tahunan.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Media Eletronik adalah sarana penyimpan data digital yang dapat dibaca oleh Sistem Informasi Perpajakan di Direktorat Jenderal Pajak.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Tanda Terima SPT adalah tanda bukti penerimaan SPT Tahunan/e-SPT Tahunan yang diberikan petugas kepada Wajib Pajak.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Pengolahan SPT adalah serangkaian kegiatan yang meliputi penelitian SPT dan perekaman SPT.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Penelitian SPT atau e-SPT adalah kegiatan yang dilakukan untuk menilai kelengkapan pengisian SPT Tahunan atau e-SPT Tahunan dan lampiran-lampirannya serta kelengkapan lampiran yang disyaratkan dan penilaian tentang kebenaran penulisan dan perhitungannya termasuk menerbitkan Surat Permintaan Kelengkapan SPT Tahunan apabila SPT yang diterima tidak lengkap.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Validasi adalah kegiatan penelitian kebenaran data/informasi atas SPT Tahunan yang disampaikan dengan menggunakan aplikasi e-SPT.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Perekaman SPT adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk memasukkan semua unsur SPT ke dalam basis data perpajakan dengan cara antara lain merekam, uploading, dan/atau memindai (scanning).</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Loading adalah kegiatan memindahkan data/informasi digital dari media elektronik/jaringan komunikasi data ke Sistem Informasi Perpajakan di Direktorat Jenderal Pajak.</p>
</li>
</ol>
</li>
</ol>
<ol type="I" start="3">
<li>
<p align="justify">Beberapa hal yang perlu diperhatikan:</p>
<ol>
<li>
<p align="justify">Drop Box ditempatkan di KPP, pusat perbelanjaan, pusat bisnis, lokasi pemberi kerja yang mempunyai karyawan yang banyak atau tempat-tempat tertentu lainnya paling lambat sampai dengan tanggal 30 April.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Setiap Wajib Pajak dapat menyampaikan SPT Tahunan/e-SPT Tahunan melalui TPT/Pojok Pajak/Mobil Pajak/Drop Box di mana saja.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Khusus atas SPT Tahunan Pembetulan, SPT Tahunan dengan status Lebih Bayar, SPT Tahunan yang disampaikan setelah batas waktu penyampaian SPT, Wajib Pajak harus menyampaikan SPT Tahunan tersebut ke TPT KPP Tempat Wajib Pajak Terdaftar.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Apabila Wajib Pajak akan menyampaikan SPT Tahunan Pembetulan atau SPT Tahunan dengan status Lebih Bayar atau SPT Tahunan yang disampaikan setelah batas waktu penyampaian SPT ke Pojok Pajak/Mobil Pajak/Drop Box maka Petugas Pojok Pajak/Mobil Pajak/Drop Box harus mengarahkan Wajib Pajak untuk menyampaikan SPT Tahunan tersebut ke TPT KPP Tempat Wajib Pajak Terdaftar.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Petugas TPT/Pojok Pajak/Mobil Pajak/Drop Box menerima amplop tertutup yang berisi SPT Tahunan/e-SPT Tahunan dari Wajib Pajak, termasuk dari Wajib Pajak yang tidak terdaftar di wilayah kerja KPP dimana TPT/Pojok Pajak/Mobil Pajak/Drop Box tersebut berada, dan langsung memberikan Tanda Terima SPT kepada Wajib Pajak tanpa didahului penelitian atas kelengkapan SPT kecuali atas SPT Tahunan lebih bayar, SPT Tahunan pembetulan dan/atau SPT Tahunan yang disampaikan setelah batas waktu penyampaian SPT.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">KPP wajib mengirimkan SPT Wajib Pajak yang tidak terdaftar pada KPP tersebut kepada KPP Tempat Wajib Pajak terdaftar, paling lambat dalam jangka waktu 10 (sepuluh) hari sejak SPT diterima.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Terhadap SPT Tahunan yang disampaikan di KP2KP maka KP2KP harus mengirimkan SPT Tahunan ke KPP atasannya paling lambat dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari sejak SPT diterima.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Dalam hal KPP atasan KP2KP menerima SPT Tahunan yang disampaikan oleh Wajib Pajak yang tidak terdaftar pada KPP di wilayah kerjanya, KPP wajib mengirimkan SPT Tahunan tersebut ke KPP Tempat Wajib Pajak Terdaftar paling lambat dalam jangka waktu 10 (sepuluh) hari sejak SPT diterima dari KP2KP.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">KPP melakukan penelitian atas kelengkapan SPT paling lama dalam jangka waktu 2 (dua) bulan setelah SPT diterima, kecuali untuk SPT Lebih Bayar (LB) dalam jangka waktu paling lama 18 (delapan belas) hari setelah SPT Tahunan/e-SPT Tahunan diterima.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Apabila berdasarkan hasil penelitian SPT Tahunan/e-SPT Tahunan dinyatakan tidak lengkap, terhadap Wajib Pajak dikirimkan Surat Permintaan Kelengkapan SPT Tahunan/e-SPT Tahunan sebagaimana dimaksud dalam Lampiran III.6.a, Lampiran III.6.b, Lampiran III.6.c, Lampiran III.6.d dan Lampiran III.6.e beserta template surat jawaban atas permintaan kelengkapan SPT Tahunan sebagaimana dimaksud dalam Lampiran III.16.a, Lampiran III.16.b, Lampiran III.16.c, Lampiran III.16.d dan Lampiran III.16.e.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Apabila berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa isi amplop SPT bukan merupakan SPT Tahunan maka KPP mengirimkan Surat Pembatalan Tanda Terima SPT Tahunan sebagaimana dimaksud dalam Lampiran III.13.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Apabila berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa Wajib Pajak salah mengisi data NPWP yang terdapat pada lembar informasi amplop SPT Tahunan maka KPP mengirimkan Surat Pembetulan Tanda Terima SPT Tahunan sebagaimana Lampiran III .14.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Atas permintaan kelengkapan SPT sebagaimana dimaksud pada angka 10, paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak tanggal diterimanya Surat Permintaan Kelengkapan SPT, Wajib Pajak wajib menyampaikan kelengkapan SPT Tahunan/e-SPT Tahunan ke KPP Tempat Wajib Pajak Terdaftar.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Dalam hal Surat Permintaan Kelengkapan SPT Tahunan/e-SPT Tahunan telah dikirimkan sesuai dengan alamat Wajib Pajak namun tidak sampai kepada Wajib Pajak maka jangka waktu bagi Wajib Pajak untuk menyampaikan kelengkapan SPT Tahunan/e-SPT Tahunan adalah paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak tanggal diterimanya kembali Surat Permintaan Kelengkapan SPT Tahunan/e-SPT Tahunan dari pos atau perusahaan jasa ekspedisi atau jasa kurir oleh KPP.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Apabila sampai batas waktu 30 (tiga puluh) hari sejak:</p>
<ol type="a">
<li>
<p align="justify">tanggal diterimanya Surat Permintaan Kelengkapan SPT oleh Wajib Pajak; atau</p>
</li>
<li>
<p align="justify">tanggal diterimanya kembali Surat Permintaan Kelengkapan SPT Tahunan/e-SPT Tahunan dari pos atau perusahaan jasa ekspedisi atau jasa kurir oleh KPP</p>
</li>
</ol>
<p align="justify">telah terlampaui dan Wajib Pajak belum menyampaikan kelengkapan SPT, maka SPT dianggap tidak disampaikan dan kepada Wajib Pajak dikirimkan Surat Pemberitahuan SPT Dianggap Tidak Disampaikan sebagaimana dimaksud dalam Lampiran III.7.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Terhadap SPT yang telah dilakukan penelitian dan dinyatakan lengkap, dilakukan perekaman SPT Lengkap pada menu penerimaan SPT dan dilanjutkan dengan perekaman detil SPT pada aplikasi Sistem Informasi Direktorat Jenderal Pajak.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Apabila berdasarkan perekaman SPT Lengkap sebagaimana dimaksud pada angka 16 diketahui bahwa Wajib Pajak menyampaikan SPT Tahunan lebih dari satu kali maka Kantor Pelayanan Pajak mengirimkan Surat Pembatalan Tanda Terima SPT Tahunan sebagaimana Lampiran III.15.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Jangka waktu perekaman detil SPT ditetapkan paling lambat 1 (satu) bulan sejak SPT Lebih Bayar (LB) diterima lengkap atau 3 (tiga) bulan sejak SPT Kurang Bayar (KB)/Nihil (N) diterima lengkap.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Pegawai yang ditunjuk sebagai Petugas Penerima SPT pada TPT/Pojok Pajak/Mobil Pajak/Drop Box wajib menggunakan tanda pengenal pegawai yang sah.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">KPP menyiapkan Tanda Terima sebagaimana diatur dalam Lampiran III.1 sesuai dengan kebutuhan.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Ketentuan penomoran Tanda Terima adalah sebagai berikut:</p>
<ol type="a">
<li>
<p align="justify">Nomor ditentukan terlebih dahulu (prenumbered).</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Nomor terdiri dari 13 digit dengan dengan format aaa-bb-cccccccc.</p>
<table width="90%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="12%">
<ul>
<li>aaa</li>
</ul>
<p>&nbsp;</td>
<td valign="top" width="2%">:</td>
<td width="90%">Kode KPP</td>
</tr>
<tr>
<td width="12%">
<ul>
<li>bb</li>
</ul>
</td>
<td valign="top" width="2%">:&nbsp;</td>
<td width="90%">Kode Unit Penerima SPT di masing-masing KPP (TPT/Pojok Pajak/Mobil Pajak/Drop Box)</td>
</tr>
<tr>
<td width="12%">
<ul>
<li>cccccccc</li>
</ul>
</td>
<td valign="top" width="2%">:</td>
<td width="90%">Nomor urut Tanda Terima di setiap unit penerima SPT.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</li>
<li>
<p align="justify">Kepala KPP menetapkan Kode Unit Penerima SPT dengan Surat Keputusan Kepala KPP. Petunjuk penetapan kode unit penerimaan SPT terdapat pada Lampiran I Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak ini.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Sejak berlakunya Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-1/PJ/2010, penomoran Tanda Terima dimulai dari aaa-bb-00000001. Selanjutnya, pada saat pergantian tahun penomoran tanda terima dimulai kembali dari aaa-bb-00000001.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Kepala Seksi Pelayanan membagi penjatahan nomor Tanda Terima di setiap unit Penerima SPT.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Kepala Seksi Pelayanan melakukan pengawasan penggunaan nomor Tanda Terima.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Dalam rangka tertib administrasi penomoran Tanda Terima SPT Tahunan/e-SPT Tahunan melalui Mobil Pajak, Kepala Kantor Wilayah dapat menugaskan Kepala KPP di wilayah kerjanya sebagai penanggung jawab Mobil Pajak selama masa penerimaan SPT Tahunan.</p>
</li>
</ol>
</li>
<li>
<p align="justify">Jadwal pelayanan dan lokasi drop box ditetapkan oleh Kepala KPP sebagai Penanggung Jawab Drop Box/Pojok Pajak dengan berkoordinasi dengan Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Jadwal pembukaan drop box dan jumlah drop box disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing KPP.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak menyampaikan jadwal dan lokasi Drop Box/Pojok Pajak di wilayah kerjanya kepada Direktur Penyuluhan Pelayanan dan Hubungan Masyarakat untuk diinformasikan kepada petugas Kring Pajak dan di-upload pada website <a href="http://www.pajak.go.id">www.pajak.go.id</a> .</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Untuk mengantisipasi beban puncak, dengan mempertimbangkan beban kerja, Kepala KPP harus membentuk satuan tugas penerimaan dan pengolahan SPT Tahunan (satgas) dengan Nota Dinas Kepala KPP. Petunjuk penetapan satgas mengacu pada Lampiran IV Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak ini.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Kepala KPP memprioritaskan pengolahan SPT Lebih Bayar (LB) terlebih dahulu.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">KPP harus menyediakan fasilitas pengecekan validitas NPWP dan layanan lainnya untuk kelancaran penerimaan SPT Tahunan di TPT.</p>
</li>
</ol>
</li>
</ol>
<ol type="I" start="4">
<li>
<p align="justify">Lampiran-lampiran :</p>
<ol>
<li>
<p align="justify">Petunjuk Penetapan Kode Unit Penerimaan SPT Tahunan diatur dalam Lampiran I.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Tata cara pendistribusian Tanda Terima SPT Tahunan diatur dalam Lampiran II.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Tata cara penerimaan dan pengolahan SPT Tahunan diatur dalam Lampiran III.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Petunjuk Penetapan Satuan Tugas Penerimaan Dan Pengolahan SPT Tahunan (Satgas) diatur dalam Lampiran IV.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Tata cara perekaman SPT Tahunan diatur dalam Lampiran V.</p>
</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p align="justify">Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.</p>
<p align="justify">Dengan berlakunya Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak ini maka Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-2/PJ./2011 tentang Petunjuk Teknis Tata Cara Penerimaan dan Pengolahan Surat Pemberitahuan Tahunan dan Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-67/PJ./2011 tentang Penegasan atas Pelaksanaan Ketentuan dalam Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-2/PJ./2011 tentang Petunjuk Teknis Tata Cara Penerimaan Dan Pengolahan Surat Pemberitahuan Tahunan dinyatakan tidak berlaku.</p>
<p align="justify">Para Kepala Kantor Wilayah agar mengawasi pelaksanaan Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak tersebut di atas dan agar melakukan sosialisasi kepada para Wajib Pajak di lingkungan wilayah kerja masing-masing.</p>
<p align="justify">Demikian untuk diketahui dan dilaksanakan sebaik-baiknya.</p>
<p align="justify">
<p align="justify">Ditetapkan di Jakarta<br />
Pada tanggal 30 Desember 2011<br />
DIREKTUR JENDERAL,</p>
<p align="justify">ttd.</p>
<p align="justify">A. FUAD RAHMANY<br />
NIP 195411111981121001</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tembusan :</p>
<ol>
<li>
<p align="justify">Sekretaris Direktorat Jenderal Pajak;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Para Direktur dan Tenaga Pengkaji di Lingkungan Direktorat Jenderal Pajak;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Kepala Pusat Pengolahan Data dan Dokumen Perpajakan.</p>
</li>
</ol>
<p align="justify">Dokumen ini dibuat secara spesifik untuk www.ortax.org</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.mytaxlink.net/se-103pj2011/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 258/PMK.011/2011</title>
		<link>http://www.mytaxlink.net/258pmk-01120112011/</link>
		<comments>http://www.mytaxlink.net/258pmk-01120112011/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Jan 2012 09:35:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lain-lain]]></category>
		<category><![CDATA[258/PMK.011/20112011]]></category>
		<category><![CDATA[LAMPIRAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 258/PMK.011/2011 Tanggal 28 Desember 2011 BATASAN MAKSIMUM BIAYA REMUNERASI TENAGA KERJA ASING UNTUK KONTRAKTOR KONTRAK KERJA SAMA MINYAK DAN GAS BUMI]]></category>
		<category><![CDATA[PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 258/PMK.011/2011 Tanggal 28 Desember 2011 BATASAN MAKSIMUM BIAYA REMUNERASI TENAGA KERJA ASING UNTUK KONTRAKTOR KONTRAK KERJA SAMA MINYAK DAN GAS BUMI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.mytaxlink.net/?p=478</guid>
		<description><![CDATA[<p align="center">PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 258/PMK.011/2011 Tanggal 28 Desember 2011</p> <p align="center">BATASAN MAKSIMUM BIAYA REMUNERASI TENAGA KERJA ASING UNTUK KONTRAKTOR KONTRAK KERJA SAMA MINYAK DAN GAS BUMI</p> <p align="center">MENTERI KEUANGAN,</p> <p align="justify">Menimbang :</p> <p align="justify">bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 12 ayat (3) Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2010 tentang Biaya Operasi yang Dapat Dikembalikan dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>PERATURAN<br />
MENTERI KEUANGAN<br />
NOMOR 258/PMK.011/2011<br />
Tanggal 28 Desember 2011</strong></p>
<p align="center"><strong>BATASAN MAKSIMUM BIAYA REMUNERASI TENAGA KERJA ASING UNTUK KONTRAKTOR KONTRAK KERJA SAMA MINYAK DAN GAS BUMI</strong></p>
<p align="center"><strong>MENTERI KEUANGAN,</strong></p>
<p align="justify">Menimbang :</p>
<p align="justify">bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 12 ayat (3) Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2010 tentang Biaya Operasi yang Dapat Dikembalikan dan Perlakuan Pajak Penghasilan di Bidang Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi, perlu menetapkan Peraturan Menteri Keuangan tentang Batasan Maksimum Biaya Remunerasi Tenaga Kerja Asing untuk Kontraktor Kontrak Kerja Sama Minyak dan Gas Bumi;</p>
<p align="justify">Mengingat :</p>
<ol>
<li>
<p align="justify">Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3262) sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2009 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 62, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4999);</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 50, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3263) sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 133, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4893);</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2010 tentang Biaya Operasi yang Dapat Dikembalikan dan Perlakuan Pajak Penghasilan di Bidang Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 139, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5173);</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Keputusan Presiden Nomor 56/P Tahun 2010;</p>
</li>
</ol>
<p align="center"><strong>MEMUTUSKAN:</strong></p>
<p align="justify">Menetapkan :</p>
<p align="justify">PERATURAN MENTERI KEUANGAN TENTANG BATASAN MAKSIMUM BIAYA REMUNERASI TENAGA KERJA ASING UNTUK KONTRAKTOR KONTRAK KERJA SAMA MINYAK DAN GAS BUMI.</p>
<p align="center"><strong>Pasal 1</strong></p>
<p align="justify">Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan:</p>
<ol>
<li>
<p align="justify">Kontraktor Kontrak Kerja Sama Minyak dan Gas Bumi yang untuk selanjutnya disebut Kontraktor adalah badan usaha atau bentuk usaha tetap yang ditetapkan untuk melakukan eksplorasi dan eksploitasi pada suatu wilayah kerja berdasarkan kontrak kerja sama dengan Badan Pelaksana.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Rencana Kerja dan Anggaran yang untuk selanjutnya disebut RKA adalah suatu perencanaan kegiatan dan pengeluaran anggaran tahunan oleh Kontraktor untuk kegiatan usaha hulu minyak dan gas bumi pada suatu wilayah kerja.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Remunerasi adalah seluruh penghasilan yang diterima oleh tenaga kerja asing yang bekerja pada Kontraktor yang telah tercantum dalam RKA yang telah disetujui oleh Badan Pelaksana.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Badan Pelaksana adalah suatu badan yang dibentuk untuk melakukan pengendalian kegiatan usaha hulu di bidang minyak dan gas bumi.</p>
</li>
</ol>
<p align="center"><strong>Pasal 2</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="3%">
<p align="justify">(1)</p>
</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Kebijakan dan program Remunerasi bagi tenaga kerja asing harus mengacu pada ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang ketenagakerjaan.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">
<p align="justify">(2)</p>
</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Tenaga kerja asing sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan warga negara asing pemegang visa dengan maksud bekerja pada Kontraktor berdasarkan penugasan dari perusahaan induk Kontraktor dimaksud (Inter Corporate Transfer), yang telah mendapat izin dari Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi berdasarkan rekomendasi dari Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">
<p align="justify">(3)</p>
</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Batasan maksimum Remunerasi yang dapat dikembalikan dalam penghitungan bagi hasil dan menjadi pengurang penghasilan bruto dalam penghitungan Pajak Penghasilan Kontraktor adalah sebagaimana tercantum dalam Lampiran, yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">
<p align="justify">(4)</p>
</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Remunerasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) meliputi:</p>
<ol type="a">
<li>
<p align="justify">upah;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">tunjangan; dan/atau</p>
</li>
<li>
<p align="justify">pembayaran lainnya yang terkait dengan kinerja tahunan Kontraktor dan tidak diberikan dalam waktu jangka panjang.</p>
</li>
</ol>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 3</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(1)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Dalam hal Kontraktor membayar Remunerasi melebihi batas maksimum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (3), kelebihan pembayaran tersebut tidak dapat dikembalikan dalam penghitungan bagi hasil dan tidak menjadi pengurang penghasilan bruto dalam penghitungan Pajak Penghasilan Kontraktor.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="3%">(2)</td>
<td width="97%">
<p align="justify">Kontraktor wajib memotong, menyetor, dan melaporkan Pajak Penghasilan Pasal 21 dan/atau Pajak Penghasilan Pasal 26 atas Remunerasi yang dibayarkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan di bidang Pajak Penghasilan.</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Pasal 4</strong></p>
<p align="justify">Batasan maksimum Remunerasi yang dapat dikembalikan dalam penghitungan bagi hasil dan menjadi pengurang penghasilan bruto dalam penghitungan Pajak Penghasilan Kontraktor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (3), dievaluasi dalam jangka waktu paling lama 2 (dua) tahun sejak berlakunya Peraturan Menteri ini.</p>
<p align="center"><strong>Pasal 5</strong></p>
<p align="justify">Ketentuan batasan maksimum Remunerasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (3) tidak berlaku bagi tenaga kerja asing sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2) sepanjang tenaga kerja asing tersebut mempunyai keahlian sangat khusus dan sangat langka di bidang minyak dan gas bumi, yang kriterianya ditetapkan oleh Badan Pelaksana setelah mendapat persetujuan Menteri Keuangan.</p>
<p align="center"><strong>Pasal 6</strong></p>
<p align="justify">Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal 1 Januari 2012.</p>
<p align="justify">Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Menteri ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ditetapkan di Jakarta<br />
Pada tanggal 28 Desember 2011<br />
MENTERI KEUANGAN,</p>
<p>ttd.</p>
<p>AGUS D.W. MARTOWARDOJO</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Diundangkan di Jakarta<br />
Pada tanggal 28 Desember 2011<br />
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA,</p>
<p>ttd.</p>
<p>AMIR SYAMSUDIN</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center"><strong>BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2011 NOMOR 947</strong></p>
<p><strong>LAMPIRAN<br />
PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA<br />
NOMOR 258/PMK.011/2011<br />
TENTANG ATASAN MAKSIMUM BIAYA REMUNERASI TENAGA KERJA ASING UNTUK KONTRAKTOR KONTRAK KERJA SAMA MINYAK DAN GAS BUMI</strong></p>
<p align="center"><strong>BATASAN MAKSIMUM BIAYA REMUNERASI YANG DAPAT DIKEMBALIKAN DALAM PENGHITUNGAN BAGI HASIL DAN<br />
MENJADI PENGURANG PENGHASILAN BRUTO DALAM PENGHITUNGAN PAJAK PENGHASILAN KONTRAKTOR<br />
(DALAM US$/TAHUN)</strong></p>
<table width="100%" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td rowspan="2" align="center" width="17%" height="82">Golongan Jabatan</td>
<td colspan="3" align="center" width="63%" height="20">Tarif untuk tenaga kerja asing yang memiliki paspor dari</td>
<td rowspan="2" align="center" width="20%" height="82">Keterangan</td>
</tr>
<tr>
<td align="center" width="23%" height="60">Kawasan Asia,<br />
Afrika dan Timur<br />
Tengah</td>
<td align="center" width="20%" height="60">Kawasan Eropa, Australia dan<br />
Amerika Selatan</td>
<td align="center" width="20%" height="60">Kawasan<br />
Amerika Utara</td>
</tr>
<tr>
<td width="17%" height="40">EKSEKUTIF TERTINGGI</td>
<td align="center" width="23%" height="40">562,200</td>
<td align="center" width="20%" height="40">1,054,150</td>
<td align="center" width="20%" height="40">1,546,100</td>
<td width="20%" height="40">Posisi Tingkat-1 di KKKS (President, Country Head, General Manager)</td>
</tr>
<tr>
<td width="17%" height="40">EKSEKUTIF</td>
<td align="center" width="23%" height="40">449,700</td>
<td align="center" width="20%" height="40">843,200</td>
<td align="center" width="20%" height="40">1,236,700</td>
<td width="20%" height="40">Posisi Tingkat-2 di KKKS (Senior Vice President, Vice President)</td>
</tr>
<tr>
<td width="17%" height="40">MANAJERIAL</td>
<td align="center" width="23%" height="40">359,700</td>
<td align="center" width="20%" height="40">674,450</td>
<td align="center" width="20%" height="40">989,200</td>
<td width="20%" height="40">Posisi Tingkat-3 di KKKS (Senior Manager, Manager)</td>
</tr>
<tr>
<td width="17%" height="20">PROFESIONAL</td>
<td align="center" width="23%" height="20">287,700</td>
<td align="center" width="20%" height="20">539,450</td>
<td align="center" width="20%" height="20">791,200</td>
<td width="20%" height="20">Posisi Tingkat-4 di KKKS (Specialist)</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>MENTERI KEUANGAN,</p>
<p>ttd.</p>
<p>AGUS D.W. MARTOWARDOJO</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.mytaxlink.net/258pmk-01120112011/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

